
Ananta itu tidak romantis, juga tidak pintar berkata-kata yang manis. Meski begitu Alana masih tetap suka. Bahkan saat dalam keadaan terpuruk pun perasaannya masih sama. Mungkin mencintai seseorang memang bisa tanpa syarat seperti ini. Hanya dengan menghargai perasaan mereka, mereka akan bertahan mencintaimu selamanya. Kalau klisenya mungkin disebut sudah ditakdirkan bersama, jadi mau bagaimana pun tidak akan bisa dipisahkan.
Perasaan Alana tetap sama meski dia masih kesal dan tidak mau menghubungi Ananta lagi setelah menelpon kemarin. Dia masih menanyakan kabar Ananta sesekali melalui ibunya, demi tekadnya untuk marah Dia jadi tidak bisa bebas menghubungi Ananta seperti biasanya. Dia jadi merepotkan orang lain gara-gara Ananta, pokoknya ini salah Ananta.
Sejak hari itu, sudah satu minggu berlalu. Alana masih tidak menghubungi Ananta sama sekali, begitu juga sebaliknya. Entah, mungkin Ananta lupa kalau dia punya pacar sampai-sampai tidak mau mengirim pesan atau menelepon sama sekali.
Hari minggu Alana masih hadir di club dengan raut wajah yang sama. Gea sampai membawakan kue mochi dan es matcha untuk menyogok Alana, memaksanya tersenyum meski hanya berhasil sebentar. Jadilah mereka makan bersama saat waktu istirahat dimulai.
"gimana na?" tanya Rara, memulai percakapan meski sekali lihat saja dia tahu Alana masih malas berbicara. Kejadian Ananta mengangkat telpon Gea itu sudah agak lama, tapi sepertinya Alana masih belum berhenti marah. Setiap kali di tanya dia akan melengos, membuat Rara mengurungkan niatnya lalu mencoba lagi keesokan hari.
dan kalau dihitung-hitung, hari ini percobaan ke enam nya untuk bertanya. Huft, repot sekali kalau orang yang punya tekad paling kuat dibuat marah begini. Rayuan seperti apapun tidak akan berhasil kalau belum yang membuat marah meminta maaf langsung.
"apa? dia tidak ada inisiatif menghubungi duluan sama sekali. Sepertinya dia memang sudah tidak peduli lagi." ucap Alana. Tangannya masih memegang mochi, tapi dia sudah tidak berselera makan lagi.
"sudah. Tunggu saja. Nanti dia pasti datang sendiri. Aku yakin Ananta nggak akan tahan lama-lama berjauhan." Gea berusaha menenangkan suasana, meski tahu usahanya akan sia-sia saja.
"Alana mau makan apa lagi? nanti aku belikan" tambah Gea. Sepertinya kabur dengan alasan beli makanan jauh lebih baik daripada berdiam diri menerima imbas kemarahan Alana disini.
__ADS_1
"nggak, ini sudah cukup." Alana merasa bersalah, dia sudah merusak suasana sejak pagi. Bahkan disini tidak ada arkan yang mengatur latihan dan menjaga mood kru dan para aktor, masih ditambah dia yang marah-marah tidak jelas.
"maaf ya, gara-gara aku moodnya jadi berantakan." Alana begitu membuat Gea dan Rara tersenyum tipis. Si imut ini masih saja perhatian sekalipun sedang mode macan.
"Nanti jangan pulang dulu. Aku traktir jajan sepuasnya." ucap Gea semangat. Mereka menikmati apa yang ada di depannya hingga habis tak tersisa. Latihan hari ini sedikit menguras tenaga, karena satu bulan lagi ada pertunjukan baru yang harus segera disiapkan. Walah agak berantakan karena ketua tim yang utama tidak sembuh-sembuh. Mungkin Gea harus membuatnya bekerja dari rumah supaya tugasnya tidak terlalu banyak. Ingatkan Gea untuk menyiksa Arkan dengan setumpuk urusan Club sepulang dari sekolah nanti.
Tepat sebelum latihan dimulai lagi Gea sedikit menyingkir untuk membaca pesan singkat dari seseorang. Dia menyerahkan Alana pada Rara sebentar sebelum dia kembali ke kegiatan club.
Pesan itu dari seseorang yang selalu merepotkan, walau anehnya dia juga tidak keberatan di repotkan begini. Dia tersenyum tipis sambil membalasnya dengan pesan singkat juga.
"aku akan mempersiapkan semuanya, kamu tinggal datang." tulisnya sebelum mematikan handphonenya kembali. Dia baru saja akan kembali berkumpul dengan Alana saat seseorang menabrak bahunya dengan sengaja.
"kalian kenapa lagi? sudah mulai akting?" tanya Gea. Mereka memang sedang melatih beberapa ekspresi sekarang, tapi tatapan yang tadi tidak termasuk apa yang dipelajari hari ini. Itu hanya respon otomatis saat mereka berdua melihat hal yang menggemaskan.
"Kamu lihat juga kan na" tanya Rara, keduanya seperti menghakimi Gea sekarang.
"iya. terlalu jelas." balas Alana memicingkan matanya dengan usil. Yah, dia sudah tertulari sifat arkan saat menggodanya dulu.
__ADS_1
"Aku pindah kelompok nih..." ucap Gea sedikit mengancam, walau dia sendiri tidak begitu ingin pisah dari Rara dan Alana bagaimanapun kelakuannya.
"ih... itu dewaaa" Alana akhirnya bicara juga.
"dari tadi cemburu lihat kamu kirim pesan sambil senyum-senyum" lanjut Alana membicarakan laki-laki tinggi yang tadi menabrak Gea tanpa merasa berdosa.
"aku juga, lihat. dengan. jelas." tambah Rara memenggal kata-katanya untuk menunjukkan kegemasannya. Dia juga peka akan hal ini sejak lama, cuma dia tidak mau bicara saja. Lain dengan Alana yang justru menceritakan hal ini pada arkan dan Ananta juga saking gemasnya.
"kalian salah lihat. dia cuma kesal biasa saja" balas Gea. Ada manusia bergender laki-laki yang menyukainya itu menurut Gea sangat tidak mungkin.
"Oke, Rara. Mulai sekarang julukan Gea adalah ratu denial, setuju?" ucap Alana semangat. Rasa kesalnya sejak tadi menguap entah kemana sejak dia melihat pemandangan lucu didepannya. Dia senang sekali bisa melihatnya lagi secara langsung setelah sekian lama tidak mendapat sesuatu yang bisa dipakai untuk menggoda Gea.
"setuju. Lain kali kalo kita lihat lagi harus divideo buat bukti biar ratu denial kita percaya Na." balas Rara melakukan high five dengan Alana di akhir kalimatnya. Mereka ini tiba-tiba kompak sekali kalau untuk masalah seperti ini. Yah, memang pada dasarnya menggoda orang lain itu menyenangkan. Apalagi kalau yang digoda merespon dengan panik seperti Gea barusan.
"huft, untung aku sabar punya teman macam kalian." ucap Gea menyerah. Biarkan saja. Sepertinya usil dan suka menggoda memang bawaan lahir semua orang yang akan kambuh setiap melihat kesempatan. Alana yang tadinya seperti galau berat pun sekarang malah keasyikan membuatnya tidak bisa berkata-kata.
"Ge, dewa liat kamu versi bar-bar aja dia tetap suka, jadi kamu jadi diri sendiri aja nggak apa-apa." lanjut Rara yang masih punya bahan untuk menggoda Gea yang seperti kehabisan energi tiba-tiba.
__ADS_1
"bisa diam nggak? kita masih harus latihan" ucap Gea agak keras yang hanya dibalas tawa puas Alana dan Rara. Ya sudahlah, biar Gea mengorbankan diri. Dengan begini setidaknya mood Alana membaik sebelum dia beri kejutan nanti.