Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Hingga Lewat Tengah Malam


__ADS_3

"Ada apa Ndra? Tumben ngajakin Papa keluar berdua"


"Ada hal penting yang ingin Rindra sampaikan ke Papa, sekaligus Rindra ingin meminta pendapat Papa"


"Baiklah kalau begitu, Papa juga sudah lama nggak ngopi diluar, ya udah sana pamit ke Mamamu"


Rindra segera bergegas mencari Mamanya.


"Ma, Rindra mau keluar dengan Papa, ada yang mau Rindra omongin"


Bu Sulastri menatap mata Rindra yang penuh keseriusan saat itu langsung mengiyakan permintaan anaknya.


"Iya, hati-hati dijalan, jangan pulang terlalu malam"


"Iya Ma, Rindra berangkat dulu"


Mamanya pun mengangguk tanda setuju.


Setelah perjalan hampir 20menit, Rindra dan Ayahnya sampai di sebuah Kafe di dekat Pantai.


Disana mereka memesan minuman lalu mengobrol panjang lebar tentang permintaan Rindra ke Papanya.


"Kamu sudah pikirkan baik-baik keputusanmu ini?"


"Iya Pa, setelah berhari-hari Rindra pikirkan dan pertimbangkan, sepertinya ini lebih baik dari pilihan Rindra yang sebelumnya"


"Ya sudahlah, asalkan itu baik untukmu dan masa depanmu serta masa depan kita semua, Papa pasti mendukungmu"


"Terima kasih banyak ya Pa"


"Anak Papa yang dulu nakal dan suka membully itu, sudah berubah menjadi anak yang memiliki kedewasaan yang luar biasa"


Pak Jaya terang-terangan memuji Rindra di depannya langsung.


"Bahkan, kamu sudah belajar dari sikap dan pemikiran anak yang dulu kau Bully"


"Sani adalah anak yang baik, pintar dan bijaksana dalam membuat pilihan serta keputusan, pilihan untuk tidak kuliah, adalah salah satu kebijaksanaan yang telah ia ambil"


"Kamu beruntung Ndra, punya teman seperti dia, kamu bisa belajar banyak hal dari Sani"


"Rindra menyesal karena sempat memusuhi Sani waktu itu, andai sejak awal Rindra berteman baik dengannya, mungkin Rindra bakal mendapatkan lebih banyak pelajaran darinya"


"Itulah perjalanan Hidup, terkadang kita mengetahui Kebenaran yang sesungguhnya setelah kita melakukan kesalahan"


Lanjut Papanya. . .


"Masa lalu Papa juga tak ubahnya seperti yang kamu lalui saat ini Ndra"


Rindra mengangguk tanda mengerti dengan ucapan Papanya, dan saat melihat jam tangannya...


"Sudah jam 10 Pa, sepertinya sudah waktunya pulang"


"OK, Mamamu pasti sudah menunggu, nanti kita berhenti beli Jajanan untuk oleh-oleh Mamamu"


"Yookkk kita pulang"


Dan mereka pun berlalu menuju kediamannya.



Sani mengamati tanaman sayurnya yang sebentar lagi siap dipanen, segala persiapannya sudah beres, tinggal menunggu sayur panen dan langsung dijual dilapaknya.



"Sudahlah, pakde menyarankanmu untuk membuka lapakmu jam 3 pagi, itu akan lebih baik, karena ini adalah langkah awal agar jualanmu laris dan segera mendapat banyak pelanggan"



"Tapi pakde..."



"Pakde bisa mengatasi sendiri tugas itu, toh sorenya kamu masih bisa bantu pakde mencari rumput kan?"



Sani mengangguk-angguk menanggapi perintah pakdenya.



Sani berangkat ke rumah pak Hambali untuk menjalani latihan Fisik lagi, guna mempersiapkan diri untuk pertandingan yang sudah semakin dekat.



"Jika tidak sempat kesini, aku sudaj mengijinkanmu berlatih sendiri di rumah"



"Iya pak, mumpung Sani belum terlalu sibuk, Sani masih ingin latihan disini"



Sani merespon kalimay pak Hambali dengan rebahan terlentang, karena sudah beberapa minggu tidak berlatih, fisiknya terasa menurun, dan latihan kali ini terasa berat seperti saat pertama kali.



"Aku harus segera memulihkan kemampuan fisikku, aku tidak ingin mendapat hasil yang mengecewakan"

__ADS_1



"Disamping itu, kamu juga harus rajin melakukan meditasi pernapasan yang sudah kuajarkan, itu akan membantu membangun kekuatan fisikmu, sekaligus menajamkan kemapuan spiritualmu"



"Rasanya memang aneh, terkadang aku memiliki firasat tentang hal yang akan terjadi, dan Firasat itu benar-benar tepat"



"Benarkah seperti itu?"



Pak Hambali ingin memastikan.



"Benar, seperti saat itu, aku seperti sudah tau kalau Ibu akan marah dan mengusirku, lalu setelah aku pergi, aku juga sudah merasakan bahwa kau akan mencariku dan menemukanku"



"Huuuft"



Sani meghembuskan nafasnya agak keras.



"Ini terasa sedikit aneh, tapi memang seperti itulah nyatanya"



Pak Hambali tersenyum, lalu menimpali



"Jika kau rajin melatih pernapasanmu, kau akan mendapat insting yang lebih jelas lagi"



"Sepertinya begitu, dan aku yakin masih memiliki banyak waktu luang untuk melakukannya"



Sesaat kemudian Sani berpamitan,



"Nanti malam aku ingin kau membawaku ke tempat yang lebih tenang, aku ingin menikmati keadaan ini, dan aku berniat untuk tidak tidur malam ini".




"Nanti kuberi tahu setelah kau membawaku ke tempat itu"



"Baiklah, aku sudah tau tempatnya"



"Yu, setelah lulus nanti, kamu ingin kuliah atau langsung menikah?"


"Menikah?, Haaah Ayu sedikitpun belum memikirkan hal itu, meskipun jujur saja, Ayu ingin terus-terusan bersama mas Sani, entah kenapa, pria itu sangat menenangkan"


"Kamu sudah mantap dengan pilihanmu kan?


Bu Indri bertanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu.


Ayu hanya tersenyum saja, tanpa ia sadari jika pipinya memerah mendengar pertanyaan Ibunya itu.


Kemudian bu Indri memeluk Ayu


"Sepertinya anak Ibu benar-benar jatuh cinta sama pemuda Tampan itu"


"Benar Bu, Ayu sangat mencintai mas Sani, saat mendengar kabar mas Sani minggat beberaps hari yang lalu, Ayu benar-benar takut, Ayu takut kehilangan mas Sani"


"Tenanglah, semua sudah baik-baik saja seperti sedia kala"


"Emm"


Ayu mengangguk perlahan dalam pelukan Ibunya.



"Jadi guru silatnya yang menemukan dan membawa Sani pulang?"



"Iya pak, kemarin Uki mendapat kabar dari pakde Damar bahwa Sani sudah pulang bersama pak Hambali"



"Kamu sudah menemuinya?"

__ADS_1



"Belum, mungkin nanti malam Uki kesana, Uki juga belum menghubungi Sani sejak kejadian kemarin"



"Kamu sahabatnya, tapi ternyata masih banyak Hal yang tidak kamu ketahui dari pribadinya, bahkan kemarin aku berharap kamu yang berhasil menemukannya"



Uki terdiam mendengar kalimat yang diucapkan Ayahnya, dia merasa Ayahnya sangat benar dalam hal ini, meskipun dia bersahabat dengan Sani sejak lama, tapi banyak hal yang belum ia ketahui dari pribadi Sani.



"Uki akan coba menghubunginya sekarang, siapa tau nanti malam dia ada waktu untuk sekedar nongkrong denganku"



Lalu Ayah Uki pun mengangguk tanda mengiyakan keinginan Uki.



"Hallo San"



"Wooeeyy, apa kabar nyet? Wkwkwkwk"



"\*\*\*\*\*\*..!! Seharusnya gw yang nanya, kemana aja lu kemarin !!!"



"Ckckckck mau tau aja lu, ada apa nelpon?"



"Sialan emang, nanti malem ada acara nggak?"



"Nggak ada sih, cuma ada sedikit janji sama pak Hambali, emangnya ada apa?"



"Nggak ada apa-apa sih, cuma pengen nongkrong aja, emang punya janji apa sama pak Hambali?"



"Cua nongkrong, ya udah nanti malem dateng aja ke rumah pak Hambali, kita nongkrong bertiga"



"Gitu ya, ya udah deh, gw kesana"



"Gaass laahh"



"OK, sampai ketemu nanti ya"



"Yo'i..."



Mereka pun mengakhiri obrolan dan menutup telponnya.



"Sebentar ya pak, nungguin Uki dulu, katanya mau ikut"


"Baiklah, semua udah siap?"


"Apanya yang disiapin?"


"Ya kopi sama camilan lah, masa nggak bawa?"


"Ouwh, kalau itu sih sudah aku siapkan, udah siap santap"


"Nah gitu, bibir biar nggak kecut hehe"


"Rokok favorit juga udah beli 2 bungkus"


"Haahaa"


Mereka tertawa bersama, dan tidak berselang lama, Uki sudah sampai, dan mereka pun berangkat ke suatu tempat.


Tempat yang mereka tuju adalah Gubuk ditengah area persawahan yang cukup jauh dari rumah mereka.


Area persawahan itu berada diantara 2 desa yang letaknya agak berjauhan, disana mereka nongkrong bertiga, bersenda gurau dan tertawa.


Sepertinya Sani sengaja ingin melepaskan beban yang kemarin sempat membuatnya tertekan, dan di tempat itu Sani merasakan ketenangan yang dia inginkan.

__ADS_1


Sani sengaja mengajak mereka nongkrong hingga larut malam, dia sudah berniat untuk tidak tidur malam ini, karena ada yang ingin dia lakukan pada jam 3 nanti.


__ADS_2