
Minggu-minggu yang panjang dan berat berlalu, tapi digantikan dengan ujian akhir semester yang semakin dekat. Rasanya Alana semakin malas pergi ke sekolah. Dia lebih senang bolos lalu jalan-jalan seharian bersama Ananta. Tapi dia yakin Ananta tidak akan mau makanya dia tidak melakukannya.
Karena sakitnya, Ananta sudah melewatkan perlombaan terakhir tahun ini. Jadi yang bisa dia lakukan hanya belajar untuk ujian akhirnya.
Kegiatan mereka masih sama. Belajar di perpustakaan. Walau Ananta sih yang belajar, Alana hanya memperhatikan. Dia tidak perlu melakukan sesuatu demi tugas-tugas atau apapun sekarang, jadi dia hanya mengambil beberapa novel untuk di baca sementara Ananta masih mempelajari buku-buku tebal seperti biasa. Alana tidak pernah peduli dengan nilai kalau kalian lupa. Keberadaannya disini lebih karena menemani Ananta saja.
"hmmm romantis sekali. Tidak seperti cowok menyebalkan di dunia nyata yang hanya tahu belajar" ucap Alana agak keras dengan sengaja. Dia membaca novel dengan genre romantis kali ini, salah satu kesukaannya. Pemeran utama laki-laki nya sangat manis, terlalu manis untuk ada di dunia nyata. Yang nyata hanya Ananta yang duduk di depannya sekarang. Laki-laki yang agak dingin dan hanya tahu belajar. Apalagi kalau sedang fokus, Ananta terlihat agak menyebalkan dan tidak peduli apapun.
Mendengar perkataan Alana yang jelas menyindirnya itu, Ananta menoleh sebentar sebelum kembali membaca bukunya lagi, meski perhatiannya masih tercurah pada Alana sekarang.
"iya, aku memang tidak romantis. Mau bagaimana lagi ini sudah settingan sejak lahir." ucap Ananta dengan mata tetap fokus pada buku. Dia tetap merespon meski terlihat tidak peduli.
"Kamu tahu? belajar itu bukan hanya tentang materi pelajaran di sekolah. tapi juga tentang bagaimana cara mengambil hati seseorang dan itu sangat penting. Untuk yang satu itu kamu masih perlu banyak belajar" ucap Alana menatap Ananta seperti sedang menggurui.
"Kalau sudah tahu caranya, nanti kamu akan jadi sangat manis seperti kai." ucap Alana lagi dengan dramatis, lihat saja tangannya mendekap buku seolah sedang memeluk seseorang. Karakter yang dibacanya itu memang sangat menarik, sampai-sampai dia sudah selesai membaca setengah dari novel tebalnya dalam sekali duduk.
"oke. kalau begitu besok aku buatkan puisi. Katanya puisi juga termasuk romantis kan." ucap Ananta yang sebenarnya hanya mengejek Alana dan khayalannya itu. Sebenarnya bagi Ananta, perbuatan lebih jelas daripada hanya kata-kata jika itu tentang perasaan romantis. Meski dia belum berbuat banyak juga gara-gara kondisinya yang terus sakit dulu. Andai bisa, dia ingin lebih memperhatikan Alana mulai sekarang.
__ADS_1
Alana cemberut mendengar jawaban Ananta yang terkesan asal itu. Dia menggebrak meja dengan buku hingga suara bedebumnya terdengar nyaring.
"huft. Sudah, kamu begini saja. nggak usah berusaha romantis lagi." ucapnya membuang nafas dengan kasar. Yah, Ananta sudah settingan dari lahirnya seperti itu. Kalau di paksa romantis jadinya malah semakin aneh.
Puisi? itu sangat berlebihan dan membuatnya merinding. Dia tidak bisa membayangkan hal apa lagi yang akan dia sebut romantis kalau yang pertama dia katakan adalah puisi.
Ananta meletakkan bukunya, menumpukan perhatiannya pada Alana sepenuhnya hingga membuat Alana mengerutkan dahi. Dia mau berbuat apa sekarang? bukan hal yang aneh lagi kan.
"Tidak usah puisi kalau begitu." ucapnya agak serius karena tatapannya yang menatap lurus ke mata Alana. Kontak mata itu, hati Alana sudah berdebar hanya karena di tatap begitu saja.
"apa yang kamu suka, apa yang kamu ingin lakukan, apa yang membuat kamu bahagia, katakan padaku semuanya. Aku akan mengabulkannya." ucapnya kemudian. Apa-apaan, Alana belum siap menerima kalimat semacam itu sekarang. Alana menyembunyikan mukanya di balik buku, sebisa mungkin tidak memperlihatkan raut mukanya yang sudah salah tingkah dan senyum-senyum sendiri.
"ngomong-ngomong, kamu masih berpikir aku tidak akan mendapatkan ranking?" tanya Ananta setelah suasana mereda dari ledakan kupu-kupu barusan.
"hmm? masih." jawab Alana jujur. Dia bukannya meremehkan. Hanya realistis.
"serius?" Ananta menampakkan kecewa di wajahnya. Dia tidak terbiasa di remehkan oleh Alana, perempuan yang paling dekat dengannya itu. Apapun alasannya itu terasa agak menyebalkan.
__ADS_1
"Ananta, kamu itu tidak masuk sekolah itu sudah berapa lama? berminggu-minggu. Selama itu siswa yang lain sudah pasti juga mengejar pencapaian kamu. Jadi akan sulit untuk tetap di atas, iya kan." jawab Alana mencoba menjelaskan tanpa membuat Ananta marah meski jelas-jelas Ananta agak sebal sekarang. Melihat Ananta yang diam begitu dia segera mencari kata yang tepat untuk dikatakan.
"tidak apa-apa. Jangan khawatir. Aku tetap suka kamu meskipun kamu bukan nomor satu." ucap Alana spontan, begitu mudah Alana membalikkan keadaan. Yah, dalam kondisi Ananta yang sakit saja dia tetap tinggal, apalagi hanya nilai ujian. Itu tidak berarti apa-apa. Dengan nilainya sendiri saja dia juga tidak peduli.
Tadinya Ananta agak marah, tapi dengar Alana bilang begitu emosinya menguap lagi seolah alana tidak pernah membuatnya kesal sedikitpun.
"jangan lupa hadiah ku. Aku akan menagihnya andai aku berhasil nomor satu." lanjut Ananta. Perkataan Alana sedikit membuatnya berubah pikiran meski tujuannya tetap sama. Kini yang membuatnya semangat belajar bukan lagi Nilai atau apapun, hanya Alana. Dia punya hutang untuk membahagiakan Alana hingga mereka dewasa nanti.
"iya... aku tidak seperti seseorang yang suka lupa sama janjinya sendiri." jawab Alana, Lagi-lagi menyindir Ananta. Perasaannya yang seperti dikhianati terakhir kali selalu kembali datang setiap kali bicara tentang janji. Dia tidak akan pernah lupa karena Ananta sendiri masih sering mengulanginya.
"orang itu bilangnya akan selalu ada bersamaku setiap waktu, tapi sering menghilang. Hanya mau menunjukkan diri saat bahagia saja, padahal aku akan merasa lebih dihargai kalau dilibatkan dalam kondisi sedih atau senang." ucapnya meluapkan emosi. Yah, tentang ini harus dibicarakan sesekali, kalau bisa sering supaya Ananta berubah dan lebih menganggapnya ada.
"Iya iya... aku minta maaf" Alana terlihat menyesal sekarang. Dari setiap kalimatnya, dia tahu jelas kalau orang yang Alana maksud adalah dirinya. Siapa lagi yang punya karakter menyebalkan seperti itu kalau bukan Ananta.
"Kenapa... aku tidak bilang kalau itu kamu tuh." Alana semakin mengejek Ananta yang merespon sindirannya.
"aku yang tahu diri" balas Ananta.
__ADS_1
"Maafkan aku.. lain kali tidak akan begitu lagi." lanjutnya. Tentu saja, karena kalau dia mengulangi hal yang sama lagi mungkin Alana akan benar-benar memukulnya saat itu juga.
Obrolan itu selesai begitu saja, diakhiri Alana yang mengangguk puas. Setelahnya mereka kembali pada kegiatan masing-masing. Alana dan agendanya mengagumi tokoh fiksi, dan Ananta yang belajar sambil tersenyum penuh arti.