Senior Cold

Senior Cold
BAB 67


__ADS_3

Setelah mendapatkan email itu Marcel segera keluar dari ruangan tadi. Lalu menelfon seseorang untuk diajaknya bertemu.


 


"lo dimana?"


 


"...."


 


"lo diem disitu! Jangan kemana-mana"


 


Lalu Marcel memutuskan sambungan itu tanpa menunggu lagi jawaban sipenerima telfon. Marcel segera berjalan dengan langkah lebar menuju restoran yang akan ia datangi dan bertemu dengan seseorang di telfon tadi.


 


Untung saja jarak restoran dari hotel tadi tidak terlalu jauh,jadi Marcel tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai. Marcel mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang tadi ia temui.


Saat sudah melihat orang itu Marcel segera menghampirinya.


Dengan tatapan tajam dan wajah yang sangat datar membuat kesan menyeramkan bagi siapapun yang melihat.


Marcel duduk dihadapan orang itu,sepertinya orang didepannya itu mendadak takut atau bahkan panik.


 


"ekhm! Gue minta lo jujur!" ucap Marcel dingin.


 


"ju-jur a-pa mak-sud lo" ucap Riana gugup.


 


"cepet!atau lo bakal nyesel"


 


"gue gak ngerti maksud lo!"


 


"bangsat!" ucap Marcel sambil menggebrak meja.


 


Riana terdiam. Keringet dingin sudah mengucur di dahinya. Riana sudah tau bahwa Marcel pasti sudah mengetahui dalang dari kejadian tadi di hotel. Riana sudah bisa menyimpulkan bahwa Bella memberi tahu pada Marcel dkk. Untung saja Riana sudah menyiapkan rencana selanjutnya untuk balas dendam pada Bella.


 


Marcel mengambil ponselnya lalu menekan tombol angka dan menghubungi seseorang diseberang sana.


 


"halo pi. Maaf ganggu,aku mau minta tolong bisa?"


 


"....."


 


"papi tau kan perusahaan bagaskara grup? Dia pasti ngejalanin kerja sama sama papi?"


 


Riana yang mendengar perusahaan orangtuanya disebut langsung mendongkak melihat marcel. Wajahnya makin pucat.

__ADS_1


 


"....."


 


"tolong putuskan kerja sama itu pi. Dan aku bakal minta tolong ayah buat keluarin anaknya dari sekolah"


 


"....."


 


"gara-gara dia semua murid sekolah tau pi status aku sama Renata! Dan dia mempermalukan Renata didepan banyak orang tadi"


 


"....."


 


"renata pergi sama Raya pi. Ini Marcel lagi urus dalangnya dulu. Baru Marcel akan cari Renata"


 


"....."


 


"baik pi. Terimakasih"


 


Marcel langsung menutup sambungan itu dan langsung menatap Riana dengan wajah garangnya.


 


 


Riana makin takut. Tak menyangka Marcel akan berbuat seperti ini malah sampai campur ke perusahaan orangtuanya. Riana diam tak menjawab. Riana mengambil ponselnya dan akan menghubungi orang yang ia suruh untuk mencelakakan Bella dibawah meja. Namun sayang saat dia akan kirim pesan pada orang itu,malah orang itu sudah menghubunginya lebih dulu. Dengan takut Riana mengangkat telfon itu dan menaruhnya ditelinganya. Marcel hanya memandang riana dengan tatapan tajam.


 


"ha-lo"


 


"bos misi udah berhasil. Gue tunggu transferan nya"


 


Riana mematikan sambungan itu.Riana makin takut. Gimana bisa semuanya secepat ini terbongkar. Ini diluar perkiraan Riana.


Tak lama ponsel Marcel berdering. Ternyata panggilan itu dari Farhan. Segera Marcel mengangkat sambungan itu.


 


"halo,kenapa?"


 


"lo dimana? Bella kecelakaan"


 


"lo jangan bercanda!"


 


"gue serius njir. Lo dimana sekarang! Gue sama riki udah di rumah sakit. Lo kesini sekarang!"

__ADS_1


 


"gimana bisa?"


 


"gue jelasin disini! Lo cepet kesini!"


 


"oke gue otw! Lo jagain dia dulu"


 


Marcel segera memutuskan panggilan itu dan bangkit dari duduknya. Sebelum ia pergi,ia menatap wajah Riana lebih dulu.


Marcel tak sempat berfikir kalau ini ulah riana juga. Pikiran dia sudah fokus pada bella,bella dan Bella. Yang terpenting Bella.


Lalu Marcel berlalu begitu saja dari hadapan Riana. Riana bisa bernafas lega karena Marcel tak mengira bahwa dirinyalah yang melakukan itu.


 


Marcel keluar dari cafe lalu segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit yang Farhan kirimkan alamatnya. Dengan kecepatan penuh Marcel mengemudikan mobilnya. Untung saja jalanan lengang karena sudah malam. Jadi Marcel lebih cepat sampai dirumah sakit. Dengan tergesa Marcel menanyakan dimana ruangan Bella setelah tau Marcel segera berjalan ke arah ruangan itu. Dan ternyata didepan hanya ada kedua sahabatnya dengan muka panik. Marcel berjalan kearah mereka berdua.


 


"gimana bisa Bella kecelakaan! Gue udah minta sama lo buat jaga dia han! Kenapa lo ga becus banget!" suara Marcel meninggi.


 


"cel ini murni kecelakaan! Lo gak bisa nyalahin Farhan dongo. Lo dengerin dulu kronologi nya jangan emosi!" ucap Riki.


 


Marcel duduk sambil berupaya meredam emosinya. Emosi Marcel sudah memuncak sejak kejadian dihotel tadi dan sekarang makin emosi.


 


"jadi gini waktu lo pergi,Bella berusaha ngejar lo buat gak nemuin si cewek carmuk karena dia gak mau lo kenapa-napa. Lebih tepatnya dia yang dalam bahaya. Karena sebelum lo pergi Riana udah kirim pesan ke dia bilang bahwa akan ada sesuatu yang terjadi buat dia karena dia sudah memberi tahu dalang dari semua ini pada kita. Pas mobil lo pergi Bella berusaha cari taksi. Kita kejar dia pas gue udah mau tarik tangan dia eh ada motor yang sengaja mepet ke arah kita tapi pengendara motor itu malah sengaja nabrak Bella. Naasnya Bella langsung jatoh dan kepalanya kebentur trotoar dan langsung gak sadarkan diri" jelas Riki.


 


Marcel mengumpat dalam hati untuk Riana. Kenapa tadi dia tidak sekalian saja langsung menghajar Riana,bahkan Marcel tak berfikir bahwa Riana yang menjadi dalang nya juga di kejadian ini. Marcel bener-bener bodoh. Kenapa dirinya tak mendengar saat bella mengejarnya coba kalau dirinya dengar pasti tidak akan kejadian seperti ini.


 


Riki sudah mencoba menghubungi orangtua Bella. Namun sayang orangtua Bella sedang tidak ada diindonesia,mereka sedang ada urusan di luar negeri. Tetapi secepatnya mereka akan ke Indonesia untuk menemui Bella.


 


Tak lama dokter keluar dari ruangan Bella. Muka mereka bertiga panik. Tak bisa dipungkiri bahwa mereka memang sangat menyayangi Bella. Tetapi seperti adik mereka sendiri.


 


"gimana dok keadaan sahabat saya? Apa dia baik-baik aja? Ada luka parah?" tanya Farhan beruntun.


 


"han tanyanya satu-satu dokternya bingung jawabnya bloon" ucap Riki mencairkan suasana.


 


"disini ada keluarganya? Saya ingin bicara pada keluarganya" ucap dokter.


 


"orangtuanya masih diluar negeri dok. Dokter bisa jelasin sama kita. Karena kita udah sahabatan lama" ucap Marcel.


 


"baik. Ikut saya keruangan ya. Kita bicara disana" ucap dokter itu lalu berjalan keruangannya diikuti oleh ketiganya.

__ADS_1


 


__ADS_2