Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
lima puluh empat. Kembali ke sekolah


__ADS_3

Pagi ini Alana lebih ceria dari biasanya. Perasaannya membaik sejak kemarin. Dia sudah tidak lagi marah-marah tidak jelas. Kegiatannya berganti memandangi bunga pemberian Ananta yang dia letakkan dan vas sederhana di kamar asrama. Dia bahkan terpikir ingin mengawetkannya, supaya bunga yang mudah kayu itu bisa dia simpan lebih lama. Oh mungkin dia harus membeli resin atau semacamnya. Benda yang sangat langka di dapat itu harus mendapat apresiasi sebesar mungkin, karena dia tidak tahu kapan si pemberi akan terpikir untuk membelikannya lagi, atau lebih buruknya benda ini bisa jadi dia Terima terakhir kali. Karena Ananta memang se- tidak romantis itu.


Selesai mengagumi bunganya, Alana pergi ke asrama laki-laki yang berjarak agak jauh dari asrama perempuan. Ananta bilang dia sudah membawa barang-barang dan tinggal di tempat itu lagi sejak kemarin. Padahal sebelumnya Alana benar-benar mendengar kalau Ananta baru boleh kembali ke sekolah tiga minggu lagi. Tapi ya sudahlah, dia sudah bertanya pada ayahnya kemarin. Ayahnya hanya bilang untuk ekstra menjaga Ananta di dua minggu pertama, setelah itu seharusnya Ananta sudah baik-baik saja.


"Hai... pagi." sapa Ananta tersenyum sangat lebar. Sesenang itu bisa sekolah lagi?


"Ceria sekali. tunggu sampai kamu dapat banyak tugas-tugas yang menumpuk lalu kamu tidak akan sesenang ini" ucap Alana. Waktu kembalinya Ananta ini agak tidak tepat, semester hampir berakhir, banyak tugas proyek yang harus diselesaikan belum lagi berdekatan dengan waktu ujian pula.


"Tidak apa-apa. Aku tetap senang asal bisa melihatmu." ucapnya lagi. pipi Alana rasanya bertambah hangat, ada apa dengan kalimat manis itu?


"kamu beneran nggak apa-apa masuk hari ini?" tanya alana memastikan sekali lagi. Memang sudah agak lama pasca operasi, tapi rasanya seperti baru kemarin untuk alana. Jadinya dia mulai khawatir berlebihan.


"iya, nggak ada yang sakit kok. Asal dekat kamu, bisa lihat kamu aku nggak akan kenapa-napa" ucap Ananta setelah mengangguk mantap. Entah, bersikap manis menjadi favoritnya sekarang. Dia suka membuat alana tersenyum.


"Mana ada. Kalau sakit akan tetap sakit meskipun melihatku" balas alana, sepertinya ada yang mengotak-atik otak Ananta kemarin. Karena perilakunya yang manis ini sangat bukan Ananta. Ananta yang suka mengejeknya itu hilang kemana? kenapa menjadi seperti ini. Alana memicingkan matanya, mengamati Ananta lekat-lekat.


"kenapa melihatku begitu? kita harus berangkat biar nggak terlambat" ucap Ananta menyadarkan Alana kalau sedari tadi mereka tidak bergerak sedikitpun. Akhirnya keduanya berangkat ke sekolah juga, berjalan bersama sebelum kembali ke kelas masing-masing, saling berjanji untuk bertemu lagi di jam istirahat.

__ADS_1


"kalau ada apa-apa harus langsung beritahu aku. awas saja kalau kejadian yang dulu-dulu terulang aku tidak akan mau bicara sama kamu lagi." ancam alana, terdengar agak serius karena sudah terlalu sering ditinggalkan sendirian tanpa tahu apa-apa. Tiba-tiba saja dengar kabar kalau keadaan Ananta memburuk. Alana tidak mau mengulang perasaan yang sama lagi.


"iya janji. Handphone selalu on, nomor Alana paling atas, paling pertama dapat kabar apapun. sudah cukup kan" ucap Ananta cukup meyakinkan. Dia baru saja merasakan tidak bicara dengan Alana selama satu minggu, dan dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuatnya mengalaminya lagi. Ananta sudah kapok.


"oke. aku percaya. aku ke kelas duluan" ucap Alana akhirnya benar-benar pergi ke arah berbeda.


Mungkin akan terdengar agak lebay, tapi berpisah dari Ananta itu selalu membuat waktu di benak Alana terasa berjalan lebih lama. Alana tidak peduli dengan penjelasan-penjelasan panjang guru tentang materi di papan tulis, pikirannya hanya di isi dengan mengkhawatirkan Ananta. Alana hanya memperhatikan sebentar untuk menulis tugas-tugas wajibnya saja, selain itu dia tinggal melamun atau melirik ke arah handphonenya di laci meja.


Andai ada arkan mungkin dia bisa lebih tenang, karena tahu ada yang menjaga Ananta kalau sesuatu terjadi. Tapi sekarang, tidak ada lagi teman dekat yang bisa dia andalkan. Atau haruskah dia berteman dengan teman kelas Ananta? ah tidak. itu berlebihan.


Begitu bel istirahat berbunyi Alana langsung pergi ke kelas Ananta, membuat laki-laki itu tersenyum senang karena Alana se peduli itu padanya. Mereka pergi ke kantin bersama, kembali menjadi pasangan posesif yang kemana-mana selalu berdua.


"Hai ta... udah beneran sehat nih?" tambah rara ikut bertanya. Bagaimana tidak heboh, manusia ini menghilang dan di rawat di rumah sakit selama berminggu-minggu. Saat sampai di kelas pagi ini saja semua teman kelasnya mengerubungi Ananta untuk menanyakan keadaannya, apalagi mereka berdua yang sudah jadi teman dekat.


"iya... selesai operasi rasanya seperti terlahir lagi. disini terasa agak lebih baik." balas Ananta menyentuh dadanya yang masih memiliki bekas operasi itu.


"syukurlah kalau kamu baik-baik aja. kamu harus baik-baik saja. karena kalau kamu kenapa-kenapa tuh Alana jadi agak menyeramkan." ucap rara dengan nadanya yang santai tapi tetap terdengar agak memancing emosi. Walau itu memang kenyataan.

__ADS_1


"setuju. baru kemarin-kemarin ini aku tahu kalau Alana punya mode macan. si imut jadi garang gitu, sebel" tambah Gea mengeluhkan bagaimana mereka berdua selalu ikut terkena imbas setiap kali hubungan Ananta dan Alana sedang tidak baik.


"heh, aku dengar tahu" ucap Alana. Mau marah, tapi dua manusia ini juga sahabat baiknya yang selalu setia menghiburnya, jadi dia tidak bisa marah.


"tuh Ta... mode macannya sering muncul deh. Tahu cara jinakinnya nggak" lanjut Gea tanpa ragu. Lagipula yang dibicarakan sekarang malah asyik memakan bakso yang baru datang. Alana akan menjadi agak tidak peduli dengan sekitarnya kalau sudah berhadapan dengan makanan.


"kalau mau Alana berhenti marah itu sebenarnya gampang kalau marahnya mode biasa. kalau mode luar biasa, aku juga nggak tahu harus bagaimana" jawab Ananta. Yah, dia sudah mengenal Alana bertahun-tahun. Jadi wajar kalau dia tahu banyak tentang Alana.


Yang agak tidak wajar itu membicarakan seseorang yang juga duduk bersama di satu meja. Tapi Alana tidak banyak menanggapi, dia hanya mendengarkan dengan tenang.


"hummm. gimana ta?" kali ini rara yang bertanya.


"bisa kasih dia camilan, atau yang paling ampuh itu es krim. Mood nya bakal langsung baik kalau sudah dapat es krim." ucap Ananta menjelaskan. Dia berkata dengan pelan seolah sedang mengatakan informasi penting.


"hmm benar juga sih. Kemarin juga begitu kan. Apalagi kalau sudah ketemu matcha. Dari mode macan berubah deh jadi manusia." Mereka tertawa mendengar cara Gea bicara. Intonasinya terdengar lucu.


Sebenarnya mereka agak salah. Suasana hati alana bisa membaik itu kalau sudah melihat orang-orang di sekitarnya bersikap manis, apalagi tersenyum atau tertawa.Yah walau kadang itu tidak berhasil juga sih.

__ADS_1


Alana menghela nafas panjang setelah perutnya terasa kenyang. Semester ini rasanya panjang sekali bagi Alana, karena sebagian besarnya diisi dengan masalah-masalah. Meski di antaranya juga alana bertemu orang-orang baru. Beruntung dia mengejar Ananta sampai ke sekolah ini. Dia jadi bisa bertemu Gea, Rara, dan Arkan bella. Jadi tempatnya bercerita bertambah satu selain ibunya dan Ananta.


__ADS_2