Senior Cold

Senior Cold
BAB 38


__ADS_3

 


Malam hari.


Renata masih ada dikamarnya dengan mata tertutup. Ia merasakan badannya tidak enak. Dan suhu ruangan menjadi sangat dingin. Ia tidur dibawah selimut tebalnya.


 


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Marcel baru keluar dari kamarnya. Dia sudah berpakaian santai. Hanya menggunakan kaos hitam polos dengan celana jeans hitam tak lupa memakai jam tangan dan topi. Ah begitu saja membuatnya tampan.


 


Iya, dia akan pergi makan malam bersama bella. Karena bella tadi menelfonnya sambil merajuk membuat marcel tak tega untuk tidak mengiyakan permintaan sahabatnya itu.


 


Sebelum marcel turun tangga ia mampir terlebih dahulu kekamar Renata untuk meminta izin. Padahal biasanya ia tidak pernah meminta izin apapun pada Renata.


 


Tok.tok.tok


 


Ketuk marcel pada pintu kamar Renata. Beberapa kali tak ada jawaban. Mau tak mau marcel menarik kenop pintu. Ternyata tidak dikunci. Saat masuk hanya ada hawa panas yang marcel rasa karena AC tidak menyala. Marcel mendekat pada ranjang Renata. Dan menemukan sosok yang ia cari.


 


Renata yang terlihat tidur dengan damai tetapi badan meringkuk. Punggung tangan marcel terulur ke dahi Renata.


 


Astaga dia demam!


 


Renata demam!


 


Apa yang harus marcel lakuin.


 


Wajah marcel panik. Ia segera menggoyangkan tubuh Renata. Namun hanya rancauan yang terdengar. Tak lama Renata membuka matanya sedikit.


 


"cel dingin" ucap Renata pelan.


 


"kamu demam re,aku harus apa? Aku bingung" ucap marcel panik.


 


Renata diam tak menjawab. Makin membuat marcel panik.


 


"re bangun kek yaallah" pinta marcel.


 


"telfon mami cel,gue gak kuat" ucap Renata sangat pelan.


 


"kita kerumah sakit sekarang ya!kamu bertahan"


 


Renata diam. Marcel segera menelfon Diana. Menyuruh Diana segera kerumah sakit sekarang. Marcel akan membawa Renata kerumah sakit.


 


Dengan cepat marcel menuruni anak tangga dengan dia meggendong Renata. Bodoamat dengan pintu rumah yang tidak dikunci. Yang penting saat ini adalah Renata.


 


Marcel menancapkan gas mobilnya cepat. Semua yang menghalangi jalannya ia klakson tidak slow. Marcel tak peduli dengan makian orang. Bodoamat yang penting Renata.


 


Sampai dirumah sakit Renata segera ditangani oleh dokter. Tak lama Diana datang bersama Rio. Diana sudah menangis sesegukan.


 


"cel, Renata gimana?" tanya Diana.


 


Marcel mencium tangan Diana dan Rio bergantian.


 


"masih di periksa dokter mi didalam" jawab marcel setenang mungkin.


 


"kok bisa sampe begini cel? Kenapa?" tanya Rio.


 


"aku juga gak tau pi,pas aku kekamar dia. Badan dia udah demam"


 


"kamar dia? Selama ini kamu pisah kamar sama Renata?" tanya Diana.


 


"mi kita gausah bahas ini dulu, yang terpenting Renata" ucap Rio menenangkan istrinya.


 


Tak lama dokter keluar dari ruang periksa Renata. Mereka bertiga segera menghampiri dokter tersebut.


 


"gimana dok kondisi anak saya?" tanya Rio.


 


"anak bapak tidak apa-apa hanya saja dia kelelahan. Mungkin yang biasa dia tidak kerjakan sekarang jadi dia kerjakan. Semacam kaget pak" jelas dokter.


 

__ADS_1


"kalau begitu saya permisi ya pak,bu. Kalau mau jenguk silahkan tapi jangan berisik biarin pasien istirahat" lanjut dokter.


 


"baik dok. Terimakasih dok" ucap Rio.


 


Dokter mengangguk. Sedangkan ketiganya langsung masuk keruang periksa Renata tadi. Diana sudah menghentikan nangisnya.


Muka marcel masih terlihat sangat cemas.


 


Sampai didalam ternyata Renata sudah sadar. Dia tersenyum kearah tiga orang yang baru masuk keruangannya.


 


"de kamu kenapa sayang?" tanya Diana sambil mencium pipi serta kening Renata.


 


"aku gpp mi. Cuma kangen kalian aja sama bang arsen" ucap Renata pelan.


 


"bisa aja kamu de. Kamu itu kecapean. Gimana kalo besok papi cariin pembantu buat kalian" ucap Rio.


 


"JANGAN PI" ucap Renata dan marcel kompak.


 


Diana dan Rio hanya saling tatap.


 


"kenapa? Biar kamu gak kecapean de" ucap diana.


 


"engga mi,aku gak kecapean ko, mami tenang aja ya"


 


"jangan bilang kalian takut ketahuan karena kalian emang pisah kamar" selidik Diana.


 


Saat akan menjawab ponsel marcel berdering tanda panggilan masuk. Marcel segera mengeluarkan ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.


 


Ketiga orang yang ada disitu menatap marcel. Secara marcel izin keluar untuk mengangkat telfon.


 


Segitu rahasianya batin renata.


 


****


Marcel keluar dari ruangan Renata. Dan mengangkat panggilan itu.


 


 


"...."


 


"ada apa bun?"


 


"...."


 


"oh itu ya bun. Iya aku ada janji sama dia. Tapi aku belom sempet kabarin dia kalo aku gak bisa jemput dia"


 


"...."


 


"aku lagi dirumah sakit bun, jadi belom sempet kasih tau dia"


 


"...."


 


"bukan aku bun, Renata yang sakit, dia demam jadinya aku langsung bawa dia kesini"


 


"...."


 


"iya maaf bun. Aku tadi panik banget. Ini dirumah sakit medika. Gausah hubungi mami Diana bun dia udah disini"


 


"...."


 


"iya bun hati-hati. Waalaikumsalam"


 


Panggilan terputus. Marcel segera mengecek ponselnya. Ternyata sudah banyak misscall dan chat dari bella.


Marcel segera mengetik sesuatu disana.


 


Marcel Wijaya


Bel maaf, makan malam kita gak jadi. Aku ada urusan mendadak gak bisa aku tinggal. Maaf sekali lagi.

__ADS_1


 


Send


 


Setelah mengirim pesan itu ia mematikan ponselnya. Lalu berjalan masuk keruangan Renata.


 


Marcel berjalan mendekat kearah Renata yang tengah mengobrol dengan kedua orang tuanya. Meski mukanya masih terlihat sangat pucat ia masih tetap cantik menurut marcel.


 


"siapa yang telfon tadi cel?" tanya Diana.


 


"bunda mi. Katanya dia mau kesini" jawab marcel.


 


Ternyata bunda batin renata.


 


"oh gitu, mami titip Renata dulu ya. Mami sama papi mau beli makanan dulu buat kalian" ucap diana meninggalkan mereka berdua.


 


Keadaan diruangan hanya sunyi. Tak ada yang mau membuka suara. Renata tak kuat dengan keadaan seperti ini.


 


"makasih cel, udah bawa gue kesini" ucap Renata.


 


"udah jadi tugas aku sebagai suami" jawab marcel.


 


Pipi Renata mendadak panas. Ah sepertinya ia blushing.


 


"bukannya lo ada janji sama pacar lo yang bawel itu?" tanya Renata.


 


"pertama namanya bella. Kedua dia bukan pacar aku. Ketiga karena kamu lebih penting dan yang keempat mulai sekarang jangan pakai bahasa lo-gue lagi" jelas marcel.


 


Renata menatap marcel tak percaya.


 


"kamu harus biasain bicara sama aku dengan kata Aku-kamu, gak enak kalo didengar orang tua kita, kalo disekolah terserah kamu" ucap marcel lagi.


 


Renata mengangguk. Ia mengulum senyumnya agar tidak kembang.


 


"kamu mau kasih tau raya?" tanya marcel.


 


"gak usah nanti dia panik,kasian ini udah malam besok aja kamu kasih tau disekolah" jawab Renata.


 


Tak lama lara datang bersama naura. Lara langsung mencium pipi Renata dan mencium pipi marcel.


 


"kamu kenapa sayang? Kok bisa sakit?" tanya lara.


 


"bisalah bun,emang Renata bidadari gak bisa sakit" jawab marcel.


 


"bunda nanya Renata kak, kenapa kakak yang jawab" protes naura.


 


Marcel tersenyum tipis "kan Renata nya masih lemes jadi kakak yang wakilin dia buat jawab"


 


Renata menyubit perut marcel. Membuat si empunya meringis.


 


"aku gapapa kok bun,cuma kecapean aja,makasih yah bun udah jengukin aku kesini" ucap Renata pelan.


 


"ini juga tugas bunda sayang. Mami kamu mana?" tanya lara.


 


"lagi kedepan bun sama papi katanya mau cari makan,bunda tunggu aja dulu" jawab marcel.


 


"ish kakak. Yaudah kamu istirahat re, biar bunda nunggu didepan" ucap lara mencium kening sang mantu.


 


Renata tersenyum manis. Kali ini wajah marcel yang mendekat. Dan


 


Cup


 


Kecupan singkat dikening Renata mampu membuat Renata beku tak bergerak. Untung saja lara sudah keluar. Kalau tidak abis Renata di cengin sama mertuanya karena hanya dengan Kecupan di kening mampu membuatnya blushing.


 


Sungguh memalukan.

__ADS_1


 


__ADS_2