Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Hari Pertama Bekerja


__ADS_3

Dari kejauhan, terlihat lampu motor yang mendekat.


"Itu pasti pak Bandung"


Gumam Sani seraya menarik gerobaknya ke pinggir jalan.


Dan benar saja, itu pak Bandung yang segera berhenti untuk menghampiri Sani.


"Kok pake Gerobak segala?"


"Iya pak, ini di kaitkan dengan motornya, biar sepeda Sani bisa ditaruh depan, nanti pulangnya, gerobak ini saya tarik pake sepeda"


"Ouw gitu..apa nggak berat kalau narik pake sepeda?"


"Kalau kosongan sih masih mampu lah pak"


"Ya sudah kalau gitu, sini dikaitkan sekalian"


Lalu mereka berangkat menuju Lapak Sani, sampai disana Sani melepas ikatan gerobak dari motor pak Bandung.


"Pak, ini ada sedikit sebagai ganti bensinnya.."


Sani menyodorkan uang 25ribu kepada pak Bandung.


"Nggak usah Nak, bapak kan cuma narik gerobak saja, ndak keluar tenaga, meskipun Nak Sani ndak kesini, bapak juga tetap butuh bensin buat kebutuhan kerja di pasar"


"Nggak apa-apa pak, ini kan cuma sedikit.."


Sani berusaha membujuk pak Bandung.


"Kalau begitu, besok bapak nggak mau lagi narik gerobaknya, bapak yang nggak enak kalau kamu paksa seperti ini"


Sani diam sejenak, dia agak bingung..


"Sudahlah, do'akan saja bapak rejekinya lancar, bayarnya pakai do'a saja, bapak juga mendo'ankan jualan pertama kamu hari ini bisa langsung laris"


"Aamiin...makasih banyak ya pak, semoga pak Bandung hari ini banyak rejeki"


"Aamiin....kalau gitu bapak duluan ya Nak..."


Pak Bandung mulai menggerakkan becaknya menuju pasar induk.


"Baik pak, hati-hati...!!!"


Sani setengah berteriak.


Lalu Sani memasang Papan yang sudah disiapkan, lalu menata lampu di dalam lapak dan lampu untuk menerangi papan itu juga.


Selesai itu, Sani menata semua sayuran serapi mungkin supaya terlihat menarik.


Sesaat sebelum Sani berangkat tadi, ia lebih dulu menyirami sayurannya supaya tetap segar.


Tepat pukul 03.05, Sani membuka pintu depan lapaknya dan memulai pekerjaannya untuk pertama kali.


Setelah melewati beberapa menit, para pedagang yang mulai lewat menuju pasar induk.


Ada yang ngebut, ada yang hanya menoleh ke lapak Sani, dan ada pula yang sempat memperlambat motornya untuk sekedar membaca papan tulisan Lapak Sani.


Menit demi menit berlalu, belum ada satupun yang mampir ke Lapak Sani, pikiran Sani mulai kacau, perasaannya tak menentu, dan ada rasa ingin menangis karena belum ada satupun pedagang yang mampir.


"Mungkin mereka belum tau kalau ada sayur segar disini, tapi pedagang sebanyak itu tak satupun berkenan mampir?"


Sani bergumam, dan sedikit mondar-mandir karena tidak tenang.


Lalu menyulut rokoknya untuk mengurangi kepanikannya.


Hingga pukul 03.57, dagangan Sani belum laku sama sekali, lalu tiba-tiba...


"Sssiiiitttttttt....."


Suara motor yang di rem tepat di depan Lapak Sani.

__ADS_1


"Sayurnya apa aja mas?"


Sani dengan gugup dan buru-buru menyebutkan semua dagangan yang dia miliki beserta harga-harganya.


"Wah...ini lebih murah 200perak dari harga pasar induk...!!!"


"Iya pak, memang saya jualnya dibawah harga pasar"


"Mantab ini, saya ambil kacang panjang, sawi, kangkung sama bayamnya, masing-masing 10ikat ya mas, terus cabenya 1kg, terus pare sama gambas masing-masing 15 lonjor"


Pedagang itu mengucap kata "lonjor" sambil ketawa dan diikuti senyuman Sani.


"Baik, saya bungkusin dulu ya pak"


"Hitung saja mas, langsung taruh di obrok, nggak usah dibungkus"


"Owh baik pak"


"Hallo, woy, dipinggir jalan sawah ada kios sayur baru ini, baru buka hari ini lo, harganya lebih murah, kalau kamu belum ambil, mampir sini aja"


Sani menoleh, ternyata bapak itu sedang menelpon temannya.


Dalam hati Sani merasa lega dan bahagia, karena pedagang tadi mau mempromosikan dagangan Sani.


"Sudah semua pak, ini masing-masing sayur saya kasih bonus satu ikat, buat tanda terima kasih, karena bapak pembeli pertama disini"


"Wah...makasih banyak ya mas, sudah murah, masih dikasih bonus"


Setelah melakukan pembayaran, bapak itu pamit.


"Nanti temen saya ada yang mampir kok mas, mungkun 2 atau 3 orang gitu"


"Iya pak, makasih banyak ya pak"


"Sama-sama mas"


Lalu orang itu menyalakan motornya, tapi tiba-tiba dia mematikan lagi dan turun dari motornya.


"Oh iya, baik pak"


Setelah bertukar nomor handphone, bapak itu pergi, dan tak selang beberapa waktu, tiba-tiba ada banyak motor berhenti di sekitar Lapak Sani.


1, 2, 3, 4, 5, 6, 7...ada 7 pedagang datang bersamaan membeli sayur Sani.


Sani sedikit kewalahan dengan pembeli sebanyak itu dalam waktu yang bersamaan, maklum, Sani belum terbiasa.


"Woooyy....jangan main ambil-ambil aja, taruh dulu barangnya...!!"


Seseorang yang paling tua tiba-tiba berteriak karena melihat Sani yang sudah kebingungan dan ada pembeli yang sepertinya mau curang memanfaatkan keadaan.


"Taruh barangnya di depan kalian masing-masing, yang sudah ditaruh di obrok, ambil lagi...!!


Semuanya diam, dan menaruh sayuran di depannya.


"Hei kamu..!!! Kamu sudah memasukkan sayur ke dalam obrokmu kan, cepat keluarkan, jangan curang kamu..!!! Ini pedagang baru, sudah dikasih murah, masih mau kamu curangi, ayo cepat kembalikan...!!"


Bapak itu menunjuk seorang pedagang muda dan kelihatan serius, sedangkan Sani hanya diam tanpa bereaksi.


"Dek, itu hitung semua harganya, biar dia bayar duluan"


Lalu Sani menghitung barangnya, lalu orang itu pun membayar dan segera pergi.


Semua yang disana tau kalau pedagang muda itu pasti merasa Malu, karena ketahuan berbuat curang.


Setelah itu Sani menghitung satu per satu barang yang dibeli para pedagang itu, hingga yang terakhir adalah bapak yang paling tua itu.


Tidak lupa, Sani memberikan bonus satu ikat sayur kepada semua pedagang tadi, hanya pedagang yang ketahuan curang tadi yang belum sempat ia kasih bonus, karena keburu pergi.


"Bapak, terima kasih ya sudah membantu saya, kalau bapak tidak mengkondisikan tadi, pasti sudah semrawut nggak karu-karuan"


"Iya, sama-sama Dek, makasih juga udah dikasih bonus"

__ADS_1


Sani mengangguk lalu tersenyum.


"Semoga nanti laris dan bisa habis dagangannya ya dek"


"Aamiin...makasih ya pak"


Bapak itu mengangguk, lalu menunjuk papan tulisan Sani


"Itu nanti dikasih nomor hape ya Dek, biar gampang"


"Oh iya pak, makasih banyak Sarannya"


Lalu orang itu pun berlalu.


Sani menoleh ke arah dagangannya, banyak yang sudah Habis, tinggal Pare, Bayam dan kacang panjang yang tersisa.


"Haaaah....."


Sani merebahakan diri di tikar yang digelar di dalam Kiosnya, dia merasa sangat lega dan bahagia.


Dia melihat jam di hapenya,


"Sudah hampir jam 5 ternyata"


Kata Sani lirih, kemudian dia segera bangun, karena tiba-tiba dia merasa ngantuk, dia takut ketiduran.


Lalu dia keluar dari kios dan mondar-mandir di sekitar kios sambil menyulut sebatang rokok.


Hampir sejam menunggu, belum ada pembeli lagi, Sani kemudian menengok dagangannya..


"Hmm...tinggal sedikit, tapi kalau gak dihabisin, sayang juga...tunggu dulu lah, belum genap jam 6 juga."


Lalu beberapa saat kemudian, ada ibu-ibu yang sedang naik motor, tiba-tiba mengerem mendadak...


"Sedia Sayur Segar"


Ibu itu membaca papan agak pelan,


"Mas, sayurnya masih ada?"


"Ada Bu, tapi tinggal beberapa, silahkan dilihat"


Ibu itu turun dari motornya, lalu melihat sayur yang tersisa.


Akhirnya ibu itu membeli kacang panjang dan bayam beberapa ikat.


"Ini aja mas..."


"Owh..iya bu, saya kantongin dulu"


"Baru ya mas jualan disini? Kok belum pernah lihat sebelumnya?"


"Iya bu, baru hari ini...ini Bu belanjaanya, ini saya kasih bonus, buat langganan"


Sani kembali memberi bonus kepada pembelinya.


"Waaah...makasih banyak mas, nanti tak kasih tau Ibu-ibu perumahan, biara semua belanja disini"


"Makasih banyak ya Bu"


"Sama-sama mas, Mari..."


Kemudian Sani menangguk tersenyum.


5 menit berikutnya, ada 4 ibu-ibu datang membeli semua dagangan Sani, dan sebagian digratiskan sebagai bonus.


"Haaaaah....akhirnya, habis sudah daganganku, Huuuft...lumayan lelah, tapi ini menyenangkan"


Sani tersenyum sendiri di dalam kiosnya.


Lalu setelah menghabiskan satu batang rokok sambil mendengarkan musik, Sani membereskan semuanya dan bersiap pulang ke Rumah.

__ADS_1


__ADS_2