Senior Cold

Senior Cold
BAB 40


__ADS_3

Dirumah sakit.


 


Renata kaget mengapa sahabatnya ini tahu jika dirinya dirawat. Pikiran Renata tertuju pada suaminya yang memberi tahu hal ini pada raya. Kan bener kalau raya tau pasti dia akan lebay. Lihatlah sekarang,raya sedang menangis tersedu-sedu tak tau penyebabnya apa. Padahal Renata hanya demam bukan kena kanker. Eh amit-amit. Dari pertama raya datang dia sudah menangis sambil memeluk Renata. Diana yang kebetulan ada disana juga kaget dengan tingkah raya.


Dari tadi Renata dan diana sudah menyuruh raya tenang tapi tetap saja anak itu masih menangis.


 


"ray gue gpp, lo gausah lebay sih, eneg gue liat lo" ucap renata.


 


"lo gatau perasaan gue re,yaallah" ucap raya dramatis.


 


"gue cuma demam cunguk bukan kena kanker"


 


"yaallah re,gue khawatir banget sama lo,lo jahat!"


 


"apaansi tolol dah lu"


 


Diana mendekat ke arah raya lalu mengelus rambut raya. Menenangkan sahabat anaknya itu. Diana tak habis pikir mengapa raya bisa seperti ini. Jadi keinget dulu dirinya dengan lara. Tapi gak sampai selebay ini sih.


 


"ray, dede gapapa sayang. Udah ya kamu berhenti nangisnya emang kamu gak cape dari tadi?" ucap diana.


 


"mami gak tau rasanya jadi aku,aku telfonin dia tapi gak diangkat akukan khawatir juga sama manusia bego ini" ucap raya disela tangisannya.


 


Diana hanya tertawa mendengar itu. Raya memang memanggil Diana mami. Begitu juga Renata pada orangtua raya. Dan dianapun tidak marah saat anaknya dibilang seperti itu oleh raya. Diana tau cara mereka berdua berteman. Mereka selalu cekcok tapi tak lama baikan lagi. Sungguh hal yang sangat indah.


 


Tak lama decitan pintu terbuka. Mereka bertiga menoleh ke arah pintu. Marcel berjalan ke arah ranjang Renata. Raya dan diana hanya melihat drama itu. Marcel mengelus rambut Renata lembut dan mengecup kening Renata. Renata mengerutkan dahi nya. Bingung dengan yang dilakukan marcel sekarang.


 


"aaaaaa sweet njir" teriak raya tanpa sadar.


 


Diana tertawa. Renata menatap raya tajam. Sedangkan marcel tetap tenang.


 


"lo kenapa bloon?" tanya Renata.


 


"gpp gue juga mau dong dicium gitu sama kak marcel" ucap raya sambil mengusap pipinya.


 


"enak aja, dia suaminya sahabat kamu, jangan jadi pelakor ya Ray,mami gak suka" ucap diana.


 


"lebay njir, tadi nangis sekarang senyum-senyum gak jelas" cibir Renata.


 


Muka raya merah. Ia malu. Bisa- bisanya Renata memberi tahu hal itu pada marcel. Keliatan dong kalau raya memang anak manja. Ah sungguh menyebalkan sekali sahabatnya saat ini.


 


"kok kamu pulang cel?" tanya Diana.


 

__ADS_1


"iya mi,aku mau jagain Renata. Mami pulang aja gpp istirahat" ucap marcel.


 


"yaudah mami pulang dulu ya, nanti agak sore mami balik lagi. Kamu istirahat juga de biar cepet sembuh" ucap diana.


 


"iya mi" ucap marcel dan Renata bersamaan.


 


Raya dan Diana hanya tertawa melihat dua sejoli ini. Diana bangun dan mengecup kening mereka bertiga lalu meninggalkan mereka.


 


"kak,emang cewek lo gak ngambek lo tinggalin dia?" tanya raya spontan.


 


"bukan ceweknya Ray,cuma gebetannya" cibir Renata.


 


"abisan yah re,tadikan gue nanya kak marcel eh malah dia yang jawab nyolotin banget itu orang" jelas raya.


 


Raya dan Renata mulai ngomongin bella. Marcel yang mendengar itupun tak tahan saat mereka mulai menjelekkan bella dengan kata kasar. Marcel berdehem keras membuat keduanya menoleh kearahnya.


 


"ekhmm" dehem marcel.


 


"ups lupa disini ada pahlawannya" cibir Renata.


 


Marcel bangkit dan langsung mencium kening Renata penuh sayang. Saat akan menarik wajahnya marcel membisikan sesuatu ke telinga Renata.


 


 


Raya yang melihat adegan itu hanya menutup matanya. Tak mau melihat adegan suami istri ini. Bisa-bisa matanya tak suci lagi duh. Eh tapi mereka tidak melakukan adegan ranjang ya raya saja yang lebay tingkat akut.


 


****


Hari ini Renata keluar dari rumah sakit. Yah raya rela membolos demi menjemput sahabatnya itu. Begitu juga marcel. Farhan dan bella bingung mengapa marcel bolos?padahal dari dulu marcel itu anti bolos-bolos club. Sedangkan riki yang sudah tau alasan marcel bolos hanya diam saja.


 


Sesampainya dirumah. Marcel mengantar Renata ke kamarnya. Sedangkan raya,Diana dan lara mereka ada di ruang tamu. Raya sudah akrab dengan lara. Dan memanggil lara dengan sebutan 'bunda'. Itupun karena disuruh lara nya. Dengan alasan 'Diana aja kamu panggil mami,masa bunda dipanggil tante kan bunda juga orangtua Renata sekarang' yah begitulah.


 


Tak lama marcel turun kearah ruang tamu dan duduk disamping sang bunda. Marcel melirik ketiga perempuan yang sedang menatapnya.


 


"kenapa?" tanya marcel datar.


 


"apakah benar selama ini kalian pisah kamar?" tanya lara.


 


Marcel melirik raya sebentar. Dari mana orangtuanya tau hal ini. Raya yang merasa ditatap hanya menampilkan wajahnya tenang. Raya memang sengaja mengasih tau mereka karena tak bagus jika sepasang suami istri terus pisah ranjang. Ah kaya sudah pernah merasakan menikah saja si raya ini. Haha.


 


"mami minta sama kamu,segeralah satu kamar dengan renata. Kami juga ingin cucu cel" ucap diana enteng.


 


Raya dan marcel nampak terkejut. Sedangkan lara hanya tersenyum bahagia. Perasaannya juga sama dengan Diana. Ingin CUCU. Haha

__ADS_1


 


"mi tapi kan mereka masih sekolah?mana bisa Renata hamil saat masih sekolah?" ucap raya.


 


Marcel menghela nafasnya lega. Bukan dirinya tak mau punya keturunan tapi benar yang dikatakan raya. Marcel belum sempat memikirkan hal itu. Hatinya saja masih terombang-ambing begini.


 


"iya mami tau,tapi kan kita ingin punya cucu,iya gak ra?" ucap diana melas.


 


"mi plis jangan bahas ini dulu. Kasian kak marcel bentar lagi dia ujian akhir nanti dia gak fokus gara-gara permintaan mami"


 


"iya iya maaf"


 


Raya memang sudah dianggap anak sendiri dengan Diana. Jadi Diana tidak akan marah jika raya memberi tahu nya seperti tadi.


 


"yasudah kami pamit, sudah sore juga" ucap lara lalu bangkit dari duduknya. Diikuti oleh raya dan Diana.


 


"mami titip Renata. Dan inget kalian harus satu kamar mulai sekarang!" tegas Diana.


 


"dengerin kata mami tuh kak. Jagain mantu bunda ya" ucap lara.


 


"gue nitip Renata ya kak,kalo dia bangun bisikin ke dia 'GAUSAH LEBAY' gitu ya" ucap raya.


 


Diana dan lara hanya tertawa mendengar ucapan raya tadi. Sungguh menggemaskan pertemanan mereka.


 


Mereka bertiga keluar dari rumah. Dan marcel menutup pintu rumah lalu segera naik kelantai dua untuk ke kamar istrinya. Dilihat istrinya masih terlelap. Marcel mendekatkan wajahnya dan mencium kening Renata lembut.


 


Renata yang merasa ada yang aneh langsung membuka matanya. Mata Renata membulat saat melihat wajah marcel sangat dekat dengan wajahnya. Nafas marcel pun sangat pas didepan matanya. Astaga jantung Renata berdetak secara tidak normal. Setelah beberapa lama berpandangan akhirnya marcel menjauhkan wajahnya.


 


"lo ngapain dikamar gue?!" teriak renata.


 


"aku-kamu" koreksi marcel.


 


Renata memutar bola matanya malas. Sebenarnya ia masih enggan menggunakan kata itu. Buat apa? Toh hanya pencitraan marcel didepan orangtuanya sekarangkan hanya mereka berdua.


 


"bodoamat! Gue tanya ngapain lo dikamar gue?!" tanya Renata lagi.


 


"aku-kamu re!" ulang marcel.


 


"disini cuma gue sama lo,jadi gausah pencitraan cel. Lo tinggal jawab pertanyaan gue!"


 


Marcel mengambil nafas "aku akan tidur disini mulai sekarang"  ucap marcel tenang.


 

__ADS_1


"whattt?!"


__ADS_2