
"San, itu motor kamu?"
"Iya, kok bude juga baru tau kamu udah punya motor.."
Ibu Sani yang keluar dari dalam rumah tiba-tiba juga bertanya
"Motor siapa ini..??"
"Begini pakde, bude, Ibu..."
Sani mulai menjelaskan
"Seminggu yang lalu, saat Sani melihat sayuran di rumah pak Haris, pak Haris menjanjikan sesuatu kepada Sani, Sani akan di kasih Inventaris motor ini dengan syarat, Sani harus menjual sayur dari pak Haris, sesuai dengan target yang beliau tentukan..."
Sani menarik nafas sejenak...
"Dan ternyata penjualannya melebihi target dari beliau, bahkan katanya penjualan Sani mampu mencapai seperlima dari penjualan di pasar..."
"Hmm...luar biasa kamu..sepertinya keputusan pakde dan bude semalem tidak salah"
Pakde Damar menimpali...
"Keputusan, keputusan apa pakde?"
"Pakde mau menjual semua sapi-sapinya, rencana kita sisain 2 saja"
"Lhoh...kenapa dijual..??!!"
Sani sangat kaget mendengar hal itu.
"Ladangnya mau pakde alih fungsikan, daripada ditanami rumput, mungkin lebih baik ditanami sayur juga, sekalian buat bantu kamu"
Sani dan Ibunya sangat terharu mendengar jawaban itu, bahkan mata Sani sudah berkaca-kaca..
"Pakde selalu membantu Sani dalam segala hal, sebaiknya yang ini tidak perlu dilakukan..."
"San, pakde dan bude semakin hari semakin tua, tidak sanggup kalau harus mencari rumput untuk sekian banyak sapi, lagi pula kamu sudah punya kesibukan sendiri, pakde nggak mau membebani semua, lebih baik kan dikurangi, semampu kita saja"
Sani hanya tertunduk sambil menggelengkan kepala.
Dia merasa bersalah karena telah meninggalkan pekerjannya mencari rumput untuk pakan ternak pakde Damar.
Pakde Damar pun mendekati Sani, dan memegan pundaknya.
"Jangan merasa bersalah, keputusan ini sudah kami pertimbangkan sejak beberapa hari yang lalu"
"Kami sudah memikirkan ini jauh-jauh hari, lagi pula, seusia kami sudah tidak seharusnya mengejar materi melulu, asalkan sudah memenuhi untuk makan sehari-hari, itu sudah cukup untuk kami".
Bude Wiwik pun menimpali.
"Kamu tidak usah bersedih, setelah ini, kami bakal memiliki lebih banyak waktu untuk membantumu jualan, kalau Ibu dan Budemu bisa membantumu jualan di kios, nanti kamu bisa mencari pekerjaan lain lagi, dan usahamu tetap jalan"
Pakde Damar mencoba menyemangati Sani.
"Dan juga, Ibumu tidak perlu repot-repot bekerja serabutan lagi"
Bude Wiwik memberi nasehat sambil tersenyum ke arah Sani.
Sani pun berfikir jika apa yang mereka katakan ada benarnya, jika Ibunya bisa membantu Jualan di Kios, maka dia tidak perlu repot-repot bekerja kesana-kemari lagi.
Toh keuntungan dari jualan pun sudah bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari, bahkan Sani masih memiliki sisa untuk ditabung meskipun tidak seberapa.
Jika dia bisa mencari pekerjaan lain, pemasukan pun pasti bertambah.
"Sudahlah San, kami hanya membantu, sejauh ini kau sendirilah yang menjadi kunci ide usaha ini, dan nyatanya, ini sudah mulai lancar"
Pakde Damar meyakinkan Sani.
"Kalau begitu, mulai nanti malam, kita berangkat bersama berjualan, supaya aku bisa cepat-cepat mencari pekerjaan lain"
"Sepertinya itu ide bagus"
Pakde Damar menyetujui keinginan Sani.
"Naaak, kamu nggak makan dulu?"
Bu Indri bertanya kepada Ayu dari luar kamar.
"Iya Bu, nanti kalau udah laper, Ayu makan"
"Ada apa, nggak biasanya kamu seharian di kamar terus?"
"Nggak apa-apa Bu, mungkin sedikit capek aja"
"Ya udah, nanti beneran makan ya.."
Bu Indri sedikit khawatir dengan keadaan anak sulungnya, dia takut Ayu kenapa-kenapa.
"Apa dia bertengkar dengan Sani ya? Atau ada masalah di sekolah? Tidak biasanya dia seperti ini, sebelumnya, setiap ada masalah apapun, dia pasti curhat....ah mungkin hanya kecapekan"
Bu Indri berbicara sendiri dan berusaha untuk tidak terlalu khawatir.
Ayu sendiri, sejak mengetahui hasil pemeriksaan dokter itu, sering terlihat murung dan sedih, apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sebenarnya dia derita.
Dia sendiri belum menceritakan kepada siapapun tentang hal itu, dia lebih memilih memendam sendiri masalah itu.
Untuk mengurangi kesedihannya, dia mencoba menghubungi Sani lewat video call.
Namun, setelah 3 kali melakukan panggilan, tidak ada jawaban dari Sani.
Bukannya terhibur, dia malah semakin sedih, dia berpikir Sani sudah tidak terlalu memprioritaskan hubungannya lagi...
"Mungkin dia sudah sukses, sudah kaya, sudah dapet Gadis yang lebih cantik & lebih baik lagi, makanya sudah nggak peduli sama aku..."
__ADS_1
Ayu bicara sendiri dengan kesedihannya, tiba-tiba..
"Arrgghhh.....kepalaku...sakiiiittt...."
Sakit kepalanya kambuh, dan sangat sakit.
Dia berusaha menahan rasa sakitnya sambil berjalan menuju tempat tidur.
Dia berpegangan pinggiran tempat tidur sambil memejamkan matanya untuk menahan rasa sakitnya.
Lalu dia merobohkan diri tempat tidurnya.
Untuk waktu yang cukup lama, akhirnya rasa sakit itu mereda, dan kemudian dia mulai berfikir normal kembali.
"Aku seharusnya tidak perlu berfikir negatif tentang mas Sani, tidak mungkin dia melakukan hal buruk itu....kenapa aku jadi over thinking seperti ini..."
Dia membuka matanya, menatap langit-langit kamarnya, dan tak terasa air matanya menetes cukup deras.
Akhirnya dia kembali mengambil hp nya, lalu mengirim pesan singkat kepada Sani..
"Mas, kalau udah nggak sibuk, balas pesanku yaa"
Dia hanya meninggalkan pesan itu, dia berharap Sani segera membalasnya.
Dia membuang jauh pikiran negatifnya, dan berusaha berfikir positif.
"Mungkin dia sibuk mempersiapkan segala keperluan jualannya, mungkin dia benar-benar ingin segera menabung untuk pernikahan nanti"
Diantara tangisnya, dia pun berusaha tersenyum sendiri dalam kamarnya.
Lalu..
"Kling..."
Bunyi hapenya tanda sebuah pesan telah masuk, dan dia pun segera meraihnya untuk melihat pesan dari siapa.
Dan dia sangat berharap bahwa pesan itu dari Sani.
Tapi ternyata justru dari grup kelasnya, yang memberitahukan tentang pelajaran besok.
Dia pun membaca isi pesan itu, namun saat ia membaca, ada notifikasi pesan baru di bagian atas hp nya.
"Maaf ya Sayang, baru selesai latihan, tadi denger ada panggilan masuk, tapi mas nggak sempat angkat, boleh call lagi?"
Lalu Ayu pun segera menekan icon video dalam chatnya dengan Sani.
Setelah beberapa detik Sani menerima panggilan video itu.
"Hai..."
Sani menyapa kekasihnya dengan senyum hangatnya.
Ayu tidak menjawab, justru tersenyum melihat pacarnya yang masih penuh keringat itu.
Sani mengusap wajahnya menggunakan handuk dengan kedua tangannya.
Dari situ, Ayu tau jika hp Sani hanya diletakkan dan tidak dipegangnya.
"Mas...agak mundur coba.."
"Kenapa?"
Sani tidak mengerti maksud Ayu..
"Udah deh, agak mundur.."
"Iya, tapi ada apa..jelasin donk"
"Sekali-kali nurut kek, nggak nanya duluan, nanti juga aku jelasin, sekarang agak menjauh dari hp dulu cepetan"
Sani pun mundur menjauhi hp nya, lalu...
"Haaaaah...Astagaaa..."
Mata Ayu terbelalak, mulutnya menganga lebar melihat pemandangan dalam hp nya.
__ADS_1
"Eh ...dasar..."
Sani segera berlari mendekati hp nya.
"Jangan aneh-aneh ya kamu..."
Ayu cekikikan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
"Heh...mikirin apa coba?"
Sani mencoba menebak pikiran Ayu.
Ayu tidak menjawab, justru hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya.
Dan terlihat jelas jika saat itu Ayu tersenyum meskipun dia menutupi mulutnya.
"Heh..kenapa coba, ketawa Mulu..."
"Bang, itu bodynya jangan dikasih ke sembarang orang ya, itu punyaku lo...ckckckck"
Ternyata alasan Ayu menyuruh Sani mundur tadi adalah, karena dia ingin melihat body atletis Sani, karena saat itu Ayu menyadari bahwa Sani tidak mengenakan kaos.
"Heh...kamu nakal juga ya dek..."
"Ckckckck Astagaaaa....kenapa ni kepala mendadak jadi mikirin yang ngeres-ngeres yak..."
Ayu masih cekikikan saat itu.
Sani hanya melotot, lalu memberi kepalan tangannya ke arah Kamera...
"Kalau aneh-aneh, aku tonjok nih..."
"Ckckckck nojoknya pake tangan juga? Sakit donk Mas, pake Bibir aja kali yak, biar enak wkwkwkwk"
"Astagaaa....nih anak kenapa mesum sih..."
"Emang mas Sani nggak mau kalau aku mesum?!!"
Ayu segera menutup mulutnya, dia tak sadar jika suaranya cukup keras, dia takut Ayah dan Ibunya mendengarnya.
"Ya mau sih, kan aku lelaki normal.."
Sani menjawab sambil meringis tersenyum.
"Yeeee....gayanya aja nolak, namanya manusia normal, sama-sama punya nafsu, nggak salah juga kan kalau aku berfikir ngeres setelah lihat body mas Sani".
"Hehe nggak juga sih, tapi kan belum waktunya"
"Iyaaa ..ngertiiii....perasaan, tempo hari, situ deh yang mulai piknik kemana-mana...kok sekarang bisa bilang belum waktunya..."
"Namanya juga khilaf, kalau khilaf mah, bisa sewaktu-waktu haaahaaa"
"Yeeee dasar..."
"Udah dulu ya, mas mau Mandi dulu..."
Ayu tersenyum mengangguk, lalu
"I Love U Abang cakep, jangan lupa itu roti sobeknya jangan sampai disentuh orang yak ckckck"
"I Love U too...adek mesuummm"
Lalu mereka pun mengakhiri percakapan video itu.
Ayu langsung berfikir tentang apa yang baru saja ia lihat.
Meskipun dia pendiam, tapi dia Gadis normal yang memilik nafsu sewajarnya, dia berfantasi tentang Sani...
Dia tersenyum sendiri, fantasinya menjadi liar, dia membayangkan membelai perut sixpack milik kekasihnya.
__ADS_1
"Aaah....fikiranku benar-benar kotor saat ini..."
Dia pun masih tersenyum sendiri, lalu tanpa terasa dia tertidur, hingga melupakan pesan dari ibunya.