Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
tiga puluh enam. bosan


__ADS_3

Keesokan harinya Alana kembali lagi ke rumah sakit. Rutinitas yang kini mulai membosankan itu tetap ia jalani demi Ananta. Ayahnya belum memberi kabar lagi tentang pendonor potensial membuatnya sedikit cemas. Menurut pemeriksaan terakhir, kondisi Ananta masih terus menurun. Dia sendiri melihat kondisi Ananta yang terlihat semakin lemah.


"Alana. pengen jalan-jalan" Ucap Ananta. Apa lagi hari ini? anak ini kalau semakin bosan semakin banyak saja permintaannya. Pengen makan kue, suruh Alana jenguk Arkan, sekarang dia mau jalan-jalan. Padahal dilihat sekilas saja kondisinya masih belum bisa berdiri dengan benar. Hanya sesekali bersandar di kepala ranjang, itupun hanya sebentar hanya saat makan.


"tapi kan kamu masih lemes banget" jawab Alana. Rasanya dia lebih tahu kondisi Ananta daripada Ananta sendiri.


"nggak mau tahu, pengen jalan-jalan." ucap Ananta lagi. Dia sudah lelah. Tenggelam dalam kebosanan karena berhari-hari menatap pemandangan yang sama. Hanya sesekali mengintip kondisi di luar melalui jendela, itupun tertutup tirai.


"aku tanya ayah dulu." Alana menghela nafas kasar, dia paham Ananta pasti sudah bosan. Tapi dia tidak bisa memutuskan sendiri. Ananta ini pasien ayahnya, jadi mau apa-apa dia harus melapor pada ayahnya dulu. Setelah berkata begitu Alana segera pergi dari hadapan Alana menuju ruangan ayahnya yang berada agak jauh dari ruang rawat.


"yah, Ananta boleh aku ajak keluar?" ucap Alana langsung. Dia tidak mau mengganggu ayahnya lama-lama saat melihat pria itu sedang sibuk dengan berkas-berkas yang berserakan di depannya.


"keluar ke mana...?" ucapnya balik bertanya dengan mata yang masih fokus.


"nggak boleh kalo keluar dari rumah sakit." tegasnya. Kondisi Ananta ini memang masih tidak bisa di bawa kemana-mana.


"jalan-jalan ke taman aja" lanjut Alana. Dia sendiri tidak mungkin mengizinkan kalau Ananta pergi jauh dari rumah sakit dengan kondisinya yang sekarang.


"sendiri?" tanya dokter itu lagi, dia tetap belum fokus menghadap Alana, makanya terus menanyakan hal-hal yang tidak mungkin.


"sama aku yah." ucap Alana sedikit kesal. Ayahnya ini mengajarinya untuk menatap lawan bicara, tapi dia sendiri tidak menoleh padanya saat di ajak bicara.


"please, ya?" pinta Alana, dia ingin segera mendengar persetujuan supaya ayahnya bisa fokus dengan pekerjaannya lagi


"dia pasti bosen banget, udah semingguan lebih di kamar terus" bujuk Alana lagi. Untuk yang seperti ini biasanya dia mendapat izin dengan mudah. Tapi karena ayahnya itu tidak fokus, jadinya dia harus menunggu lama dengan pertanyaan yang berbelit-belit.


"huft, iya deh nggak apa-apa." akhirnya ayahnya itu memberi izin juga.


"beneran, boleh?" tanya Alana sekali lagi. Dia harus yakin, ini soal Ananta.


"kalo dia kelihatan lemah, ada bagian tubuh yang bengkak atau perubahan apapun langsung bawa ke ruangan lagi terus panggil ayah ya." ucap ayah Alana menoleh ke arah putrinya itu beberapa detik sebelum kembali mengalihkan pandangan ke arah berkas-berkas nya lagi.

__ADS_1


"dan harus pake kursi roda." putus ayahnya. Alana mengangguk dengan semangat. Tanpa bicara lebih banyak lagi dia sudah menghilang dari hadapan ayahnya. Beralih mencari suster untuk meminjam kursi roda.


Alana kembali ke ruangan dengan membawa kursi roda, ditemani oleh suster yang akan membantu Ananta untuk duduk di kursi rodanya.


"boleh?" tanya Ananta. Pertanyaan yang tidak perlu, karena sekarang Alana sudah membawa kursi roda yang tentu saja untuk Ananta.


"boleh" ucap Alana, tetap menjawab pertanyaan sia-sia itu.


"yuk?" ajak Alana memberi kode pada suster untuk membenarkan posisi Ananta, supaya bisa duduk di kursi roda dengan mudah. Hanya butuh waktu singkat sebelum Alana siap mendorong sendiri kursi roda Ananta. Suster yang membantu sudah pergi dari tadi. Sekarang, dia sudah berada di taman rumah sakit. Alana memilih tempat yang teduh dengan banyak bunga, Gazebo dengan meja kecil yang cantik di sudut taman yang membuatnya bisa melihat seluruh taman dengan pemandangan terbaik.


"cuma boleh sampe sini aja... nggak apa-apa?" ucap Alana setelah mengambil posisi duduk di kursi dekat Ananta.


"nggak apa-apa asal di temenin." balas Ananta. Boleh keluar dari ruangan saja dia sudah sangat senang. Dia sangat rindu dengan bau rumput basah dan bunga-bunga. Sebelumnya yang masuk indra penciumannya hanya bau obat dan etanol.


"iya aku temenin." jawab Alana. Dia tentu tidak akan meninggalkan Ananta sendirian. Ananta hanya berdiam beberapa lama di sana. Alana sedikit salah tingkah karena tidak terbiasa hanya duduk diam tanpa alasan seperti ini.


"mau makan?" tanya Alana, dia ingin melakukan sesuatu, mengambilkan Ananta makanan misalnya? tapi dia sedikit putus asa melihat Ananta hanya menggeleng sambil mengambil nafas dalam.


"aku cuma mau diem aja disini sama kamu. sebentar aja" ucap Ananta akhirnya. Dia terlihat menghirup oksigen di sana sebanyak-banyaknya. Yah, karena begitu masuk ke ruangan dia tidak akan mencium baunya lagi.


"tapi aku nggak bisa kalo cuma diem." rengek Alana. Biasanya dia terdiam hanya saat terkena masalah saja. Dan sekarang dia benar-benar tidak melakukan apa-apa.


"ya udah kamu maunya apa." tanya Ananta. Yah, meski dia tidak yakin bisa mengabulkan mau Alana.


"ajakin ngobrol?" ucap Alana tidak yakin. Kalau terus terusan diam, nantinya Ananta tidak bosan, tapi dia sendiri yang bosan.


"ini kan ngobrol." jawab Ananta dengan ringan. Kalau yang satu itu kan memang sedang dia lakukan sekarang


"huft" Alana mendengus kesal sekali lagi. Dia, tidak terbiasa.


"na.. kamu bolos terus tiap hari?" ucap Ananta, menemukan topik yang sudah lama ingin dia tanyakan. Belakangan Alana datang dan menunggunya sejak pagi, lalu pulang lagi saat malam. Ibunya saja sampai sering meninggalkannya berdua dengan Alana karena Alana selalu di rumah sakit.

__ADS_1


Alana hanya mengangguk pelan.


"nggak takut nilainya jadi tambah jelek" ucap Ananta. Dia tidak mengejek, serius. Dia hanya khawatir, itu saja.


"aku nggak peduli. Aku sekolah di sana juga buat kejar kamu bukan karena pengen sekolah" jawab Alana terdengar sangat enteng. Ayahnya pasti sudah marah besar andai mendengar jawaban Alana itu.


"dasar, keras kepala." jawab Ananta.


"aku aja yang sakit pengen banget sekolah" lanjutnya sedikit kesal.


"Buat aku kan yang nomer satu kamu Ta." lanjut Alana. Kalau sudah dijawab begini Ananta hanya bisa diam, tidak jadi protes karena lagi-lagj alasan yang dipakai Alana adalah dirinya.


"hmph, ya sudah." jawab Ananta kesal.


"aku bukan murid teladan seperti kamu Ta. Tenang saja." jawabnya tertawa kecil melihat Ananta yang sedikit merajuk. Andai bisa dibalik, mungkin lebih baik Alana yang sakit, dan Ananta yang sekolah. Karena Ananta yang sakit itu sangat menyia-nyiakan bakat dan otaknya yang cemerlang.


"Ta... aku mau kasih tau rahasia boleh?" tanya Alana membuat suasana menjadi hening. Dia pasti terlihat sangat serius sekarang.


Ananta hanya mengangguk membuat hening semakin terasa. Alana mengambil nafas dengan berat sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Bella lihat tulisan dari saku Arkan di hari dia kecelakaan." ucap Alana lirih nafasnya terasa semakin berat seolah ada tangan imajiner yang menghalanginya bicara.


"disana ada pesan, andai terjadi sesuatu dan dia tidak selamat dia mau kasih jantungnya ke kamu. dia tulis nama kamu dengan jelas di kertas lusuh di sakunya" pernyataan itu selesai. Alana menunggu respon Ananta setelahnya. mengamatinya dalam jarak dekat.


"dia itu bodoh ya..." balas Ananta seperti bercanda meski tetap saja dia terlihat sedih.


"seolah aku mau menerima jantungnya saja" lanjutnya lagi.


"pada akhirnya kamu nolak dia" ucap Alana. Keduanya saling tatap untuk beberapa waktu memikirkan hal yang sama.


Berbagi rahasia begini rasanya separuh bebannya hilang.

__ADS_1


__ADS_2