
"Mau ke rumah Ayu ya, kok rapi sekali?"
"Iya Bu, Sani pengen ngajak Ayu jalan-jalan sebelum Sani sibuk jualan"
Bu Nanik hanya tersenyum mendengar jawaban Sani.
Saat Sani membalikkan badannya
"Sani udah kelihatan Ganteng kan Bu?"
Ibunya langsung terbelalak hingga mulutnya melongo dalam waktu yang cukup lama
"Buu..!!! Kok melongo sih"
Sani menegur ibunya yang belum menjawabnya
"Kamu benar-benar mirip dengan Ayahmu, itu mengingatkan saat aku masih muda dulu"
Bu Nanik menjawab pertanyaan Sani sambil tersenyum.
"Aku pernah tidak sengaja melihat foto Ayah di dompet Ibu, dan menurutku, Ayahku sangat tampan, kalau aku mirip Ayahku, berarti aku juga tampan donk"
Bu Nanik hanya tersenyum mendengar ocehan anaknya ini.
"Sani berangkat dulu ya Bu"
"Iya nak, hati-hati ya"
"Iya Bu"
Lalu Sani keluar rumah menuju rumah pakde Damar untuk meminjam motornya.
Dan ternyata motornya sudah disiapkan di teras rumahnya.
Sani yang sudah tidak sabar ingin berkencan dengan pacarnya, segera berpamitan sama pakde dan budenya.
"Hati-hati Nak, nggak usah ngebut, jaga gadis yag kamu bawa, itu anak orang"
"Ya iyalah bude, anak orang...kalau anak singa mah bisa dimakan Sani"
"Haaahaaahaa"
Mereka berdua tertawan bersamaan.
"Sani, pakde pesan kepadamu ya, Jaga batasanmu, kalian masih pacaran, belum menjadi pasangan yang Sah, jangan sampai mempermalukan orang tuamu"
Sani sangat paham denga maksud pakdenya ini.
"Pakde percaya saja sama Sani"
Sani menjawab sambil tersenyum ke arah pakdenya.
Lalu Sani segera berangkat, namun saat sampai di jalan, tiba-tiba Sani berhenti, mematikan motornya lalu turun dan kembali menghampiri pakdenya.
"Kenapa kembali?"
Pakde Damar sedikit kebingungan dengan sikap Sani,
"Pakde, ada perasaan tidak nyaman saat ini, Sani merasa akan terjadi apa-apa, tapi sepertinya ini dari orang lain"
"Apa maksudmu?"
"Pakde jangan matiin handphonenya ya, nanti kalau ada apa-apa, Sani segera hubungi pakde"
Pakde Damar pun mengangguk dan Sani pun segera berangkat.
*Apa yang dimaksud Sani tadi, aku kurang mengerti"
Pakde Damar masih kebingungan.
"Ditunggu saja, semoga semua baik-baik saja"
Kemudian mereka masuk ke rumah, tapi pakde Damar tetal merasa belum mengerti dengan kalimat Sani.
"Tok tok tok"
Sani mengetuk pintu rumah pak Galih, Ayu yang sedari tadi duduk di ruang tamu karena menunggu kedatangan Sani pun segera membuka pintu.
"Silahkan masuk mas"
"Iya, makasih ya dek"
Kemudian Sani masuk ke rumah itu..
"Silahkan duduk, mau minum apa?"
Ayi menawari Sani minuman.
"Eeeh...nggak usah aja"
Sani menjawab dengan sedikit berbisik
"Lhoh kenapa nggak usah?"
"Em, Mas mau ajak kamu keluar, kita minum koi diluar aja, mau kan?"
Ayu diam sesaat...
"Pamitin dulu ke Ayah dan Ibu, kalau mereka mengijinkan, Ayu mau berangkat, kalai enggak, ya nggak berani"
Kemudian Ayu memanggil kedua orang tuanya.
Setelah duduk di hadapan Sani, Sani pun meminta
"Pak, Sani..."
"Ehem..."
Tiba-tiba Ayu sengaja berdehem dengan keras
"Eh Ayah, Ibu, Sani mau minta ijin, Sani mau ajak Ayu keluar sebentar"
Pak Galih dan Bu Indri menahan tawanya melihat kelakuan anaknya sendiri dan melihat kegrogian Sani.
__ADS_1
"Iya, boleh nak, asal pulangnya nggak boleh malem-malem"
"Iya Bu"
Sani menjawab sambil menunduk.
"Ayah percayakan Ayu padamu Nak"
"Iya Om, eh Yah..."
Sani masih sangat kaku dengan panggilan itu, sedang Ayu malah cekikikan melihat pacarnya yang sangat Grogi saat itu.
Setelah Ayu ganti baju dan sedikit berdandan, mereka berdua berpamitan lalu menuju ke suatu tempat.
Setelah melakukan perjalanan sekitar 20menit, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju.
"Bagus banget tempatnya..."
Ayu berucap pelan sambil matanya terbelalak melihat pemandangan disana.
"Kamu suka tempat ini?"
"Sepertinya begitu"
Lalu mereka berjalan menuju sebuah meja dengan dua kursi yang dinaungi payung khas Pantai.
Sesaat kemudian pelayan pun datang menanyakan pesanan mereka.
"Saya jus Melon saja mbak"
Sani memesan duluan
"Saya Coklat hangat ya mbak"
Setelah pelayan itu menangguk dan pergi meninggalkan mereka, Sani mengobrol basa-basi dengan Ayu.
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun sudah jadi dan disuguhkan di hadapan mereka.
"Terima kasih mbak"
Sani dan Ayu menikmati moment ini, ini adalah kencan pertama mereka, setelah cukup lama mengobrol, Sani mengajak Ayu jalan-jalan di sekitar cafe itu.
Setelah beberapa saat mereka berjalan, Sani berhenti di hadapan Ayu dan tiba-tiba memegang kedua tangan Ayu.
"Sayang..."
"Hmmh..."
Ayu tertunduk malu mendengar panggilan itu langsung dihadapannya,
"Jangan nunduk donk, lihat aku..."
"Aku malu mas..."
Kemudian Sani mengangkat wajah Ayu hingga pandangan mereka bertemu.
"Kalau kamu nunduk, aku nggak bisa melihat keindahan wajahmu"
Ayu pun semakin malu dan grogi dengan keadaan itu.
"Kamu sudah yakin dengan pilihan ini?"
"Aku yakin mas, mas Sani sayang kan sama Ayu?"
Ayu mencoba memberanikan diri menatap Mata Sani dalam waktu yang lama..
"Tentu saja, aku menyayangimu, aku mencintaimu..."
Kemudian Sani memeluk Ayu.
Sebenarnya Ayu ingin memberontak, karena ini adalah pelukan pertama dari seorang pria selain ayahnya, tapi Ayu tidak ingin membuat Sani kecewa dan justru memeluk Sani dengat erat.
"Ayu juga sayang kamu mas, Sayang bangeeett...."
Kemudian Sani melepas pelukannya, dan...
"Cup..."
__ADS_1
Sani mengecup kening Ayu, dan menahan bibirnya cukup lama disana.
Perasaan Ayu saat itu benar-benar kacau, Kaget, Bingung, Grogi dan Bahagia bercampur menjadi satu.
Tapi dia berusaha tenang dan mencoba menguasai diri.
Setelah sesaat, Sani melepas kecupan di kening Ayu, lalu menatap kekasihnya itu dalam jarak yang cukup dekat.
Kemudian Sani membelai bibir Ayu menggunakan Ibu jarinya,,
"Boleh..??"
Ayu mengerti maksud dari pertanyaan Sani.
"A..Ayu belum pernah melakukannya mas......"
"Aku juga belum pernah"
Kemudian Ayu memejamkan matanya, dan Sani segera mendekat.
Setelah jarak mereka hanya terpaut beberapa senti saja, Sani berhenti sejenak.
Nafas mereka beradu, dan sudah tidak beraturan lagi.
Mungkin karena Grogi, atau mungkin Gairah mereka mulai terbakar saat itu juga.
Lalu....
"Cuuppp...."
Bibir mereka sudah bertemu.
Sani menahan posisi itu sangat lama.
Saat Sani melepas ciumannya, mereka langsung beradu pandang..
"Sayang, itu adalah ciuman pertamaku, ini adalah pertama kalinya aku mencium bibir seorang Gadis"
Sani berucap pelan dan sangat mesra
"Begitupun sebaliknya Mas..."
Ayu menjawab sambil tersenyum..
"Kamu tidak menyesal kan?"
Ayu hanya menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Sani
Lalu Sani pun kembali memagut bibir kekasihnya itu, jika sebelumnya hanya ciuman bibir yang pasif, kali ini mereka sedikit lebih agresif.
Mereka merasakan sensasi yang luar biasa, nikmat dan rasa bahagia yang sulit di jelaskan.
Mereka saling memagut dan saling membalas ciuman masing-masing, lidah mereka saling bertemu.
Tangan Ayu mencengkeram erat jaket yang dipakai Sani, Gairahnya benar-benar sudah menyala, Nafsunya semakin membara.
Hingga tiba-tiba Ayu mendorong keras tubuh Sani...
"Haaah Haaah, Mas, maaf, Ayu nggak bisa bernafas...Haaah Haah"
Ayu benar-benar terlihat ngon-ngosan saat itu,
"Haaahaaahaaa"
Sani tertawa mendengar Ayu berkata demikian, kemudian Sani kembali mendekati Ayu dan segera memeluknya..
Ayu pun benar-benar menikmati keadaan itu, dia tidak ingin melewatkan setiap moment dan tidak ingin mengecewakan Sani.
Saat Ayu tengah tenggelam dalam hangatnya pelukan Sani...
"Sayang, kamu mau kan jadi Istriku ???"
"Tunggu aku lulus dulu ya"
Ayu menjawab sambil memejamkan matanya, menyandarkan dirinya dalam pelukan Sani.
Sani pun terus mengusap-usap punggung Ayu.
Setelah beberapa saat, mereka berniat untuk pulang, namun sebelum itu, mereka kembali menyempatkan untuk berciuman lagi, namu dalam keadaan yang lebih tenang dan hangat.
Setelah sampai Rumah, Sani tak ingin berlama-lama, karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.50, Sani segera berpamitan.
Sani pulang dengan Fantasi yang luar biasa, sedangkan Ayu segera menuju kamar dan ingin mengingat moment yang baru saja ia alami.
__ADS_1