
Rindra langsung memagut bibir Anita.
Anita sebenarnya belum siap dengan keadaan itu, tetapi sudah terlanjur, mau tidak mau dia harus menikmati keadaan ini.
Dia pun membalas ciuman Rindra dengan ganasnya.
Tangan Rindra pun sudah menjelajahi bukit kembar milik Anita, mereka telah tenggelam dalam luapan nafsu.
Gairah anak muda yang penasaran dengan rasa itu, telah membakar seluruh pikiran mereka.
Akhirnya merekapun benar-benar melakukan hal terlarang itu berkali-kali hingga terlelap dalam genangan sisa-sisa gelombang birahi yang telah menenggelamkan mereka dalam kesalahan ini.
Pagi Harinya Rindra terbangun karena silaunya sinar matahari, Anita membuka tirai jendela hotel itu.
Saat Rindra berusaha membuka matanya...
"Selamat pagi sayang..."
"Cupp.."
Anita mengucapkan selamat pagi kepada Rindra, lalu mengecup kening pria yang belum menerima cintanya itu.
"Emmmmh..."
Hanya itulah yang keluar dari mulut Rindra.
Sementara Anita berusaha bersikap semanis mungkin di hadapan Rindra, bahkan sikapnya seperti istri yang sedang melayani suaminya.
Sebenarnya siapakah Anita ini..???
Anita adalah kenalan baru Rindra di kampusnya, dia sangat tergila-gila kepada Rindra.
Tapi sebenarnya dia tidak benar-benar jatuh cinta, dia mendekati Rindra hanya karena dia tau bahwa Rindra adalah anak orang kaya.
Sementara itu, Sani sudah mulai lancar usahanya.
Semakin hari, semakin banyak pelanggannya.
"Hallo, bisa bicara dengan Sani?"
Sapa suara dari seberang.
"Iya, saya sendiri, ini siapa ya?"
"Saya pak Haris, pedagang sayur dari kampung sebelah dek, saya lihat dek Sani jualannya sudah lancar"
"Iya pak, masih pelan-pelan, ada perlu apa ya pak?"
"Begini dek, saya kan banyak sekali stok sayur dirumah, kalau boleh saya mau mengajak kerjasama dek Sani, saya mau titipin dagangan sayur saya"
"Serius pak? Wah..kebetulan kalau gitu, dagangan saya belum cukup banyak juga"
"Baiklah, sekarang saya mau kios dek Sani saja biar lebih mudah ngomongnya"
"Baik pak, saya tunggu"
Pungkas Sani yang merasa senang karena akan ada tambahan stok sayur untuk dagangannya.
Sekitar 30 menit kemudian, pak Haris sudah sampai di Kios Sani.
__ADS_1
"Selamat pagi dek, saya pak Haris"
Pak Haris memperkenalkan dirinya.
"Pagi juga pak Haris, saya Sani"
"Sudah mau habis ya sayurnya, padahal ini masih sangat pagi"
Pak Haris saat itu melirik ke dalam kios Sani, lalu melihat jam di tangan kanannya, dan memang saat itu belum genap jam 7.
"Iya pak, hari ini lumayan laris, banyak pelanggan baru juga"
Lalu pak Haris melihat sepeda Sani, sedikit kaget, beliau bertanya
"Dek Sani bawa sepeda?"
"Iya pak, belum punya motor sendiri hehe"
"Untuk narik gerobak ini?"
Pak Haris menunjuk gerobak Sani di samping kiosnya.
"Hehe iya pak, kalau kosong, nggak terlalu berat kok"
"Baiklah, nanti sore dek Sani boleh ke rumah saya, silahkan pilih, sayur apa saja yang akan dibawa"
"Baik pak, terima kasih banyak sebelumnya"
Pak Haris mengangguk tersenyum kepada Sani, lalu pergi dari kios Sani.
Dia tidak habis pikir, anak itu menarik gerobak dengan sepeda.
Meskipun gerobak kosong, tetap saja itu membutuhkan tenaga Ekstra.
"Bagaimana, apakah kamu menyukai ini semua?"
Rindra bertanya kepada Anita.
"Hmmh...apapun darimu, aku akan tetap berusaha menyukainya"
Anita menjawab sambil merebahkan dirinya disamping Rindra yang masih belum memakai apa-apa dan hanya menutupi dirinya dengan selimut.
"Benarkah..??"
"Tentu saja, kau masih belum percaya?"
"Kalau begitu, aku ingin melakukannya lagi"
Rindra tiba-tiba membuka selimutnya lalu bergerak menindih Anita.
Anita sangat kaget karena dia melihat dengan jelas Rindra tidak memakai apa-apa.
__ADS_1
"T..tapi...emmmh..."
Belum sempat Anita menyelesaikan kalimatnya, Rindra sudah menutup mulut Anita dengan bibirnya.
Dan sekali lagi, Rindra telah berhasil merenggut semuanya dari Anita.
Mereka mengayuh dayung kenikmatan itu menuju puncaknya.
Dan setelah beberapa saat, mereka melenguh bersamaan, menandakan pendakian mereka telah sampai.
Lalu Rindra pun bangkit untuk Mandi.
"Kau tidak ingin mandi bersamaku?"
Rindra berbicara tanpa menoleh ke arah Anita yang masih berbaring dibelakangnya.
"Tidak, kau akan melakukannya lagi jika aku mandi bersamamu"
"Tentu saja, kau tidak ingin mencobanya?"
"Rindra, aku sudah sangat lelah saat ini"
"Hanya segini perjuanganmu untuk mendapatkan cintaku?"
Anita tidak menjawab, dia merasa kalimat Rindra menunjukkan bahwa dirinya hanya dimanfaatkan.
"Kalau kau tidak bisa mencintaiku, dan hanya mengambil keuntunganmu sendiri, sebaiknya kau katakan sekarang juga, tanpa harus menyiksaku seperti ini"
Tiba-tiba Rindra menarik selimut yang menutupi tubuh Anita, dan menariknya ke kamar mandi.
"Kalau kau tidak sanggup menuruti Nafsuku, mana mungkin kau sanggup jadi Istriku nanti, lebih baik jika kau menyerah sekarang, daripada nanti harus bercerai setelah menikah"
Rindra berbicara sambil menarik Anita masuk ke Kamar mandi, kemudian ia menutup pintunya.
Dan di dalam kamar mandi itu, sekali lagi Anita di hajar habis-habisan oleh Rindra.
Dan saat di tengah-tengah pergumulan mereka, Rindra yang saat itu menikmati tubuh Anita dari belakang, berbisik kepada Anita
"Hehh...Anita..heehh..aku adalah lelaki perkasa...heeeh...jika kamu tidak sanggup mengimbangi nafsuku..heehh... sebaiknya kau berhenti menggodaku"
Bisik Rindra yang saat itu terengah-engah, menikmati Anita yang sudah kewalahan dengan perlakuan Rindra.
"Jadi..hehh...kau hanya memanfaatkanku..heehh...untuk melampiaskan nafsu biad*bmu itu?"
Anitapun saat itu juga terengah-engah menahan gempuran dari Rindra yang semakin lama semakin cepat.
"Sepertinya kau sudah tau..haaahaa, kau kira aku tak tahu, kalau kau hanya menyukaiku karena aku anak orang kaya..Hah? Aku tidak sebodoh itu Anita haaahaaa"
Rindra tertawa Jahat disamping telinga Anita.
"Bajing*an kamu Rindra, cepat hentikan semua ini, kau bahkan sudah mengambil keperawananku, Hentikan sekarang juga..!! Dasar Binat*ng kau Rindra..!!"
"Haahaa...benarkah kau ingin ini di hentikan? Atau aku salah dengar? Katakan dengan jelas...."
Rindra kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Anita
"Kau ingin Hentikan, atau justru ingin Hentakkan..?? Haaahaaa"
Rindra kemudian menghentak-hentak dengan keras tubuh Anita.
"Ahhh...henti..kan Rindra..ashhh.."
Hanya itulah yang keluar dari mulut Anita.
Meskipun dia menyuruh Rindra menghentikan, tapi nyatany, Hentakkan Rindra memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.
"Haaahaaa...ternyata kau menginginkan Hentakkan ya..haahaa"
Rindra melecehkan Anita dengan kalimat serta tawa jahatnya.
Hingga hari menjelang siang, mereka baru keluar dari Hotel itu, setelah mengendarai mobilnya, Rindra menurunkan Anita di Halte tempat ia menunggu kedatangan Rindra tadi malam.
"Terima kasih tuan putri yang cantik, pelayananmu sungguh sangat memuaskan haaahaaa"
Saat Anita membuka pintu mobil, Rindra kembali melecehkan Anita dengan kalimatnya.
"Bajing*an kau..!!"
Anita menutup pintu mobil dengan sangat keras.
__ADS_1
Dan Rindra pun segera berlalu, pulang menuju rumahnya.