
Masih dicafe.
Marcel dan Arga masih tukar tatapan tajam satu sama lain. Sedangkan Riana sudah bersorak gembira karena kejadian tadi. Marcel sengaja tidak mengejar Renata karena Marcel pun belum siap terima apa yang Renata lakuin tadi disini meski sebenarnya Renata tak melakukan apa-apa selain ngobrol dengan Raya dan Arga. Tetapi dirinya juga sadar atas kesalahannya.
"gue peringatin sama lo! Jangan pernah kasar sama Renata. Kalo sampe gue liat lo kasar sama dia! Lo berurusan sama gue! Ngerti?" tegas Arga.
"lo gak ada hak tentang itu!" tegas Marcel.
"tentu gue ada hak! Karena gue bakal jaga Renata mulai sekarang"
Bugh
Satu pukulan mendarat diwajah Arga. Emosi Marcel sudah ada dipuncak ia tak dapat menahannya lagi. Arga sudah keterlaluan. Bisa- bisanya dia berbicara seperti itu didepan suaminya sendiri. Kan Arga gak tau kalo lo suaminya cel-author oiya bener.
"anjing! Gue minta sama lo jauh Renata! Kalo lo masih nekat deketin dia. Gue bakal kasih lo lebih dari ini" tegas Marcel.
Arga mengelap sudut bibirnya yang sobek sampai mengeluarkan darah disana.
"gue gak peduli! Dan gue bakal tetep deketin Renata! Lo inget itu!"
Marcel tak menghiraukn ucapan Arga tadi, ia langsung membalikkan badannya berjalan keluar cafe. Ternyata Riana masih disana dan mengekori Marcel keluar cafe.
"lo ngapain?" tanya Marcel datar.
"lah kan lo yang ngajak gue ketemu disini" jawab Riana lenje.
Oiya kan gue yang ngajak dia kesini batin marcel.
"urusan kita udah kelar. Lo gausah ganggu gue lagi! Gue udah tau semua rencana lo" tegas Marcel.
"maksud lo?"
"gue tau rencana lo. Lo Ngadu domba Bella biar dia benci sama Renata. Dan lo menjatuhkan Renata didepan gue! Maksud lo begitu biar apa?"
__ADS_1
"apa bener yang Raya bilang kalo lo emang terobsesi sama gue?" lanjut Marcel.
"kalo iya kenapa? Dari dulu gue naro perasaan sama lo! Tapi lo sama sekali gak anggap gue!"
"trus lo ngelakuin cara licik kaya gini cuma buat dapetin gue? Lo salah besar yang ada gue makin benci sama lo! Jadi sekarang lo pergi jangan pernah nampakin muka lo lagi di depan gue! Lo ngerti?"
"tapi cel? Gue beneran suka sama lo. Gue tulus sama lo. Gak kaya Renata yang matre dan gak kaya Bella yang manja!"
"tulus? Lo itu licik! Gue makin gak respect sama lo! Dan gue peringatin lagi jangan pernah lo ganggu Bella apalagi Renata!"
"kenapa? Mereka itu cuma bisa jadi benalu buat lo. Disini ada gue yang sayang sama lo tulus cel"
"gue gak butuh lo sayang cewek carmuk! Dan gue pastiin lo bakal nyesel kalo lo masih terus ganggu Renata!"
"Renata,Renata,Renata terus! Apa otak lo isinya cuma Renata? Hah? Si cewek murah dan matre itu?"
Riana yang mengetahui fakta itu hanya bisa melongo tak percaya. Gimana mungkin? Mereka berdua kan masih sekolah? Dan sepertinya dulu Marcel sangat benci dengan Renata? Mengapa bisa mereka menikah? Semua pertanyaan itu ada di otak Riana.
Riana menggelengkan kepalanya tak percaya.
"itu gak mungkin! Lo masih sekolah! Dan kalo gue liat selama sekolah lo eneg tingkah cewek itu! Lo kalo cari alasan yang masuk akal cel!"
"lo perlu bukti? Nih lo liat sendiri" ucap Marcel sambil memberi tahu foto pernikahannya dari ponsel miliknya.
Riana mematung melihat foto itu.
"dan satu lagi fakta yang belom lo tau. Renata itu anak dari Rio Pangestu. Dan pasti lo tau dia siapa bahkan mungkin perusahaan bokap lo ngejalanin kerjasama sama bokapnya. Jadi gue peringatin lagi sama lo jangan pernah ganggu Renata lagi! Kalo lo masih nekat ganggu istri gue. Lo akan tau akibatnya!"
Setelah mengucapkan itu Marcel langsung masuk kedalam mobilnya tanpa mendengar lagi jawaban dari Riana yang terlihat dari wajahnya nampak shock berat mungkin. Marcel mengemudikan mobilnya kerumah Riki. Ia belum siap pulang kerumah, belum siap ketemu Renata.
Pencundang? Sepertinya.
...****...
__ADS_1
Dirumah raya.
Yah saat ini Renata sedang berada dirumah raya. Tadi Renata meminta raya untuk tidak mengantarkannya pulang karena Renata masih tidak sanggup melihat Marcel. Mengapa bisa Marcel bertemu dengan Riana yang notabennya adalah musuh bebuyutan Renata dan raya selama disekolah.
Renata tak abis fikir mengapa marcel tak membelanya saat riana menjatuhkan harga dirinya tadi.
Yaallah cobaan apalagi ini batin renata.
Renata masih terus menangis dikamar raya. Jadi ingat waktu itu. Renata nangis seharian. Dan sepertinya akan terjadi lagi sekarang. Raya dari tadi sudah membujuk Renata untuk berhenti menangis tetapi tetap saja Renata menangis malah kadang sampai teriak.
"emang sesakit itu apa re?" tanya raya polos.
Renata melempar raya dengan bantal dan membuat raya mendumel tak jelas.
"dasar goblok pakek ditanya! Yah sakitlah. Lo mah gak ngerti sih.coba lo jadi gue deh. Gue benci sama Marcel, gue benci ray" teriak Renata frustrasi.
"benci? Bener-bener cinta maksud lo re? Ciee" goda raya.
"gue lagi galau monyet, kenapa lo malah nge godain gue sih! Mending lo keluar deh gue pengen sendiri"
"eh syalan ini kamar gue ye. Lo yang keluar sono"
"yaallah gak ada yang sayang sama Renata. Sahabat Renata sendiri aja gak ngerti perasaan Renata. Renata musti gimana yaallah"
"jangan lebay. Gue eneg. Mending lo tidur deh daripada nangis terus. Apa mau makan? Biar gue ambilin"
"yaallah ternyata sahabat Renata masih perhatian. Jangan kubur dia dulu sebelum dia meninggal yaallah"
"anjir banget ini anak! Ish nyebelin!!!" Teriak raya frustrasi lalu meninggalkan Renata dikamar.
Mampus senjata makan tuan lo Ray batin renata.
Renata sedikit lega karena tingkah raya tadi. Raya selalu mengerti perasaan Renata meski caranya yang beda daripada yang lain. Raya selalu bisa menyalurkan segala kekuatan dengan tingkahnya seperti tadi. Itu yang membuat Renata betah berteman dengan raya. Apalagi sifat dan hobinya sama.
__ADS_1
... ...