Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Besok...


__ADS_3

"Besok kita janjian sama mas Dio dimana?" Sani bertanya kepada pak Hambali melalui telfon.


"Dia menyuruh kita menunggu di dekat terminal, disan ada penitipan sepeda motor, nanti motor kita dititipkan disana."


Pak Hambali memberi Informasi kepada Sani.


"Baiklah, bawa motorku saja." Sani mengajak pak Hambali untuk membawa motornya saja.


"Jangan, nanti keluargamu akan kesulitan saat berjualan, 3 orang dengan 1 motor, akan merepotkan mereka." Pak Hambali menolak usulan Sani.


"Baiklah kalau begitu, sepertinya kau benar." Sani pun Sani pun menyetujui penolakan pak Hambali.


"Kamu tenang saja, fokus saja pada pertandinganmu, Aku sudah biasa menjalankan tugasmu, ini tidak akan sulit." Pakde Damar pun mencoba untuk meyakinkan Sani.


"Baik, Terima Kasih Pakde, semoga aku bisa meraih hasil yang maksimal di pertandingan terakhirku nanti." Sani menyatakan Hadapannya kepada Pakde Damar.


"Kamu pasti bisa, pasti...selama pak Hambali membimbing dirimu, kamu akan mendapatkan hasil terbaik." Ucap pakde Damar sembari tersenyum ke arah Sani.


"Aku pikir juga begitu, aku merasa sangat percaya diri ketika pak Hambali selalu meyakinkanku saat aku mulai ragu-ragu."


"Begitulah tugas dari seorang Guru." Pakde Damar menegaskan kepada Sani.


Sani pun tersenyum sambil menatap jauh ke depan.


"Kamu sudah pamit ke keluarga pacarmu?"


Pakde Damar kembali bertanya kepada Sani.


"Belum pakde, mungkin nanti malam, atau mungkin besok sambil berangkat, sekalian mampir sebentar."


"Jangan lupa, pamit ke semua teman-temanmu, minta do'a supaya mendapatkan hasil ya terbaik."


"Iya pakde, nanti teman-teman bakal Sani hubungi semua, meskipun mereka sudah tau, akan lebih baik jika aku bicara langsung dan meminta do'a dari mereka."


"Naaah....begitu lebih baik, biar kelihatan kalau kamu itu sungguh-sungguh."


Sani mengangguk, dan setelah cukup, Sani pun pamit pulang ke rumah, dia benar-benar ingin menghemat seluruh tenaganya untuk pertandingan besok lusa.


"Bro, besok gw berangkat bertanding, gw minta dukungan dan do'anya ya, supaya gw bisa mendapatkan hasil terbaik di pertandingan ini, sorry, gw nggak bisa ngomong secara langsung, gw cuma bisa minta tolong lewat chat, gw harap lu ngerti dan nggak tersinggung."


"Thank you ya Bro."


Begitulah isi pesan Sani yang dikirim secara Broadcast ke teman-temannya, dia berharap dukungan dan do'a dari teman-temannya mampu menambah semangat dan kepercayaan dirinya.

__ADS_1


"Pastilah, tanpa lu minta juga bakal gw do'ain, Semoga mendapatkan hasil terbaik ya San, gw bakal ikut bangga nantinya, dan rencananya gw sama yang lain bakal berangkat kesana, nonton langsung, pokoknya lu semangat aja."


Begitulah pesan dari Uki yang pertama kali membalas Sani.


"Beneran lu mau kesana Ki?" Sani seakan tidak percaya.


"Bener lah, rencana bareng sama Rindra, Tijar sama Farhan, tapi kita berangkatnya malam Minggu, kita rencana cuma nonton Finalnya doank, jadi kalau sampe lu kalah sebelum final, ya kita nggak Jadi berangkat."


"Haaahaa....OK deh, gw pasti berjuang demi kalian."


"Nah...gitu donk, mantab...Juara lagi pokoknya."


"Aamiin...makasih ya Ki."


"Yo'i."


Dan ketika hendak meletakkan hp nya, ada tanda pesan masuk, yang ternyata itu dari Rindra.


"Pastilah gw do'ain, gw sama anak-anak bakal nonton lu di Final, jadi lu harus berjuang sampai di Final yak, dan jangan lupa untuk Juara."


"Thank's ya Ndra, gw pasti berjuang sekuat tenaga."


Dan berikutnya, teman-teman membalas satu per satu.


Sani merasa semangatnya semakin bertambah, keberadaan teman-temannya benar-benar memberikan suntikan semangat dan kepercayaan dirinya.


Sani memutuskan untuk berpamitan keluarga Ayu esok hari saat berangkat ke Terminal.


"Ayuu....aku masih sangat ingat dengan aroma tubuhmu, ini adalah dosa ternikmat yang pernah kita lakukan."


Sani mengenang kejadian beberapa hari yang lalu, dimana dia dan Ayu memadu kasih hingga melampaui batasan mereka.


Tanpa sadar, Sani justru meneteskan air matanya.


"Seharusnya kau tidak perlu mengorbankan Kesucian dan Kehormatanmu, Seharusnya kau tidak memancing Nafsuku, Apakah setiap Cinta selalu seperti ini?"


Sani membayangkan detik-detik yang ia lewati bersama Ayu di dalam kamar Hotel itu.


"Aku masih tidak percaya, bahwa aku telah melanggar batas itu denganmu...ternyata, Gadis pendiam sepertimu sangat menggoda jika sedang terbakar gairah."


Sani pun senyum sendiri, dia membayangkan bagaimana saat itu Ayu bersikap layaknya Gadis nakal yang menggodanya.


"Haaaaahhh....dasar betina, kau memang makhluk yang sulit dimengerti."

__ADS_1


Sani pun tertidur sore itu, dia bahkan tidak mendengar saat orang tuanya sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk berjualan dini hari nanti.


"Apa Sani nanti ikut jualan?" Bude Wiwik bertanya kepada Ibunya Sani.


"Eehh....aku juga tidak tahu, dia belum bilang apapun kepadaku." Bu Nanik terlihat bingung, karena Sani memang belum mengatakan kepada Ibunya, apakah dia akan ikut ke kios atau tidak.


"Sebaiknya tidak usah, suruh dia istirahat di rumah saja." Pakde Damar menyarankan Ibu Nanik untuk melarang Sani ikut ke Kios.


"Iya, biar dia istirahat saja." Bude Wiwik pun menimpali.


"Baik, nanti aku sarankan dia untuk nggak ikut ke kios, tapi kalau dia maunya ikut, ya aku nggak bisa melarang kan? Tau sendiri anaknya gimana kalau sudah punya kemauan."


"Ya kalau memang dianya ngotot, mau gimana lagi."


Pakde Damar menyadari sifat Sani yang terkadang sulit dilarang apabila sudah memiliki keinginan.


"Sani ikut lah, lagian cuma pindah tempat tidur doank, daripada sendirian di rumah, mending kan tidur di kios, ada temennya."


Sani tiba-tiba menyahut pembicaraan mereka, dia ternyata mendengar pembicaraan orang tuanya.


"Nah kan....dengar sendiri kan jawabannya." Bu Nanik melihat ke arah kakak iparnya sambil tersenyum.


"Dasar...!" Bude Wiwik tersenyum ke arah Sani.


"Ya sudahlah, terserah, yang penting jaga kondisi, toh memang kesana cuma pindah tidur doank Hhhhh." Pakde Damar pun menyerah dengan keinginan Sani.


"Iya pakde, Istirahat bukan berarti tidak melakukan pekerjaan sama sekali kan, setidaknya disana bisa sedikit membantu, meskipun sebentar."


"Kamu sudah pamit ke Keluarga Ayu Nak?" Ibu Nanik bertanya kepada Sani.


"Belum Bu, besok saja sambil berangkat."


"Kenapa tidak nanti malam saja, setidaknya bicaralah baik-baik, jangan hanya mampir, mereka juga akan menjadi orang tuamu kelak."


Sani pun diam, dia berpikir apa yang di katakan ibunya ada benarnya.


"Nanti aku pertimbangkan deh, pengennya Sani mampir doank, lalu langsung berangkat."


"Nak, jangan sampai keluarga pak Galih menuduh bahwa Ibu tidak mengajari kamu sopan santun..!" Bu Nanik terlihat menekan Sani.


"Iya deh iya...Nanti Sani kesana buat pamitan.."


"Ya sebaiknya memang begitu, sama calon mertua kok asal mampir saja, kalau anaknya nggak dibolehin sama kamu, bisa nangis kamu Nanti." Pakde Damar pun ikut bersuara.

__ADS_1


"Haaahaaa..."


Mereka pun tertawa bersama, dan tak terasa pekerjaan mereka pun telah selesai.


__ADS_2