Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
empat puluh lima. menjenguk Ananta


__ADS_3

"Gea... aku ikut jenguk Arkan... Tapi setelah aku ke rumah Ananta dulu ya" ucap Alana. Awalnya Gea yang duduk di depannya merespon dengan wajah datar, lalu tiba-tiba tersenyum seperti orang kesurupan.


"ikuuuut" ucapnya dengan nada manja seperti anak kecil. Dualitas Gea ini menyeramkan, wajahnya baddas tapi kelakuannya seperti anak-anak yang sering merengek dan bertingkah imut. Untung saja Alana melihat sisi imut Gea, kalau tidak mungkin dia tidak akan berani mengajaknya bicara sejak awal.


"jadi kita ke rumah Ananta dulu baru ke rumah Arkan ya..." balas Alana.


"iya lah... kalo buat Alana pasti pacar yang utama." ucap Gea lagi tersenyum lebar, tangannya mulai usil memukul-mukul pelan bahu Rara.


Alana kehabisan kata-kata kalau sudah di tatap begitu. Mau beralasan apapun Gea akan tetap menggodanya. Jadi dia memilih diam.


Sekali lagi, diam-diam dia bersyukur menemukan Gea dalam kehidupannya di SMA. Orang-orang yang di perkenalkan Ananta dan Arkan kebanyakan selalu membuatnya nyaman.


...****************...


Seperti janjinya pada Gea, saat hari minggu tiba Alana akan datang menjenguk Arkan dan Ananta, ralat Ananta dulu baru Arkan. Gea masih membawa-bawa titel pacar sepanjang waktu. Membuat Alana tersenyum malu-malu. Meski lama-lama sedikit kesal juga.


Mereka berkumpul di taman dengan sekolah. Gea tinggal di luar asrama jadi mereka harus janjian dulu sebelum berangkat bersama.


Gea sudah melambai dengan senang saat melihat Alana menghampirinya dari kejauhan. Kalau bisa Alana mau pura-pura tidak kenal saja melihat tingkahnya yang terlalu bersemangat. Tapi Alana memilih tertawa, walau sedikit malu tingkah Gea membuatnya senang juga disambut seperti orang yang spesial.


"Hai... jadi, kita ke rumah pacar Alana hari ini.... yeay senang sekali" ucap Gea spontan saat Alana sudah sampai di dekatnya.


"ssst jangan kenceng-kenceng, malu" protes Alana.


"udah yuk, berangkat" ucap Gea merangkul Alana di lengan kanannya dan Rara di lengan kirinya. Dia membawa keduanya masuk ke dalam mobil bercat putih miliknya.


"wah. kamu punya mobil?" tanya Alana takjub. Dia baru tahu kalau Gea ini anak orang berada.


"iya. khusus di keluarin buat ngantar Alana ketemu pacarnya." jawab Gea dengan gembira.


"hah?" tanya Alana tidak paham.

__ADS_1


"biasanya Gea pakai mobil yang hitam, tapi khusus hari ini dia bawa yang putih." Jawab Rara dengan santai membuat mulut Alana menganga lebih lebar lagi. Jadi Gea punya mobil lebih dari satu.


"udah buruan masuk" ucap Gea, buru-buru membukakan pintu depan. Tapi Alana dan Gea justru buru-buru membuka pintu belakang.


"heh. Dipikir aku supir kalian. Satu orang duduk di depan." ucap Gea sedikit marah.


"Iya iya.." jawab Alana pasrah saat Rara sudah mendorong bahunya mendekat kepada Gea.


Alana pun duduk di depan. Mobil Gea sangat cantik dan bersih, apalagi dengan semerbak aroma jeruk yang segar. Cukup mewah, untuk seukuran pemiliknya yang terlihat seperti kucing liar. Apalagi warna putihnya agak kontras dengan warna bajunya yang serba hitam.


Jarak rumah Ananta dengan sekolah hanya 30 menit kalau di tempuh dengan mobil Gea. Tidak ada menunggu bis, tidak ada panas-panasan. Apalagi rute yang di ambil cukup sepi, jadi mereka bisa melaju tanpa hambatan.


Sepanjang jalan Gea membunyikan musik dengan keras, jadi 30 menit perjalanan terasa seperti sedang tamasya ke tempat yang jauh. Menyenangkan, tapi sedikit tidak pada tempatnya. Karena sekarang ini mereka mau menjenguk orang sakit. Tapi Alana tidak berani melarang, apalagi lagu yang di putar juga kesukaan Alana.


...****************...


30 menit terasa singkat saat ditempuh dengan full musik, tiba-tiba saja mereka sudah sampai di depan rumah Ananta. Rumah sederhana yang terlihat nyaman, dengan tembok putih yang tinggi dihias tanaman merambat yang cantik. Gea langsung memasukkan mobilnya karena gerbang sudah dibuka sejak tadi. Alana sudah mengabari Ananta, jadi mereka menyambutnya dengan hangat.


Mereka segera turun dan mengambil parsel yang sudah Gea siapkan. Beberapa buah yang di tata dalam keranjang. Andai tidak lupa Gea pasti sudah membawa buket bunga untuk Alana berikan ke Ananta. Sayangnya dia lupa, Alana juga mungkin akan marah kalau dia benar-benar melakukannya.


"Halo, terimakasih sudah datang jenguk Ananta ya nak" ucapnya.


"iya tante, sekalian mau ngantar Alana. Alana kangen katanya" ucap Gea melirik dengan usil ke arah Alana.


"Baru berapa hari nggak ketemu Alana... udah kangen aja" jawab ibu Ananta, ikut menggoda Alana. Refleks Alana menyentuh pipinya yang terasa hangat. Dia malu.


"Nggak kangen kok tante, cuma pengen tahu keadaan Ananta aja" balas Alana.


"iya iya. eh, belum kenalan lo kamu sama tante, namanya siapa?" tanya ibu Ananta pada Gea dan Rara.


"Saya Gea tante, teman Alana dari club teater" ucap Gea bersalaman dengan ibu Alana. Jika kamu mau tahu kapan Gea bersikap paling manis, mungkin itu adalah sekarang. Dia bersalaman dengan sangat anggun.

__ADS_1


"Saya Rara tante, sama... temen dari club teater" lanjut Rara, tersenyum manis. Memang kalau sudah berhadapan dengan orang yang lebih tua kadang akan ada kesan yang berbeda. Seorang Gea yang bar bar berubah menjadi kalem, dan Rara yang manis tiba-tiba tampak elegan dan anggun. Alana menatap dengan silau, seperti tidak mengenali dua orang yang tersenyum ramah itu. Tapi Alana tidak berani berkomentar, takutnya nanti dia di tinggal pulang Gea kalau membuatnya kesal.


"terimakasih banyak loh sudah repot-repot jenguk Ananta, bawa-bawa buah lagi." ucap Ibu Ananta dengan ramah, dia mempersilahkan Gea, Rara dan Alana untuk masuk menemui Ananta yang masih berada di kamarnya.


"Ananta ini temen kamu jenguk" panggilnya membuat Ananta yang tadinya berdiam diri di kamar keluar, berjalan pelan menuju ruang tamu.


"Hai." panggil Alana, terasa agak canggung karena kali ini dia bersama Gea dan Rara.


"Alana. sama pacar bilangnya Hai doang." ejek Gea yang sedari tadi menanti momen manis, malah disuguhi pemandangan yang kaku dan tidak seru.


"memang mau bilang apa lagi kalau bukan Hai." ucap Alana sedikit kesal, sejauh ini mereka memang tidak pernah bersikap romantis, jadi Alana tidak tahu harus bagaimana.


"ya udah lah ya. Mau harepin apa dari dua pasangan gede gengsi ini" ejek Gea.


"hih, udah. Nggak usah godain Alana mulu kenapa. Dia udah berjasa tau nungguin terus selama di rumah sakit" bela Ananta.


"iya iya percaya" balas Gea. Alana yang dibicarakan malah diam. Rasanya aneh juga kalau ada orang yang mengungkit hal baik tentang Alana di depan Alana sendiri.


"Gimana keadaannya? udah baikan belum?" tanya Gea, dilihat dari caranya berjalan tadi, harusnya Ananta sudah hampir sembuh.


"udah kok tinggal nunggu diizinin ibu buat tinggal di asrama lagi. Nggak bisa lama-lama nggak masuk sekolah juga kan." jawab Ananta. Tentu saja sebentar lagi akan memasuki masa ujian jadi dia harus segera kembali ke sekolah.


"iya ya... udah lama banget nggak masuk" ucap Rara ikut dalam obrolan.


"tapi tebakanku dia bakal tetep ranking sih" ucap Gea dengan percaya diri.


"iya juga sih. pasti." lanjut Rara menyetujui.


"ih tapi dia udah nggak masuk lama banget. lolos ujian aja udah bersyukur" balas Alana, dia tidak mau berburuk sangka sih, tapi kalau dilihat dari berapa lama Ananta tidak masuk sekolah, pernyataannya cukup masuk akal.


"dih, jangan ngerendahin pacar gitu dong. iya kan Ta" ucap Gea yang mendukung penuh Ananta untuk hal yang satu ini.

__ADS_1


"kalau aku tetep ranking kasih hadiah ya." ucap Ananta mengikuti permainan Gea. Dia belum tahu hasilnya akan seperti apa, tapi sepertinya akan menyenangkan menggoda Alana begini.


"coba aja" balas Alana. Kenapa dia terjebak di situasi begini sih....


__ADS_2