Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Ketenangan dalam Kesunyian


__ADS_3

"Hallo...eh bangkeee...apa kabar?"


"Anjiirrr....lu sekarang udah sibuk sama usaha lu, sekali nelfon malah bangkee-bangkee in gw ckckckck"


"Haaahaa....apa kabar lu?"


"Baik lah, tapi ya cuma gini-gini aja..lu sendiri gimana San?"


"Baik juga Ki, dah lama banget nggak nongkrong kita.."


"Iya, mau ngajak nongkrong?"


"Boleh deh, tapi bukan di kafe kek nya..."


"Anjiirrr... jangan-jangan ke tengah sawah lagi.."


"Wkwkwkwk itu tempat yang paling asyik buat kita nongkrong Ki...ckckckck"


"Tapi boleh juga deh, sama pak Hambali juga kan?"


"Iya donk, dia kan bagian penasehat nantinya...haaahaa"


"Kapan kira-kira?"


"Nanti malem bisa kok kalau lu nggak sibuk"


"OK deh, perlu temen lagi nggak?"


"Nggak usah lah, nggak asyik kalau terlalu rame"


"Ya udah deh, kita bertiga aja..."


"OK, sampai jumpa nanti ya...eh sekalian lu mampir ke rumah pak Hambali aja, daripada kebanyakan motor"


"Yo'i, siap deh"


Mereka pun mengakhiri percakapan itu, selanjutnya Sani menghubungi pak Hambali.


Pak Hambali pun langsung mengiyakan ajakan Sani, karena beliau sendiri sangat senang jika ngobrol dengan Sani dalam jangka yang lama.


Sani memiliki pola pikir yang cukup dewasa, dia selalu bisa menyambung pikiran dan apa yang disampaikan pak Hambali.


Hal yang cukup sulit ditemukan pada remaja seusia Sani.



Malam harinya, di warung kopi dekat rumahnya, pak Haris ngopi bersama pak Bandung.



"Selamat malam pak Haris..."


Pak Bandung menyapa duluan, karena pak Bandung merasa derajat pak Haris lebih tinggi darinya.



"Selamat malam pak Bandung, seharusnya saya yang menyapa duluan, bagusnya kan yang lebih muda menyapa kepada yang lebih tua"



"Hehe tapi kan saya bukan siapa-siapa pak, saya cuma kuli angkut saja"



"Pak Bandung, derajat seseorang tidak diukur dengan harta, tapi dengan perbuatannya, kalau saya yang muda tidak bisa menghormati pak Bandung, itu derajat saya malah makin rendah donk pak".



"Hehe...pak Haris selalu rendah Hati"



"Pak, masa muda saya dulu sangat nakal, dan bisa dibilang tidak tau aturan, jadi ijinkan saya sekarang berbuat baik, setidaknya biarkan saya menghormati pak Bandung, sebagai orang yang lebih tua dari saya..."

__ADS_1



Pak Haris menghisap rokoknya sejenak...


"Orang yang lebih tua seperti pak Bandung, pasti memiliki pengalaman hidup yang jauh lebih banyak dibanding saya"



"Hehe pak Haris bisa saja...Ee..Sani bagaimana pak kinerjanya?"



"Luar biasa pak, cara dia bekerja sangat memuaskan saya, bahkan saya berani memberi dia inventaris motor saya pak"



"Benar kan apa yang saya katakan dulu, dia sangat rajin, disiplin dan Jujur"



"Benar pak, bahkan sekarang penjualannya sudah lebih dari seperlima penjualan ke pasar Induk"



"Waaah...itu sangat luar biasa pak Haris, benar-benar luar biasa"



"Andai saja, anak saya masih hidup, mungkin di sebaya dengan Sani..."



Pak Bandung diam saja, dia tidak mau larut dalam kesedihan pak Haris.



"Baiklah pak Bandung, saya duluan ya, sudah ngantuk.."



Pak Bandung tau, bahwa pak Haris pamit bukan karena mengantuk, tapi karena hatinya sedih teringat anaknya yang sudah meninggal karena kecelakaan saat masih SMp dulu.



"Aku juga harus segera istirahat malam ini"


Pak Bandung pun beranjak dari sana dan segera kembali ke rumah untuk istirahat.


"Kopinya nggak lupa kan?"


Sani mengingatkan pak Hambali.


"Sudah beres semua ini, kopi sekaligus camilannya ckckck"


"Mantab dah..hihihi"


Sani terlihat antusias..


"Lu mah kurang ajar, masa' orang tua malah disuruh bawa, bukannya lu yang usaha, malah pak Hambali yang bawain"


Uki menimpali percakapan mereka.


"Soalnya dia kurang suka kopi dari gw, dia cuma bisa menikmati kopinya sendiri, kalau kopi dari orang lain, kurang puas katanya..."


Sani membantah Uki.


"Bener begitu pak?"


Uki mencoba mengkonfirmasi pak Hambali.


"Iya, kalau nggak kopiku sendiri, mending nggak usah begadang...ckckckkck"


Pak Kambali menjawab Uki sambil terkekeh.

__ADS_1


"Oalah...pantesan, Sani nggak pernah bawa"


"Ayok berangkat kalau begitu.."


Ajak pak Hambali.


"Bentar, ambil motor dulu.."


Sani segera berlari ke samping rumah dan menyalakan motornya yang di parkir di sebelah rumah.


"Motor lu baru San? Gileeee...baru beberapa bulan kerja, udah punya motor baru aja"


"Bukan motor gw, nanti aja gw ceritain"


"Bukan motor lu? Terus motor siapa?"


"Halah cerewet aja lu, dah yuk, berangkat..nggak usah ngebut, nyantai aja.."


Mereka pun berangkat menuju Gubuk tengah sawah yang pernah mereka datangi sebelumnya.


Disana mereka seperti menemukan ketenangan, karena benar-benar jauh dari keramaian.


Kesunyian dari hiruk pikuk kesibukan dunia, bisa sedikit merefresh pikiran mereka.


Hanya suara binatang malam yang bersahut kesana kemari, menghiasi malam yang sunyi, namun justru membuat perasaan mereka nyaman bertahan disana.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di tempat yang dituju.


Mereka segera meletakkan apa yang mereka bawa di gubuk itu.


Tak lupa mereka semua memakai kaos kaki, dan membawa sarung, untuk mencegah hawa dingin saat tengah malam nanti.


"Ki, orang tua lu nggak pernah melarang lu begadang kek gini?"


"Itulah salah satu keuntungan punya temen baik kek lu, asal gw ngomong mau keluar sama lu, biar kemanapun, mereka nggak pernah melarang, jangankan melarang, mereka bahkan nggak mau bertanya lebih jauh lagi kalau gw udh sebut nama lu"


"Anjiirrr....jangan-jangan lu malah salah gunain nama gw lagi..!"


"Salah gunain gimana?"


"Ya lu pas pergi jajan ke lokalisasi, tapi pamit lu ke orang tua pergi sama gw, kan rusak nama gw"


"Bangkeee...gw gak sebejat itu juga kaleee"


"Haaahaaa...."


Mereka bertiga terbahak bersama.


Sekeras apapun mereka ketawa, gak bakal ada orang yang mendengar, karena tempatnya lumayan jauh dari perkampungan.


"Malam ini lumayan dingin ya..."


Pak Hambali merasa udaranya lumayan menusuk tulangnya.


"Iya pak, untung Sani tadi ingetin buat bawa sarung, lumayan lah, bisa sedikit mengurangi"


"Mungkin tidur disini enak kali ya, nggak ada nyamuk, anginnya lumayan sepoi-sepoi"


"Enak lagi kalau ada betinanya San, efeknya gak cuma anget, bisa berkeringat malahan..ckckckk"


"Bangkeeee...lu, emang bejad lu, gaya lu aja tadi bilangnya gak sebejat itu...!"


"Yeeee....gw nggak bejad, cuma kalau ada, kenapa nggak dipake, kan sayang juga haaahaa"


"Heleh...kalian bicaranya sok-sokan betina, nikah aja belum berani...!!"


Pak Hambali mengejek mereka berdua.


"Aku berani pak, lihat aja nanti, Ayu lulus SMA langsung aku ajak nikah, si Uki tuh, udah kuliah masih Hobby masturbasi aja dia"


"Anjiiiing...sialan lu San, buka kartu lu...!!"


"Haaahaaahaaaa...."

__ADS_1


Mereka kembali tertawa karena kelakar Sani.


__ADS_2