
Bel pulang sekolah berbunyi. Sejak kejadian dilapangan tadi Renata baru bisa mengikuti pelajaran setelah jam istirahat. Meski badannya masih agak lemas tapi ia paksakan untuk masuk kelas karena ada ulangan harian.
Ponsel Renata berbunyi. Renata merogoh Laci meja mengambil ponselnya. Yah Renata dan raya masih ada dikelas saat ini.
Marcel Wijaya
Dmna?
Renata Adriana
Masih dikelas kenapa?
Marcel Wijaya
Keluar
Setelah mendapat pesan terakhir Renata bangkit dari duduknya untuk melihat keluar jendela. Apakah ada manusia ini?
Matanya berhenti melihat marcel sudah berada didepan kelas Renata dengan wajah dinginnya.
Ternyata banyak siswi yang mengambil kesempatan itu. Mereka masih tetap setia dikoridor sambil melihat marcel didepan kelas Renata itu. Renata tak menyadari dari tadi kalau koridor masih ramai karena ada marcel.
Mau tak mau Renata bangkit dari duduknya diikuti raya. Raya juga melihat marcel didepan kelas.
Saat Renata sampai dihadapan marcel. Seperti ada yang komando mereka untuk berteriak. Ah sangat lebay.
"ngapain?" tanya Renata.
"pulanglah" ucap marcel datar.
"lo duluan aja,gue bareng raya"
"gak!"
Marcel berjalan lebih dulu. Renata mengumpat kesal. Sedangkan raya tertawa melihat pasangan suami istri ini.
Saat sudah sampai diparkiran. Ada seseorang memanggil nama marcel. Orang itu berteriak sambil berlari kearah mereka bertiga.
"cel tunggu" ucap bella.
"kenapa bel?" tanya marcel.
"kok kenapa? Yah pulang lah"
"sorry bel,aku pulang bareng Renata"
"kok gitu? Trus aku?"
"kamu naik taksi ya"
"gak mau! Aku maunya pulang bareng kamu"
"bel tapi Renata lagi sakit,aku mau anter dia pulang"
Raya yang baru kali ini mendengar marcel ngomong panjang pun kaget.
"sekarang udah jam pulang,bukan tugas ketua osis lagi untuk hal ini. Kalo kamu gak mau anter aku pulang aku bakal telfon bunda!" bentak bella.
Bunda?sebenarnya hubungan mereka apasi? Batin renata.
__ADS_1
Renata memegang kepalanya. Seketika sakit. Raya yang melihat itu pun langsung memegangi Renata.
"lo kenapa re? Sakit kepala?" tanya raya.
Marcel dan bella pun langsung menoleh ke arah Renata. Marcel mendekat ke arah Renata.
"kenapa?" tanya marcel.
"pusing dengerin lo berdua berantem. Udah ah gue balik bareng raya aja" dumel Renata.
BAGUS
GAK
ucap bella dan marcel bersamaan. Raya hanya menghela nafas. Raya sendiri saja pusing dengan kondisi seperti ini.
"udah kak biar Renata bareng gue aja deh. Gak tega gue liat dia begini" ucap raya pada marcel.
"bagus, sono bawa temen lo pergi deh" sinis Bella.
"gak bisa, Renata tetap bareng gue. Re kita anter bella pulang dulu ya baru aku anter kamu pulang" ucap marcel lembut.
"kita?maksud kamu apa si cel? Aku gak mau ah pulang bareng dia" ucap bella menunjuk Renata.
"yaudah berarti kamu pulang sendiri ya"
"ok fine!" ucap bella sambil masuk ke mobil marcel.
Marcel ikut berjalan kearah mobilnya. Sebelum Renata ikut dengan marcel ia menoleh ke arah raya terlebih dahulu. Renata memberi isyarat pada raya bahwa dirinya tidak usah khawatir.
"berasa punya pacar gue re hehe. Yaudah lo juga hati-hati ya, awas ada pelakor noh di mobil" ucap raya sambil tertawa.
Renata berjalan ke arah mobil marcel karena sudah diklasonin oleh si pelakor. Yah yang mengklason itu bella bukan marcel.
Renata masuk kekursi belakang.
"lama tau gak!" ucap bella sinis.
Renata hanya diam tak menjawab cibiran bella tadi.
...BAB 58...
Selama diperjalanan hanya bella yang berbicara. Renata yang memilih diam dan juga marcel yang hanya fokus pada jalan atau sesekali melirik Renata dari spion.
Setelah bergelut dengan kemacetan ibu kota. Akhirnya mereka sampai di parkiran apartemen bella. Bella masih setia duduk di kursi penumpang.
"bel udah sampe apartemen kamu" ujar marcel.
Bella hanya diam.
"bell kamu gak turun? Ini udah di apartemen kamu" ucap marcel lagi.
"ayo kamu ikut turun dan temenin anter aku sampe kamar" rengek bella.
"lebay njir" ucap Renata pelan.
__ADS_1
Bella yang mendengar ucapan itu langsung menoleh kebelakang menatap Renata tajam. Sedangkan yang ditatap tersenyum sinis.
"bel aku harus anter Renata pulang, kasian dia lagi sakit nanti kesorean" ucap marcel.
"lagian salah sendiri ngapain dia ikut,bukannya pulang bareng sama temennya itu" ucap bella sinis.
"kalo gak marcel yang paksa gue juga ogah kali satu mobil sama lo" Renata gak kalah sinis.
"dasar gak tau diri,udah dikasih tumpangan malah nyolot"
"gak ada yang minta ditumpangin,pacar lo aja yang paksa, ups sorry salah cuma temen" ucap Renata setengah tertawa.
"udah udah jangan ribut terus. Bell mending kamu turun dan langsung ke kamar. Aku mau nganter Renata" ucap marcel tenang.
"kok kamu jadi lebih mentingin dia dari pada aku?" ucap bella dramatis.
"bukan gitu bel" marcel menghela nafas pasrah.
"ok aku turun tapi ntr malem kamu jemput aku kita makan malem bareng. Ok?" ajak bella.
"nanti aku kabarin kamu" marcel mengelus rambut bella.
Renata berdehem. Membuat marcel menarik tangannya. Bella menatap Renata tajam lalu membuka pintu mobil dan berjalan masuk keapartemen.
Renata menghela nafas lega. Begitu juga marcel. Marcel melirik Renata dari spion dengan kode menyuruh Renata pindah kedepan. Namun sayang Renata tidak peka.
"pindah re" ucap marcel.
"hah?" kaget Renata. Tak lama Renata peka lalu ia pindah duduk kedepan dengan melangkah tanpa keluar dari mobil.
Marcel yang sedang menyetir pun langsung tidak fokus dan ngerem mendadak. Membuat Renata tersungkur kedepan. Mengakibatkan kepalanya kepentok dashboard mobil.
"aww sakit" ucap Renata sambil memegang jidatnya.
"lagian. Ngapain pindahnya begitu coba" ucap marcel datar.
"kan mobilnya jalan. Masa iya gue keluar dulu gimana si lo. Sakit nih" gerutu Renata.
"iya iya maaf,sini coba liat" ucap marcel sambil memfokuskan kembali ke jalanan.
Renata mendekatkan wajahnya pada marcel. Baru kali ini renata melihat wajah marcel dari jarak yang sangat dekat. Ternyata benar gosip yang ada disekolah kalau marcel itu tampan.
Nikmat mana yang kau dusta yaallah batin renata.
Marcel mengelus jidat Renata dengan lembut. Kadang ia meniup nya. Ah sudahlah ini sangat bahagia.
"masih sakit?" tanya marcel membuyarkan lamunan Renata.
"ee-engga kok,makasih cel" ucap Renata menarik kepalanya kembali.
Suasana jadi canggung. Tak ada yang mau mulai bicara apapun sampai mereka dihalaman rumah. Keduanya langsung masuk ke kamar masing-masing dengan senyum yang berkembang dikedua bibir mereka.
Jantung gue deg deg an **** batin renata.
__ADS_1
Sebahagia ini kah gue? Batin marcel.