
Farhan telah melewati operasinya yang berjalan cepat dan lancar, Dokter pun memberitahu bahwa besok sudah boleh pulang.
Namun sebelum itu, mereka harus menyelesaikan urusan Administrasi terlebih dahulu.
"Bapak jangan mengharapkan bantuan orang lain, kita harus berupaya sendiri pak"
Bu Titin menyarankan kepada suaminya untuk membayar sendiri biayanya.
"Tapi aku sudah di wanti-wanti sama Nak Rindra, aku takut itu bakal mengecewakannya"
"Katakan saja kepada mereka, kalau kita sudah buru-buru ingin pulang"
"Baiklah, aku akan mencari tahu, berapa biaya semua ini, lalu nanti aku akan pulang menjual motorku"
Bu Titin mengangguk tanda setuju.
Kemudian pak Maman menuju bagian administrasi, menanyakan terkait pembiayaan operasi Farhan.
"Selamat sore pak, ada yang bisa dibantu?"
Petugas itu bertanya dengan ramah kepada Ayah Farhan.
"Eehhh...mau tanya Bu, biaya untuk pasien atas nama Farhan Prasetyo totalnya berapa ya?"
"Baik pak, saya akan coba cek dahulu"
Pak Maman menunggu untuk beberapa saat, lalu petugas itu berbicara lagi
"Mohon maaf pak, untuk pasien atas nama Farhan Prasetyo sudah dibayar lunas pak, bahkan sampai kebutuhan besok, karena besok sore pasien sudah diperbolehkan pulang"
"Sudah lunas? Siapa yang membayarnya Bu?"
Pak Maman sedikit terkejut
"Apa jangan-jangan Nak Rindra?
Gumam pak Maman.
"Untuk seluruh pembiayaan sudah di Transfer oleh Rindra Hakimi Jaya pak"
"Owh...baik, terima kasih banyak ya Bu"
"Sama-sama pak"
Pak Maman pun kembali ke ruangan Farhan untuk memberitahukan hal ini kepada Istrinya.
"Sudah beres..?"
"Sudah Pa, sudah Rindra Transfer semua pembiayaan perawatan dan operasi Farhan, termasuk biaya untuk perawatan sehari besok"
"Sebenarnya apa alasanmu bersikap demikian kepada Farhan..?"
"Emmm ...."
Belum sempat Rindra menjawab pertanyaan papanya, pak Jaya sudah menyambung pembicaraannya lagi.
"Jika ini kepada Sani, jelas aku sudah tau alasanny, tapi jika Farhan....aku belum mengerti...."
"Hmmmh....Farhan anak baik Pa...saat dulu Rindra memusuhi Sani, cuma Farhan yang tidak pernah ikut membully Sani...Bahkan"
Rindra mengambil nafas sejenak,
"Farhan pernah secara terang-terangan menjauhiku karena aku selalu memusuhi Sani, dan Farhan tidak sepakat dalam hal itu, itulah yang aku yakini, bahwa Farhan sebenarnya berhati baik"
"Hmmm....OK, aku mengerti sekarang, dan aku selalu sependapat denganmu"
Pak Jaya menanggapi sambil tersenyum
"Aku juga menginginkan orang baik seperti Farhan menjadi bagian dari perusahaanku nanti"
"Dan sekali lagi aku setuju denganmu..!!"
__ADS_1
Pak Jaya menegaskan kalimatnya.
"Bu, semua sudah dibayar sama Nak Rindra, katanya di Transfer, bahkan untuk biaya perawatan besok"
"Aduh...kita keduluan ya pak, kan jadi nggak enak"
"Jadi Rindra yang membayar semua biayanya..??"
Farhan yang mendengar percakapan mereka pun langsung bertanya untuk memastikan.
"Iya Han, kemarin Rindra sudah bilang sama Ayah langsung, meskipun Ayah menolak, tapi nak Rindra tetap saja ngotot ingin melakukannya"
Farhan terdiam, antara senang dan tidak enak hati.
"Mau bagaimana lagi, ya sudah kita terima saja, yang penting bukan kita yang minta duluan"
Ibu Farhan menimpali.
"Iya Bu, kita nggak pernah minta, bahkan malah kita sempat menolaknya, tapi justru dia sendiri yang ngotot"
"Ya sudah, Yah, Bu, kita terima saja, mungkin Rindra memang berniat baik kepada kita, tidak benar juga kalau kita menghalangi seseorang berbuat baik"
"Toh, dari segi ekonomi, mereka memang lebih kaya dari kita hhh"
Farhan melanjutkan sambil tersenyum.
"Hallo, Dio..."
"Hallo pak, gimana kabarnya?"
"Baik Di, kamu sendiri gimana?"
"Sehat pak, tapi masih dalam status jejaka tua"
"Haaahaaa..."
"Eh Di, pertandingan nanti kamu naik motor apa rombongan mobil?"
"Rencana sih rombongan mobil pak, kalau pak Hambali cuma berduaan sama Sani, bareng kita aja, rencana kita bawa 2 mobil kok"
"Oh, iya deh...besok Sani tak kasih tau, biar gak terlalu capek dai perjalanan nantinya"
"Bener pak, biar bisa hemat tenaga"
"Iya Di, kali ini Sani bakal tarung habis-habisan kayaknya, soalnya setelah ini dia sudah gak mau bertanding lagi, dia ingin fokus dengan usahanya"
"Waduuuh....sayang juga sih, padahal dia bisa jadi petarung hebat, skill mumpuni, tehniknya luar biasa, kecepatan dan ketepatannya istimewa, dan dia juga sangat berbakat"
Sesal mas Dio yang mengetahui rencana Sani.
"Kalau soal bakat, dia bisa sangat berbakat dalam segala Hal yang dijalani Di"
"Sekolah pinter, usaha dipersiapkan matang, silat juga bagus, Eh diem-diem dapet pacar Cantik..dia sudah melampauimu dalam hal cinta"
"Haaaahaaahaaa....."
Mereka terbahak-bahak barengan...
__ADS_1
"Ya wajar lah, Sani kan Gagah, Cerdas, Ganteng pula...tinggal pilih aja sih dianya wkwkwkwk"
"Nggak cuma cewek-cewek muda, banyak ibu-ibu yang menginginkan menantu seperti dia, atau bahkan dijadikan simpanan"
"Haaahaaahaaa...."
Dan sekali lagi mereka tertawa bersama.
"Ya sudah Di, nanti tak hubungin lagi kalau udah deket waktunya"
"Baik, siap Guruku..."
Mereka mengakhiri obrolan yang membahas rencana pertandingan se-Provinsi itu, dan pak Hambali pun mulai bekerja mengolah tanah di pekarangannya.
Dia ingin meniru Sani, sekaligus membantu Sani jika tanaman Sayurnya nanti layak untuk di pasarkan.
"Orang setua aku, masih kalah cerdas sama bocah seperti Sani hhhhhh...."
Pak Hambali mulai bekerja sambil berceloteh sendiri membahas kecerdasan Sani.
"Pak Bandung, baru pulang ya Pak?"
"Oh pak Haris, iya pak, lumayan, dapat banyak orderan hari ini"
"Syukurlah pak, bisa buat nambah tabungan"
"Hehe iya, mari Pak Haris, saya duluan"
Pak Haris mengangguk tersenyum kepada pak Bandung.
Siapa pak Haris ??
Beliau adalah juaragan sayur kampung sebelah kampungnya Sani, atau lebih tepatnya tetangganya pak Bandung.
Beliau sudah sukses di dunia perdagangan sayur mayur.
Beliau juga sangat baik kepada para tetangga, termasuk pak Bandung.
Setiap malam, mereka nongkrong bersama di warung kopi dekat rumah mereka, tak terkecuali malam ini.
"Pak Bandung kok sekarang berangkat lebih awal saya lihat, biasanya baru berangkat setelah dagangan saya diambil oleh orang pasar, tapi sekarang kok malah pak Bandung yang berangkat duluan?"
"Iya pak Haris, di kampung sebelah ada anak muda bernama Sani, baru buka kios di jalur tembusan kota, dipinggir sawah yang kabarnya mau dibangun perumahan itu"
"Pedagang baru? Anak muda? Sudah berapa hari pak di buka?"
"Baru kemarin kok pak, tapi kelihatannya bagus, tadi pagi saja sudah kehabisan sebelum jam 7"
"Emmm...pak Bandung bisa menghubungkan saya dengan anak Muda itu?"
"Bisa pak Haris, ini ada nomor hapenya...kalau boleh tau, ada perlu apa ya pak?"
"Anu...itu, barangkali saya bisa menitipkan dagangan untuk anak itu"
Kemudian pak Haris mendekat ke telinga pak Bandung, lalu setengah berbisik...
"Pak Bandung kan tau, akhir-akhir ini kesehatan saya menurun, sudah tidak berani sering-sering keluar rumah"
Lalu pak Haris menghela nafas,
"Siapa tau anak itu bisa dipercaya, dan kita bisa menjalin kerja sama yang bagus"
"Owh begitu, kalau anaknya sih sangat jujur pak, saya yakin bisa dipercaya, tapi kalai saya boleh kasih saran..."
"Besok sekitar jam 4 pagi, pak Haris lihat sendiri saja, seperti apa tingkat keramaian kiosnya, kalau sudah tau kan gampang, pak Haris mau titip dagangan apa, jumlahnya berapa, lebih mudah di perkirakan"
"Pak Bandung betul juga, sekalian aku bisa bicara langsung dengan anaknya".
"Nah...itu lebih bagus pak Haris"
"Baiklah kalau begitu, saya pulang dulu pak Bandung, sudah ngantuk"
"Saya juga mau balik kok pak Haris, sekarang bangunnya lebih awal, jadi tidurnya juga harus lebih awal"
"Ya udah kalau begitu, saya duluan pak Bandung"
"Mari pak Haris"
__ADS_1
Ucap pak Bandung seraya menunduk, lalu mereka berpisah, dan Bandung pun juga pulang menuju ke kediamannya.