
***
Senyum bangga ayah dan ibunya masih merekah hingga hari ini.
Hari ini momen penting bagi keluarga kecil Ananta.
Hari pertamanya sekolah, yang juga saksi bahwa dua orang paruh baya itu melepas anaknya untuk Hidup terpisah di asrama.
Namun di hari bahagia ini... Senyumnya justru semakin pudar setiap kali memikirkan hari itu.
Ananta merasa kehilangan sesuatu.
Ananta melambaikan tangan pada kedua orang tuanya. Kemarin mereka sudah membantu Ananta memindahkan barang-barangnya ke asrama. Jadi hari ini mereka benar-benar berpisah.
"Alana, kamu baik-baik saja kan, sekarang" Tanya Ananta dengan bisikan sambil menatapi langit yang terlihat cerah.
Ah, tidak. Alana baik-baik saja tanpaku. Aku yang tidak baik-baik saja tanpanya.
Ia mengingat kembali senyum Alana dan suaranya yang tenang di hari perpisahan mereka.
Hal itu membuatnya merasa...
Hampa.
Orang yang biasanya selalu ada di sisinya kini bahkan tidak mengantarnya pergi. Semuanya terjadi seolah-olah Alana tidak pernah ada dalam hidupnya sebelumnya. Kosong sekali. Separuh jiwanya ternyata sudah direbut oleh gadis usil itu.
***
Dia menghela nafas menyambut hari yang benar-benar baru tanpa Alana. Semua hal terasa tidak seperti biasanya. Dia merasa canggung tanpa alasan, seperti tersesat di tengah kerumunan orang-orang yang bahagia.
Tersenyum kikuk saat siswa lain mengajaknya bicara. semuanya terasa berbeda tanpa Alana.
"Na... Harusnya hari ini, ada kamu" Bisiknya dalam hati mengucap hal yang diyakininya tidak mungkin terjadi itu.
Perhatian Ananta teralihkan sepenuhnya pada Alana. Otaknya terus memikirkan gadis yang sekarang tidak bersamanya.
Hal lainnya semua tidak menarik. Sambutan yang kelewat panjang dan dilakukan secara bergantian itu apalagi. Ananta benar-benar akan tertidur jika saja sambutan terakhir itu tidak muncul tepat waktu. Sambutan ini perwakilan dari siswa dengan nilai terbaik. Ananta tidak begitu tertarik hingga suara berisik itu terdengar
Ngiiiing
seseorang yang memainkan microfon dengan sembarangan menarik perhatiannya.
Cukup ceroboh, seperti seseorang yang sangat dikenalnya
*Berpisah itu mau kamu... Aku enggak*
Seorang gadis menyipitkan matanya mencari seseorang. Guru dan staff sekolah yang tadi mempersilahkannya naik ke atas panggung mulai menatap khawatir.
__ADS_1
"Cantik ya... Murid terbaik tahun ini" Bisik siswa lain di dekat Ananta, dia masih sibuk dengan pikirannya sampai-sampai tidak memperhatikan apa yang mereka bicarakan.
"Hei, lihat.. Imut sekali" Ucap Arkan, teman yang baru saja berkenalan dengannya. Akhirnya Ananta mendongak melihat gadis yang sedang bersiap membuat onar itu.
Murid terbaik?
Dia??
Ananta membelalakkan matanya tidak percaya gadis itu benar-benar ada di sana sedang menyipitkan matanya mencari sesuatu. Gelar murid terbaik terlalu tidak masuk akal untuk gadis itu. Ananta mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa murid itu benar-benar dia.
"Nah, ketemu." Ucap Alana menatap Ananta lurus di tengah kerumunan.
"Ananta!!!" Teriaknya yang terdengar jauh lebih keras gara-gara mikrofon yang digenggamnya.
"Ananta bodoh. Aku tahu kamu meremehkan aku kan. Makanya kamu memilih sekolah ini supaya aku tidak bisa mengikuti mu lagi." Ucapnya tanpa malu memaki-maki pacarnya di depan semua orang.
"Kamu pikir pindah ke sekolah favorit berasrama sudah cukup untuk ngusir aku dari hidup kamu?" Lanjut Alana membuat ingin menyembunyikan wajahnya sendiri sekarang. Gadis itu memang tidak kenal rasa malu.
"Kamu anggap aku apa?? kamu tidak bisa mengusirku semudah itu." Ucap Alana dengan bangga. Dia menang telak hari ini setelah melihat raut panik Ananta.
"Lihat. Aku selalu bisa mengejar kamu kemanapun, bahkan aku bisa lebih baik dari kamu!" Senyum mengejek itu terlihat sempurna pada raut Alana kali ini. Perjuangannya belajar mati-matian di akhir semester berhasil. Dia akhirnya masuk ke SMA yang sama dengan Ananta padahal sebelumnya dia berniat untuk tidak melanjutkan sekolah.
Sistem seleksi di sekolah ini yang berdasarkan test juga sangat membantunya masuk karena nilai rapot nya yang berantakan.
"Kamu mungkin lupa sama janji kamu Ta.." Senyum itu mulai sendu.
"Kamu masih harus nikah sama aku!!" Sorakan riuh terdengar dari semua siswa disekeliling Ananta.
Orang yang tak dikenalnya pun ikut menyoraki, membuat dia dan Alana secara otomatis menjadi pasangan paling hits seantero sekolah barunya
Ah, lupakan. masa SMA-nya tidak akan pernah tenang.
***
"Hmph, dasar Ananta menyebalkan." Ucap Alana setelah acara selesai. Orang-orang disekitarnya masih memandangi dengan bisik-bisik yang tak kunjung tenang.
"Kamu mau kabur ke sini gitu?" Ucap Alana menyuarakan isi hatinya tanpa ragu lagi. Hal ini pantas karena dia sudah berusaha sangat keras agar dapat melakukannya.
"Aku bukannya kabur. Aku memang mau sekolah disini kok." elak Ananta.
"Terus kenapa harus rahasia, padahal kan nggak apa apa kalo kamu bilang duluan kalo kamu daftar kesini." Cerca Alana.
Dia belum puas kalau belum memaki Ananta selama mungkin.
"Karena kamu nggak perlu tahu kenapa aku pindah kesini" Jawab Ananta.
"Aku tahu kok" Balas Alana segera.
__ADS_1
"Karena siswinya cantik-cantik. Lebih cantik dari aku." Jawab Alana membuat Ananta terperangah. Pemikiran Alana memang selalu se absurd itu.
"Cari yang seperti kamu aja susah. Aku nggak akan punya waktu nyari yang lebih baik dari kamu." Jawab Ananta membuat senyum Alana diam-diam mengembang.
"Alasan." Ucapnya dengan ketus, masih berusaha menampakkan raut marah meski suasana hatinya sudah membaik.
"Eh, itu yang dipanggung tadi kan.." Bisik siswi lain yang melewati mereka.
"Cowoknya lucu juga.." Gumam mereka lagi, cukup jelas hingga di dengar oleh Alana. Benar kan apa yang dia pikirkan. Baru satu hari disini dia sudah mendapatkan saingan.
Alana langsung menggandeng Ananta dengan intens dan melangkah pergi meninggalkan orang-orang yang masih sibuk menggosipkan mereka berdua.
"Tapi ceweknya posesif, hihi..." Candaan itu lagi-lagi terdengar.
Dan sejak hari pertama, Alana dan Ananta menjadi couple paling tenar di SMA favorit itu.
***
Side story..
"Wah itu cewek cakep banget" Ucap arkan mengamati Alana yang sedang berjalan dengan cara yang aneh. Dia berjalan dengan menekuk kakinya agar tubuhnya yang pendek semakin tenggelam dalam kerumunan. Arkan masih memperhatikannya dengan seksama.
Dugg..
Tanpa sengaja tubuh arkan terdorong dan berakhir jatuh menimpa Ananta.
"Eh maaf, mereka ini bar-bar sekali padahal sudah SMA" Ucap arkan menggerutu seperti orang dewasa. Mereka berada dalam kerumunan anak baru yang mengantri untuk masuk ke ruangan tempat acara sambutan siswa baru yang akan di mulai sebentar lagi.
"Iya, aku baik-baik saja kok." Jawab Ananta, perasaannya masih gelisah gara-gara teringat Alana.
"Karena kita sudah ngobrol, kenalin... Gue Arkan." Ucap arkan dengan percaya diri.
"Ananta," Jawab Ananta tanpa banyak bicara. Dia selalu canggung dengan orang baru.
"Ngomong-ngomong siswi di sekolah kita cantik-cantik ya.." Ucap arkan tanpa ragu, dia sedikit menyombong lagipula Ananta juga dibawah almamater yang sama jadi dia bebas membicarakan hal itu.
"Biasa aja tuh, aku tahu seseorang yang lebih cantik dari mereka" Ucap Ananta ketus. Dia merasa aneh membicarakan tentang hal itu saat di kepalanya hanya ada Alana sekarang.
"Kamu belum lihat aja yang di sana itu sangat cantik" Ucap arkan menunjuk Alana yang sudah tidak berada di tempatnya yang sebelumnya.
"Eh, yah... Gara-gara ngobrol denganmu dia jadi hilang." Ucap arkan kesal.
Ananta tidak menjawab, lagipula dia tidak penasaran dengan siapapun kecuali Alana. Karena baginya Alana sudah membekas terlalu dalam di hatinya. Perasaannya selalu mengatakan bahwa Alana adalah satu-satunya untuk Ananta.
...****************...
Hai... terimakasih sudah baca ceritaku, beri hadiah dengan nonton iklan gratis atau kirim poin ke penulis yuk biar makin semangat buat nulis chapter selanjutnya...
__ADS_1
see you kalo udah semangat nulis lagi, hehe