Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Orang yang GAGAL


__ADS_3

"Ini dia, biar kuat begadang sampai pagi...haahaa"


Pak Hambali kembali menyuguhkan kopi untuk Rindra.


"Jika ada Sani, sepertinya akan lebih seru ya pak?"


"Dengar, jika ada Sani, kau akan benar-benar pulang pagi, dan dia tidak akan tidur hingga waktunya berangkat jualan, apa kau mau seperti itu?"


"Sepertinya tidak masalah pak..."


Rindra menjawab sambil tersenyum.


"Baiklah, akan kuminta dia datang kesini sekarang juga..!"


Pak Hambali pun mengambil hape nya, lalu menuliskan pesan dan dikirim kepada Sani.


"Kenapa tidak menelponnya saja pak?"


"Jangan, kalau dia sedang latihan, itu bisa mengganggu konsentrasinya"


Rindra pun manggut-manggut tanda mengerti.


Sani yang saat itu sedang mengusap keringat yang ada ditubuhnya, mendengar ada bunyi pesan masuk dari hape nya.


"Pak Hambali..."


Dia menggumam pelan lalu segera membuka pesan itu.


"Jika tidak sibuk, datanglah ke rumahku sekarang..!!"


Sani menelaah kalimat itu,


"Jika tidak sibuk, ini artinya bukan masalah darurat..tapi aku akan kesana..."


"Baik, aku akan kesana setelah Mandi, aku baru saja menyelesaikan latihanku"


Lalu Sani mengirim balasannya kepada pak Hambali.


"Dia akan kesini, dia baru saja menyelesaikan latihannya"


Pak Hambali menyampaikan kepada Rindra.


Rindra mengangguk tanda mengerti.


"Bagaimana kuliahmu? Lancar saja kan?"


"Ya begitulah pak, saya lebih serius dibandingkan saat SMA dulu, karena saya ingin lulus dengan maksimal nantinya"


"Seharusnya memang begitu, sebenarnya apa tujuan utamamu kuliah, jika aku boleh tau?"


"Eee...apa ya, mencari gelar sarjana mungkin hhhh"


"Haaahaa kau sendiri bahkan tidak tau tujuanmu?"


Rindra menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.


"Mulai sekarang kau harus tau, tujuan utamamu kuliah..alasan kenapa kau harus rajin belajar dan lulus dengan nilai yang memuaskan"


"Apa itu?"


"Tujuan utama kau kuliah adalah membahagiakan dan membanggakan orang tuamu, itu yang paling utama"


"Seperti itukah?"


"Kau kira tidak begitu, apakah semua pelajaran dalam kuliahmu itu bisa kau terapkan dalam kehidupan?"


"Lagi-lagi aku tidak mengerti maksudmu?"


"Begini saja mudahnya, kau tau Matematika bukan, dalam Matematika 1 ditambah 1 adalah 2, tapi apakah dalam kehidupan bisa seperti itu?"


"Pak, tolong jangan membuatku semakin bingung"


"Haaahaa...kau benar-benar tidak mengerti?"

__ADS_1


Rindra menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kebingungan.


"Begini maksudku..."


"Tok Tok Tok..."


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


"Ow..masuklah, kau sudah datang rupanya"


Pak Hambali mempersilahkan Sani.


"Rindra, sudah lama kau disini?"


Sani menyalami pak Hambali serta Rindra yang duduk di kursi.


"Sejak sore tadi San, bagaimana kabarmu?"


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, kau sendiri?"


"Aku juga bisa dibilang baik-baik saja.."


"Bisa dibilang? Apa maksudmu itu...Papa dan Mamamu sehat-sehat saja kan?"


"Yaaah...mereka dalam keadaan baik-baik juga"


"Sebentar, aku buatkan kopi untukmu.."


Pak Hambali segera bangkit dan pergi menuju dapur untuk menyeduh kopi.


"Terima kasih..."


Sani menatap pak Hambali dengan senyum hangatnya.


Setelah beberapa menit, pak Hambali kembali dengan secangki kopi, lalu menyodorkan kepada Sani.


"Ini kopimu, minumlah"


Sani mengangguk tersenyum kembali.


Pak Hambali bertanya kepada Rindra.


"Jahat terhadap diri Sendiri"


Rindra menjawab.


"Ow ya..Jahat terhadap diri sendiri, begini maksudnya.."


Pak Hambali menyeruput kopinya sebelum melanjutkan berbicara.


"Kejahatan itu tidak hanya kepada yang diluar diri kita, tetapi bisa juga kepada diri kita sendiri"


"Misalnya?"


Rindra memperjelas, sedangkan Sani hanya diam saja, karena dia sudah memahami apa yang akan disampaikan oleh Gurunya itu.


"Saat kau lapar, tapi tidak segera makan, itu bisa disebut jahat kepada diri sendiri, dan juga sebaliknya, saat kau sudah kenyang, tapi masih membeli makanan mahal, itu juga bentuk kejahatan terhadap dirimu sendiri"


Rindra mengerutkan kening,


"Adakah perumpamaan yang lebih jelas?"


Pak Hambali kembali menyulut satu batang rokok..


"Saat kau masih SMA, kau membenci Sani bukan? Kau selalu memusuhinya dan selalu membully dirinya kan? Tapi apakah hatimu benar-benar membenci Sani?"


Rindra terdiam, dia menatap pak Hambali penuh arti.


"Kau sebenarnya sangat mengagumi Sani karena kecerdasan dan kejeniusannya, tapi karena Ego dan sifat Aroganmu, kau membohongi hatimu sendiri, dimana yang sebenarnya kau sangat mengaguminya, sedangkan perlakuanmu adalah sebaliknya..."


Pak Hambali kembali menghisap rokoknya..


"Membohongi hatimu sendiri, adalah Kejahatan yang nyata kepada dirimu sendiri...!!"

__ADS_1


Pak Hambali merendahkan Nada bicaranya, namun penuh dengan penegasan.


"Bagaimana kau bisa mengetahui itu semua?"


Rindra penasaran, kenapa pak Hambali tau semua yang ia sembunyikan selama ini.


"Aku tidak bisa menjelaskan Hal itu, itu seperti Firasat saja, tapi aku yakin itu benar adanya"


Rindra pun terdiam, dia sangat heran, bagaimana mungkin orang lain bisa mengetahui isi hatinya.


Dia berfikir,


"Mungkin ini hanya kebetulan semata, tapi bagaimana bisa sangat tepat?"


"Apa kau sudah mengerti dengan kejahatan kepada diri sendiri?"


Pak Hambali membuyarkan kebingungannya.


"Ya, aku mulai paham, sekarang jelaskan tentang Matematika tadi..!!"


"Owh...yang itu tadi, kau tahu di Matematika itu 1 ditambah 1 adalah 2, tapi tidak dalam kehidupan ini, jika kau menggunakan teori itu, berarti kehidupanmu tidak berkembang"


"Pak, kepalaku mulai pusing dengan bahasamu, langsung jelaskan saja"


"1 ditambah 1 jadi 2 itu Matematika, tapi dalam kehidupan, 1 ditambah 1 harus menjadi 3, atau mungkin 4, atau bahkan 5"


Sani tiba-tiba menyahut...


Rindra menoleh ke arah Sani dengan raut kebingungannya..


"Kau sama saja seperti Gurumu, seperti ingin memecah kepalaku ini"


"Ayahmu adalah 1, Ibumu juga 1, tapi kenyataannya menjadi 3 bukan, karena ada kau disana"


Pak Hambali kembali menjelaskan.


Rindra langsung terlihat sumringah karena paham dengan maksud pak Hambali.


"Owh...siiaall...aku baru mengerti sekarang"


"Begitulah, dalam kehidupan, jika 1 ditambah 1 menjadi 2, itu artinya dia tidak berkembang, tapi jika 1 ditambah 1 tetap menjadi 1...."


Pak Hambali menarik nafas panjang, Rindra dan Sani menunggu lanjutan kalimatnya itu.


"Maka orang itu seperti aku sekarang, bisa disebut orang yang GAGAL..!!"


"Kau bukan orang yang Gagal..!!"


Sani langsung membantah pernyataan pak Hambali.


"Kematian adalah Hak Tuhan, bukan urusan manusia, tidak ada namanya kematian disebut kegagalan, kecuali kau bisa menghidupkan yang mati"


Rindra menatap Sani, dia kagum dengan pemikiran Sani yang begitu mendalam.


"Dalam pertandingan nanti, aku akan membuktikan bahwa kau bukanlah orang yang Gagal, aku akan berjuang untuk membuktikan, bahwa kau adalah salah satu yang terbaik"


Pak Hambali tersenyum mendengar ucapan Sani, dia merasa bahwa Sani adalah orang yang akan menjadi alasan keberhasilannya.


Mereka pun akhirnya mengobrol kesana kemari, obrolan yang ringan.


"San, lu kuat nggak tidur semalaman?"


"Nanti gw bakal tidur di kios Ndra"


"Terus jualannya?"


"Ada pakde, Bude sama Ibuku yang urus hehe"


"Pantas saja kau terlihat santai dari tadi"


"Haaahaaahaa"


Merekapun benar-benar begadang, hingga pukul 01.45, Sani pamit pulang karena harus bersiap-siap menuju Kios.

__ADS_1


Rindra pun juga pamit dari sana, dia pulang dengan membawa banyak pengetahuan baru dari rumah pak Hambali, pengetahuan tentang kehidupan yang selama ini belum pernah ia dapatkan.


__ADS_2