Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Firasat ini. . . .


__ADS_3

"Aku harus bisa mendapatkan mu..!!! Harus....atau setidaknya, aku harus merasakan keperkasaanmu itu...wanita kuno itu tidak seharusnya selalu berada dalam pelukanmu..!!"


Nissa berbicara sendiri dengan tatapan penuh ambisi, dia benar-benar sudah kehilangan akal kewarasannya.


Kemudian dia merebahkan diri di kamar, lalu menjalani ritual bejatnya dengan selalu membayangkan wajah tampan dan gagahnya tubuh Sani.


Setelah menuntaskan aktifitas yang menjijikkan itu, Nissa menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan menyesal.


"Kenapa aku begini? Kenapa aku membenci kakak yang sangat menyayangiku? Kenapa aku justru jatuh hati kepada kekasih kakakku sendiri?"


Dia pun mulai meneteskan Air matanya.


"Apa ini, apakah ini hanya Nafsu, atau hanya Ambisi semata? Atau aku memang salah dalam memilih pergaulan?"


Dalam kesadarannya, perasaan menyesal menyelimuti Hatinya, sedikit pikiran tenang, membuat dia mampu menilai kesalahannya sendiri.


Tapi dalam keadaan tertentu, dia bisa saja melupakan semuanya, bahkan batas-batas dalam dirinya.


"Atau aku memang memiliki Nafsu yang liar seperti ini?"


Dia pun semakin sedih, dalam tangisnya, perlahan ia pun terlelap dalam penyesalan atas perbuatannya sendiri.



Sampai di rumah, Sani segera menuju kamarnya untuk beristirahat, namun ia tidak bisa langsung tidur.


Dia kembali teringat kejadian tadi saat Ayu duduk di pangkuannya.



"Kenapa Ayu semakin liar? kenapa dia sampai seperti itu? ataukah itu memang sifat aslinya yang selama ini tertutupi oleh sifat pendiamnya?"



Sani merasa aneh dengan Ayu, semakin hari ia terlihat semakin liar di hadapan Sani.



"Aku berharap ini hanya terjadi denganku, tapi bagaimana jika ia tidak sanggup menahan gairahnya, lalu tergoda dengan lelaki lain?"



Mendadak Sani didera perasaan khawatir dan pikiran yang negatif.



"Aaahhh ....tidak mungkin, aku harus percaya sepenuhnya pada Ayu, aku tidak boleh negative thinking, aku yakin dia tidak akan berani melakukan hal itu selain denganku."



Sani berusaha membuang pikiran negatif nya, dan berusaha untuk segera tidur.


Waktu tinggal esok hari, dia harus memperjuangkan segalanya dalam pertandingan Jum'at nanti.



Hingga Dini Hari, Sani yang sudah terbiasa bangun untuk berangkat jualan, bersiap-siap untuk ikut ke kios.



"Apa tidak sebaiknya kamu istirahat saja?" Bu Nanik mencoba melarang Sani untuk ikut ke kios.



"Nggak apa-apa Bu, kan disana bisa langsung tidur nanti."


Sani pun berusaha meyakinkan Ibunya.



"Nak, udara dingin bisa mengganggumu nanti."

__ADS_1



"Ayolah Bu, ini bukan masalah besar."



"Ya sudahlah." Bu Nanik pun menyerah, dia tidak ingin mendebat anaknya.



"Kamu tetap ikut San?" Bude Wiwik mencoba melarang Sani.



"Iya Bude, nggak apa-apa kan? Toh disana Sani juga langsung tidur nanti, jadi sama saja dengan istirahat di rumah."


Sani mencoba meyakinkan Budenya



"Kamu itu nggak percaya ya, dengan kinerja kami?"


Pakde Damar langsung bertanya tegas.



"Bukan begitu pakde, Sani cuma...."



"Kamu nggak kasihan kalau ibumu pikirannya khawatir dan tidak tenang?"


Pakde Damar langsung memotong kata-kata Sani yang belum selesai.



Sani pun terdiam, dia menatap ibunya.


Dan ia pun melihat tatapan yang penuh kekhawatiran terhadap dirinya.



Sani pun menyerah, dia tidak tega jika melihat ibunya di selimuti perasaan khawatir terhadap dirinya.



"Begitu kan lebih baik, bisa membuat ibumu tenang dan fokus berjualan nanti."



Sani pun tersenyum melihat kelegaan orang tuanya.



"Hati-hati ya Bude, Bu...Pakde juga."


Sani pun berpesan kepada mereka semua.



"Iya, kamu juga, balik tidur lagi, istirahat, jangan main hp."


Bu Nanik menjawab pesan Sani.



"Kalau kamu ingin membantu kami, bantu dengan cara membawa pulang piala Juara 1." Pakde Damar mencoba memotivasi Sani.



"Iya pakde, Sani akan berjuang besok."

__ADS_1



"Jangan lupa, harus tetap waspada dan hati-hati, jangan sampai terjadi apa-apa."



"Iya Bude, Sani akan jaga diri, selama ada pak Hambali yang mengawasi, semua akan baik-baik saja."



Mereka pun tersenyum, lalu segera berangkat menuju kios.


Sedangkan Sani kembali masuk kamar untuk melanjutkan perjalanan mimpinya.



Suara 2 motor yang lewat, sekaligus suara gerobak yang ditarik pakde Damar, terdengar sampai ke kamar pak Hambali.


"Itu pasti keluarga Sani, semoga Sani tidak ikut ke kios, aku khawatir ia kelelahan."


Pak Hambali sendiri belum bisa tidur hingga dini hari, ada firasat buruk yang menyelimuti pikirannya.


"Ada apa sebenarnya, apakah Sani akan kalah? atau ada kejadian lain? Aku hanya melihat Sani menangis, tapi belum tau, apa yang membuatnya menangis."


Dari sore hingga malam, pak Hambali hanya mengingat dan mencoba mencari tau tentang firasat yang ia rasakan.


"Kalau Sani kalah, dia tidak mungkin menangis, karena pertandingan ini bukanlah prioritas hidupnya, aku tau itu, aku sangat kenal sifat Sani, yang nomor satu hanyalah Ibunya."


"Deg...!!"


Pak Hambali langsung membayangkan sesuatu.


"Apakah akan terjadi sesuatu kepada Ibunya? apakah ibunya akan...Ahhhh ..tidak tidak, aku tidak boleh berpikiran seperti ini, ini tidak benar."


Pak Hambali langsung menepis semua perkiraannya.


"Tapi aku yakin Sani tidak akan kalah, aku Yakin itu, dia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang."


Pak Hambali merasa optimis dengan Sani, dia yakin Sani akan mendapatkan yang terbaik.


"Entahlah, apa yang akan terjadi, aku tidak tau, semoga semua baik-baik saja."


Pak Hambali mencoba untuk tetap tenang dan berpikiran positif, dia tidak firasat yang mengganggu itu memecah konsentrasinya saat mendampingi Sani nanti.


"Sebaiknya aku tidur, tubuhku sudah tidak sebugar dulu, aku sudah tidak sanggup jika setiap hari begadang sampai pagi."


Pak Hambali pun menata selimutnya.


Dia mencoba memejamkan matanya, meskipun pikirannya masih dihantui oleh firasat yang tak jelas itu.


Firasat yang menggambarkan Kesedihan dan Tangisan Sani, jika itu benar-benar terjadi, dia pasti akan ikut bersedih.


Karena Sani sudah seperti anaknya sendiri, dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan pemuda itu.


"Kenapa, kenapa sulit sekali tidur, kenapa rasa kantuk belum juga datang, apa yang sebenarnya akan terjadi...."


Pak Hambali berbicara dalam hatinya dengan mata terpejam.


Firasat itu semakin kuat meskipun ia sendiri belum bisa memastikan.


"Sebaiknya aku mandi, mungkin jika tubuhku merasa segar dan dingin, aku bisa segera tidur."


Pak Hambali pun bangkit, dan pergi menuju kamar mandi.


Dia mandi keramas saat dini hari, dia melakukan semacam ritual untuk menenangkan pikirannya.


Dan setelah mandi, ia pun segera menuju kamarnya kembali.


"Jika itu buruk, semoga tidak sampai mematahkan Jiwa dan Semangat Sani, itu saja harapanku..!!"


Lalu pak Hambali kembali menata selimut untuk menutupi tubuhnya yang saat itu merasa kedinginan.

__ADS_1


Dia berusaha melupakan segala perasaan khawatirnya.


Dia ingin semua berjalan sesuai dengan perencaan yang telah di matangkan oleh Sani dan dirinya.


__ADS_2