
Keesokan paginya. Kedua gadis yang tengah berbaring mulai membuka matanya perlahan,menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam pengelihatannya. Renata mengedarkan pandangannya melihat seisi kamar. Renata mulai mengingat-ingat kejadian semalam sampai akhirnya dia sadar dan langsung teriak. Teriakan itu membangunkan Raya yang ada disampingnya.
"lu kenapa sih? Masih pagi nih. Kepala gue sakit jangan berisik kenapa!" gerutu Raya. Raya hendak memejamkan mata kembali namun Renata segera mencegahnya.
"ray bangun bego. Ini kita dimana? Seinget gue kita semalem di club kenapa kita ada disini? Gak mungkin kan lo yang bawa gue kesini? Secara lo juga mabuk semalem" jelas Renata panjang.
Raya langsung bangun dan duduk tegap sambil melihat kekanan dan kekiri. Lalu saat itu juga dia teriak.
"aaaaaa kita dimana reee. Cek baju coba" ucap Raya panik sambil mengecek pakaian yang dipakainya semalam, hal itu juga dilakuin oleh Renata.
Terdengar keduanya menghembuskan nafas lega karena pakaian mereka utuh. Lalu mereka berdua bertatapan seakan saling bertanya 'trus sekarang kita dimana' seperti itulah.
Dengan cepat mereka bangun dan menuju keluar kamar. Mereka keluar dengan hati-hati takut ada orang jahat yang memang sengaja membawa mereka kesini. Lagi-lagi terdengar suara hembusan nafas lega dari keduanya karena saat mereka menyundulkan kepalanya keluar tidak ada siapapun. Saat akan keluar menuju pintu utama mereka dikagetkan dengan suara deheman laki-laki.
"ekhmm" dehem Arga.
Mereka berdua menoleh kebelakang. Keringet dingin sudah bercucuran di dahi mereka. Pikiran negatif sudah berkelana di otak keduanya.
"kak Arga?!!" teriak keduanya bersamaan.
"mau kemana?" tanya Arga.
"kok lo bisa disini kak? Trus kita ini dimana? Seinget gue semalem gue di club deh sama Renata" tanya Raya.
"lo berdua di apartemen gue. Kemarin adek gue nemu lo berdua di club dengan keadaan mabuk berat. Jadi yah gue bawa aja lo kesini. Gak mungkinkan gue antar lo berdua pulang dengan keadaan kaya semalem" jelas Arga.
"tapi lo gak-" intimidasi Renata terpotong.
"gaklah gila. Gue sama adek gue bukan tipe orang yang suka ambil kesempatan dalam kesempitan keles. Beda kalo lo berdua yang rela kasih ya gue terima dengan senang hati" jelas Arga sambil senyum menyeringai.
__ADS_1
"kak Arga mesum!!!" Teriak keduanya kompak sambil mencubit perut arga kanan dan kiri. Dan membuat si empunya mengaduh.
Tak lama datanglah Devan sambil mengucek mata. Tampan. Itu satu kata yang keluar dari keduanya. Dengan rambut acak-acakan. Dengan muka bantal tetap aja terlihat tampan.
Mata Renata dan Raya membelalak tak percaya dengan seseorang yang berdiri didepan pintu kamar.
"jangan bilang adek lo itu si Devan??he?" tanya Renata.
"yaps dia adek kandung gue re. Dan gue baru tau kalo lo mantanan sama dia. Berarti gue kalah gc sama adek gue sendiri"
"lo serius kak? Adek lo si Devan brengsek?"tanya Raya tak percaya.
"eh enak aja ya lo ngatain gue brengsek. Dasar cewek murah!" Devan tak terima.
"lo berdua kebiasaan deh pasti ribut kalo ketemu. Jatuh cinta baru rasa ya lo pada!" ucap Renata.
"najis" ucap Raya dan Devan bersamaan.
"yaudah kalian mandi dulu. Abis itu nanti kita anter pulang" ucap Arga.
"udah sono lo mandi cewek murah. Badan lo bau banget njir" ucap devan sambil mendorong Raya.
"enak aja! Idung lo tuh deket mulut" Raya tak terima.
"eh tapi lo berdua gausah ganti baju gpp ya,gue gak ada baju cewek disini soalnya" ucap Arga.
"iya gpp kak" ucap Renata sambil berjalan menuju kamar yang tadi ia tempatin. Raya mengekor dibelakang.
...****...
__ADS_1
Dirumah sakit.
Marcel,Riki dan Farhan masih setia disana. Mereka bergantian tidur saat malam untuk menjaga Bella. Bella masih belum sadar juga. Orangtua Bella belum datang karena pekerjaan mereka belum bisa ditinggal.
"enghh"
Mereka bertiga berlonjak kaget dengan suara itu lalu segera bangkit dan melihat Bella apakah Bella udah bangun atau belum. Dan ternyata Bella sudah membuka matanya. Wajah mereka bertiga nampak bahagia.
"alhamdulillah lo sadar juga bell. Gue sama yang lain khawatir banget tau" ucap Farhan.
"ka-li-an yang jagain gue semalaman?" tanya Bella terbata-bata.
"iyalah siapa lagi? Bonyok lo belum bisa kesini karena masih ada kerjaan disana" jawab Farhan.
"udah lo istirahat aja ya. Kita disini bakal jagain lo sampe orangtua lo dateng" ucap Riki.
Marcel yang dari tadi diam. Kaget. Karena ada tangan yang memegang tangannya. Dan dilihat itu tangan Bella. Marcel tersenyum tipis dan dibalas senyum ceria oleh Bella.
"cel,maafin aku ya. Gara-gara aku Renata pasti salah paham. Kamu udah cari dia belum?" tanya Bella.
Marcel menggeleng.
"kenapa kamu gak cari dia? Kenapa kamu malah jagain aku? Aku gpp kok cel,disini juga ada Farhan sama Riki. Eh Riki kan pasti mau cari Raya juga ya hehe" ucap Bella sambil tertawa renyah.
"hust udah bell kamu gausah mikirin itu dulu. Kamu istirahat aja yang cukup biar cepat sembuh,dan maaf kalo kita bertiga sempet kasar sama kamu" ucap Marcel.
"iya gapapa cel,aku tau kok aku salah jadi wajar kalian kaya gitu sama aku. Aku tau pasti kalian begitu juga karena sayang sama aku. Iyakan?"
Mereka bertiga angguk meng'iya'kan ucapan Bella tadi. Bella tersenyum lega persahabatannya kembali seperti dulu. Dia harus berusaha membuang perasaannya pada Marcel.
Semoga rasa ini cepat hilang batin bella.
__ADS_1