
Sore Hari saat Sani memilih sayur di rumah pak Haris, dia meminta ijin membawa motornya ke luar kota.
"Pak Haris, saya mau minta ijin ya, besok Minggu motornya mau saya bawa ke luar kota, mau jalan-jalan hehe"
"Ow iya dek, bawa saja, bebas mau dibawa kemana saja, asalkan di rawat dengan baik"
"Hehe terima kasih pak Haris"
"Sama-sama, dek ini motor anggap saja milik sendiri, tidak perlu dek Sani selalu minta ijin ke saya"
"Ya tapi kan baiknya minta ijin dulu pak..."
"Gini lo, ini dipake, mau diapain aja terserah, kalau rusak ya dek Sani sendiri yang membiayai servicenya, makanya saya selalu menyarankan supaya dirawat yang baik"
Sani mengangguk memahami kata-kata pak Haris.
"Ini, anggap saja seperti milik sendiri, jadi jangan kaku, dikit-dikit minta Ijin, saya juga tidak sekaku itu kok"
Sani tersenyum mendengar kalimat pak Haris.
Mereka pun ngobrol kesana kemari sambil menikmati kopi dan rokok yang disuguhkan.
Jika biasanya mereka selalu duduk di ruang tamu, kali ini Sani mengajak pak Haris nongkrong di teras saja.
Jono yang saat itu menata sayur pilihan Sani, sesekali ikut menyahut obrolan Sani dan pak Haris dengan kata-kata humornya.
"Dek Sani sudah punya rencana menikah?"
Pak Haris bertanya kepada Sani.
"Untuk sementara cuma punya keinginan pak, belum ada rencana...ckckck"
"Haahaa"
Pak Haris tertawa mendengar jawaban Sani.
"Nggak usah buru-buru dek, masih panjang jalannya"
"Iya pak..."
"Umurnya sekarang berapa dek?"
"Baru 18 pak"
"Walaaah....masih jauh juga, santai, nggak usah buru-buru, kecuali udah nggak bisa mengendalikan nafsunya, maka lebih baik menikah"
"Begitu ya pak?"
"Iya donk, dek Sani harus hati-hati, sekarang mungkin belum menyadari, tapi nanti juga tau sendiri"
"Apa sih pak, Sani nggak ngerti"
"Gini dek, saat ini usaha dek Sani sedang berkembang, mungkin 5 atau 10 tahun lagi bisa lebih besar dari saya, ketika ekonomi dek Sani sudah berubah, perlahan gaya hidup pun berubah.."
Pak Haris menghisap rokoknya sebelum melanjutkan.
"Sekarang dek Sani taunya cuma kerja, mungkin nanti kalau sudah banyak uang, dek Sani kenal yang namanya SkinCare, tau cara merawat tubuh, menjaga penampilan, dan lain sebagainya, hal seperti itu akan mempengaruhi keadaan dek Sani"
"Memang begitu ya pak, jujur saja saya kurang tertarik dengan hal seperti itu, Skincare, perawatan atau apapun semacamnya, saya hampir tidak memperdulikan hal seperti itu, saya lebih fokus dengan perekonomian keluarga"
"Ya itu karena pergaulan dek Sani masih sangat terbatas, jadi belum berfikir kesana, andai saja hari ini dek Sani masuk ke jenjang kuliah, mungkin pikiran dek Sani pun sudah sedikit berbeda"
Sani terdiam, dia masih meragukan kata-kata pak Haris.
__ADS_1
"Begini saja, kita lihat 5 tahun kedepan, apa yang terjadi dengan dek Sani"
Sani pun mengangguk, mencoba memahami kalimat pak Haris.
"Dan nanti, ketika dek Sani sudah mengenal dan menerapkan hal-hal yang saya katakan tadi, dek Sani harus hati-hati".
"Memang kenapa pak?"
"Ya kalau sudah melakukan perawatan, otomatis dek Sani semakin tampan, kalau ketampanan itu dibarengi dengan kemapanan ekonomi, maka sudah pasti itu akan mendatangakan Jutaan Godaan dari makhluk yang bernama Wanita, dan itu Pasti..!!"
"Hati-hati mas, sekarang banyak Tante-tante dan Janda cantik yang Hobby menculik lelaki muda dan perkasa seperti mas Sani"
Seloroh Jono yang tiba-tiba menyahut pembicaraan mereka.
"Haaahaaahaaa...."
Mereka pun tertawa bersama.
"Dan sekarang godaan Janda muda lebih berbahaya dibanding godaan perawan haaahaa"
"Ckckckk mas Jono bisa saja"
Setelah ngobrol panjang, Sani pun pamit dari rumah pak Haris.
Dalam perjalanan pulang, Sani terus memikirkan kata-kata pak Haris.
"Skincare, perawatan...emang cowok perlu yang gituan ya, bukannya malah jadi kek bencoong nantinya ckckckck"
Dia merasa geli sendiri membayangkan hal itu.
Dia merasa tidak perlu melakukan hal yang demikian,
"Aku gini aja udah dapet Ayu, mau cari yang seperti apa lagi coba...hhhh pak Haris ada-ada saja"
"Ada yang lebih penting dibandingkan Skincare dan perawatan, urusan dapur lebih utama dibanding segalanya ckckckck"
Sani cekikikan sendiri mengingat apa yang telah dibahas barusan.
Dia lebih memilih menjadi pria yang biasa saja daripada harus menggunakan skincare atau semacamnya.
Sampai dirumah Sani langsung menyiapkan semuanya.
Ternyata pakde dan budenya sudah menunggu.
"Kenapa agak lama?"
Bude Wiwik menanyakan alasan Sani yang kembali lebih lambat dari biasanya.
"Tadi keasyikan ngobrol sama pak Haris, sampai lupa waktu..ckckckkck"
Sani cekikikan karena menjadi teringat dengan Skincare.
"Kalian sudah sangat akrab ya?"
"Ya gimana lagi bude, kan setiap hari ketemu dan ngobrol, jadi makin hari makin nyambung aja"
Bude Wiwik pun tersenyum mendengar jawaban Sani.
"Kamu jadi pergi Minggu ini San?"
"Sepertinya jadi Pakde, gimana?"
"Ya nggak apa-apa juga, kami sudah siap gantiin jualan, sudha hafal semua, nanti kamu boleh bawa selimut dan tidur di kios, biar kami yang mengatasi haaahaa"
__ADS_1
"OK, kita lihat saja nanti, awas kalau sampai aku dibangunin gara-gara lupa Harga"
"Ckckckck aku sering lupa, tapi ibu sama Budemu itu nggak mungkin"
"Haaahaa...OK, Sani tunggu perangnya besok dini hari".
Mereka pun tertawa bersama.
Ibu, pakde serta budenya sudah sangat luwes melayani para pelanggan Sani.
Sani pun menjadi lega melihat hal itu.
Tidak ada yang perlu dia khawatirkan lagi jika dia pergi meninggalkan mereka jualan sendiri di kios.
"Sayang, besok Minggu jadi kan?"
"Maunya sih jadi, mas Sani nggak repot kan? Ya kalau repot, dibatalin juga nggak apa-apa kok"
"Bisa kok, Mas udah pamit ke Ibu, mereka sudah siap gantiin jualan"
"Syukur deh kalau gitu, kita bisa refreshing hehe, Mas Sani sendiri bisa lebih rileks saat tanding nanti"
"Hehe semoga aja, udah dulu ya, mas mau latihan"
"Iya Sayang, semangat ya...!"
"Pastinya..."
Mereka pun mengakhiri chattingan karena Sani akan latihan fisik.
Jadwal pertandingan sudah dekat, tinggal seminggu lagi, dia harus benar-benar mempersiapkan diri dengan maksimal.
Dia ingin mendapatkan yang terbaik untuk pertandingan yang dianggap sebagai pertandingan terakhirnya itu.
"Aku harus sering-sering menemui pak Hambali, untuk mendapatkan segala nasehat dan arahannya, itu sangat penting untuk bekalku nanti"
Sebuah mobil berhenti di depan rumah pak Hambali.
Saat itu pak Hambali sedang duduk di teras rumahnya.
"Bukankah itu mobil Rindra? Tumben sekali dia kesini, ada apa kira-kira?"
Pak Hambali bertanya-tanya dalam hati melihat kedatangan Rindra yang tidak biasa.
__ADS_1