Senior Cold

Senior Cold
BAB 25


__ADS_3

Renata masih bergelut dengan bahan makanan dan alat masak didapur. Dia masih terus mencoba membuat makanan simple menurut resep namun rumit menurut Renata.


 


Tepung sudah ada di bagian wajahnya dan dilantai. Bahan yang lain sudah berantakan diatas meja dapur.


 


“Yaampun pusing gue. Kalo bukan karena status gue. Gue gak akan repot-repot belajar begini” ucap Renata frustrasi.


 


Tak lama terdengar decitan pintu terbuka. Renata yakin itu marcel. Karena pintu depan memang sengaja ia kunci. Dan marcel memegang satu kunci.


 


Marcel berjalan ke arah dapur. Saat sampai disana mata marcel terbuka lebar. Ia tidak menyangka keadaan dapurnya akan seperti ini.


 


Renata menoleh ke arah marcel dengan cengiran kudanya. Bukannya ia marah karena marcel meninggalkannya hanya karena wanita lain. Tetapi malah tersenyum.


 


"lo ngapain?" tanya marcel datar.


 


"belajar masak lah" jawab Renata santai.


 


Mata marcel masih menelusuri setiap sudut dapur. Renata yang melihat marcel pun tau pemikiran suaminya.


 


"tenang ntr gue beresin, lo ke kamar aja sana" usir Renata.


 


"oh ya satu lagi kalo masakan gue udah mateng, gue pengen lo cobain ya" lanjut Renata.


 


Marcel tak menjawab. Ia berjalan menuju lantai dua untuk kekamarnya. Sebenarnya marcel ingin sekali ikut andil didapur. Namun kenapa gengsi lebih besar. Kenapa sikapnya tidak bisa seperti sikap dia ke bella.


 


Saat hampir sampai di injakan terakhir ia mencium aroma gosong. Marcel yakin makanan yang sedang dibuat Renata gosong.


 


"argh sial gara-gara ngomong sama dia masakan gue jadi gosong" ucap Renata teriak.


 


Tanpa sadar marcel tersenyum.


Lalu melanjutkan jalannya menuju kamarnya sambil terus tersenyum.


 


Sekitar 20menit marcel keluar dari kamarnya. Dia sudah wangi dan sudah berganti pakaian. Ia turun ke arah dapur.


 


Dilihatnya Renata yang tertidur di bangku dengan tangan yang ditumpuk diatas meja untuk menjadi bantal kepalanya. Dengan wajah yang masih ada tepung.


 


Sedangkan didepan nya sudah ada tempe goreng tepung. Marcel tertawa pelan melihat karya Renata. Dari tadi Renata bergulat dengan alat masak dan bahan hanya ingin membuat tempe tepung saja.


 


Tangan marcel terulur menyapu rambut yang menutupi sebagian wajah Renata. Marcel tersenyum melihat istrinya tidur dengan damai seperti ini. Baru kali ini ia melihat Renata tidur didepan nya.


 

__ADS_1


Cantik banget istri gue gumam marcel.


 


Marcel mengangkat tubuh Renata. Ia berniat memindahkan Renata kekamarnya. Tak mungkin ia membiarkan Renata tidur didapur dengan posisi duduk.


 


Marcel menaiki anak tangga dengan hati-hati. Ia tak ingin tidur Renata terganggu. Sesampainya didepan kamar Renata susah payah ia membuka pintu kamarnya dan akhirnya terbuka juga.


Marcel merebahkan tubuh Renata dikasur milik istrinya itu. Dan baru kali ini juga ia masuk kekamar perempuannya.


 


Marcel menyelimuti tubuh gadis itu sampai ke perut. Lalu mendaratkan bibirnya ke kening istrinya. Entah kenapa marcel refleks mencium kening Renata. Tapi tidak dosa kan? Marcel kan suami sah nya. Jadi gapapa sekali-kali eh berkali-kali juga boleh. Bahkan lebih juga boleh.


 


Selamat istirahat istri ku ucap marcel pelan.


 


Marcel segera meninggalkan Renata dikamar dan menutup pintu kamarnya. Ia tak ingin berlama-lama disana. Takut imannya kurang kuat. Kan ia harus tahan sampai Renata mencintai dirinya. Eh salah sampai mereka lulus.


 


Marcel berjalan kedapur dan mulai membereskan kekacauan yang ada. Sebelum melakukan kegiatan itu marcel mencicipi tempe buatan Renata tadi.


 


Marcel tersenyum. Rasa tempe nya tidak terlalu buruk baginya. Karena ini awal dari belajar Renata. Ia harus menghargai nya.


****


Sekarang pukul 8 malam. Renata membuka matanya perlahan. Ia mengedarkan pandangannya. Renata mencoba mengingat-ingat terakhir ia tidur dimana.


 


"kok gue bisa ada dikamar si?" tanya Renata pada dirinya sendiri.


 


 


Makan apa dia? Hah kok kaya ada piring tempe yang ia buat tadi. Renata segera berjalan turun ke bawah. Lalu berhenti sejenak mengamati marcel yang sedang makan nasi goreng dengan tempe buatannya.


 


Rasanya enak? Batin renata.


 


Marcel yang menyadari kehadiran Renata. Tanpa menoleh pun ia tau.


 


"nasi goreng lo ada dilemari makan, lo panasin aja dulu" ucap marcel masih fokus dengan makanannya.


 


Renata segera pergi kedapur dan mengambil bungkus nasi goreng itu. Ternyata marcel beli bukan ia yang masak. Renata menyadari kalau dapurnya sudah rapi kembali padahal seingatnya sebelum ia tertidur dapurnya masih seperti kapal pecah.


 


Marcel yang beresin semua? Tanya Renata dalam hati.


 


Setelah panas Renata kembali keruang tv. Dan duduk disamping marcel. Sejak kapan ia nyaman duduk disebelah suaminya ini.


 


Dilihatnya piring tempe tepung yang ia bikin hanya sisa 2 tempe disana. Marcel melirik Renata.


 


"lo mau blm nyobain hasil buatan lo?" tanya marcel datar.

__ADS_1


 


Renata menggeleng.


 


"yaudah lo abisin, tadi gue udh makan banyak"


 


"gimana rasanya? Enak gak? Kurang apa?" tanya Renata beruntun.


 


"lo cobain aja sendiri. Kurang banyak!"


 


Renata segera mengambil satu potong tempe tersebut dan memasukan kedalam mulutnya. Matanya berbinar. Karena baginya ini hasil yang terbaik. Setelah tadi beberapa kali gagal karena keasinan, hambar dan lebih parah gosong.


 


Marcel melihat Renata memakan tempe itu dengan lahap pun menahan senyumnya. Ia sangat gemas dengan renata.


 


"enak juga ya cel" ucap Renata di sela kunyahan nya.


 


Marcel hanya berdehem sebagai jawaban.


 


"eh iya tadi yang bersihin dapur siapa? Trus yang mindahin gue ke kamar siapa?"


 


"disini cuma ada gue,lo masih tanya siapa?" ucap marcel sinis.


 


"yah kan gue cuma nanya. bisa gak si lo kalo ngomong sama gue agak lembut dikit. Beda sama cara ngomong lo sama siapatuh yang tadi dikantin gue lupa"


 


"bella" jawab marcel cepat.


 


"nah itu. Lo bicara sama dia bisa lembut,sedangkan sama gue? Lo ketus atau kadang gak direspon" ucap Renata. Renata sadar apa yang ia bilang tadi langsung menutup mulutnya.


 


Ia tidak ingin marcel menganggap nya cemburu. Hah cemburu? Apa bener dia cemburu? Sama bella?


 


Renata menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi.


 


Marcel masih mencerna kata-kata Renata. Ia bingung harus merespon apa perkataan itu. Dari perkataan itu bisa disimpulkan kalau Renata itu cemburu.


 


Renata cemburu? Serius? Jangan-jangan dia udah cinta sama gue batin marcel.


 


Marcel berdiri meninggalkan Renata. Marcel tidak kuat untuk tersenyum dengan perkataan Renata tadi. Ia segera kekamarnya untuk senyum sepuasnya.


 


Sedangkan renata menganggap kalau marcel marah dengan perkataan dia tadi. Padahal menurut nya sebagai istri wajar mengatakan hal itu pada suaminya.


 

__ADS_1


“Kenapa jadi dia yang marah? Kan aturan gue yang marah!” ucap Renata kesal.


__ADS_2