Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Semua Akan Baik-Baik Saja


__ADS_3

"Kamu, tidak seperti orang yang baru bangun tidur San?"


Pakde Damar melihat Sani sedikit pucat.


"Hehe iya pakde, tadi begadang di rumah pak Hambali"


"Tumben sekali, ada kepentingan ya?"


"Enggak juga, cuma tadi ada Rindra disana, jadi aku sambil nemenin dia"


Merekapun segera berangkat menuju kios setelah selesai mempersiapkan semuanya.


Sampai di kios, Sani langsung tidur, dia benar-benar membiarkan orang tuanya bekerja.


"Benar-benar sudah seperti juragan ya dia..ckckck"


Bude Wiwik terkekeh melihat kelakuan Sani.


"Suatu saat, dia pasti bisa menjadi juragan yang sungguhan, dia pantas untuk itu"


Pakde Damar berucap dengan nada bangga kepada keponakannya itu.


Sedang Bu Nanik hanya tersenyum sambil mengamini dalam Hatinya, dia berharap anaknya bisa menjadi orang yang sukses dalam usahanya.


Setelah menunggu kurang lebih 20menit, para pelanggan sudah mulai berdatangan.


"Waahh....Boos nya tidur ya.."


Ucap salah satu pelanggan.


"Haahaa..iya mas, ngantuk katanya, habis begadang"


Timpal pakde Damar.


"Mungkin terlalu rajin juga pak, masih muda juga, tapi kerjanya udah seberat ini"


"Dia sendiri yang memilih, dia yang memutuskan, pernah aku suruh kuliah, dia malah memilih berjualan"


"Hhh mungkin pengen cepet pegang duit sendiri pak, cari uang sendiri, kalau ada kebutuhan bisa langsung memenuhi sendiri kebutuhannya, Ndak harus nunggu dikasih orang tua"


"Apa yang mau saya kasihkan mas, wong sekolah saja yang biayai pakdenya itu"


Bu Nanik menjawab kalimat pelanggan itu.


"Tapi memang dia tipe anak yang seperti itu mas, tipe anak yang semangat berjuang hhh"


"Lumayan ya pak, punya anak yang hebat seperti mas Sani"


"Lhoooo...ya jelas donk, keponakannya siapa.."


"Haaahaaahaaa...."


Mereka pun tertawa bersama ditengah kesibukan aktifitas jual beli di kios itu.


Hingga pukul 06.10, Sani terbangun karena suara berisik dari ibu-ibur perumahan.


Sani membuka lalu mengucek matanya, dan memandang ke arah orang yang sedang berbelanja.


"Ya Tuhaaaaan....baru bangun tidur saja udah Ganteng banget nih calon Mantu.."


Seru ibu-ibu yang biasa menggoda Sani dengan sebutan calon mantu.


Sani pun menahan senyumnya.


Bagaimana tidak, baru juga ia membuka mata, sudah disuguhi kehebohan ibu-ibu perumahan itu.


"Gimana, mau nggak jadi mantuku.."


Ibu itu tetap saja ngeyel seperti biasa.


"Saya sudah punya pacar Bu, cantik, baik, anggun, keibuan, perhatian, pokoknya limited edition deh...mau Saya nikahi besok"


Jawab Sani sekenanya...


"Yaaaahhh.....ini mendadak sakiiit disini.."


Ibu itu mengeluh sambil memegangi dadanya.


Diikuti gelak tawa semua yang ada disana.


"Haaahaaahaaa....."


Setelah para ibu-ibu itu berlalu, mereka tinggal menunggu pelanggan pedagang siang, dan bisa segera berkemas dari kios.


"Tinggal sedikit ya, sisihkan yang 2 ikat Bu, bisa habis diborong kalau nggak disisihkan.."


Sani meminta Ibunya untuk menyisihkan 2 ikat sayur seperti biasa.

__ADS_1


"Iya, Ibu sisihkan sekarang juga, biar nggak kehabisan"


Pakde Damar sudah mulai membereskan beberapa peralatan disana.


Supaya bisa langsung pulang ketika sudah habis dagangannya.


Tak berselang lama, para pelanggan pedagang siang sudah datang, tak kurang dari 5 orang, mereka meborong dagangan Sani hingga habis.


Sani dan keluarganya pun langsung membereskan semuanya dan segera pulang.


Dia ingin langsung tidur sampai rumah nanti.


Mengetahui jika Sani langsung tidur, pakde Damar membersihkan gerobak yang baru saja dipakai.


Supaya nanti lebih cepat menata semua sayurannya.




"Bu, hari Minggu nanti, Ayu mau keluar sama mas Sani ya?"



"Mau kemana?"



"Emm....mau kepantai Bu"



"Pantai mana?"



Ayu menyebutkan nama pantainya, sekaligus menjelaskan bahwa dia berangkat pagi dan rencana pulangnya sore hari.



Bu Indri diam, tidak langsung menjawab, dia berfikir agak lama.



"Ya kalau ibu tidak mengijinkan, ya biar Ayu batalkan saja, Ayu nggak maksa kok"




"Buuu, kalau ibu tidak mengijinkan, Ayu nggak maksa, Ayu batalin rencananya, nggak apa-apa juga misalnya nggak jadi"



Bu Indri tidak menjawab, hanya diam dan terlihat kurang senang dengan keinginan Ayu.


Sedang Ayu sendiri sangat pandai menyembunyikan rasa kecewanya.



Ayu pun pamit ke kamar, dan mengunci pintunya..dia menangis, dia sangat kecewa dengan respon ibunya.


Tapi dia juga tidak ingin memaksa keinginannya.



"Kakak kenapa Bu?"


Nissa bertanya kepada Ibunya, karena saat Ayu hendak masuk kamar, ia sempat berpapasan dengan Nissa, dan Nissa sempat melihat mata Ayu berkaca-kaca.



"Nggak apa-apa.."


Bu Indri hanya menjawab seadanya.



Nissa pun merasa janggal dengan jawaban Ibunya.


Dia pun akhirnya meninggalkan Ibunya sendirian di dapur.



"Tok Tok Tok..."


"Ayuuu, ibu mau bicara nak.."

__ADS_1



Ayu mendengar panggilan ibunya, tapi dia enggan membuka pintu, dia merasa sangat kecewa dengan ibunya, tapi dia tidak ingin Ibunya tahu tentang apa yang dirasakannya.



Memang biasanya begitu, seorang pendiam sangat pandai menyembunyikan perasaannya.



"Ayuuu....buka pintunya Nak, ada yang ingin ibu sampaikan.."


Bu Indri mencoba merayu anak sulungnya, tapi Ayu benar-benar tidak menjawab maupun membuka pintunya.



"Nak, ibu minta maaf, bukannya ibu tidak mengijinkan, tapi ada hal yang harus di pertimbangkan.."



Setelah menunggu cukup lama tapi tetap tidak ada jawaban, akhirnya Bu Indri pun menyerah.



"Baiklah, Ibu ijinkan kamu pergi, asalkan kamu janji, kamu jaga diri, dan saat hendak berangkat nanti, Sani harus meminta ijin sama Ayah dan Ibu..!!"



Bu Indri sedikit jengkel dengan sikap Ayu, dia merasa jika sekarang Ego Ayu sudah semakin besar.



"Seharusnya Sani bisa menasehatinya, tapi mereka masih terlalu kecil untuk memahami masalah hidup di masa mendatang"



"Itu karena kau belum benar-benar mengenal Sani..!!"


Pak Galih tiba-tiba menjawab Bu Indri yang sedang bergumam.



Bu Indri sedikit kaget dengan keberadaan Suaminya, tapi dia langsung menyadari kondisi saat itu.



"Percayalah, selama bersama Sani, Ayu akan baik-baik saja"



"Aku juga berfikir begitu, tapi entah kenapa, kali ini aku punya perasaan yang tidak enak"



"Apa yang kau takutkan? Jika ada kemungkinan terburuk, pasti Sani akan bertanggung jawab, dia adalah laki-laki terbaik yang pernah ku kenal"



"Kau benar-benar Yakin tentang itu?"



"Tentu saja, apalagi karena dia adalah anak Hartoyo, maka tidak ada lagi yang aku khawatirkan"



"Tidak semua anak selalu menuruni sifat Ayahnya..!!"



"Benar sekali, Buktinya, Ayu menuruni hampir semua sifatmu, dan hanya wajahnya yang diambil dariku"


Pak Galih berbicara sambil terkekeh.



"Kau benar-benar bisa tenang dengan hal ini, tapi entah kenapa, aku tidak bisa, ada perasaan yang mengganjal"


Bu Indri merasa akan terjadi sesuatu pada Sani dan Zaiyu jika mereka bepergian jauh.



"Tenanglah, semua akan baik-baik saja..."



Pak Galih memegang pundak Istrinya dan berusaha menenangkannya.

__ADS_1


__ADS_2