Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
dua puluh. berita duka


__ADS_3

Bahkan sampai minggu pagi Alana masih kesal karena Ananta masih tidak mengirim pesan padanya sama sekali. Arkan juga tidak menjawab puluhan pesan berisi pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tentang Ananta.


Dengan tekad bulat akhirnya dia memilih pulang ke rumah. Pergi meninggalkan dua anak laki-laki yang masih tetap merahasiakan sesuatu darinya.


Pagi-pagi sekali Alana menerima pesan dari arkan lagi tentang jadwal kegiatan club drama hari ini. Alana tidak membalas, bahkan hanya membaca lewat notifikasi yang muncul saja.


Dia sedikit kesal pada arkan yang tidak memberitahunya apapun tentang Ananta. Karenanya Alana masih tidak mau bicara pada arkan. Terlebih lagi Ananta yang masih tidak bisa dia temui membuatnya lebih kesal lagi.


"Ya sudah kalau tidak mau bertemu aku. Aku nggak akan maksa kamu Ta." ucapnya pada layar handphone yang menampakkan pesannya untuk Ananta yang tidak dibaca satupun. Entah kemana perginya laki-laki yang biasanya selalu ada di dekatnya itu.


Alana mendengus kesal merasakan frustasi karena sikap Ananta yang seolah kabur darinya itu. Biasanya saat hal ini terjadi, artinya Ananta sudah melakukan kesalahan atau dalam kondisi yang tidak baik. Dan Alana berharap hal yang terjadi bukan kemungkinan kedua. Dia mengambil handphone sekali lagi dan menelfon ayahnya.


"Ayah. Ananta nggak kenapa-napa kan?" Tanya Alana penuh dengan perasaan khawatir. Rasa khawatir dihatinya sedikit berkurang saat ayahnya menjelaskan dengan sedikit detail kalau pemeriksaan terakhir dengan Ananta hasilnya baik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau begini, pasti Ananta menjauh karena alasan pertama kan, pikir Alana yang lebih kepada menenangkan hatinya sendiri.


Alana menghela nafas panjang sebelum mengemasi satu setel baju dalam tas kecilnya. Dia lalu segera mandi dan bersiap pulang hari minggu pagi. Pergi menjauh dari Ananta yang juga sedang menjauhinya.


Alana pikir, dengan pulang ke rumah dia akan sedikit lebih tenang dan bisa memikirkan apa yang akan dia lakukan pada Ananta nantinya. Yah setelah kepalanya dingin, dia akan memutuskan cara untuk menghadapi Ananta lagi. Sekarang dia harus tenang dulu, putusnya.


Alana pulang dengan bus, menempuh perjalanan yang cukup panjang. Alana berangkat pagi-pagi karena perasaannya yang terus berkecamuk membuatnya ingin segera pulang untuk mencari ketenangan meski hanya sebentar.

__ADS_1


Sampai di rumah, ayahnya menatap kaget karena Alana sama sekali tidak mengabari bahwa dia akan pulang. Dari telfonnya pagi ini Alana hanya menanyakan kondisi Ananta saja. Lain halnya dengan sang ibu yang menyambutnya dengan senyum cerah, memeluknya sebentar sebelum membawanya duduk di ruang makan. Ibunya terlihat bahagia karena di hari yang tidak sesibuk biasanya, dia akan ditemani oleh anak kesayangannya yang jarang pulang itu.


Baru beberapa bulan pindah ke asrama tapi rasanya dia sudah sangat merindukan putrinya itu. Sejak dekat dengan Ananta, keduanya jarang memiliki waktu berdua. Apalagi, Alana lebih dekat dengan sang ayah dibandingkan dengan ibunya.


"Tumben pulang" Sapa sang ayah yang masih keheranan.


"Kenapa... Memang Alana nggak boleh pulang?" Ucap Alana sedikit meninggikan nada suaranya, tidak bisa menutupi moodnya yang buruk selama beberapa saat sebelum kembali tersenyum menatap ibunya.


"Jangan gitu ayah... Ibu kan kangen banget sama Alana..." Jawab sang ibu dengan lembut, dia sudah menyiapkan banyak makanan di meja. Alana sampai di rumah saat jam sarapan, tepat setelah ibunya selesai memasak.


"Lain kali harus sering-sering pulang Na, kan tiap hari minggu libur. Bisa keluar dari asrama." Ucap sang ibu kembali memberikan perhatian penuh pada Alana. Tangannya yang cekatan mengambilkan nasi untuk anak perempuan satu-satunya itu.


"Iya..." Jawab Alana dengan patuh mengambil piring nasi dari ibunya.


"Oh iya, Alana... Kemarin ayah lihat kamu enggak ikut ke rumah sakit ya?" Ucap sang ayah dengan santai sambil mengunyah makanannya. Alana yang tidak tahu apa-apa mengerutkan dahi mendengarnya.


"Hmm? rumah sakit?. Ada apa yah?"


"Itu, teman kamu sama Ananta yang sering ketemu di rumah sakit dulu, dia meninggal." Jawab sang ayah dengan nada yang merendah di kalimat terakhir. Berita buruk meski dikatakan berapa kali pun selalu menciptakan suasana muram setelahnya. Makanya dia merendahkan suaranya supaya tidak terlalu merusak suasana menyenangkan yang tercipta barusan.

__ADS_1


"Teman Alana?" Tanya Alana lagi belum menemukan siapa yang dimaksud oleh ayahnya. Tidak banyak anak-anak yang dia temui di rumah sakit. Tapi tetap saja banyak orang dan kemungkinan yang bisa terjadi. Alana berharap dia bukan orang yang muncul di kepalanya saat ini.


"Iya... Tapi lebih dekatnya sama Ananta sih." Mata Alana melebar mendengar nama Ananta. Pikirannya telah membayangkan banyak hal mendahului penjelasan dari ayahnya.


"Namanya Fio, dulu sering ngobrol dan dekat sama Ananta. Mereka juga di rawat di ruangan yang sama." Mata Alana melebar lagi setelah mendengar ayahnya menyebut nama perempuan yang baru dia temui beberapa minggu lalu. Padahal saat bertemu perempuan itu terlihat baik-baik saja.


Dia si orang ketiga... Orang yang menurutnya sangat berharga buat Ananta sampai-sampai sering membuatnya cemburu, bahkan sejak mereka kecil. Pikirannya membawa Alana menerka tentang penyebab Ananta tidak bisa ditemui akhir-akhir ini. Dia sudah menebak kalau berita duka ini ikut andil dalam membuat Ananta menjauhinya beberapa hari ini.


"Kemarin Ananta ke rumah sakit, ikut menemani keluarga sampai Fio dipulangkan ke rumahnya. Ayah pikir kamu sudah tahu" Lanjut ayah Alana mengamati raut muka anaknya yang kini terlihat terkejut. Dahinya mengerut seperti sedang berfikir keras. Apa dirinya mengatakan hal yang seharusnya tidak di dengar Alana? Batinnya mulai bertanya-tanya.


"Ibu, Alana enggak jadi liburan di rumah ya... Alana mau pulang ke asrama lagi" Ucap Alana buru-buru, setelah terdiam beberapa saat, kini tangannya sibuk menyiapkan nasi ke mulutnya. Berusaha secepat mungkin menghabiskan nasi di piringnya sebelum mengambil tas yang baru beberapa saat lalu dia letakkan di kursi.


"Kenapa Alana. Kok Panik" Tanya ayahnya penasaran dengan respon aneh Alana yang buru-buru mengemasi barang-barangnya lagi. Dia takut sikap Alana begitu karena hal buruk sedang terjadi.


"Ananta... aku harus ketemu Ananta hari ini" Panik Alana tidak menjawab pertanyaan dari ayahnya. Alana justru segera berpamitan pada ayah dan ibunya setelah menghabiskan sarapan.


"Alana sayang..." Panggil sang ibu menahan Alana sebelum keluar dari rumahnya.


"Kalau ada apa-apa cerita sama ibu ya..." Sang ibu menatap Alana penuh arti. Dia memandang anak kecil yang sama dengan Alana beberapa tahun lalu. Kekhawatiran di dadanya masih sama, Alana tetap si anak kecil yang tidak pernah berhenti dia khawatirkan.

__ADS_1


"Iya, nanti Alana telfon" Jawab Alana buru-buru melempar senyum singkat sebelum berbalik pergi dan menempuh perjalanan panjang sekali lagi untuk mencari Ananta.


***


__ADS_2