
"Aku harus berjuang, agar bisa sukses dan memuliakan Ayahku"
Hambali berbicara dalam hatinya.
Dia merasa bersalah jika tidak bisa membahagiakan orang tuanya yang hanya tinggal Ayahnya itu.
"Pak, bulan depan ada pertandingan lagi, do'akan Hambali menang lagi ya, biar bisa dapet bebek goreng lagi"
"Ya pasti donk, anakku pasti juara lagi.."
Ayahnya berucap dengan nada bangga.
Hal itu membuat Hambali semakin menangis, Ayahnya begitu membanggakannya, dia merasa benar-benar memiliki hutang yang sangat besar terhadap ayahnya.
"Nanti setelah lulus, kamu mau kuliah dimana?"
Ayahnya bertanya.
"Aku nggak tau pak, apa kita ada biaya?"
"Sudah menjadi kewajiban ku membiayai pendidikanmu"
"Tapi biaya kuliah itu sangat besar pak?"
"Bapak masih punya tabungan kok, tenang saja"
Ayahnya berujar sambil tersenyum.
Hambali merasa lega dengan pernyataan Ayahnya, meskipun dia sendiri tidak memiliki pandangan akan kuliah dimana dan jurusan apa.
Sebulan berlalu, Hambali kembali memenangkan Pertandingan yang ia ikuti, ia kembali menunjukkan kesombongannya di depan para lawannya.
"Li, jangan seperti itu.."
Pelatihnya menasehati Hambali yang dirasa agak keterlaluan.
Hambali merasa semakin jengkel, setiap ekspresinya selalu disalahkan oleh pelatihnya.
"Kenapa sih, begini tidak boleh, begitu tidak boleh, apa-apa selalu salah, apa aku masih kurang memberikan prestasi ini hah?"
Semua tim saling pandang, dia tidak menyangka Hambali akan bersikap demikian kepada pelatihnya.
"Setelah semua selesai, aku ingin berbicara berdua denganmu, kita selesaikan masalah ini, dan kau boleh berbuat sesukamu setelah itu"
Pelatihnya terlihat marah, dan pergi meninggalkan seluruh tim, padahal Hambali belum naik ke podium.
Hambali sendiri merasa marah saat itu, dia merasa dirinya diperlakukan seperti anak kecil.
Dia juga punya firasat bahwa dirinya akan dikeluarkan dari timnya.
"Semua sudah aku persembahkan, tapi aku selalu dianggap seperti anak kecil, sebaiknya aku keluar dan datang sebagai petarung perorangan, aku bahkan bisa melakukannya sendirian"
Hambali merasa sudah bisa melakukan sendirian tanpa pelatihnya.
Setelah acara selesai, Hambali menemui pelatihnya.
"Apa yang ingin kau sampaikan? Apa kau hendak mengeluarkanku? Jika memang iya, kebetulan sekali, aku sudah menginginkannya..."
Hambali langsung mencecar pertanyaan dan pernyataan kepada pelatihnya.
Pelatih yang semula diam dalam keadaan tenang, mulai naik darah dengan kata-kata Hambali.
"Owh...begitu, jadi kau sudah merasa hebat sekarang..tidak masalah jika kau keluar, aku akan orang memiliki bakat, sekaligus attitude yang baik, bukan seorang sombong dan melupakan sejarahnya sendiri sepertimu..!!"
"Baiklah, aku setuju, hanya itukah yang ingin kau sampaikan?"
Hambali yang sudah emosi, ingin segera mengakhiri percakapan ini.
"Tidak, sebenarnya bukan itu yang ingin aku sampaikan"
__ADS_1
Hambali sedikit heran mendengarnya, karena apa yang ia tebak sebenarnya salah.
"Lalu..?"
"Aku hanya ingin mengingatkan, Ayahmu sangat bangga padamu, semua tentangmu selalu dia ceritakan kepadaku, aku pikir, dengan sifat angkuhmu, kau bisa menyakiti dan mempermalukan Ayahmu sendiri...."
"Tapi kau benar-benar sudah melewati batasanmu, aku sama sekali tidak ingin mengeluarkanmu dari tim ini, tapi sepertinya kau sendiri yang menginginkannya, jadi mulai sekarang kau bukan bagian dari kami"
Hambali kaget dengan kalimat pelatihnya itu, dia menyesal atas kata-katanya sendiri, dan dia tidak mungkin menarik kalimatnya, karena sudah terlanjur malu.
"Li, aku sangat membanggakan semua prestasimu, itu adalah salah satu keberhasilanku, tapi mulai sekarang, aku harus mencari pengganti yang lebih mengerti caranya menghormati orang lebih tua"
Pelatih itu melangkahkan kakinya melewati Hambali, tapi ketika berada di samping Hambali, dia menepuk pundak Hambali.
"Hati-hati ya Li, jaga dirimu, jangan pernah mengecewakan Ayahmu, semoga apa yang kau pilih bisa menjadikan keberhasilanmu, aku sangat bangga padamu, dan suatu saat aku akan menemukan orang yang bisa mengalahkan kesombonganmu itu..!!"
Pelatih mengatakan secara tegas lalu pergi berlalu.
Sedangkan Hambali masih berdiri disana dengan segala penyesalannya, dia menangis karena telah salah mengira.
Dia pulang dengan hati sedih, hingga lupa membawakan bebek goreng yang pernah ia janjikan kepada ayahnya.
Ayahnya melihat Hambali memegang piala, tapi raut mukanya terlihat sedih.
"Ada apa, apa kau kalah?"
"Tidak, aku menang dalam pertandingannya"
"Tapi aku telah kalah dalam hal lain"
Dia berbicara dalam Hati.
"Baiklah, kalau begitu kita rayakan kemenanganmu dengan ngopi bersama di teras Rumah.."
Ujar Ayah Hambali sambil tersenyum.
Setelah membuat 2 cangkir kopi, mereka duduk di teras seperti biasa.
"Kamu benar-benar telah membuat bapak bangga, kamu benar-benar hebat..."
Ayahnya mulai membuka percakapan.
"Tapi pak..."
"Aku berpesan, ketika kau sudah berada di atas, jangan lupakan orang-orang yang selalu mendampingimu, jangan sombong dengan segala yang kau miliki, dan jangan pernah melupakan sejarahmu..."
Ayahnya memotong kalimat Hambali, dan menasehatinya.
Dia merasa Ayahnya tau yang telah terjadi.
Mungkin itu firasat dari orang tua kepada anaknya.
"Benar atau salah perbuatanmu, aku akan tetap mendukungmu, tetapi jika kau melakukan kesalahan, aku akan mengadilimu di rumah, tanpa diketahui orang lain, itulah tugasku atas dirimu.."
Hambali mulai menangis, menyesali perbuatan bodoh akibat dari kesombongannya.
"Yakinlah dengan setiap pilihanmu, jika itu salah, perbaikilah, sebab tidak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan.."
__ADS_1
Ayahnya menasehati sambil tersenyum.
Hal itu membuat Hambali menguatkan dirinya, dia tidak ingin mengecewakan Ayahnya.
Beberapa hari kemudian, Hambali mendengar adanya event tingkat Provinsi, tetapi dia ingat jika dia sudah tidak memiliki Tim lagi..
"Mungkin sudah saatnya aku berhenti, aku tidak perlu memaksa keadaan.."
Hambali bergumam pelan, dia tidak ingin mengikuti dengan keadaan memaksa.
Karena sudah tidak memilik tim lagi, dia tidak ingin repot-repot mencari tim baru.
"Lebih baik aku relakan saja event ini.."
Namun ketukan pintu membuyarkan lamunannya..
"Tok Tok Tok..."
"Selamat sore"
Hambali segera membuka pintunya,
"Selamat sore pak, mencari siapa ya?"
Hambali melihat 2 orang pria dengan pakaian dinas sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kami mencari saudara Hambali"
Jawab salah satu orang itu.
"Iya, saya sendiri, silahkan masuk pak"
Hambali pun mempersilahkan 2 orang itu.
"Ada apa ya pak, mencari saya?"
"Begini, kami dari kementerian olahraga tingkat kabupaten, ingin menawarkan kepada dek Hambali, apakah dek Hambali berkenan mengikuti pertandingan tingkat Provinsi yang akan di adakan sebentar lagi?"
"Karena tim dari Kabupaten ini baru memiliki 5 wakil Atlet dari cabang Pencak Silat, sedangkan targetnya kita membawa 9 Atlet, segalanya sudah dipersiapkan, kalau dek Hambali berminat, tinggal berangkat saja"
Mendengar Hal itu, Hambali senang bukan main, dan tanpa pikir panjang..
"Mau pak, saya mau ikut, kebetulan saya sedang tidak terikat tim manapun.."
2 orang itu pun saling pandang.
Hambali menjadi heran, kenapa mereka terlihat bingung.
"Oh iya, sekalian saya sampaikan, jika mampu menjuarai Event ini, maka akan mendapat Hadiah berupa Bea Siswa, dek Hambali bisa kuliah secara Gratis"
Pikiran Hambali langsung kemana-mana, dia tidak membayangkan jika mendapat Juara, dia bisa kuliah secara Gratis.
"Baik pak, saya pastikan ikut, saya akan berjuang sekuat tenaga.."
Setelah mencapai kesepakatan, 2 orang itu pun segera pamit.
Hambali girang bukan main
"Aku harus segera kasih tau Bapak tentang Hal ini.."
Dia pun senyum-senyum sendiri, membayangkan nanti bisa kuliah tanpa harus memikirkan biaya.
__ADS_1