Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Diperbudak Nafsu


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Sani terus mengingat kejadian yang baru saja ia alami bersama kekasihnya.


Ada rasa menyesal, karena dia merasa telah merusak kekasihnya itu, tapi disisi lain dia juga bahagia, karena akhirnya Ayu pun pasrah atas perlakuan Sani.


Sayangnya, kebahagiaan itu terbungkus oleh Nafsunya, bukan semata-mata karena kasih sayangnya.


Itulah yang menyebabkan Sani berfikir bahwa kebahagiaan itu telah ternoda oleh perbuatannya sendiri.


Sampai rumah, Sani terdiam di kamarnya, dia tidak bisa tidur, dia masih terbayang-bayang ketika Ayu mendorong tubuhnya, itu terasa memalukan bagi dirinya.


"Kling..!!"


Bunyi nada pesan di hp nya, menandakan ada pesan WhatsApp yang masuk.


Dia melirik notifikasi, itu dari Ayu.


Tapi Sani tidak membukanya, rasa malu pada Ayu, dan rasa marah pada dirinya sendiri membuatnya enggan melakukan apapun hari itu.


Dia ingin diam, tapi dia tidak tega mendiamkan kekasihnya, akhirnya setelah 3x suara pesan masuk, dia membuka chat itu...


"Sayang...udah nyampe rumah?"


"Sayaaang...kok diem?"


"Sayaaaaaaang..kemana, kok gak bales?"


Begitulah isi pesan Ayu.


"Maaf Sayang, ini udah nyampe rumah dari tadi kok, pikiranku kemana-mana, jadi agak males pegang hp"


"Soal kejadian tadi?"


"Iya, aku minta maaf yaa..bukannya menjagamu, aku malah merusakmu"


Sani memberi emot menangis pada akhir chatnya.


"Udah aku maafin kok, tapi sepertinya nggak bisa aku lupain, bukan karena marah, tapi karena nggak habis pikir aja, bisa-bisanya aku menikmati kesalahan itu"


Sedang Ayu justru memberi emot smile, entah apa yang dipikirkan gadis pemalu itu, saat ini, sifatnya menjadi sedikit liar di depan Sani.


"Kok malah senyum ??"


Sani sedikit keheranan.


"Ya mau gimana lagi? Nangis? Nyesel?, Mas nggak ingat, yang berikutnya, aku sendiri yang menuntun tanganmu untuk menyentuh bagian itu, bukan maumu sendiri "


"Sayang....setelah lulus, kita langsung nikah aja ya, kamu kuliah kalau udah jadi istriku hehe"


Sani mulai sedikit tenang dengan keadaan itu.


"Hehe sabar donk bang, ngebet amat ckckckck"


"Dek, kalau berkelahi dengan preman, sekalipun badannya lebih gede, mungkin aku masih bisa menang, tapi kalau perang melawan nafsu, sepertinya aku yang bakal tumbang"


"Ayu tau Mas, Ayu pun begitu, jika tidak menahan diri, mungkin kita bakal di perbudak nafsu"


"Sekali lagi maafin aku ya sayang..."


"Iya maassss...Ayu udah maafin kok, sekarang Mas istirahat aja, nanti harus bangun dini hari"


"Iya, kamu jug cepet tidur ya"


"Iya sayang, I Love U"


"I Love U too"


Mereka mengakhiri percakapan dengan emoji kiss di akhir chat masing-masing.




Rindra menghentikan mobilnya di depan Halte, lalu seorang perempuan masuk ke dalam mobilnya, dan Rindra kembali melajukan kendaraannya itu.



"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"


Rindra membuka percakapan.



"Aku ingin kau menerimaku, mencintaiku dari dalam hatimu..."



"Bagaimana jika aku tetap tidak bisa?"



"Aku akan berkorban demi cintamu?"



"Berkorban? Apa yang akan kau korbankan?"



"Apa saja, segalanya yang ku punya akan ku korbankan demi dirimu"



"Benarkah?"



"Kau tak percaya? Kau ingin membuktikan? Katakan saja apa yang kamu mau..!!"

__ADS_1



"OK, sebentar lagi kau akan tahu apa yang aku mau darimu"



Rindra langsung tancap Gas menuju sebuah tempat.



Setelah beberapa menit, Mobil Rindra masuk ke area parkir Hotel yang cukup terkenal di kota ini.



"Kenapa kesini? Apa yang kamu inginkan disini?"


Gadis itu bertanya heran, meskipun dalam hatinya sudah punya firasat tentang apa yang akan terjadi.



"Kau mau tau kemauanku bukan? Dan kau bilang akan mengorbankan apapun demi cintaku bukan?"



"Tapi...."



"Kalau kau tidak sanggup, katakan saja, kita bisa langsung pergi dari sini !!"


Rindra memotong kalimat Gadis itu.



Sejenak Gadis itu menarik nafas dalam-dalam,


"Baiklah, aku ikuti maumu"



"Begitu lebih bagus"



Rindra lalu keluar dari mobil, diikuti gadis itu.


Mereka menuju Lobby Hotel untuk memesan kamar.


Lalu mereka diantarkan ke kamarnya.



"Ceklek..."




Gadis itu mematung menghadap jendela, melihat keluar, mengamati keadaan kota saat itu.



"Anita..."


Rindra memanggil gadis itu sambil mendekatinya.



"Hmmm...."


Gadis itu berbalik arah, dia sedikit kaget karena Rindra sudah berdiri tepat di depannya.



"Kau tau kan, apa yang akan terjadi? Apa yang akan aku lakukan padamu? Dan apa yang akan kau korbankan untukku?



Gadis itu tidak menjawab, dan hanya menatap Rindra tanpa berkedip.



"Kuberi kesempatan, jika kau ingin menolak, katakan...dan kita akan segera keluar dari tempat ini"



Gadis itu memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam-dalam,



"Aku putuskan, aku akan berkorban..!!”



Rindra pun mendekat,



"Kau memang pantang menyerah"



Lalu menyentuh dagu gadis itu, dan mencium bibirnya.


Gadis itu sempat ingin berontak, tapi dia takut Rindra marah, akhirnya dia hanya pasrah dengan keadaan itu.


__ADS_1


Rindra melepas ciumannya, dia memeluk Gadis itu, lalu dia berbisik pelan di samping telinga Anita,



"Kau akan membuat pengorbanan besar malam ini"


Anita lalu mengangguk mendengar bisikan Rindra.



Rindra pun menanggalkan seluruh pakaian Gadis itu, menggendongnya lalu merebahkannya ke Ranjang Hotel itu.



"Kau sudah yakin dengan apa yang akan kau korbankan ini?"


Rindra bertanya sambil menempelkan hidungnya ke pipi halus Gadis itu.



"Emmm...".


Hanya itu yang keluar dari mulut Anita.



"Jawab yang jelas, aku ingin mendengarkan langsung suaramu"



"Iya Rindra, aku yakin dengan pengorbanan ini"



Lalu Rindra pun bangkit dan menanggalkan seluruh pakaian yang ia kenakan.



"Kau tidak menyesali semua ini?"


Rindra kembali bertanya, tapi kali ini tangannya merab lembut perut gadis itu.



"Tidak, aku sudah memutuskan hal ini"


Anita menjawab dengan penuh keyakinan.



"Bagaimana jika setelah ini, aku tetap belum bisa menerimamu, belum bisa mencintaimu?"



"Aku tidak tahu lagi, ini adalah pengorbanan terbesarku padamu, hal yang paling berharga milikku, akan ku serahkan padamu malam ini"



"Baiklah kalau begitu, sekarang perintahkan padaku untuk melakukan apapun yang aku mau atas diri dan tubuhmu"



"Kenapa aku harus memerintahmu, kau bahkan bisa melakukannya sesukamu"



"Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak memberi perintah untukku"



Kali ini Anita menjadi sangat takut, dia takut jika kalimat perintah itu akan dijadikan senjata serta alasan Rindra untuk meninggalkannya kelak.



"Aku tidak sanggup memerintahmu Rindra..."


Anita berucap tenang, namun matanya sudah berkaca-kaca.



"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan pernah melakukannya"


Kemudian Rindra bangkit dan mengambil kembali pakaiannya.



Ketika tangan Rindra hendak mengambil kaosnya, Anita segera menahan tangan Rindra.



"Kenapa lagi, bukankah kau tidak sanggup memerintahku?"



Anita menggelengkan kepalanya, lalu menarik Rindra hingga kembali menindih tubuhnya.



"Rindra, aku perintahkan dirimu untuk melakukan apapun yang kau inginkan atas diri dan tubuhku..!!



Rindra diam sejenak mendengar kalimat itu, lalu



"Inilah perintah yang aku nantikan darimu..!!"

__ADS_1


__ADS_2