
Alana kembali ke kamarnya di asrama menjelang malam. Baru setelah Alana benar-benar rela meninggalkan Ananta bersama arkan.
Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menghela nafas lega karena semua terasa membaik hari ini. Beban di dadanya sejak beberapa hari lalu seolah menghilang begitu saja. Begitu besar ternyata pengaruh Ananta dalam hidupnya. Ya, Ananta memang orang yang berharga untuknya.
'Awas saja kalau dia berpikiran aneh lagi.' Pikirnya masih sedikit gemas dengan Ananta.
Baru sebentar menikmati sunyi dia teringat ada beberapa pesan yang membuat handphone nya bergetar beberapa kali. Alana baru bisa membacanya satu-satu sekarang setelah semuanya kembali tenang.
"Alana, Ananta kenapa." Yang paling atas itu ayahnya, orang kedua yang akan khawatir dengan kondisi Ananta.
"Hanya sedikit berduka tentang kepergian kak Fia yah. Ananta sudah membaik kok sekarang." Balasnya untuk menenangkan ayahnya itu. Terkadang, rasanya Alana menjadi anak kedua dalam keluarganya. Karena yang pertama diperhatikan oleh ayahnya selalu Ananta. Alana tidak pernah protes tentang hal itu, karena posisinya juga sama. Ananta segalanya.
Pesan kedua dari Gea yang sempat ia tanyai tentang keberadaan arkan. Perempuan mamba itu justru memikirkan hal yang berbeda.
"Alana, Ananta kenapaaaaa. Selingkuh? Putus? Kenapa... Kok Panik gitu. Ayo dong. Pasangan favoritku jangan musuhan. Baikan yaaa" Serbu Gea dalam satu pesan panjang. Terkaannya meleset sama sekali.
Yah, seperti sebelumnya. Orang-orang hanya akan tahu Alana dan Ananta adalah pasangan. Tanpa tahu masalah-masalah yang ada di antara keduanya. Makanya mereka akan mengkhawatirkan hal-hal yang Alana sendiri berharap permasalahannya sesepele itu.
"Enggak Ge... Aku sama Ananta udah baik-baik aja kok." Balas Alana meski sudah 2 jam terlambat. Tapi diluar dugaannya Gea membalas dengan cepat.
"Berarti sebelumnya kenapa-napa dong... Kenapaaa..." Balas Gea masih khawatir. Alana belum menjawab pertanyaannya.
"Masalah tentang seseorang dari masa lalu. Tapi sekarang udah enggak apa apa kok." Jawab Alana. Alana ragu mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak terbiasa memberitakan berita duka seperti ini. Apalagi Gea tidak mengenal kak fia juga.
"Ya udah, baik-baik ya kalian... May luv" Balas Gea lagi dengan kalimat yang lebih cocok dikatakan oleh orang tua pada anaknya. Alana hanya tersenyum lalu mengirimkan emoticon senyum dan gambar cinta yang paling besar. Senang rasanya jika ada orang yang mendukung hubungannya dengan tulus.
***
Keesokan harinya Alana sudah berdiri di depan asrama Ananta. Mengabaikan tatapan penasaran dari anak-anak lain tentang kehadiran perempuan di asrama mereka.
Alana menatap ceria begitu melihat Ananta muncul di pintu asrama. Dia berlari kecil sebelum menyisipkan tangannya di lengan kiri Ananta, untuk menggandengnya ke sekolah.
__ADS_1
"Pagiii" Sapanya mengabaikan tatapan jengah arkan yang berdiri disamping mereka. Ananta menatap lelah keduanya. Apalagi saat arkan ikut menyisipkan tangan di lengan kiri. Dia merasa seperti tahanan yang akan masuk ke dalam penjara. Tapi dirinya hanya bisa pasrah. Karena respon mereka ini cukup wajar setelah melihat kondisinya kemarin.
"Yuk." Ucap Alana dan arkan kompak sebelum membawa Ananta pergi ke sekolah.
"Nanti harus kumpul ke kantin pas udah istirahat" Ucap Alana tegas saat melepas Ananta ke kelas yang berbeda dengannya. Ananta hanya mengangguk dengan senyum tipis.
"Janji" Alana mengeluarkan jari kelingkingnya.
"Malu ra, lagi rame" Protes Ananta saat melihat beberapa siswa lain melihat ke Arahnya sambil tertawa. Tanpa peduli hal itu Alana mengambil tangan Ananta lalu menautkan kelingking Ananta padanya.
"Udah." Alana tersenyum puas melihat Ananta berusaha menutupi mukanya saat dia menautkan jari kelingking.
"Arkan jagain dia ya." Alana menitipkan Ananta pada arkan. Kali ini dengan serius. Baru setelahnya Alana melambaikan tangan untuk pergi ke kelasnya sendiri.
Andai mereka satu kelas, pasti Alana sudah menempeli Ananta lebih dari ini.
***
Alana meletakkan roti ke atas meja. Roti yang sama dengan yang Ananta berikan kemarin saat dia tidak pergi ke kantin. Diam-diam dia melempar senyum penuh arti pada Ananta.
"Iya iya. Berisik" Marah Alana segera pergi lagi untuk memesan tiga mangkok bakso dan tiga es jeruk untuk makan siang mereka sebelum kembali bergabung ke tempat Ananta duduk.
"Ta... Kamu sabtu besok Olimpiade nya?" Alana menanyakan agenda yang sempat Ananta abaikan beberapa hari itu. Walaupun seperti tidak peduli sama sekali, Ananta masih tertulis sebagai peserta di lomba tingkat nasional itu.
"Hmm iya." Jawab Ananta singkat. Setelah ini dia akan mengejar ketertinggalan dengan belajar intens lagi.
"Menang atau kalah, aku tetap cinta sama kamu ya. Enggak usah berjuang keras-keras." Ucap Alana tanpa malu lagi membicarakan cintanya di tempat umum. Dia tidak mau ada permasalahan tentang hal itu di hati Ananta.
"Buset bar-bar sekali anda. Untung pacarku enggak begitu." Sahut arkan mengomentari tingkah Alana yang terlalu berani untuk ukuran perempuan.
"Hush diam. Kamu tuh enggak di ajak ngobrol" Marah Alana. Ananta hanya mengambil nafas dalam sambil mengusap dada mendengar ocehan keduanya.
__ADS_1
Bagaimanapun, jika sudah memilih melakukan sesuatu Ananta selalu melakukan yang terbaik yang dia bisa. Meski begitu dia hanya mengiyakan ucapan Alana supaya perempuan itu tenang.
Dia sangat berterimakasih sebenarnya, dengan sikap Alana yang menempelinya lagi tanpa banyak berkomentar tentang apa yang dia ungkapkan kemarin. Hal itu membuatnya nyaman dan merasa baik-baik saja meski sudah ketahuan menangis di depan Alana.
"Eh setelah selesai lomba, mau jalan-jalan?" Ucap arkan di sela candaan mereka. Dia hanya berucap biasa tanpa tahu kalimat itu akan mengundang tatapan berbinar dari seorang Alana.
"Ayo" Balas Alana dengan penuh semangat. Ananta menatap lelah dengan kedua makhluk yang ternyata sefrekuensi jika membicarakan tentang bersenang-senang.
"Eh tapi aku enggak mau ya... Kalau kita cuma bertiga." Ucap arkan lagi. Dia sudah membayangkan betapa mengerikannya ikut dalam jalan-jalan romantis dan menjadi orang ketiga di antara Alana dan Ananta. Dia menggeleng beberapa kali untuk menghentikan bayangan mengerikan itu.
"Jadi? Enggak ikut?" Tanya Alana dengan nada sedikit kecewa. Sangat sedikit, karena sekalipun jalan berdua saja kalau bersama Ananta pasti akan tetap menyenangkan.
"Enggak-enggak. Selama arkan bisa mengganggu Alana dan Ananta, arkan pasti ikut" Ucapnya dengan kalimat yang membuat Alana sedikit geli mendengarnya.
"Terus? Maunya apa?" Tanya Alana lagi.
"Aku ajak pacarku, kamu ajak Ananta." Ucap arkan final. Hal itu dibalas dengan tatapan tidak percaya dari Alana.
"Wah. Arkan beneran punya pacar?" Sekali lagi mata Alana berbinar mendengar hal yang sempat ia ragukan. Dari apa yang Alana lihat, sangat tidak meyakinkan rasanya kalau seorang arkan bisa setia dengan satu orang.
"Harus kubilang beberapa kali ha biar kamu yakin" Balas arkan sedikit emosi. Ananta saja bisa cepat percaya tapi perempuan di depannya ini justru meragukannya terus terusan.
"Oke, kalau begitu kita pergi berempat." Ucap Alana mengalihkan pandangannya pada Ananta yang sedang memaksakan senyum.
"Aku belum bilang setuju" Ucap Ananta akhirnya angkat bicara.
"Harus." Ucap arkan dan Alana dengan tegas, menatap Ananta bersamaan.
Yah. Dua orang ini sangat kompak dalam hal-hal aneh dan seru.
Rencana itu sudah diputuskan oleh ketiganya. Ananta hanya bisa mengikuti karena dia tidak punya pilihan lain lagi. Lagipula dia tahu, mungkin rencana ini termasuk misi Alana untuk menghiburnya.
__ADS_1
***
See you again (っ'-')╮\=͟͟͞͞💌