
Pagi harinya, Rindra berangkat ke kampus lebih awal, karena akan menyempatkan mampir ke Rumah Sakit sebentar.
"Pa...Rindra mau ngomong sesuatu"
Setelah Rindra berbicara pelan dengan serius kepada Papanya
"OK, Papa pasti siap membantu"
Kemudian Rindra berangkat duluan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 15menit, Rindra sampai di parkiran Rumah Sakit dan langsung menuju kamar dimana Farhan dirawat.
"Pagi Bro..."
Rindra menyapa Farhan yang terlihat lebih bugar dari kemarin.
"Hai Ndra, udah sampai sini lagi ternyata..."
"Gw mampir tadi, Ayah dan Ibumu mana?"
"Ke Toilet katanya"
"Ouwh"
"Eh Nak Rindra, udah lama?"
"Baru aja tante hehe"
"Lhoh ...nak Rindra sudah sampai sini lagi?"
"Hehe iya Om, mumpung keluar, mampir sebentar"
"Jadi gimana Han, apakah harus di operasi?"
Rindra bertanya kepada Farhan.
"Iya Ndra, lusa operasi, do'ain ya, semoga lancar"
Ucap Farhan penuh harap.
"Pastilah....bentar ya Han, gw mau ngomong ke bapak ibu dulu.."
Kemudian Rindra mengajak mereka berdua keluar ruangan.
"Om, soal biaya Operasi, Papa sudah Rindra kasih tau tadi, dan Papa menyetujui"
"Nak, Om nggak mau ngrepotin kalian, kalian sudah banyak bantu kami, kami jadi nggak enak, biar motor dirumah itu Om jual untuk biaya ini"
"Jangan Om, sudahlah, Om tenang aja, kesembuhan Farhan yang paling penting"
"Tapi Nak...."
"Tante...tolong..!!"
Rindra memotong kalimat ibunya Farhan, dan mereka berdua pun akhirnya menuruti kemauan Rindra.
Lalu mereka kembali masuk ke ruangan tempat Farhan di rawat.
"Han, gw balik duluan ya"
"Makasih banyak ya Ndra"
"Sama-sama, semoga operasinya lancar dan cepat sembuh"
"Aamiin..."
Farhan serta Ayah dan Ibunya mengamini do'a Rindra, lalu Rindra pun pamit dari sana.
"Kak, waktu kakak naksir sama mas Sani, apa kakak selalu grogi dan deg-degan ketika ketemu atau bahkan cuma melihat mas Sani?"
Ayu mengerutkan keningnya sambil tersenyum
"Kamu naksir seseorang ?"
"Ditanya malah balik nanya, jawab dulu kek..."
"Haaahaa pertanyaanmu itu konyol tau nggak sih, kenapa juga gitu ditanyain"
"Aaaahh....tau ah, males..."
Nissa pergi sambil cemberut, Lalu Ayu pun menyusulnya ke kamar.
"Adekku sayang, kepada siapapun kamu naksir, kamu tidak harus menceritakan kepada orang-orang terdekatmu, perasaan semacam itu jadikan rahasia pribadi dulu"
Ayu membelai rambut Nissa yang tidur tengkurap karena merasa jengkel dengan kakaknya.
"Kita wanita, kita tidak bisa mendahului..."
Ayu menghela nafas lalu melanjutkan...
"Tapi setidaknya kita bisa memberi kode kepada orang yang kamu inginkan, kalau dia memilik perasaan yang sama, dia pasti menanggapi kode itu"
Ayu masih membelai rambut adik kesayangannya itu,
__ADS_1
"Sabar ya, jangan terburu-buru"
Ayu memungkasi sambil pergi meninggalkan adiknya dalam kamar sendirian.
"Hallo Ki, gw denger Farhan kecelakaan ya, dan lu yang temenin di Rumah Sakit pertama kali ?"
Tijar sedikit kaget karena baru sekarang mendapat kabar bahwa Farhan kecelakaan, lantas dia langsung menghubungi Uki.
"Iya Jar, sekarang kondisinya sudah aman, tapi katanya harus operasi"
"Separah itu ya, sampai operasi?"
"Begitulah, dia patah tulang kaki kiri"
"Astagaaaa...lu kok nggak ngabarin gw sih Ki, mana Rindra juga diem aja...."
"Sorry Jar, pikiran gw bener-bener blank kemarin, nggak bisa tenang ataupun mikir secara jernih"
"Lu tau nama kamarnya apa Ki..?"
"Ini gw mau kesana kok Jar, mau nengok keadaannya sekarang, kalau lu mau nengok juga, barengan aja"
"OK deh, ketemu di parkiran Rumah Sakit ya"
"Yo'i.."
Uki memungkasi.
20 menit kemudian, Uki dan Tijar bertemu di parkiran Rumah Sakit.
"Udah lama Jar?"
"Enggak, baru aja gw nyampek"
"Ya udah langsung masuk aja Yuk !"
"OK.."
Mereka berjalan beriringan melangkah menuju kamar dimana Farhan dirawat.
"Selamat sore Om, Tante..."
Sapa Tijar yang melihat Ayah dan Ibu Farhan sedang berada di luar ruangan.
"Eh, Nak Tijar, Nak Uki"
Ibu Farhan menyapa mereka
"Gimana Tante, keadaan Farhan?"
"Kalian masuk aja nggak apa-apa, dia sedang main game tuh"
Lalu Tijar dan Uki pun masuk menemui Farhan.
"Hoy..."
Tijar menyapa Farhan
Farhan lupa jika kakinya cedera dan dia asal gerak saja.
"Eh pelan-pelan kenapa..."
Uki menegur Farhan
"Huuuuh....nggak enak banget nih rasanya"
Farhan bicara sambil meringis menahan sakit di kakinya
"Udah lu diem aja, nggak usah banyak gerak"
Tijar mencoba mengingatkan Farhan.
Lalu mereka bertiga pun ngobrol panjang lebar hingga tak terasa, waktu sudah semakin Sore.
"Gw pamit duluan ya.."
Uki berpamitan kepada Farhan.
"Iya...Eh Ki, makasih banyak ya, kata bokap gw, Lu yang jagain gw dari siang sampe malem..."
Uki hanya tersenyum lalu mengarahkan tinjunya ke Pipi Farhan.
"Jar, lu bareng gw atau pulang nanti?"
"Bareng aja deh, sekarang"
"Han, baik-baik ya Lu, semoga operasinya lancar, cepet sembuh"
"Makasih banyak ya Jar, udah nyempetin kesini"
Tijar mengangguk sambil tersenyum.
"Kita duluan ya..."
Uki pamit sambil melangkah keluar.
"Om, Tante, kami pamit dulu ya"
"Iya Nak Uki, Nak Tijar, makasih banyak ya sudah menyempat mbesuk Farhan.
Uki dan Tijar tersenyum kepada mereka berdua.
"Mari Om, Tante"
Uki dan Tijar mengangguk saat berpamitan, lalu Ayah dan Ibu Farhan pun tersenyum mengiyakan kepergin mereka berdua.
Hari ini Sani sudah mulai mengambil sayur-sayuran hasil panenan tetangga, karena besok pagi sudah mulai jualan.
Setelah sebelumnya Sani sudah mempuat papan bertuliskan "SEDIA SAYUR SEGAR", Sani mempersiapkan Aki , kabel serta lampu untuk penerangan di lapaknya.
"Ini di cuci dulu kan ?"
__ADS_1
"Iya Bude, Sani udah bikin tempat untuk mencuci"
Sani mengeluarkan Papan lebar yang sudah dirangkai sedemikian rupa untuk menaruh dan mencuci sayuran yang masih sedikit kotor karena ada beberapa tanah yang masih melekat.
"Nih Bude, sayurnya Sani taruh sini dulu, nanti siramnya pake air selang itu"
"Haaahaa bisa aja ide kamu..."
"Biar lebih gampang aja sih pakde"
Ternyata saat itu tidak hanya Ibunya Sani saja yang membantu persiapannya, tapi Pakde Damar dan Bude Wiwik juga ada disana.
"Setelah ini diapain lagi San?"
Pakde Damar bertanya, karena sebenarnya dia tidak tau bagaimana konsep Sani dalam menjual sayurnya ini.
"Kacang panjang, Sawi, Bayam, Kangkung dan beberapa yang lain, Nanti kita ikat pake karet gelang pakde, kalau yang lain kan udah siap, Pare sama Gambas juga udah di plastikin"
"Ouw...jualnya bisa cepet ya kalau gitu, berarti ditimbang dulu dong?"
"Iya pakde, Sani udah siapin 2 timbangan, yang kecil untuk yang dirumah, dan yang besar nanti Sani bawa ke Lapak"
"Kamu memang Anaknya Hartoyo, segala sesuatunya sudah disiapkan secara matang"
Semuanya tersenyum mendengar penuturan pakde Damar itu.
"Emm...pakde, bude, selama Sani masih belum mampu bayar orang untuk bekerja, Sani minta dibantuin ya tiap hari, kalau Ibu sendiran, sepertinya bakal kewalahan ngerjain ini semua"
"Nggak kamu minta pun juga sudah pasti kami bantuin..!!! Memang kamu pikir kami tega biarin kamu kocar kacir sendirian"
Bude menjawab dengan sedikit sewot karena merasa Sani seharusnya tidak perlu mengungkapkan Hal itu.
"Hehe..iya juga sih"
Sani nyengir sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
Setelah semua selesai, Sani ke belakang mengambil gerobak dorongnya.
"Lhoh..udah bikin ginian juga?"
Pakde Damar kaget melihat Sani membuat gerobak dorong juga.
"Iya donk, semua taruh sini dulu, nanti tinggal disangkutin ke becaknya pak Bandung, terus sepeda Sani tetep bisa ikut naik becak"
"Haaahaaahaaa"
Semua tertawa mendengar kalimat Sani yang memang sengaja di logatkan humor.
"Kamu kan bisa bawa motor pakdemu San"
"Jangan dong Bude, nanti kalau ada keperluan sendiri, bingung juga nggak ada motor"
Bude Wiwik menatap Sani dengan perasaan kagum dan Bangga melihat cara berpikir keponakannya ini.
Setelah semua sudah selesai dan dipersiapkan, Sani menghubungi pak Bandung, memberitahukan bahwa besok dini Hari Sani sudah mulai Jualan.
Pak Bandung pun mengiyakan informasi dari Sani, dan siap membantu Sani membawa dagangannya ke Lapak.
Malam harinya, Sani latihan sendiri di rumah, guna mempersiapkan diri untuk pertandingannya nanti.
Setelah selesai, dia pun segera beristirahat karena Dini hari nanti dia sudah harus bangun untuk memulai pekerjaan barunya ini.
__ADS_1