
Pagi yang cerah. Tetapi tidak untuk Renata. Kali ini ia terlambat bangun alhasil sekarang ia sedang ada dilapangan bersama siswa yang pada telat. Kalau tidak ada ulangan ekonomi mungkin ia sudah bolos.
Renata tidak mendengarkan guru BK yang sedang berkhotbah didepan. Renata fokus dengan pikiran nya sendiri.
Sampai akhirnya suara itu terhenti dan Renata melihat siswa-siswa pada berdiri. Renata bertanya sama teman seangkatannya.
"weh do dihukumnya apaan?" tanya Renata pada dado.
"gak dihukum cuma disuruh minta tanda tangan sama ketua osis" ucap dado langsung pergi.
Berarti harus ketemu marcel dong? Gak bisa dikasih hukuman aja gitu. Batin renata.
Renata berjalan sendiri menuju ruang osis yah karena raya tidak terlambat. Siswa yang lain sedang mengantri untuk masuk keruangan itu.
Renata menunggu giliran sambil memainkan ponselnya. Tak lama giliran dia yang akan masuk keruangan itu.
"misi kak" ucap Renata pelan.
"duduk" jawab marcel.
Renata duduk didepan bangku kebesaran marcel. Marcel terus menatap nya penuh selidik.
"kenapa bisa telat?" tanya marcel.
"gausah banyak tanya kak, tinggal kasih aja tanda tangannya saya ada ulangan" ucap Renata sinis.
Renata memberikan kertasnya pada marcel. Marcel tidak langsung menerima. Dia masih setia menatap Renata lekat.
"pulang bareng" ucap marcel lalu menandatangani kertas itu.
"gausah, gue bisa pulang sendiri" ucap Renata seraya berdiri.
"gue telfon mami kalo lo gak mau" ancam marcel.
"fine. Belom jadi suami aja udah banyak ngancem" ucap Renata sambil berjalan keluar.
Marcel yang ada dibelakangnya tersenyum puas. Dia gemes sendiri melihat calon istrinya itu.
Hobi baru gue nih Batin marcel.
Renata keluar dari ruang osis sambil mengerutu. Tidak peduli tatapan orang padanya ia tetap santai berjalan menuju kelas.
Tok.Tok.Tok
Renata mengetuk pintu kelasnya. Karena didalam sudah ada guru ekonomi. Sepertinya ulangan sedang berlangsung.
"misi bu,maaf saya telat" ucap Renata pelan dan berjalan ke arah meja guru.
"mana surat masuk kamu? Kenapa bisa telat? Kamu lupa hari ini ada ulangan?" ucap bu maria lantang.
"ini bu,iya bu semalem saya ada acara keluarga jadi bangunnya kesiangan bu" alibi Renata.
__ADS_1
"cepat kamu duduk dan kerjakan ulangan kamu sekarang! Waktu hanya sisa 20menit lagi" ucap bu maria keras.
Renata berjalan kearah bangkunya. Dan mengeluarkan beberapa alat tulis yang ia butuh dari tas nya. Setelah itu dia fokus mengerjakan ulangan ekonomi itu.
Tak lama raya berdiri mengumpulkan soal ulangan itu. Artinya dia sudah selesai. Renata tetap fokus sampai akhirnya dia juga itu berdiri memberi soal itu kepada bu maria. Padahal baru 10menit dia mengerjakan.
"kamu sudah selesai Renata?"tanya bu maria.
"sudah bu,jadi saya boleh keluar kelas ya" ucap Renata pelan.
Bu maria hanya berdehem mengiyakan pertanyaan Renata.
Diluar kelas baru ada raya dan Renata. Mereka mengobrol. Raya yang menanyakan kenapa Renata bisa telat. Karena setau Raya selama sekolah disini baru 2kali Renata telat itupun karena malamnya mereka pergi sampai lupa waktu.
Mereka asik berbincang sampai akhirnya bel pergantian mata pelajaran bunyi. Bu maria keluar dari kelas. Segera Renata dan raya masuk kekelas lagi sebelum guru jam kedua masuk. Karena guru selanjutnya bakal lebih killer dari bu maria.
Bel pulang sekolah berbunyi. Seperti biasa raya dan Renata masih tetap ada didalam kelas.
Sedang asik bercanda tiba-tiba ponsel Renata bergetar.
Drrt.Drrt
Marcel Wijaya
Lo dmn? cpt
Renata mengerutkan dahi. Hal itu tak luput dari penglihatan raya. Raya menepuk bahu Renata sampai Renata tersentak.
"gue balik duluan ya udah dijemput supir tadi gue gak bawa mobil" ucap Renata panik.
"yah bareng lah kebawah. Masa lo tega ninggalin gue" raya berdiri terlebih dahulu dan berjalan keluar kelas.
Mampus gimana ini Batin renata.
Renata mengekor dibelakang raya. Sambil jari nya menari diatas ponselnya.
Renata Adriana
Lo tunggu dibelokan deket sekolah. Gue kesana sekarang
Sesampainya nya dibawah mereka berpisah. Raya yang keparkiran Renata yang keluar gerbang. Tetapi perjalanan Renata tak semulus yang dia pikirkan tadi.
Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya. Mau tak mau ia menoleh.
"lo ngapain re? Gak bawa mobil?" ucap devan.
"enggak ini supir gue udh lagi jemput kok" ucap Renata sesantai mungkin.
Fix hari ini gue banyak bohong batin renata.
"lo gak mau pulang bareng gue aja?" tawar devan.
__ADS_1
"gak. Gue duluan ya bay" ucap Renata sambil berjalan kearah belokan sekolah.
Tak jauh dari situ ia melihat mobil yang tengah berparkir disana. Segera Renata melihat sikon yang ada baru masuk kedalam mobil itu.
Didalam mobil renata bisa bernafas lega. Tak disadari dari pas Renata masuk marcel sudah memperhatikan gerak gerik Renata.
"udah cepet jalan, gue gak mau ya ada orang yang liat kita" ucap Renata sinis.
Marcel segera melajukan mobilnya. Keadaan didalam mobil sangatlah hening tidak ada yang memulai pembicaraan.
Sampai akhirnya mobil marcel sudah terparkir rapi dihalaman rumahnya.
Kok rumah marcel? Iya karena bunda nya lah yang menyuruh.
Renata mengerutkan dahinya lagi. Rumah ini bukan rumahnya. Dia menoleh kesamping melihat marcel dengan wajah datar.
"turun" ucap marcel. Marcel sudah keluar mobil lebih dulu dan masuk kerumah itu.
Jangan bilang ini rumah dia? Batin renata.
Renata mengekor dibelakang marcel. Dan mulai masuk kedalam rumah tersebut. Dugaan dia benar ini rumah si muka datar itu.
"assalamualaikum bunda" ucap marcel.
Keluarlah lara dari dapur. Dan berlari kecil menghampiri dua sejoli itu.
"waalaikumsalam" ucap lara.
Marcel dan Renata bergantian mencium punggung tangan lara. Hal itu saja sudah membuat lara senang.
"halo bun, apa kabar?" tanya Renata.
"bunda baik re. Kamu?" tanya balik lara.
"alhamdulillah baik juga bun. Bunda lagi ngapain?"
"bunda lagi masak sayang buat kita makan siang. Kamu mau bantu bunda?"
Muka Renata mendadak pucat. Dia tidak bisa masak. Hanya bisa masak mie instan dan air saja.
Renata melirik marcel yang baru saja kembali dari kamarnya. Seakan tau yang renata maksud.
Ah segitu peka nya marcel.
"aduh bun. Renata kan baru pulang sekolah masa sudah disuruh bantu bunda masak. Kasian kan dia cape" ucap marcel pelan.
Baru kali ini denger si wajah datar bicara panjang lebar. Batin renata.
Renata tersenyum canggung ke lara. Dia bingung harus bersikap seperti apa. Dia belum siap jika disuruh masak sekarang.
"eh iya maaf ya re hehe. Yaudah bunda lanjut dulu bntr lagi selesai kok. Kalian ngobrol aja dulu" ucap lara sambil pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Suasana makin canggung. Mereka duduk diruang tengah. Mereka fokus dengan ponselnya masing-masing.