Senior Cold

Senior Cold
BAB 49


__ADS_3

Disisi lain. Renata yang dari tadi menangis dikamar Raya pun akhirnya lelah. Dan sekarang Renata terlelap. Dan ini kesempatan Raya untuk bercerita pada Riki. Raya tak tega melihat Renata seperti ini. Karena dari dulu Renata tak pernah serapuh ini karena cinta. Paling Raya sering melihat Renata menangis karena dimarahin Rio akibat belanja terlalu banyak,atau maminya membentaknya, atau juga Arsen yang tak menuruti kemauannya dan paling akhir kalo Raya sakit. Pasti Renata akan menangis.


 


Raya mencoba menghubungi Riki diam-diam. Karena Renata berpesan padanya untuk tidak memberi tahu pada siapapun tentang masalah ini dan keberadaannya. Karena Raya gatel ingin marah-marah jadilah ia menghubungi Riki dan menyuruh Riki untuk ke rumahnya.


 


Setelah Riki sampai dirumahnya. Raya membawa Riki ketaman belakang agar Renata tidak mengetahuinya. Raya memberikan ponsel Renata yang ada video tadi kepada Riki. Riki melihatnya dengan seksama. Riki sama seperti Renata dan Raya. Mengulangnya terus sampai ia percaya bahwa yang divideo itu sahabatnya.


 


Brengsek umpat riki setelah melihat video itu.


 


Dengan cepat Riki menghubungi Marcel. Awalnya Raya sudah mencegahnya namun Riki tetap bersikukuh untuk menghubungi.


 


Saat di telfon marcel bilang tak mengerti maksud Riki bicara seperti itu. Dengan cepat Raya mengambil alih ponsel Riki dan ikut menghakiminya. Raya dan Riki tak habis pikir mengapa Marcel bisa melakukan hal menjijikan seperti itu?


Marah? Tentu Riki dan Raya sangat marah.


Kecewa? Sangat!


 


Setelah selesai memarahi Marcel. Riki berpamitan untuk pulang takut Renata bangun dan melihat Riki disini. Sebenarnya keduanya tak puas dengan jawaban Marcel. Maunya Marcel mengakui tentang kejadian tadi. Tapi entah marcel yang pura-pura bego atau emang bego beneran! Ah sudahlah hanya dia yang tau.


 


...****...


 


Sedangkan dirumah Marcel masih mondar mandir menunggu Renata didepan pintu. Tangannya masih terus mencoba menghubungi Renata. Tetapi hasilnya masih sama. Ponselnya tidak aktif.


 


Pasti dia dirumah Raya! Batin Marcel.


 


Dengan cepat ia meraih kunci mobil dan keluar rumah. Setelah masuk kedalam mobil Marcel baru inget bahwa ia tidak tau dimana rumah sahabat istrinya itu.


 


Arghhhh teriak Marcel frustrasi.


 


Marcel mencoba menghubungi Riki. Namun sudah keberapa kalinya ia coba tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Marcel menaruh wajahnya disetir mobilnya. Otaknya tidak dapat bekerja semestinya.


 


Tak lama ponselnya bergetar bertanda ada pesan masuk. Ia berharap bahwa itu dari Renata. Dengan cepat ia melihat siapa yang mengirim pesan itu. Ternyata 'bella'. Marcel tidak jadi membuka pesan itu dan kembalikan wajahnya pada setir.


Dering ponsel panjang menandakan panggilan masuk. Marcel melirik namanya ternyata masih orang yang sama. Dengan malas ia menggeser tombol warna hijau.


 


"kenapa Bell?"


 


"...."


 


"aku lagi sibuk. Lain kali aja ya"


 


"...."


 


"ok. Ketemu di cafe biasa. Kamu berangkat sendiri ya aku males jemput kamu"


 


Marcel mematikan sambungan sepihak. Dengan malas Marcel mengeluarkan mobilnya dan melajukan ke cafe biasa Marcel dan Bella ketemu. Lebih tepatnya cafe tempat nongkrong mereka berempat sejak smp dulu.


 


Disepanjang perjalanan Marcel masih terus memikirkan apa yang sedang terjadi. Mengapa sahabatnya dan sahabat istrinya itu bisa memarahinya seperti tadi. Marcel benar-bener tidak tahu masalah apa yang sedang istri hadapin dan pasti ada hubungannya dengan dirinya.


 


Tak lama Marcel sampai dicafe tersebut. Marcel mencari keberadaan bella namun nihil. Pasti wanita itu belum sampai. Akhirnya Marcel duduk disalah satu meja dan memesan jus mangga pada pelayan.


Setelah pelayan pergi tak lama Bella datang menghampirinya dan duduk dihadapannya Marcel.


Tak ada senyum sedikitpun terukir untuk Bella.


 


"cepat ada apa?aku ada urusan" tanya Marcel.


 


"sabar dulu cel. Kamu udah pesan makan? Atau minum?" tanya Bella.


 

__ADS_1


"udah" singkat Marcel.


 


"nih kamu liat sendiri" ucap Bella sambil memberi ponselnya pada Marcel.


 


Marcel mengambil ponsel Bella dan segera membuka video tersebut.


 


Degg


 


"ka-mu dapet video ini dari mana? Hah?" tanya Marcel mulai meninggi.


 


"aku juga gak tau cel. Tadi ada orang yang kirimin video itu ke aku, dia ngatain aku murah dsbnya" Bella mulai terisak.


 


Dengan cepat Marcel berdiri dan meninggalkan Bella sendiri. Untuk kedua kalinya Marcel meninggalkan. Marcel segera kemobil dan menghubungi Riki untuk meminta alamat Raya. Ia sudah tau penyebab istrinya marah seperti ini.


Tak lama telfonnya diangkat oleh Riki.


 


"kirimin alamat Raya sekarang!"


 


"...."


 


"cepet! Gue udah tau semuanya! Bantu gue kalo emang lo sahabat gue!"


 


"...."


 


"oke makasih!"


 


Marcel mematikan telfon itu dan menggas mobilnya menuju alamat raya sperti yang tadi riki katakan.


 


Raya masuk kedalam kamarnya setelah mengambil makanan untuk sahabatnya itu. Ternyata Renata sudah bangun. Tetapi tidak berubah ia masih menangis walau dalam diam.


 


 


Renata tak menjawab.


 


"ah elah gak asik dah lo nangis mulu. Muka lo udah kaya babi serius dah"


 


"bodoamat Ray"


 


"yeh songong lo! Udah cepet makan dulu nih ntr lo mati lagi"


 


Renata menggeleng. Hal itu membuat Raya bingung. Sebenarnya Raya tidak tega melihat Renata seperti ini. Tapi mau gimana lagi Renata memang keras kepala.


Tak lama pintu kamar Raya di ketuk oleh bi Asih. Raya berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu kamarnya.


 


"ada apa bi?" tanya Raya.


 


"ada temennya dibawah neng. Katanya mau ketemu neng Raya sama neng Renata" ucap bi asih.


 


"siapa bi?"


 


"bibi juga gak tau. Yaudah bibi pamit balik ke dapur dulu ya neng"


 


Raya mengangguk. Lalu Raya masuk lagi kedalam kamar dan melirik sahabatnya. Merasa dilirik Renata menaikkan alisnya seolah berkata 'kenapa?' Raya mengerti dan memberi tahu jika ada temennya yang ingin bertemu mereka berdua.


 


Dengan malas Renata ikut turun keruang tamu. Sebenarnya Renata tidak ingin keluar kamar Raya. Tapi mengapa ia merasa harus keluar. Tamu itu posisinya membelakangi mereka. Jadi tamu itu tidak tau kalau Raya dan Renata sudah ada dibelakangnya. Raya yang tak tahu siapa itu. Sedangkan Renata sudah tahu itu siapa.


Renata berbalik arah dan akan beranjak kembali ke kamar Raya. Namun Raya mencegahnya.

__ADS_1


 


"mau kemana?" tanya Raya.


 


"atas gue males liat itu orang!" ucap Renata.


 


Raya bingung. Tiba-tiba tangan kekar menahan lengan Renata. Otomatis Renata berbalik arah. Raya baru sadar jika tamu tadi itu adalah Marcel. Raya menatap Marcel sinis. Sedangkan Renata hanya menunduk.


 


"ngapain lo kesini? Hah?" bentak Raya.


 


"gue mau ketemu Renata Ray. Gue mau ngomong sama dia. Kalo semua ini cuma salah paham" jelas Marcel.


 


"salah paham? Yakin cuma salah paham? Bukannya lo emang suka sama cewek gatel itu? Hah?" ketus Raya.


 


Renata diam membiarkan dua orang itu berdebat. Pikirannya kacau. Untuk saat ini Renata tidak ingin bertemu dulu dengan Marcel. Meskipun ia tau kalau masalah tidak diselesaikan dengan cepat pasti akan tumbuh masalah baru.


 


"mending lo pulang!" teriak Renata akhirnya.


 


"gak aku gak akan pulang,kalo kamu gak ikut aku pulang. Aku harus jelasin semuanya sama kamu" jelas Marcel.


 


"pulang cel! Gue gak mau ketemu lo!" tegas Renata.


 


"lo dengerkan apa yang Renata bilang tadi. Mending sekarang lo pulang dan urusin cewek lo itu!" sahut Raya.


 


"ray diem. Ini urusan gue sama istrinya gue! Gue harus selesaiin ini berdua! Lo jangan ikut campur" tegas Marcel.


 


"hah? tadi lo bilang apa? Dia istri lo? Emang masih pantes lo disebut suami dengan kelakuan lo yang menjijikan itu? Lagian urusan dia yah pasti urusan gue!" tegas Raya juga.


 


"re kita harus selesain ini baik-baik. Maafin aku. Ini semua salah paham" Marcel berlutut didepan Renata.


 


Renata makin terisak. Ia bingung harus bagaimana. Renata meninggalkan mereka berdua ke atas sambil menangis. Untung saja dirumah tidak ada orangtua Raya. Karena tadi Linda sudah pergi keluar katanya ada urusan mendadak.


Raya masih terus berdebat dengan Marcel. Tanpa sadar Renata sudah ada disana lagi.


 


"kita pulang!" ucap Renata pelan dan langsung meninggalkan mereka berjalan kedepan. Raya dan Marcel terdiam mencerna kata-kata Renata tadi.


 


"RENATA!" teriak Raya.


 


Raya dan marcel berlari mengejar Renata yang sudah ada didepan pintu.


 


"maksud lo apa? Lo mau pulang bareng cowok brengsek ini? Hah?" tanya Raya.


 


"iya ray. Gue harus selesaiin masalah ini" ucap Renata pelan.


 


"ayo kita pulang aku bakal jelasin semuanya sama kamu" ucap Marcel sambil membukakan pintu mobil untuk Renata.


 


Renata menatap raya memberi isyarat bahwa dirinya tidak apa-apa. Raya tidak usah khawatir. Raya berhambur memeluk Renata sebelum Renata masuk kedalam mobil.


 


"makasih sayang" ucap Renata pelan.


 


"sama-sama cinta. Kalo manusia brengsek ini nyakitin lo lagi,lo langsung hubungi gue! Biar gue yang habisin dia!"


 


"iyaa rayaku" Renata mencium pipi Raya.


 


Sebenarnya Rayq tidak mengizinkan Renata ikut pulang dengan Marcel. Namun bagaimana? Sekarang status Renata sudah istri. Dan harus patuh pada perintah suaminya.

__ADS_1


Setelah mobil marcel menghilang dari pandangan Raya. Lalu ia masuk kedalam dan menuju langsung ke kamarnya.


 


__ADS_2