
Dalam perjalanan pulangnya, Sani sering senyum-senyum sendiri, dia benar-benar tidak menyangka bisa mengalami moment yang indah dalam kisah cintanya.
Tiba-tiba Hp nya berdering, tanda panggilan masuk, dia membiarkan saja dan berencana melihatnya saat sudah sampai dirumah.
Namun sepertinya panggilan itu terus berdering, lalu Sani mencari tempat yang agak ramai untuk berhenti.
Setelah mengambil Hp nya, ternyata panggilan itu dari Uki,
"Kenapa nih anak, sepertinya darurat"
Sani keheranan melihat panggilan Uki yang terus-menerus.
"Hallo Ki, ada ada?"
"Hallo, San, San Farhan kecelakaan San, sekarang dia di Rumah Sakit, dan gw cuma sendirian disini"
"Kecelakaan ?? Kecelakaan dimana Ki?"
"Udah deh lu buruan kesini, gw udah gak bisa tenang nih..!!!"
"OK OK, gw kesitu sekarang, di Rumah Sakit mana lu sekarang?"
Setelah Uki menyebutkan nama Rumah Sakitnya, Sani segera menuju kesana.
Setelah beberapa saat...
"Hallo Ki, gw udah di parkiran sebelah barat, lu dimana?"
"Lu masuk aja, gw tungguin di samping ruang IGD"
"OK, telponnya jangan ditutup"
Sani mempercepat langkahnya, tanpa mematikan telponnya sambil mencari ruang IGD.
Saat Sani sudah terlihat, Uki berbicara di telpon,
"Gw lurus di depan lu"
Lalu Uki melambaikan tangannya dan menunjukkan nyala handphonenya.
Lalu Sani mematikan telponnya dan berlari menuju Uki berdiri.
"San, tadi Siang...."
"Hei, tenang dulu, tenang dulu...OK, jangan terburu-buru, pelan-pelan aja"
Uki yang memang terlihat masih gugup, berusaha ditenangkan oleh Sani.
"Tadi siang gw janjian sama Farhan di warkop dekat kampus buat ngerjain tugas, gw udah nunggu hampir 2 jam, dia belum dateng juga..."
Uki menarik Nafas pelan lalu menghembuskannya.
"Lalu gw coba telpon dia, ternyata yang angkat telpon gw malah orang lain, dia adalah orang yang membantu Farhan saat dia kecelakaan"
"Sekarang hp Farhan mana Ki?"
"Ini, gw bawa, tapi gw matiin"
Uki mengeluarkan hp Farhan dari saku jaketnya.
__ADS_1
"Kenapa malah lu matiin...???"
"San, kalau keluarganya telpon, gimana gw menjelaskannya San? ,Soalnya beberapa hari yang lalu, Farhan cerita ke gw, kalau nyokapnya punya riwayat penyakit jantung, gw takut semua makin runyam"
"Haaaaah....ini rumit banget"
Uki pun melihat Sani mulai kebingungan.
Sani menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan, kemudian dia mengeluarkan hp nya, dia harus menghubungi pakde Damar dulu.
Saat ia membuka hp, ada notifikasi di layar hp Sani...
"Sayang, kalau udah sampai rumah, kabarin ya.."
Dengan menyertakan emot Love.
Dan Sani tau itu dari Ayu.
Tapi ingin fokus ke Pakde Damar dulu, saat dia buka kunci layar hp nya, tiba-tiba ada dering panggilan masuk..
Dan itu dari pakde Damar
"Hallo, Pakde, maaf Sani lupa ngasih kabar duluan..."
Sani masih terlihat gugup.
"Kamu dimana Nak? Kamu nggak apa-apa kan? Sudah jam 10 kok belum sampai rumah?"
Pakde Damar membrondong beberapa pertanyaan kepada Sani.
"Pakde, Sani tadi dapat telpon dari Uki, ada temen Sani yang kecelakaan, dan sekarang berada di Rumah Sakit"
Sani menarik nafas sejenak, lalu melanjutkan penjelasannya...
"Haaah...syukurlah kalau kamunya nggak apa-apa, jadi sekarang gimana, kamu mau menginap disitu? Ibu sama Budemu sudah menunggu dengan khawatir disini"
"Huuft..mungkin iya pakde, Sani akan temenin Uki di Rumah Sakit...Eemmmm tolong sampein ke Bude dan Ibu ya, Sani nggak pulang malam ini"
"Ya sudah, semoga urusannya segera beres, dan temenmu segera sembuh, yang disini, serahkan ke pakde saja"
"Iya, makasih banyak pakde"
Pungkas Sani sambil menutup telponnya.
Lalu dia membuka chat dari Ayu, Sani berinisiatif membalas pesan itu dengan 1 balasan saja, supaya tidak makin runyam.
Lalu Sani mulai mengetik balasan untuk kekasihnya itu
"Sayang, tadi saat perjalanan pulang, Uki menelpon, lalu ngabarin kalau Farhan kecelakaan dan dibawa ke Rumah Sakit. Karena Uki cuma menunggu sendirian disini, Uki minta tolong sama mas Sani buat nemenin dia disini.
Jadi sekarang Mas belum sampai rumah, Mas mau bantuin temen dulu. Kamu cepet bobok ya Sayang..."
Begitulah Sani membalas pesan Ayu, Sani berharap dengan balasan yang sangat panjang yang diakhiri dengan emot Love dan Ekspresi mencium itu bisa membuat Ayu langsung paham tanpa banyak bertanya lagi.
"OK, pertama gw bakal hubungin Rindra dulu, biar dia bantuin kita disini"
Sani membuka obrolan baru dengan Uki, Uki sedari tadi hanya diam karena bingung harus bagaimana.
Dan dia hanya mengangguk merespons kata-kata yang diucapkan Sani.
__ADS_1
Saat itu Rindra sedang rebahan di ruang tengah bersama Papa dan Mamanya, dia sedikit kaget dengan panggilan yang masuk ke hp nya..
"Sani ??? Kenapa akhir-akhir ini dia sering telpon ya?"
Rindra bergumam sambil memandangi hp nya
"Angkat saja, siapa tahu penting"
Begitu respon Papanya, sama seperti kemarin di Kantor.
"Hallo San"
"Hallo, Ndra, Lu dimana sekarang?"
Mendengar nada bicara Sani yang terdengar serius, Rindra bangkit dari tidurnya..
"Gw dirumah San, ada apa?"
"Ndra, Farhan kecelakaan, sekarang dia di Rumah Sakit, gw disini sama Uki temenin dia, tolong lu kesini ya, kita butuh bantuan, dan tolong, tolong jangan beritahu ke orang tua Farhan dulu, dan Lu juga banyak tanya, Segera kesini..!!"
Kalimat Sani tegas seperti sebuah perintah
"Haaahh...Farhan kecelakaan ??!!"
Mama dan Papa Rindra pun kaget dengan kalimat Rindra itu..
"Gimana keadaannya San?"
"Udah dibilangin ngeyel aja Lu, udah jangan banyak Tanya, kesini aja dulu, dan inget...jangan kabarin orang tuanya..!! Gw takut bakal jadi masalah kalau lu salah cara nyampein"
"OK OK, gw kesana sekarang"
Rindra langsung berdiri..
"Pa, Ma, Farhan kecelakaan, sekarang dia di Rumah Sakit, cuma Uki dan Sani yang menemani disana, Sani meminta Rindra kesana, Rindra pergi dulu ya"
"Oh iya, Sani berpesan supaya tidak menyebar info ini, dia takut orang tua Farhan bakal syok mendengar kabar ini"
Tanpa menunggu jawaban dari orang tuanya, Rindra langsung berbegas menuju Rumah Sakit.
"OK, sekarang Rindra udab beres"
"Hah Ki, lu belum sempar jelasin, gimana keadaan Farhan kan?"
Sani mendadak kaget..
"Dia patah tulang San, Kaki kirinya patah"
"Deg..!!!"
Sani terbelalak mendengar jawaban Uki yang terlihat lesu.
"Astaga, separah itu ya..."
Sani menarik napas dalam-dalam lagi, lagi menghembuskannya
"OK, sekarang lu nyalain hp Farhan, kalau ada panggilan dari orang tuanya, biar gw yang jawab"
Uki pun mengangguk tanda mengiyakan.
__ADS_1
"Ternyata ini jawabannya, kenapa tadi aku punya firasat yang tidak enak"
Sani menggumam pelan karena sudah menyadari apa yang dia khawatirkan sejak tadi sudah mendapat jawabannya.