Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
tiga puluh tiga. sesal


__ADS_3

Tiga hari berlalu sejak hari itu, hari ketika kabar yang entah baik atau buruk itu dikatakan oleh ayah Alana sendiri. Alana masih berfokus pada Ananta. Menunggunya setiap hari karena keadaannya seperti terus menurun hari demi hari. Dia merasakan kesakitan yang lebih sering dari sebelumnya, membuat Alana seperti merasakan sakit yang sama setiap dia melihat Ananta.


Bella juga sering memberi kabar tentang kondisi Arkan yang kian membaik. Mereka saling bersimpati satu sama lain. Memberikan semangat yang entah berguna atau tidak.


Diam-diam Alana semakin putus asa saja rasanya. Ayahnya bilang, tidak ada jalan lain selain donor jantung mengingat keadaan jantung Ananta yang semakin lemah. Padahal, ia masih harus berdetak lebih lama. Janji yang mereka buat masih belum terpenuhi. Meski janji adalah buatan manusia yang belum pasti terjadi, Alana sungguh sangat ingin mewujudkannya.


"Na, keadaan Arkan gimana sekarang?" tanya Ananta tiba-tiba. Dia masih tidak bisa meninggalkan ruangannya, karena itu dia juga belum bisa menjenguk Arkan. Alana menatap Ananta dengan sedikit kesal. Dia harusnya menanyakan apa dirinya sedang baik-baik saja lebih dulu sebelum menanyakan keadaan orang lain. Tapi karena Arkan dalam kondisi memprihatinkan juga dia mencoba mengerti. Alana lanjut menjawab Ananta.


"kata Bella dia udah bisa makan sedikit-sedikit, masih proses pemulihan karena beberapa tulangnya ada yang patah. Sama... dia masih agak kesulitan bicara. Untungnya dia tidak ada drama lupa ingatan. Kalau sampai ada aku pasti langsung memukulnya setelah sadar. Bella sudah menunggunya setiap hari tahu." ucap Alana panjang lebar. Meski beberapa kali suaranya merendah karena simpati, tapi dia masih terdengar senang, karena keadaan Arkan tidak seburuk yang dia kira.


"hummm. kok kata Bella terus, kamu belum pernah jenguk dia langsung?" tanya Ananta membuat Alana terdiam beberapa lama. Memang. Alana masih belum bisa bertemu Arkan. Rasa bersalah masih menderanya setiap kali dia memikirkan tentang bertemu Arkan.


"jengukin dia dong Na..." ucap Ananta agak keras. Sudah pasti itu paksaan.


"nanti siang ke sana ya..." lanjutnya. Dia harus memaksa Alana tentang ini. Bagaimanapun, Alana masih terlihat menyalahkan dirinya sendiri tentang apa yang terjadi.

__ADS_1


"huft, iyaa" jawab Alana dengan berat hati. Dia masih ragu. Meski Arkan tidak tahu apa-apa, tapi ingatannya tentang dia yang ingin hal buruk terjadi pada Arkan masih sangat jelas di kepalanya. Dia takut, bertemu Arkan akan membuat rasa bersalahnya menjadi semakin parah.


"Sekalipun Arkan tahu semuanya, dia nggak akan nyalahin kamu. Karena keadaannya memang begitu. Dia itu pengertian tahu." lanjut Ananta mencoba menenangkan Alana. Alana mengangguk pelan, ya... dia memang harus mengatasi ini sendirian.


"iya iya. aku tahu." jawab Alana dalam nada rendah. Yah, dia kalah... dia selalu kalah kalau sudah bicara tentang Ananta dan permintaannya.


...****************...


Alana menunggu agak lama di depan pintu, Arkan sudah dipindahkan ke ruang rawat pribadi. Alana masih dihantui rasa bersalah yang lebih besar membuatnya tidak berani masuk meski dia juga sangat ingin melihat langsung keadaan Arkan sekarang.


"terimakasih sudah datang." ucap Bella dengan senyum cerah.


"Hai... maaf aku tidak membawa apa-apa. Aku barusan dari ruangan Ananta." Ucap Alana sedikit kaku. Dia merasa seperti orang asing, padahal dua orang di depannya itu sebelumnya sudah sangat dekat hingga seperti saudara.


"tidak apa-apa kak. Kakak datang aja aku udah seneng banget. Arkan. Kak Alana yang kasih semangat sama nemenin aku sejak awal. Kamu harus berterimakasih sama Alana." ucapnya tersenyum begitu lebar. Bella sungguh membanggakan Alana di depan Arkan, menyanjungnya seolah Alana adalah malaikat penolongnya saat keadaannya hampir putus asa.

__ADS_1


Arkan mengangguk lemah, meski sudah sangat membaik dia belum benar-benar pulih. Perlu waktu untuk dia kembali ke keadaannya yang semula.


"syukurlah, kamu sudah bangun" Ucap Alana, dia tulus mengatakannya. Meski sesuatu masih mengganjal di hatinya.


"meskipun sudah bangun tapi proses pemulihannya masih akan memakan waktu yang lama... padahal kejadiannya begitu cepat, tapi efeknya selama itu." ucap Bella sedikit kesal, Lagi-lagi dia mengungkit kecelakaan yang terjadi pada Arkan. Sungguh, semua terasa seperti mimpi saja. Tapi setiap kali melihat luka di tubuh Arkan dia kembali yakin kalau semua itu kenyataan.


"namanya juga musibah, harus dihadapi dengan banyak-banyak bersabar." ucap Alana sudah seperti ustadzah dalam sebuah pengajian. Dia tersenyum tipis ke arah Arkan yang terbaring dengan penuh perban. Untungnya wajah Arkan itu tidak banyak luka, jadi masih sedikit enak dipandang, tapi perban di kepalanya membuat semua orang yang melihat merasakan nyeri imajiner di kepala mereka masing-masing.


"Na..." Arkan mencoba berbicara meski lehernya masih terasa sakit setiap dia membuka mulut. Bella mendekatkan tubuhnya pada Arkan mencoba mendengar dengan lebih jelas supaya Arkan tidak perlu bicara keras-keras. Alana ikut mendekat saat mendengar namanya dipanggil.


"Ananta bagaimana?" ucapnya lagi sedikit terbata. Jelas sekali dia belum bisa bicara dengan lancar, tapi pertanyaan pertamanya adalah bagaimana Ananta. Sungguh, perasaan Alana berantakan sekarang. Bagaimana bisa dia berpikiran buruk untuk orang sebaik Arkan. Tak terasa air mata menetes di pipinya, bibirnya masih mencoba tersenyum membuat ekspresi yang kontras dengan air matanya sekarang.


"Ananta baik-baik saja. Kamu harus cepat pulih biar bisa menengoknya sendiri." ucap Alana dengan suaranya yang parau. Suaranya yang lembut hilang entah kemana setiap kali menangis. Bella mengelus punggung Alana yang masih sibuk mengusap air matanya sendiri. Dia sedikit heran, Kenapa Alana menangis. Memang keadaan Ananta sangat parah sekarang?.


Dia sendiri sering bertanya pada Alana tentang keadaan Ananta, tapi sejauh yang dia tahu Alana selalu bilang kalau Ananta baik-baik saja, sudah membaik, atau kalimat apapun yang seperti penghiburan. Tapi dia sendiri jarang bisa menjenguk Ananta langsung. Disini dia juga sibuk merawat Arkan, kondisinya sekarang tidak bisa sering ditinggal. Waktu istirahatnya yang biasa hanya sempat dipakai untuk makan, mandi, sudah. Itu saja. selebihnya dia selalu ada di samping Arkan. Karena itu keduanya maklum kalau mereka tidak bisa sering menjenguk satu sama lain. Meski Bella merasa aneh karena sebelumnya Alana tidak pernah datang sama sekali dalam tiga hari ini.

__ADS_1


"syukurlah" ucap Arkan lagi ikut tersenyum sebelum meringis kesakitan sekali lagi. Dasar. Arkan segitu sayangnya dengan Ananta ya? Alana baru tahu sekarang. Pertemanan antar laki-laki itu ternyata sangat menakjubkan. Alana mengembuskan nafasnya dengan kasar mengeluarkan sedikit perasaan kesal di dadanya.


__ADS_2