
"Sani....kenapa kau melewati batasanmu? Apa gunanya aku menasehati Rindra, jika kau, Murid terbaikku justru melakukan Hal yang sama" Pak Hambali berbicara sendiri di teras rumahnya.
Dengan menikmati Kopi dan camilan yang ada, pagi itu pak Hambali sedang meratapi perbuatan Sani.
"Seharusnya aku tak pernah memiliki pengetahuan ini, agar aku tidak ikut merasakan kesalahan yang dibuat orang lain"
Ternyata saat meditasi malam hari, pak Hambali mendapat firasat tentang perbuatan Sani, dan dia Yakin itu adalah benar adanya.
"Tapi ada Firasat lain yang belum jelas, Firasat yang menggambarkan Tangis Kesedihan Sani, apa yang sebenarnya akan terjadi" Pak Hambali mencoba menelaah pengetahuan yang ia dapatkan.
"Haaah....usia semakin tua, tapi kenapa selalu ada masalah baru yang memaksaku ikut campur di dalamnya."
Pak Hambali menyandarkan tubuhnya di kursi, dan mengelus dadanya.
Dia menyayangkan masalah yang datang menghampirinya akhir-akhir ini.
"Hmmmmh....pertandingan Sani tinggal beberapa hari lagi, aku harus fokus dengan hal itu, aku tidak boleh terlalu banyak memikirkan hal lain..itu bisa saja mengganggu."
Pak Hambali pun ingin menyingkirkan masalah ini untuk sementara, karena masih harus fokus dengan pertandingan Sani, dan akan memikirkan kembali masalah ini setelah semuanya selesai.
"Aku harus memerintahkan Sani agar latihan disini selama 3 hari..!!"
Kemudian ia menulis sebuah pesan, dan mengirimnya kepada Sani, agar ia bisa mendampingi Sani dalam latihannya.
Saat istirahat, Ayu tidak keluar dari kelasnya, dia hanya makan bekalnya di kelas, dia tidak ingin kemana-mana, dia masih merasa lelah, dan beberapa bagian tubuhnya terasa sakit.
Saat makan, tiba-tiba ia teringat kejadian kemarin.
Dia tersenyum sendiri, dia tidak menyangka akan melewati batasnya.
Dia sama sekali tidak menyesali perbuatannya, karena ia melakukan dengan orang yang ia cintai.
"Mulai saat ini, kau adalah milikku sepenuhnya, meskipun tak selamanya, tapi kau adalah milikku sepenuhnya"
Dia berbicara sendiri, dan tak terasa air matanya menetes.
"Kling..!!"
Hape nya berbunyi, pertanda pesan masuk, saat ia membuka,ternyata pesan itu dari Sani.
"Jangan mikir yang enggak-enggak, nanti tersedak."
Dan benar saja, setelah membaca pesan itu, ia sedikit kaget dan benar-benar tersedak.
"Bagaimana ia bisa tau jika aku sedang makan..??" ia bertanya-tanya dalam hatinya.
"Mas tau kalau aku sedang makan? dan bagaimana bisa tau kalau aku tersedak?"
"ckckck emang bener ya..padahal aku cuma nebak aja sih"
"Hmmmh....kirain emang beneran tau, masih capek?"
"Udah lumayan pulih, hehe.."
__ADS_1
"Aku yang masih sakit.." Ayu memberi emoji menangis di akhir pesannya.
"Apanya yang masih sakit?"
"Semuanya, badanku masih terasa pegel.."
"Ya udah nanti segera istirahat ya kalau udah pulang, aku mau ambil sayur ke rumah pak Haris dulu, Eh iya, kemarin lupa mau ceritain soal motor barunya..hihi"
"Aku juga lupa mau nagih.."
"Besok-besok aja deh, ini udah mau berangkat soalnya"
"Ya udah, hati-hati ya sayang.."
Mereka mengakhiri percakapan via chatting.
Kemudian Ayu melanjutkan makan.
Sani sendiri sudah membaca pesan dari pak Hambali, dan dia pun menyanggupinya.
Nanti malam dia akan mulai latihan di rumah pak Hambali.
Mas Dio memberi arahan Wawan yang sedang berlatih.
Mereka juga mempersiapkan segalanya secara maksimal.
"Iya mas, Wawan tau, Wawan sekarang fokus dengan itu juga, kecepatan dan ketepatan..dan ternyata itu sangat sulit.."
"Pak Hambali pernah bilang, bahwa Sani adalah murid terbaiknya, selama dia melatih, termasuk saat melatihku, belum pernah menemukan murid yang sehebat Sani, ini pasti sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin.."
"Kalau boleh jujur, aku tidak bisa membayangkan, bagaimana Sani mampu mencapai level ini Mas, di mataku, dia petarung yang sempurna, baik secara bertahan ataupun menyerang"
"Yah, selain karena bakatnya, dia dilatih oleh Guru yang tepat, itulah alasan kemampuannya bisa mencapai level ini, Sani jauh lebih berbakat daripada aku Wan."
"Entahlah, yang penting aku berusaha maksimal mengantisipasinya, dan beberapa waktu lalu aku sempat menghubungi dia, dia bilang, ini akan jadi pertandingan terakhirnya, karena setelah ini ia akan fokus bekerja"
"Kamu sendiri gimana Wan, apakah masih akan melanjutkan karirmu di Pencak Silat?"
"Tidak mas, aku juga akan mengakhirinya, ini akan menjadi pertandingan terakhir kami."
"Aku hanya bisa membantumu seperti yang aku lakukan saat ini Wan, semoga kau mampu meraih yang terbaik."
"Iya mas, terima kasih ya, sudah membimbingku sampai sejauh ini, ini akan menjadi cerita yang luar biasa nantinya."
"Itu sudah menjadi tugasku Wan, membimbingmu secara maksimal, sedangkan tugasmu adalah bertanding secara maksimal"
"Aku akan berusaha mas, tidak ada yang tidak mungkin"
"Benar, lagipula, kemampuan Sani memang sedikit berada di atas kemampuanmu, jadi kamu tidak perlu ragu, kau akan bangga jika menang, dan tidak perlu malu jika kalah.."
"Hmmm..."
Dio dan Wawan sedang membicarakan persiapan pertandingan nanti, mereka berharap tidak bertemu Sani di awal pertandingan, mereka berharap bisa bertamu di final, agar bisa melihat pertandingan 2 pendekar yang akan bertanding untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
"Apakah akan ada latihan baru hari ini?"
Sani bertanya pada pak Hambali.
"Ya, latihan fisikmu harus dipotong, kau hanya perlu melakukan 50% dari biasanya, sedangkan sisanya, kau harus gencar latihan spiritual." pak Hambali menjelaskan kepada Sani.
"Baiklah, segera kita mulai saja latihan fisiknya"
Sani pun memulai latihannya hari ini bersama pak Hambali.
Porsi latihannya memang tak seperti biasanya, hanya 50% saja, tapi pak Hambali lebih menekankan Sani berlatih spiritualnya.
Setelah latihan fisik selesai, Sani beristirahat untuk memulihkan tenaganya, dan setelah kembali normal, dia mulai latihan spiritual yang di bimbing langsung oleh pak Hambali.
Setelah cukup lama, latihan itu selesai pukul 22.00.
Merekapun istirahat di teras rumah pak Hambali.
"Bagaimana rasanya?" Pak Hambali bertanya kepada Sani.
"Aku baru tau, ternyata latihan pernapasan jauh lebih melelahkan dibanding latihan fisik, aku benar-benar kehabisan tenaga"
Sani menjawab dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Hasilnya pun berbeda San, perbandingannya hampir 2x lipat"
"Apa maksudnya?" Sani kurang mengerti.
"Jika kau melatih pukulanmu selama 1 jam penuh, mungkin kau akan meningkatkan kekuatan pukulan maksimal 10% saja, tapi jika kau melatih pernapasanmu, kekuatan pukulanmu akan meningkat 20%" pak Hambali menjelaskan.
"Benarkah seperti itu?" Sani seperti tak yakin.
"Kau meragukan penjelasanku?" Pak Hambali balik bertanya
"Jadi, jika aku melatih fisikku, dan lalu aku melatih pernapasanku, itu artinya aku meningkat sebanyak 30% ?"
"Kurang lebih seperti itu.."
Setelah bercengkrama cukup lama, Sani merasa tenaganya sudah pulih, dan tak terasa sudah pukul 23.20.
__ADS_1
Sani pun pamit pulang untuk istirahat.