
Pukul 7, Sani mengajak mereka beres-beres.
"Kalau nanti kalian sudah berangkat bertiga, tolong selalu sisakan 2 ikat sayur, jangan dijual.."
"Kenapa San?"
Bude Wiwik bertanya.
"Satu ikat nanti saya kasih ke pak Hambali, dan Satu ikatnya untuk Nenek Nompo yang ada di ujung kampung kita"
Mereka semua melongo, mereka tidak menyangka Sani melakukan Hal mulia itu.
"Anakku..."
Bu Nanik menggumam pelan, air matanya pun menetes, dia benar-benar tidak menyangka jika Anaknya memiliki hati yang sama baiknya dengan Ayahnya.
Setelah selesai, Sani mengunci kiosnya dari luar, dan mereka pun pulang bersama.
Sampai di rumah, mereka semua langsung menuju tempat tidurnya masing-masing.
Kecuali Sani, Sani masih sempat membersihkan gerobaknya untuk persiapan nanti siang mengambil sayur dari rumah pak Haris.
"Han, gimana kabar lu, udah bisa jalan?"
Rindra mengirim pesan singkat kepada Farhan.
"Udah Ndra, kalau untuk jalan pelan-pelan sih udah nggak sakit lagi"
"Syukur deh, ntar gw mampir ya, lama nggak ketemu kita"
"Jam berapa Ndra?"
"Mungkin agak sorean, kenapa? Lu mau keluar?"
"Enggak, tadi Uki bilang mau kesini juga, katanya sama Tijar juga"
"Wah kebetulan donk, janjian jam berapa kalian?"
"Uki bilang sih jam 1"
"Owh...mungkin masih sempat gw nanti, kalau mereka dah sampai duluan, bilangin jangan buru-buru pulang"
"OK deh...siap"
"Ya udah deh, sampai jumpa nanti ya"
"Yo'i..."
Rindra dan Farhan pun mengakhiri percakapan mereka melalui chat WhatsApp.
Setelah jam 2, Rindra keluar dari kampus, dan langsung menuju rumah Farhan.
Setelah menempuh 15 menit perjalanan, sampailah dia di halaman rumah Farhan
Sudah ada 2 motor disana, yang ternyata itu Motor Uki dan Tijar.
Farhan yang melihat kedatangan sahabatnya itu langsung menyambutnya di depan pintu.
"Apa kabar boy?"
"Baik donk.."
Rindra menjawab sambil memandangi kaki kiri Farhan, kemudian jongkok untuk melihat kaki Farhan secara detail.
"Ngapain woy.."
"Nggak kelihatan bekas operasi ya?"
Rindra mendongak memandang Farhan.
"Owh...aman kok, kelihatan normal"
Rindra kemudian mengelus kaki sahabatnya itu.
"Cepet pilih 100% deh, biar bisa ngumpul di luar lagi.."
"Aamiin..."
Farhan tersenyum lalu mempersilahkan masuk.
"Dah lama kalian?"
Rindra menyalami Uki dan Tijar.
"Dari tadi jam 1 nyampe sini"
Tijar menjawab pertanyaan Rindra.
"Tumben lu pulang agak siang, biasanya menjelang petang.."
Uki menyahut obrolan mereka.
"Lagi kosong Ki, daripada nggak ada temen dirumah, mending mampir sini, itung-itung mbesuk Farhan, eh barengan sama kalian"
__ADS_1
"Eeehh...Nak Rindra, apa kabar Nak?"
Ibu Farhan datang dari ruang tengah sambil membawakan 1 gelas kopi untuk Rindra.
"Baik Bu.."
Rindra menjawab sambil mengangguk dan tersenyum.
"Papa dan Mama gimana kabarnya?"
"Sehat semua kok Bu, Ibu sendiri gimana?"
"Ibu sehat nak, Nak Rindra kok lama nggak kesini?"
"Baru kecantol janda Muda Bu"
Uki tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.
"Anjiiiing lu Ki..!!"
"Haaahaa..."
Mereka semua tertawa bersamaan, termasuk Ibunya Farhan.
"Bapak kemana Bu?"
"Bapak lagi kerja di pabrik Kertas, pulangnya nanti jam 5"
"Owh..."
"Ya udah, ibu ke belakang dulu, jangan lupa diminum kopinya"
"Iya Bu, makasih"
Lalu Ibunya Farhan melangkah menuju dapur.
"Gimana kabarnya Sani Ki?"
Rindra menanyakan kabar sahabatnya itu kepada Uki.
"Eeh...jujur ya, akhir-akhir ini juga jarang chat sama dia, gw takut ganggu kesibukannya"
Rindra menimpali.
"Bener juga yak, gw ngerasa kek jauh banget sekarang, padahal nggak ada masalah apa-apa juga"
"Ya itu tadi, Lu nya sungkan sih hubungin dia"
"Gimana kalau kita bikin grup WA aja?"
Tijar tiba-tiba memiliki Ide.
"Bagus juga itu, biar bisa ngobrol tiap hari"
Farhan menanggapi ide Tijar.
"Terus, Odi gimana? Nggak kasihan sama dia?"
Mendadak semua jadi hening.
"Gw aja sedih kalau mendengar kabarnya, kek nya dia udah menjalani kehidupan yang lebih berat dibanding Sani"
Rindra melanjutkan.
"Kalau gitu Odi nggak usah dimasukin grup"
Tijar sedikit memaksa.
"Lu tega?"
Rindra sedikit meninggi.
"Udah-udah, nggak usah bikin grup, tanya sendiri-sendiri aja kalau mau tau kabarnya.."
Uki mencoba menengahi karena keadaan sedikit memanas.
"Dah lah, minum dulu kopinya, biar tenang, biar nggak panik katanya"
Farhan ikut menanggapi
"Haaahaaahaaa ..."
Mereka semua tertawa bersamaan.
"Itu kalimat tahun 2012 yak"
Rindra sedikit terkekeh.
__ADS_1
"Waktu kita masih SD"
Tijar pun menimpali
"Haaaahaaa....."
Mereka kembali tertawa.
Setelah minum kopi, mereka pun mengambil rokok masing-masing, dan saat mereka secara bersamaan menghembuskan Asap rokoknya...
"Wuuiihh.....bisa terbang nih rumah"
Uki tiba-tiba ngelawak aja.
"Ckckckck 4 orang ngudud bareng aja asepnya bisa kek gini"
Farhan cekikikan menanggapi Uki.
"Hey...gw mau minta pendapat"
Rindra tiba-tiba bicara dengan nada serius, dan berpindah tempat duduk mendekati Uki dan Tijar.
"Ini Topiknya Pria, Oke, emmm...kalian udah ada yang pernah begituan?"
Rindra berbicara dengan sedikit berbisik.
Mereka bertiga terdiam dan saling memandangi Rindra..
"Gituan? Maksud Lu Ng\*w\*..?"
Uki mencoba memperjelas.
"Ya iyalah Brooow...kan udah gw bilang, ini Topiknya Pria"
"Bangkeee lu Ndra, apa tujuan lu nanyain ginian?"
Farhan sedikit jengkel dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Nggak ada tujuan apa-apa sih, cuma pengen tau aja, kalian nggak ada niatan buat nakal?"
Mereka kembali terdiam dan saling pandang.
"Hey...Setaaan laknaaat, lu kalau mau jadi Bajingaaan, berangkat sendiri aja, jangan ajakin kita-kita yang masih polos"
Tijar menanggapi Rindra.
"Halah...polos lu bilang, kalau lu disuguhi paha mulus palingan ngiler juga lu.."
"Lhah....berarti normal donk gw"
Tijar nggak mau kalah.
"Haaahaaahaaa..."
"Udah Ah, jangan ajarin gw nakal, soalnya gw udah bisa, jadi nggak perlua diajarin"
Timpal Uki yang tengah masuk ke mode lawak lagi.
"Haaahaaa...Bangkeeee lu"
Rindra menimpali.
Mereka pun melanjutkan bercanda kesana-kemari, sambil menikmati kopi dan beberapa camilan yang disediakan Ibunya Farhan.
Sampai saat semakin gelap, mereka pun berpamitan pulang ke rumah masing-masing.
"Kalau ada waktu luang, kabar-kabar aja ya, siapa tau bisa ngopi bareng"
Rindra menyampaikan pesan kepada teman-temannya.
"Yo'i, sekalian ngajak Farhan jalan-jalan di luar, kasihan dia, udah berbulan-bulan nggak pernah liat paha mulus"
Uki menanggapi pesan Rindra.
"Haaahaaahaaa..."
Mereka terbahak mendengar tanggapan Uki.
"Dah ah, pulang yuk, Han duluan ya, cepet sehat.."
Rindra berpamitan kepada Farhan.
"Siapa...thanks ya, udah sempatin mampir"
Dan mereka pun berlalu.
Farhan masih berdiri di depan pintu rumahnya.
"Mereka pulang, langsung sepi lagi...hmmmh"
Farhan sedikit menyesali kepergian mereka.
__ADS_1
Tapi mau bagaimana lagi, dia hanya berharap bisa segera pulih dan menjalani kehidupan normal seperti sedia kala.