
Pagi sebelum berangkat sekolah, Sani masih merasakan gejolak dendamnya kepada Rindra dan kawan-kawannya.
Hatinya ingin memaafkan mereka, tetapi amarahnya terlanjur menyala.
Terlebih, hal itu telah membuat Ibu Sani bersedih, itulah yang membuat amarah Sani tidak bisa reda.
Dengan niat yang sudah bulat, Sani ingin memberi peringatan kepada mereka hari ini.
"Tiiiitt Tit"
Bunyi klakson Uki yang sudah parkir di depan rumah Sani.
Sani langsung berpamitan pada Ibunya setelah mendengar klakson Uki
"Bu, Sani berangkat dulu ya"
"Iya, hati-hati ya nak, nggak usah ngebut"
"Iya Bu"
Ditengah perjalanan, Sani hanya diam saja, dia menahan emosinya yang akan dia luapkan nanti kepada Rindra.
"Gimana, lu berencana membalas mereka?"
Uki mencoba membuka obrolan
"Ya..!!"
Jawaban tegas Sani membuat Uki tidak mau melanjutkan pembicaraannya, karena dia tau benar sifat Sani.
Selama ini, belum pernah Sani terlihat sangat marah seperti ini.
Dan sesampainya di sekolahan, Sani minta diturunkan sebelum sampai di parkiran sekolahan.
"Gw duluan Ki..!!"
Ucap Sani singkat.
Uki yang merasa akan terjadi sesuatu, segera memarkir motor dan lari menyusul Sani.
Sementara itu, Rindra yang sedang asyik mengobrol bersama teman-temannya di depan kelas
"Heh, nanti enaknya diapain lagi ya sepeda si Sani?"
Rindra bertanya kepada yang lain,
"Copot aja salah satu rodanya, tadi gw bawa kunci kok"
Ujar Odi
"Haaahaaa"
Mereka tertawa bersama
"Gw pengen liat tuh bocah menderita wkwkwkwk"
Imbuh Rindra
"Ada masalah apa sih kalian, dia juga gak pernah ganggu kita, kenapa kalian jahil banget sih?"
Farhan mencoba menahan rencana mereka
"Lu belain dia Han?"
Tijar bertanya
"Enggak, gw cuma kasihan aja kalau...."
__ADS_1
"Bruukkk..!!"
"Aduuhhh"
Rindra langsung terkapar ketika Sani datang langsung menendang perutnya.
Odi dan Tijar mencoba mengeroyok, tapi Sani bisa mengatasi keduanya.
Tijar yang ditendang duluan, lalu Odi berikutnya.
Keduanya juga langsung terkapar di lantai.
Rindra yang kesulitan bernafas karena ditendang Ulu Hatinya, tiba-tiba ditindih oleh Sani.
Sani menginjak tanan kanan Rindra, lalu lututnya digunakan untuk menekan dada, tangan kirinya mencekik leher, dan tangan kanannya bersiap memberi pukulan.
"Kalau lu bacot dan membully gw, masih gw maafin, tapi kalau sudah merusak barang pribadi gw, itu berarti lu sudah melewati batasan..!!"
Sani benar-benar marah sambil mencekik leher Rindra.
Rindra yang saat itu masih kesulitan bernafas, tidak bisa memberontak ketika ditindih Sani.
"Saannn"
Uki yang melihat dari kejauhan, segera berlari menuju mereka
Farhan tidak bereaksi apa-apa, sejujurnya dia sangat kaget dengan Sani yang tiba-tiba sangat mengerikan.
"Gw ingetin sekali lagi, kalau lu berani mengganggu, apalagi sampai merusak barang gw, gw bakal patahin kedua tangan lu..!!
Ancam Sani yang emosinya menyala-nyala.
"Buukkk..!!!"
"Argghhhh...uhuukk uhuk"
Kembali Rindra merasa kesakitan dan semakin sulit bernafas karena ulu hatinya kembali dipukul oleh Sani.
Odi dan Tijar pun belum bisa berdiri karena sama-sama kena serangan di ulu hatinya.
Sani berdiri, lalu menoleh ke arah Farhan
"Lu mau seperti mereka juga?"
"Enggak San, gw nggak mau ikutan"
Farhan menjawab Sani dengan takut dan sedikit gemetaran.
Lalu Sani dan Uki meninggalkan mereka semua, dan berjalan menuju Taman sekolah.
Dari kejauhan, sepasang mata indah memperhatikan kejadian itu dari awal hingga akhir.
Ya, Zaiyu sedikit kaget dengan perbuatan Sani yang ternyata punya nyali besar melawan anak-anak nakal itu.
Ada rasa senang atas keberanian itu, sekaligus rasa takut juga.
Uki menenangkan Sani ketika sampai di Taman.
Dia memberikan air mineral kepada Sani dan menyuruhnya minum agar emosinya mereda.
Ada penyesalan besar terlihat di mata Sani yang saat itu berkaca-kaca seperti ingin menangis.
"Lu nyesel?"
__ADS_1
Uki membuka percakapan
Sani hanya mengangguk tanpa berucap apa-apa.
"Gw tau, emosi dan dendam memang sering membawa penyesalan, tapi setidaknya mereka sekarang tau siapa Lu"
Sani masih terdiam, menatap kosong jauh ke depan.
"Kalau udah reda, kita balik ke kelas ya"
Ajak Uki
"Heem"
Jawab Sani sambil mengangguk.
Sepulang sekolah, Sani dan Uki mampir bengkel dimana Sani menitipkan sepedanya.
Setelah membayar 140ribu untuk biaya ganti Ban Luar Dalam \+ Depan Belakang, Sani membawa sepedanya pulang.
"Lu duluan aja, gw mau nyantai"
Sani menyuruh Uki untuk pergi duluan.
Uki sedikit ragu, dia tidak tega meninggalkan Sahabatnya itu pergi duluan.
Dia khawatir kalau Rindra mengganggu lagi, meskipun kemungkinannya kecil.
"Gw naik motor, lu pegang pundak gw, biar cepet nyampai rumah"
Uki mencoba membujuk Sani.
"Udah gak usah, lu duluan aja"
"Kalau begitu kita barengan sampe pertigaan jalan Raya deh, ntar masuk jalur desa, lu pulang sendirian gak masalah"
"Ya udah deh kalau gitu"
Akhirnya Sani menyerah oleh bujukan Uki.
"Sialan..!! berani banget anak brengsek itu mukul ulu hati gw, gw bakal buat perhitungan besok"
Rindra terlihat sangat marah saat itu, tangannya mengepal dan matanya terlihat menyimpan dendam yang dalam.
Odi dan Tijar memilih diam, mereka masih merasa sakit di ulu hatinya, merekapun menjadi ciut jika mengingat Sani menendang mereka secara beruntun.
Dan sepertinya mereka berdua tidak ingin kejadian itu terulang lagi, dimana mereka merasakan sakit dan kesulitan bernafas, serta rasanya ingin pingsan.
"Sebaiknya lu perimbangin lagi, kalau sampai tersungkur lagi seperti tadi, itu bakal memalukan"
Ucap Farhan yang memperingatkan Rindra
"Bencong lu Han..!! Lu juga tidak berusaha bantuin gw tadi, Lu emang sekongkol ya sama anak brengsek itu? Hah, iya kan?
Rindra mulai tersulut emosi dan memarahi Farhan
"Lu aja bertiga udah tersungkur, kalau gw ikutan tersungkur, siapa yang bantuin Lu berdiri tadi, Hah? Atau lu emang mau tiduran seharian di depan kelas?"
Farhan membela diri.
"Sudah sudah, kenapa kita jadi bertengkar, tenangin dulu pikiran kalian"
Tijar mencoba menengahi
"Kalau saja kita gak mengganggu Sani duluan, kita gak mungkin dipukuli juga"
Odi terlihat menyesali perbuatannya.
"Lu takut sama Brengsek Miskin itu, hah?
Kalau Lu takut, pulang aja sono, pakai Rok mak Lu..!!"
Rindra semakin emosi
Odi, Tijar dan Farhan akhirnya diam saja, tidak membantah kalimat Rindra agar keadaan kembali tenang.
Disisi lain, Farhan merasa sudah malas dengan sikap Rindra yang semena-mena dan terkadang tidak menghargai orang lain itu.
Farhan berencana besok sekolah bawa motor sendiri dan tidak ingin bergabung lagi dengan Rindra, karena Farhan tidak mau terlibat perkelahian kalau mereka membuat masalah lagi dengan Sani.
Rindra sendiri sepertinya tetap ngotot ingin balas dendam karena merasa dipermalukan di depan kelas oleh anak yang mereka anggap lemah dan tidak berbahaya itu.
__ADS_1