
Marcel sudah berada dihalaman rumah Renata eh rumah Marcel juga sekarang. Renata masih terlelap dikursi penumpang. Dengan sigap Marcel menepuk pipi Renata pelan untuk membangunkan istrinya itu.
"re bangun kita udah sampai"
"sayang bangun"
"Renata Adriana cantik bangun"
Setelah ucapan Marcel yang ketiga barulah Renata menggerakkan tubuhnya. Matanya mulai terbuka. Dan sadar jika tangan Marcel masih di pipinya. Dengan sigap Renata mengubah posisi jadi duduk tegap dan menoleh kesamping.
"ayo turun kita udah sampai" ucap Marcel mengelus pipi Renata.
Renata hanya mengangguk. Dan membuka pintu mobil. Renata berjalan ke arah pintu utama. Marcel menarik tangan Renata dan digenggamnya. Renata tersenyum.
Tok.Tok.Tok
Ketukan pintu dan ucapan salam membuat pembantu rumah tangga dirumah Diana keluar.
"waalaikumsalam. Eh neng Renata sama den Marcel. Ayo silahkan masuk neng,den. Mau minum apa?" tanya art itu.
"gausah bi nanti aku ambil sendiri aja didapur. Oh iya mami mana ya bi?" tanya Renata.
"oh itu ibu lagi keluar kota sama bapak neng" jelas bibi.
"oh gitu. Kalo bang Arsen mana bi?" tanya Renata lagi.
"den Arsen kayanya keluar deh neng. Soalnya dia juga lagi sibuk ngurusin apa gitu dikampusnya bibi gak ngerti hehe"
Renata manggut-manggut mendengar penjelasan artnya. Marcel hanya diam.
"yaudah deh bi kalo gitu kita pamit dulu ya. Ini kue tadinya buat mami eh dianya gak ada,buat bang Arsen aja deh" ucap Renata seraya memberi plastik berisi kue itu.
"iya neng nanti bibi sampein ke den Arsen. Neng hati-hati ya, den Marcel juga"
"oke bi. Assalamualaikum"
Renata dan marcel keluar rumah. Lalu melajukan mobilnya ke arah rumah Lara. Sebenarnya Marcel malas tetapi Renata memaksanya. Bukan males karena tidak ingin bertemu Lara ya namun Marcel hanya ingin cepat-cepat sampai rumah jadi dia bisa berduaan sama Renata. Ah pikiran yang bagus!
Setelah hampir menghabiskan waktu cukup lama karena kemacetan dijakarta walau ini hari minggu akhirnya mereka sampai ditempat tujuan mereka. Sekarang jam menunjukkan pukul 5 sore.
Marcel mengetuk pintu rumahnya sambil mengucap salam. Tak berapa lama Art dirumahnya membukakan pintu sambil menjawab salam. Muka Art nya itu tidak bisa dijelaskan. Mengapa? Tumben sekali Art nya terlihat panik.
"bibi kenapa? Kok kaya panik gitu?" tanya Renata.
"Itu anu non" gugup Bi Minah.
"anu apa bi? Ada apa?" tanya Renata. Lagi.
"bunda ada?" kali ini Marcel yang bertanya.
"it-u ibu ada didalam kok den. Tapi anu"
"kenapa?"
"aden sama non masuk aja deh liat sendiri. Bibi permisi" pamit bi Minah.
Renata melirik Marcel seakan-akan memberi pertanyaan pada Marcel 'apa apa?' marcel hanya mengangkat bahunya arti tidak tahu. Mereka berjalan bersisian sambil tangan Marcel menggenggam erat tangan Renata.
Deg
__ADS_1
Mata mereka terbuka sempurna. Setelah melihat siapa yang ada didalam dan bersama Lara.
Tubuh mereka seakan menjadi kaku melihat pemandangan seperti itu. Sepertinya orang itu sedang menangis didalam pelukan Lara. Lara yang kebetulan menghadap ke arah pintu jadi melihat Marcel dan Renata lebih dulu dibanding tamu yang sedang menangis dipelukkannya. Tiba-tiba tubuh Lara kaku melihat Marcel dan Renata dihadapannya. Lara harus bagaimana kalau seperti ini?
Jangan salah paham re sama bunda batin Lara.
"bun" sapa Marcel.
Sapaan itu membuat tamunya menoleh ke asal suara. Ia sangat mengenali suara itu. Tetapi saat ia menoleh hatinya terasa sesak apalagi melihat tangan Marcel mengait tangan Renata.
"Marcel" panggil Bella lirih.
Yah tamunya adalah Bella. Ia datang kerumah Marcel. Karena sejak kejadian itu Marcel memang telah memblokir kontak Bella. Dengan nekad Bella kerumah Marcel dan menceritakan semuanya pada Lara bermaksud agar membantunya membujuk Marcel untuk memaafkannya.
Flashback on
Lara sedang berada didalam kamarnya. Karena hari ini hari libur jadi ia sama seperti yang lain akan bermalas-malasan dirumah. Sedangkan Febri dan Naura sedang pergi ke toko buku. Tadinya Lara memang diajak tetapi ia malas.
Saat sedang bermain game di tab miliknya didalam kamar. Tiba-tiba bi Minah mengetuknya memberi tahu jika ada tamu yang mencari dirinya. Lara lalu keluar kamar untuk menemui tamunya itu. Bi Minah memberi tahu jika yang datang adalah Bella. Tadinya Lara ingin menyuruh bi Minah untuk bilang kepada Bella kalau dirinya sedang tidak ada dirumah. Namun sayang, bi Minah sudah bilang jika Lara sedang dikamar.
Lara tidak ingin ketemu Bella karena Lara tau pasti Bella akan menceritakan tentang Marcel. Bella pasti akan merengek pada Lara. Itu sudah terjadi dari dulu.
"halo bunda. Bunda apa kabar?" tanya Bella sambil cepika-cepiki pada Lara.
"bunda baik kok. Kamu gimana?" basa basi Lara.
"aku kurang baik bun. Eh iya Marcel nya ada gak bun?"
"ada masalah? Marcel gak ada dia lagi keluar"
Bella menceritakan semuanya pada Lara. Namun sama seperti ia menceritakan pada Farhan. Ia memutar balikkan fakta. Tapi Lara untungnya tidak langsung mempercayai itu. Karena setau Lara sekarang Marcel mencintai Renata bukan Bella lagi.
Kenapa bi Minah panik saat Marcel datang bersama Renata?
Karena bi Minah juga diminta oleh kedua orang tua Marcel untuk tidak memberi tahu pada siapapun kalau Marcel memang sudah menikah. Jadilah bi Minah harus menjaga perasaan Renata.
******
"Marcel" panggil Bella lirih.
Renata menatap Bella tak suka. Lara pun bangkit dari duduknya dan menghampiri keduanya. Tetapi tangannya dicekal oleh Bella.
"bun itu perempuan yang ambil Marcel dari aku,itu cewek matre bun" rengek Bella.
"bell jaga bicara kamu. Bunda gak suka kamu ngomong sekasar itu" pinta Lara.
"bun tapi itu kenyataannya. Sekarang bunda liat ditangannya sedang membawa belanjaan. Pasti itu pakai uang Marcel"
"itu wajar bel, karena mereka sud-" ucap Lara terhenti.
"karena kita pacaran" singkat Marcel.
Bella menggelengkan kepalanya gak percaya.
"gak!bagaimana bisa? Dia itu cewek matre cel! Kamu cuma dimanfaatin sama dia tau gak!"
"bell kamu gak inget dulu? Dulu kamu juga sering minta aku belanjain kan? Itu namanya apa?"
Bella diam tak bisa menjawab.
"malah dulu status kita cuma sahabat. Kalo sekarang kan status aku sama Renata pacaran. Jadi wajar kalo aku belanjain dia!" jelas Marcel.
__ADS_1
"bun perempuan ini yang buat Marcel berubah. Suruh dia pergi bun. Aku males liat dia" rengek Bella.
"lo aja yang pergi ngapain nyuruh gue pergi? Gue kesini mau ketemu bunda bukan lo!" ucap Renata sinis.
Renata berjalan ke arah Lara. Lalu mencium tangan Lara dan mencium pipi Lara kiri dan kanan. Sedangkan Bella menatap Renata gak suka.
"kamu yang sabar ya sayang" bisik lara ditelinga Renata.
"iya bun" jawab Renata berbisik juga.
Saat Renata akan berjalan kembali ke arah Marcel, bella dengan cepat lebih dulu berlari kearah Marcel. Seperti perlombaan saat tujuhbelasan deh. Bella langsung memeluk Marcel. Seketika muka Renata berubah. Ia tak suka ada perempuan lain memeluk suaminya. Dengan cepat Marcel mendorong tubuh Bella.
"cel.." lirih Bella.
"ternyata lo lebih murah ya dari pada gue. Udah jelas-jelas Marcel udah kasih tau lo kalo gue itu pacarnya" sinis Renata.
"eh jaga ya ucapan lo! Lo yang cewek murah bukan gue!" teriak Bella.
"bella jaga ucapan kamu! Bunda gak suka kamu ngatain Renata kaya gitu. Mending sekarang kamu pulang!" bentak Lara.
Air mata Bella makin deras. Baru kali ini Lara membentaknya. Bella berlari keluar rumah Marcel sambil menangis. Tak ada yang berniat mengejar Bella. Sampai Bella memberhentikan taksi dan pulang ke apartemen dengan hati yang sedang kacau.
Sedangkan dirumah Marcel. Lara masih memeluk Renata. Lara tau bagaimana perasaan Renata tadi. Sebenarnya Lara tidak tega membentak Bella seperti tadi karena Lara sudah menganggap Bella sebagai anaknya sendiri. Namun salah,ternyata Bella mencintai Marcel dan mungkin selama ini Bella salah mengartikan kebaikan yang Lara berikan kepada Bella. Semacam seperti mengasih lampu hijau gitu sih.
"maafin Bella ya sayang. Bunda juga gak nyangka kalau dia bisa bicara seperti tadi" ucap Lara pada Renata.
"iya gapapa bun. Mungkin dia sudah terbawa pergaulan diluar negeri bun" jawab Renata ramah.
"iya bisa jadi, dari dulu Bella anaknya lembut, sopan gak pernah seperti tadi makanya bunda kaget pas dia bicara seperti itu apalagi sama mantu kesayangan bunda" ucap Lara.
Pipi Renata bersemu mendengar kata 'mantu kesayangan' duh. Renata tak menyangka kalau dirinya bakal diperlakukan seperti ini pada mertuanya. Bahkan Renata belum pernah terpikir bakal nikah muda. Karena perjodohan konyol orangtuanya jadilah seperti ini. Renata sangat bersyukur walau awalnya ia tak terima dengan perjodohan ini. Renata bersyukur karena memiliki suami seperti Marcel dan memiliki mertua seperti Febri dan Lara. Yang menerimanya dengan baik.
Tak lama Febri dan Naura pulang. Naura sangat senang jika Renata berkunjung kerumahnya. Jadilah Naura yang bercerita tentang apapun dan Renata hanya mendengarkannya sambil sesekali menjawabnya. Marcel hanya tersenyum melihat Naura dan Renata yang terlihat sangat akrab.
Aku bersyukur punya kamu re batin Marcel.
Tak terasa waktu sudah hampir malam. Setelah makan malam Marcel dan Renata berpamitan untk pulang pada Febri dan Lara. Febri, Lara dan Naura mengantarkan mereka kedepan pintu. Marcel dan Renata bergantian bersaliman pada Febri dan Lara.
"bun kita pulang dulu yaa,makasih loh makan malem gratisnya hehe" bercanda Renata.
"iya kamu hati-hati yaa. Gak gratis dong re,bunda minta bayaran pake...." ucapan Lara digantung.
"pake cucu dari sini" ucap Lara sambil mengelus perut rata Renata.
"ih bunda, gak sabar banget deh" ucap Febri.
"iyalah yah. Emang ayah gak mau punya cucu? Heh?" tanya Lara.
"yah mau lah bun. Yauda kalian cepet ya bikin cucu buat kita"
"siap komandan! Mau berapa cucunya?" tanya Marcel langsung dihadiahi cubitan diperut Marcel oleh Renata.
Semua tertawa kecuali Renata. Karena ia malu saat Marcel berbicara seperti itu.
"yaudah aku pulang ya eh sama istriku juga kasian dia udah kesel tuh" goda Marcel.
"kaka gak boleh ngeledekin istri sendiri. Jangan kaya ayah sama bunda" sahut Naura.
Semua tertawa. Sampai akhirnya Marcel dan Renata benar-benar meninggalkan rumah mereka. Bisa gak jadi pulang kalau mereka masih tetep bercanda didepan pintu.
__ADS_1