Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Kesepakatan


__ADS_3

"San, jangan lupa minta do'a restu ibumu, cium kaki ibumu, itu berkah yang paling kuat, kamu tidak akan menemui kekalahan jika mau melakukannya."


Begitulah pesan singkat dari pak Hambali yang dikirimkan kepada Sani sebelum bersiap-siap berangkat menuju ibukota untuk menjalani pertandingan.


Sani yang sangat mencintai dan menjunjung tinggi kasta Seorang Ibu, sangat bahagia ketika mendapat saran seperti itu.


"Baiklah, aku pasti akan melakukannya..!!"


Sani membalas pesan pak Hambali dengan penuh keyakinan dan kemantapan Hati.


Pak Hambali tersenyum membaca balasan dari Sani, dia Yakin Sani pasti akan melakukannya, karena dia tau, Sani selalu menomorsatukan Ibunya.


Pak Hambali sendiri pernah berpesan kepada Sani,


"Anggaplah Ibumu itu sebagai perwujudan Tuhan di dunia ini, kita kau mendapat segala persetujuan dari ibumu, pasti Tuhan juga akan memberikan apa yang kau inginkan, selama keinginanmu itu baik dan wajar."


Dia Yakin, Sani akan selalu mengingat pesan itu.


"1 jam lagi kita berangkat, tunggu di rumahmu, bersiaplah sedari sekarang."


Pak Hambali pun memberitahukan tentang keberangkatannya.


"Baiklah, aku sudah siapkan semuanya."


Sani pun membalas singkat.


"Bu, Sani nanti berangkat, do'akan Sani ya Bu."


"Itu Pasti, Do'a Ibu akan selalu menyertaimu Nak."


"Bu, duduklah disini."


Sani menunjuk ke arah kursi ruang tamu.


"Ada apa?" Ibunya kurang mengerti dengan maksud Sani.


"Pak Hambali menyuruhku untuk mencium kakimu, dia bilang, aku akan menjadi Juara jika melakukannya."


Sani memberitahu tujuannya kepada Ibunya.


Bu Nanik pun menurut, dia duduk di kursi.


Lalu Sani segera bersujud mencium Kaki Ibunya.


Seketika Bu Nanik menangis mengalami hal itu, dia sangat membanggakan Putranya.


"Kenapa Ibu menangis?" Sani bingung dengan tangisan Ibunya.


Bu Nanik menggelengkan kepalanya.


"Ibu bahagia Nak, Ibu bahagia memiliki anak yang hebat sepertimu.."


Bu Nanik memegang kepala Sani, lalu mengusap pipinya, kemudian mereka berpelukan.


"Tin Tiiin..."


Suara klakson dari depan rumah Sani.


"Itu pak Hambali, Sani berangkat ya Bu."


Sani berpamitan lalu mencium tangan Ibunya.


Bu Nanik hanya mengangguk, dia tidak bisa berkata-kata lagi, Seluruh do'anya akan ia curahkan untuk anak kesayangannya itu.


Pak Hambali pun turun dari motor dan berjalan menuju teras rumah Sani.

__ADS_1


"Saya titip Sani ya pak..tolong jaga anakku" Ucap Bu Nanik sambil tersenyum ke arah pak Hambali.


"Sani akan dijaga oleh do'amu, jangan khawatir."


Pak Hambali membalas senyum Bu Nanik.


Lalu merekapun berangkat bersama.


Sani meminta kepada pak Hambali untuk berhenti di depan rumah pakde Damar, dia ingin berpamitan kepada orang tuanya itu.


Setelah cukup, Sani pun langsung kembali melanjutkan perjalanannya bersama pak Hambali.


Sani merasa tenang dan Yakin, karena dia membawa do'a dari Ibunya.


Tapi ada perasaannya yang mengganjal, ada firasat yang membuatnya sedikit terganggu.


Sejak semalam, dia merasakan Firasat itu.


Namun ia berusaha membuang jauh semua pikiran yang membuatnya tidak nyaman.


Setelah sampai di dekat terminal, mereka langsung masuk ke sebuah tempat penitipan sepeda motor.


Lalu kembali berjalan kaki menuju jalan raya, dan ternyata rombongan Mas Dio sudah disana.


Dio pun langsung memberika kode kepada pak Hambali untuk masuk ke Mobil.


"Apa kabar San?" Tanya dari seseorang yang sudah Sani kenali.


"Hey..Wan, aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik San."


"Mas Dio, apa kabar?"


"Baik San, gimana, usahamu lancar?"


"Baguslah, Wawan juga katanya udah nggak ingin ikut pertandingan lagi."


"Lhoh...iya kah, kenapa Wan?" Sani berbalik bertanya kepada Wawan.


"Pengen kayak Lu aja San, cari duit"


"Haaahaaahaa..." Semua yang ada di dalam mobil pun tertawa mendengar jawaban Wawan.


Mereka pun menikmati perjalanan itu.


Sani yang jarang bepergian jauh, sangat menikmati pemandangan di kanan dan kiri mobil.


Saat dia sedang asyik menikmati perjalanan, tiba-tiba..


"Deg..!!"


Dia mendapat firasat yang aneh.


Firasat yang menunjukkan kesedihannya.


Dia pun memejamkan matanya, pura-pura tidur.


Namun setelah lama, perasaan itu tidak kunjung hilang, saat ia membuka mata, ia hendak mengadukan ke Pak Hambali


"Tenangkan perasaanmu, tenangkan Pikiranmu, aku tau yang kau rasakan."


Pak Hambali lebih dulu menepuk pundaknya dan menasehati.


"Kau juga mendapat firasat itu?" Sani merasa penasaran, bagaimana pak Hambali tau apa yang sedang ia pikirkan.

__ADS_1


Pak Hambali mengangguk pelan.


"Mungkin ini hanya ujian untuk kemenangan pertandinganmu, kau harus mengesampingkan hal ini, fokuslah pada pertandinganmu saja."


Pak Hambali mencoba menenangkan Sani, sedang ia sendiri sebenarnya sangat khawatir dan tidak tenang.


"Mungkin kau benar, tapi sejauh ini, semenjak kau mengajariku ilmu tentang spiritual, tidak ada Firasat yang meleset, semua pasti ada kenyataannya, hanya saja aku tidak bisa menebak dengan pasti apa yang akan terjadi."


Sani pun mengungkapkan kekhawatiran hatinya pada pak Hambali.


"Percayalah, apapun yang terjadi, kalau memang semua adalah kehendak Tuhan, tugas kita hanyalah menerima dengan segala keikhlasan."


Sani merasa kata-kata pak Hambali mengisyaratkan sesuatu.


"Katakan, apa kau sudah mengetahui apa yang akan terjadi?"


"Hmmmmmh......"


Pak Hambali menarik nafas panjang lalu menghembuskannya,


"Jika aku tau yang terjadi, dan itu berkaitan erat denganmu, tentunya aku akan memilih membatalkan pertandinganmu..!"


Pak Hambali memberi penegasan kepada Sani.


Sani pun berfikir demikian,


"Jika memang tidak memungkinkan, seharusnya aku akan diperintah untuk mengundurkan diri saja, lagipula dia tidak pernah berbohong kepadaku, ini artinya dia memang tidak mengetahui kepastian tentang Firasatnya."


Sani berbicara dalam hatinya, ia mencoba menenangkan diri dan pikirannya.


"Jangan sampai fokusmu terganggu, hingga kau tidak bisa bertanding dengan maksimal, hanya karena Firasat yang kita sendiri belum bisa memastikannya."


Pak Hambali mencoba meyakinkan Sani.


"Kapan kau akan menyita Hp ku?"


"Nanti malam, saat kau tertidur, aku akan mengambil handphonemu, dan akan mengembalikannya setelah pertandingan terakhir, Ada apa?"


"Kau akan tetap menyalakan hp mu kan?"


"Tentu saja..!"


"Baiklah, aku akan berpesan kepada pakde Damar, jika ada apa-apa dirumah, aku akan memintanya untuk segera menghubungimu."


"Baiklah, aku setuju."


"Dan jika terjadi sesuatu di rumah, aku tidak mau alasan apapun, kita harus pulang saat itu juga..!!"


"Apakah aku pernah tak menuruti maumu? Apalagi jika itu untuk urusan yang penting."


"Baiklah, kita sudah sepakat."


Sani pun merasa sedikit lega dengan kesepakatannya dengan Pak Hambali.


Walaupun Hpnya disita, keluarganya masih bisa menghubungi pak Hambali jika terjadi sesuatu di rumah.


Sani pun segera mengirimkan pesan kepada pakde Damar, agar menghubungi pak Hambali jika terjadi sesuatu di rumah.


Dia memberitahu pakdenya jika Hp nya akan disita pak Hambali, karena ia ingin fokus hanya di pertandingan.


Setelah melalui perjalan yang cukup lama, mereka akhirnya sampai di sebuah GOR.


Di sekitar GOR itu ada sebuah gedung yang memang disiapkan untuk menginap seluruh peserta yang mengikuti pertandingan ini.


Sani dan Pak Hambali berpisah dengan Rombongan Wawan, kamar mereka jauh bersebrangan.

__ADS_1


Sani pun segera mandi, dan ingin segera merebahkan dirinya.


Dia ingin cepat tidur, karena jadwal pertandingan besok dimulai dari jam 9 Pagi.


__ADS_2