
Dini Hari, sebelum Sani berangkat, dia menunggu pak Bandung.
"Sani mau ngmong langsung ke pak Bandung, kalau mulai sekarang, dia tidak perlu mampir sini lagi"
"Kenapa harus menunggu, kan bisa dihubungi lewat telfon"
Pakde Damar menyarankan Sani..
"Kalau ketemu langsung kan lebih enak pakde.."
Pakde Damar pun menuruti kemauan Sani.
Dan tak berselang lama, sorot lampu motor pak Bandung sudah kelihatan.
"Lhoh ..kok tumben, rame sekali?"
Pak Bandung agak heran dengan keadaan Sani hari ini.
"Hehe iya pak, kita mau ke kios bareng-bareng, semua mau bantuin Sani"
"Owh begitu, kalau begitu ayok, mana gerobaknya?"
"Pak Bandung...."
Sani melangkah mendekati pak Bandung.
"Mulai sekarang, pak Bandung tidak perlu repot-repot narik gerobak Sani, Sani sudah dapat pinjaman motor dari pak Haris, yang memang tujuannya untuk mengangkut dagangan Sani".
"Walah ..syukur kalau begitu, sekarang jadi lebih mudah ya.."
"Iya pak, Sani minta maaf ya pak"
"Lhoh kenapa minta maaf, ndak apa-apa kok, yang penting semuanya lancar.."
"Iya pak, terima kasih banyak ya pak, udah dibantu selama ini"
"Sama-sama, kalau begitu bapak duluan ya, marii..."
Semua mengangguk ke arah pak Bandung.
Lalu, saat Sani hendak memasang gerobak di motornya.
"San, jangan disitu...!!"
"Lhoh..kenapa pakde?"
"Itu motor masih bagus, jangan sampai lecet kena gerobakmu, sini aja, sangkutin ke motornya pakde"
"Haaahaa ya nggak masalah pakde, ini ada kain bisa buat bungkus bagian besinya, nggak bakal lecet juga.."
"Udah, sini aja.."
Pakde Damar memaksa membawa gerobaknya, karena tidak ingin motor dari pak Haris itu lecet.
Sani hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan pakdenya.
Dan sesaat kemudian mereka berempat berangkat beriringan.
Sani membonceng Ibunya, dan pakde Damar membonceng istrinya.
Setelah sampai di Kios, Sani segera melepas gerobak dari motor pakde Damar.
Lalu menata semua sayurnya di tempat yang sudah ada.
Jika dihitung sejak awal, baru sekitar 2 bulan Sani berjualan, yang awalnya kurang dari setengah gerobak, sekarang sudah penuh 1 gerobak, dan selalu habis di jam 7 pagi.
__ADS_1
"Kalian bisa duduk disana sambil memperhatikan caraku berjualan"
Sani menunjuk sebuah tempat duduk yang dibuat dari bambu, yang biasa ia gunakan untuk rebahan sambil menunggu pembeli.
"Aku diluar saja San, menunggu sambil ngudud"
"Boleh deh, sebentar lagi para pedagang keliling pasti lewat"
Tak perlu menunggu lama, satu per satu pedagang yang sudah menjadi langganan Sani akhirnya datang.
Mereka segera memilih segala sayur yang sudah digelar Sani.
Karena stok bertambah banyak, para pelanggan pun terlihat puas dalam memilih sayuran.
Ada yang langsung dibawa, ada pula yang masih ditinggal disana, dan diambil setelah mereka kembali dari pasar induk.
"Kok tumben bawa pendamping mas?"
Salah satu pelanggan Sani penasaran karena biasanya dia hanya berjualan sendirian.
"Owh...iya mas, mereka pengen tau caraku berjualan, kalau sewaktu-waktu saya sibuk, mereka yang gantiin"
"Ow..begitu"
Pedagang itu pun memandang pakde Damar, lalu mengangguk sambil tersenyum, dan dibalas dengan anggukan pakde Damar.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi, Bu Nanik dan Bude Wiwik merasa ngantuk berat.
Mereka seperti tidak kuat menahan kantuknya.
"Jadi seperti ini beratnya jualan di malam hari..."
Bude Wiwik mengajak Ibunya Sani mengobrol.
"Aku juga baru tau, dan Sani masih terlihat baik-baik saja"
Bu Nanik menatap anaknya penuh Iba, dia baru tau perjuangannya dalam berjualan itu ternyata sangat berat.
Lawan terberat untuk pekerjaan yang dilakukan pada malam hari adalah rasa ngantuk itu sendiri.
"Hartoyo....kamu memiliki anak yang luar biasa"
Bude Wiwik menggumam pelan, namun masih terdengar oleh Bu Nanik.
Bu Nanik pun tertunduk, dia merasa seperti telah meletakkan beban yang sangat berat di pundak anaknya itu.
"Kamu nggak ngantuk San?"
Pakde Damar bertanya pada Sani, karena saat itu pakde Damar sendiri sudah berulang kali menguap.
"Hhh enggak pakde, sudah kebiasaan, selama masih ada rokok, masih aman lah, bisa untuk mencegah ngantuk.."
"Haduh...mata pakde udah serasa di Lem nih.."
"Sani tadi bawa kopi kok, itu di Termos kecil, lumayan untuk mencegah ngantuk"
Lalu pakde Damar pun mengambil kopi, dan menyeruputnya.
Perlahan rasa kantuk itu sedikit mereda.
Bude Wiwik dan Bu Nanik pun meminum sedikit kopi yang dibawa Sani.
"Mungkin semua merasa ngantuk karena dari tadi cuma diam saja, kalau kalian bekerja, meladeni pembeli, dan menghitung harga, otomatis pikiran bekerja terus, rasa ngantuknya hilang"
"Apa mungkin begitu ya..."
__ADS_1
Pakde Damar menanggapi Sani.
"Nanti siang, Sani bakal buatin daftar harga sayuran ini semua, biar lebih mudah menjualnya"
"Ide bagus itu San, biar pakde bisa ikut melayani para pelangganmu"
Sani pun tersenyum mendengar jawaban Pakde Damar.
Pakde Damar menoleh ke arah dagangan Sani, jika diperkirakan masih ada sepertiga dari semua sayur yang dibawa.
"Jam segini kok sudah sepi ya San, dan daganganmu masih lumayan banyak?"
"Iya pakde, nanti jam 6 baru rame lagi, pedagang yang kelilingnya agak siang, datangnya sekitar jam 6 nanti."
"Owh...pantesan setiap jam 8 kamu sudah sampai rumah..jadi ada pembeli gelombang 2..."
"Haaahaaa...nanti juga ada ibu-ibu perumahan situ yang belanja kesini"
Saat waktu menunjukkan pukul 06.05, para pelanggan Sani gelombang ke 2 pun mulai berdatangan, mereka semua seperti sudah hafal dengan apa yang akan dibeli.
Setengah jam kemudian, ada 5 orang ibu-ibu dari perumahan yang belanja disana.
"Kok rame mas, tumben sekali?"
Salah satu Ibu pembeli itu bertanya kepada Sani.
"Iya Bu, itu pakde saya, yang di dalam itu Bude dan Ibu saya"
"Yang mana mas ibunya?"
"Itu yang sebelah kanan"
"Buuu, ini anaknya boleh ya aku ambil jadi mantu"
Salah seorang ibu tiba-tiba nyeletuk ke arah Ibu Sani.
"Haaahaaa...."
Semua yang mendengar langsung tertawa.
"Heh...aku juga mau jadiin dek Sani mantu, eh anakku cantik loh mas, beneran"
Sani hanya tersenyum malu mendengar obrolan mereka.
Setelah selesai berbelanja, mereka pun segera kembali.
"Makasih banyak ya mas.."
Mereka mengucapkan Terima kasih kepada Sani.
"Mari Bu, Calon besan.."
Ibu yang tadi mengangguk ke arah ibu Sani sambil tersenyum, dan disambut oleh gelak tawa mereka semua.
"San, kok harganya beda?"
Pakde Damar terlihat heran karena Sani memberikan harga yang berbeda dari sebelumnya.
"Mereka kan konsumen terakhir pakde, jadi Sani sengaja naikin harganya, kalau para pedagang tadi kan masih perlu dijual lagi"
"Owh...jadi begitu, beda juga ya harganya? Terus kalau mereka belanjanya bareng sama pedagang gimana San?"
"Kalau seperti itu ya harus dipukul rata, tapi sepertinya nggak mungkin, karena jam belanja mereka seperti sudah paten jam segitu, sejak awal belum pernah mereka barengan"
"Sejak awal kamu sudah mengatur harga seperti ini?"
__ADS_1
"Iya hhhh..."
Pakde Damar benar-benar takjub melihat kecerdasan keponakannya ini, dia tidak menyangka pola pikir Sani benar-benar matang dalam menjalankan usahanya.