Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
dua puluh lima. Orang baik


__ADS_3

Hari yang di tunggu tiba, hari yang seharusnya bahagia. Alana bangun pagi-pagi dan menyiapkan segalanya. Baju yang cantik, sepatu, tas. Semuanya yang cocok untuk dipakai jalan-jalan sudah bertumpuk di kasurnya. Dia sudah memilihnya semalaman, jadi hari ini sudah tidak bingung lagi.


Bahkan grup whatsapp pun sudah dibuat. Sedikit lebay memang, tapi itu cukup penting karena tidak ada satupun yang boleh berpencar sendiri. Mereka harus bersama-sama sampai pulang.


"Hei, hari ini kita tetap ikut kegiatan. Ingat kan." Pesan itu bukan di grup, tapi di ruang obrolan pribadi dari arkan ke Alana.


Arkan sudah meminta pacarnya untuk datang ke tempat yang dijanjikan siang hari.


"Eh? Bukannya bolos. Kok mendadak kasih taunya." Balas Alana yang masih mengira mereka akan bertemu dari pagi. Dia menatap kecewa ke arah baju yang sudah dia siapkan.


"Loh, belum tahu? Ya udah deh Ini udah ku kasih tau. Awas ya harus datang" Ancam arkan, sudah bilangnya mendadak masih mengancam lagi.


Alana memutar otaknya lagi. Baju yang dia pilih terlihat terlalu berlebihan untuk di bawa ke kegiatan club. Dia pasti terlihat mencolok. Tapi kalau harus ganti baju dan lain-lain itu akan lebih merepotkan.


Mau tidak mau Alana memilih memakainya langsung dari pagi. Dia menebak, mereka tidak akan punya waktu untuk istirahat, pulang atau ganti baju.


Dia lanjut memakai baju lucunya yang berwarna biru itu, dilengkapi tas dan sepatu. Menatap ke cermin, Alana merasakan firasat buruk pada Gea yang pastinya akan mengejeknya habis-habisan gara-gara ini.


***


Tempat itu ramai seperti biasa. Alana sudah bolos beberapa hari, hal itu membuatnya kembali merasa canggung menemui orang-orang di club drama. Apalagi dengan pakaiannya yang sekarang, malunya berkali-kali lipat.


"Alanaaa" Gea segera memanggilnya sebelum Alana beraura seram dengan berdiri di pojokan. Alana menghampirinya dengan bahagia, seperti orang yang terselamatkan dari situasi buruk. Yah, Alana sempat lupa kalau sekarang dia punya teman yang akan membuatnya nyaman di manapun.


"Hai Ge, Raraaa... Terimakasih sudah memanggilku." Ucap Alana bernafas lega.


"Eh, cantik banget hari ini. Ada janji ya, sama mas pacar." Gea mulai menyelidiki Alana gara-gara pernyataan Alana kemarin. Dia senang Alana bisa terbuka dengannya, walau yah lupakan tentang Gea yang memaksa Alana lebih dulu.


" Gea, cukup. Aku maluu" Panik Alana berusaha menutupi wajahnya dengan tas. Gea pasti melihat eyeshadow tipis dan lipstiknya yang berwarna beda dari biasanya. Lihat sekarang, Gea sudah menarik tas Alana untuk melihatnya sekali lagi.


"Jangan malu Alanaaa. Kamu cantik." Balas Gea setelah berhasil menyingkirkan tas dari wajah Alana.


"Tuh kan cantik. Iya kan Ra." Gea menoleh apa rara yang mengangguk sambil tersenyum kagum. Ini pertama kalinya melihat Alana berdandan. Dia takjub bagaimana wajah yang sedikit tidak terawat itu berubah sangat cantik.


"Kamu tuh harus lebih percaya diri." Gea menepuk bahu Alana.


"Tadinya iya. Tapi setelah bertemu orang yang aku kenal, rasanya langsung malu." Ucap Alana lirih.


"Biar enggak malu aku temenin deh ya." Ucap Gea tersenyum usil sekali lagi. Dia kembali ke jiwanya yang suka menggoda Alana.

__ADS_1


"Eh, enggak gitu juga."


***


Alana tersenyum kikuk sekarang. Mereka janji bertemu di sebuah kafe dekat sekolah. Arkan baru saja datang dengan pacarnya yang nampak anggun dengan baju santai berwarna ungu, tas berbentuk awan dan sepatu dengan warna senada. Imut sekali.


Arkan yang tadinya tersenyum, menatap heran pada dua makhluk yang ikut duduk disebelah Alana. Kenapa jadi ramai sekali.


"Hah, curang." Gea menggebrak meja setelah mengalihkan pandangannya dari jendela ke arah perempuan di samping Arkan.


"Kenapa pacar arkan dan Ananta cantik-cantik sih." Mendengarnya perempuan berbaju ungu yang tadinya menatap kaget, tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Dia manis sekali.


"Pacarku yang cantik kenapa kamu yang repot." Balas Arkan sambil mempersilahkan pacarnya untuk duduk lebih dulu. Dia membukakan kursi yang berhadapan denganku untuk pacarnya.


Kelakuannya yang manis itu membuatku kaget lagi. Dia tidak seperti arkan yang biasanya mengejekku, meski kalimat di mulutnya tetap sama. Menyebalkan.


"Lagian kamu enggak di ajak" Lanjutnya melirik tajam ke Gea lalu ke arahku.


"Hehe. Maaf." Ucapku, aku tidak bisa menolak Gea sebelumnya. Makanya Gea berhasil ikut kesini.


"Tenang aku cuma pengen lihat pacar arkan aja kok. Setelah ini aku pergi. Kalian bisa bersenang-senang" Ucap Gea tahu diri dengan posisinya yang tidak diinginkan hadir. Alana menatapnya penuh rasa bersalah.


Dia senang bisa makan bersama seorang teman, meski waktunya memang tidak tepat. Walau, dia tidak punya niatan mengusir Gea juga.


"Aku Bela kak, salam kenal juga" Balasnya dengan senyum manis lagi.


"Oh iya, ini Rara" Gea memperkenalkan Rara yang dari tadi duduk diam disampingnya. Mereka berjabat tangan.


"Kalau yang ini Alana. Pacarnya teman Arkan." Lanjut Gea memperjelas kata pacar pada Bela.


"Aah, Gea... Malu." Alana menepuk bahu Gea dengan gemas sebelum berjabat tangan dengan Bela yang kini tertawa.


"Hai, aku Alana. Teman arkan juga." Ucap Alana.


"Iya, arkan sering cerita tentang temannya dan kakak. Aku bahkan sudah lama mau ketemu kak Alana tapi Arkan selalu nunda. Jadi baru bisa sekarang" Ucap Bela dengan semangat. Sorot matanya di penuhi kagum pada perempuan di depannya itu. Arkan hanya mengamati sambil sesekali tersenyum.


"Arkan. Enggak cerita yang aneh-aneh kan." Tanya Alana curiga. Dia tidak bisa menebak apa-apa saja yang akan di katakan arkan tentang dirinya.


"Enggak, dari cerita arkan aku tahu kak Alana, kak Gea sama Kak Rara orang yang baik dan lucu." Ucap Bela tanpa sadar tangannya sudah menggenggam tangan Alana dan Gea sambil berbicara.

__ADS_1


Gea dan Alana saling memandang lalu tersenyum penuh arti.


"Oke. Misiku selesai. Aku pergi duluan ya. Bela, titip Alana kesayanganku ya" Ucap Gea bangkit dari duduknya.


'Eh, sejak kapan aku bertitel kesayangan' pikir Alana melihat Gea yang sudah pamit lalu melambaikan tangan sambil berjalan ke arah pintu dengan Rara mengikuti di belakangnya.


"Ananta belum datang. Sebaiknya kamu pesan makanan dulu deh. Kue dan es cream disini enak." Ucap Alana setelah melirik notifikasi dari grup di layar handphone nya. Bela mengangguk mengiyakan, lalu Alana mengantarnya ke kasir untuk memesan.


Alana merekomendasikan beberapa kue yang pernah dicobanya. Bela hanya memilih salah satu rekomendasi Alana tanpa melihat menu yang lainnya.


Mereka hampir menghabiskan kue di piring saat Ananta datang. Alana bahkan sudah memesan untuk kedua kali.


"Hehe, maaf. Tadi aku ditahan sama guru soal urusan lomba kemarin." Ucap Ananta merasa bersalah saat ditatap tajam oleh Arkan dan Alana.


Sedangkan Bela justru berterimakasih, karena Ananta terlambat jadi dia sempat mencoba makanan rekomendasi Alana yang terbukti enak.


"Kalau yang telat mas pacar sih, pasti di maafin. Ya nggak Na" Goda arkan, Alana menyodorkan minuman yang selalu di pesan Ananta itu hanya membuang muka. Dia sedikit ada menunggu mereka berhenti menggodanya.


Ananta duduk disamping Alana lalu meminum minumannya. Diam sama sekali tidak memperhatikan orang baru di antara mereka.


"Ta. Kamu kenal bela?" Tanya Alana melihat Ananta berdiam diri di sampingnya.


"Hmm? Enggak. Cuma pernah lihat aja" Jawabnya polos.


"Hah? Di mana" Jawab Alana mempertanyakan orang yang berada tepat di depannya.


"Di dompetnya Arkan. Dia sombong banget kalo ngomongin tentang pacarnya" Jawab Ananta tanpa sadar mengatakan rahasia Arkan dengan keras. Membuat Bela lagi-lagi tersenyum mengetahui bahwa fotonya masih ada di dompet arkan.


"Eh Ananta. Ngomong apa barusan?" Panik Arkan, dia saja tidak pernah membiarkan Bela tau kalau fotonya ada di dompetnya. Arkan semakin kesal saat Ananta mengabaikannya dan justru menatap penuh ke arah Alana. Arkan tahu, sepertinya Ananta membalasnya karena sudah menggoda Alana.


"Kan belum pernah ketemu langsung. Kenalan dulu" Alana menggeret tangan Ananta untuk bersalaman dengan Bela.


"Iya ok. Kenalin. Ananta. Temen sekamarnya arkan" Ucap Ananta sedikit terpaksa.


"Iya udah tau kok. Aku Bela, yang dipajang di dompetnya Arkan" Ucap Bela tersenyum usil sambil melirik arkan yang tengah malu.


Ini menyeramkan. Sepertinya mereka se-frekuensi. Sama-sama suka menggoda orang lain dengan caranya sendiri.


***

__ADS_1


Kok kaya gaje ya. ╥﹏╥


hmmm, See you again (っ'-')╮\=͟͟͞͞💌


__ADS_2