Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
enam puluh enam. kembalinya Arkan


__ADS_3

Hari ini, tidak begitu dinantikan oleh Alana. Sekolah itu masih tidak menyenangkan. Bagian yang dia suka hanya saat ekskul drama, dan bertemu Ananta. Tapi mulai hari ini dia harus menjalani semua, lengkap dengan kelas membosankan dan peraturan yang menyebalkan.


"hei. Kenapa lesu begitu?" tanya Ananta. Mereka baru memasuki gerbang sekolah, tapi Alana terlihat seperti sudah menjalani kehidupan paling berat sedunia.


"kenapa kamu harus sekolah lagi sih. kan aku jadi harus ikut sekolah juga gara-gara kamu." celetuk Alana tanpa merasa ada yang salah dari kalimatnya. Yah, sekolah memang tidak pernah ada dalam wish list nya sejak awal. Semua prosesi itu hanya membuang waktu. Baginya lebih menyenangkan sekolah di rumah dengan jadwal yang pendek, jadi setelahnya dia bebas melakukan apa saja. Bersiap menjadi istri Ananta misalnya.


Mengenal Ananta memang membuatnya menghargai setiap detik waktu. Jadi daripada sekolah, dia lebih suka menghabiskan lebih banyak waktu dengan Ananta. Hanya Ananta yang ada dipikirannya sepanjang waktu, jadi dia juga tidak perlu yang lain lagi.


Tapi tentu saja Ananta yang menyebalkan itu tidak punya pikiran serupa. Dia itu hanya tahu belajar. Mendengarnya mengeluh begitu saja dia sudah dijitak meski dengan pelan.


"jangan begitu. kita tetap perlu belajar untuk tahu banyak hal. Kamu butuh mengenal orang lain, pada akhirnya kita tidak bisa hidup sendirian." balas Ananta. Entah kesabaran dari mana yang selalu muncul setiap kali menghadapi Alana. Andai itu orang lain, mungkin dia sudah mengabaikannya.


"Aku sudah punya kamu. Nggak butuh yang lain lagi." balas Alana enteng. Dia selalu berpikir begitu, sepanjang waktu.


'tapi aku tidak selamanya ada na...' pikir Ananta. Kalimat itu tidak bisa terucap sekarang... tidak saat Alana sedang menatapnya dengan senyum cerah.


"tapi kamu senang kan kenal gea, rara, arkan... bahkan bella juga." balas Ananta. Alana mengangguk pelan.


Walau teman bukan segalanya, tapi mereka berharga... mereka yang bisa hadir dalam setiap momen kehidupan bahkan mungkin, ketika Ananta tidak disini lagi mereka yang akan menemani Alana.


"tapi selain mereka, yang lain juga tidak menyenangkan." balas Alana lagi. Ananta hanya bisa berharap orang lain tidak tersinggung mendengar Alana berkata begitu.

__ADS_1


Alana memang sangat jujur dengan pikirannya. Jadi Ananta sudah sangat bersyukur bahwa Alana berteman dengan Gea, rara dan arkan.


Mereka sedang menuju kelas Ananta saat seseorang menyapanya mereka.


"heiii." itu suara arkan! mendengarnya Alana segera berbalik dengan cepat mendapati Arkan yang berjalan pelan dengan tangan kiri yang masih dibalut perban. Jauh lebih cepat dari Ananta yang harusnya lebih akrab dengan teman sekamarnya itu.


"kirain udah di kelas." balas Ananta datar, dia pasti sudah tahu kalau Arkan sudah masuk sekolah. Tapi dia tidak berkata apapun tentang itu.


Alana meliriknya dengan tatapan sinis sebelum kembali mengamati Arkan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sangat serius sampai membuat Arkan seperti ditelanjangi dengan tatapannya.


"kenapa sih na!" ucapnya menatap horor ke arah Alana sambil mencoba menutupi arah pandang Alana di tubuhnya. Kenapa begitu bertemu, temannya ini semakin aneh saja.


"kan... beneran udah boleh sekolah? udah nggak kenapa-kenapa? ada yang sakit? lukanya udah beneran sembuh?" balas Alana. Dari luar tubuh Arkan sudah terlihat baik-baik saja, tapi dia masih merasa khawatir. Apalagi saat dia mengingat, dirinya pernah punya pikiran jahat pada Arkan membuatnya kembali menumpuk perasaan bersalah yang membuatnya khawatir berlebihan seperti sekarang.


"beneran nggak apa-apa na... nggak usah liatin begitu. Pacar mu sana di liatin sepuasnya juga nggak apa-apa." lanjut Arkan saat Alana masih menatap khawatir.


"humph..." Alana melengos pergi ke kelasnya. Yah... Alana agak lupa kalau Arkan yang dulu memang agak menyebalkan. Makannya dia sampai tidak tahu kalau dia itu agak bodoh sedikit.


"kenapa dia?" tanya Arkan pada Ananta yang sedari tadi memperhatikan.


"kaget. soalnya nggak di kasih tahu kalo teman yang satu ini sudah sembuh dan sudah ke sekolah lagi." balas Ananta menjelaskan. Dia berniat memberi kejutan, tapi sepertinya mood Alana malah menjadi agak kurang baik karena kejutannya.

__ADS_1


Sebenarnya Ananta sendiri punya respon yang sama dengan Alana. Hanya, dia sudah merespon begitu saat di asrama, jadi sekarang dia tidak kaget lagi. Ananta menatap Arkan lagi, sedikit tersenyum miring sebelum membantunya berjalan dengan agak berlebihan.


"Tidak perlu membantuku!" teriak Arkan kesal saat Ananta memaksa membantunya saat masuk kelas. Membuat seisi kelas menatapnya khawatir karena mengira dia masih kesulitan berjalan. Padahal sejak tadi dia sudah berjalan normal.


...****************...


Saat jam istirahat makan siang, Alana sudah ada dikantin lebih dulu. Jam sebelumnya dia meminta izin ke kemar mandi sebelum bel berbunyi. Moodnya agak buruk dan dia tidak bisa fokus sama sekali. Hasilnya dia kabur dari kelas dan menunggu di kantin sampai jam istirahat berbunyi.


Dia sudah memesan dia nasi goreng. Menu spesial di kantin mereka. Yah, memasaknya lama jadi akan terlalu mengantri jika memesannya saat jam istirahat.


"wah nasi goreng." ucap Ananta saat menghampiri meja Alana. Alana hanya menunggui dia porsi nasi gorengnya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Arkan tadinya hanya duduk dengan tenang sebelum mulutnya melongo sempurna saat Alana menyodorkan piringnya ke arah arkan.


"Na... aku sudah bilang, aku punya pacar." ucap Arkan lagi. Hanya itu yang bisa dia katakan melihat tingkah aneh Alana hari ini.


"Gea, rara, suka nasi goreng. Jadi harusnya Arkan juga suka" ucap Alana menghiraukan perkataan Arkan. Toh, dia benar-benar tidak sedang meminta Arkan jadi pacarnya. Dia hanya ingin memperlakukan Arkan dengan baik, itu saja.


Arkan hanya diam, mematung di tempatnya. Sesekali menatap horor ke arah Ananta yang bisa saja cemburu karena perlakuan Alana padanya. Namun yang dia khawatirkan itu malah dengan santai mengambil sendok di piringnya.


"yang itu buat Arkan. kamu kan udah makan kemarin." balas Alana merebut sendoknya kembali.


"terus aku makan apa hari ini." balas Ananta putus asa. Alana tidak menyayanginya lagi, setidaknya untuk hari ini.

__ADS_1


"pesan bakso sana!" perintah Alana. Bersamaan dengan itu Ananta bangkit dari kursinya, dengan patuh memesan bakso untuk makan siangnya hari ini.


Alana masih pacarnya kan.....? hatinya bertanya-tanya.


__ADS_2