
Alana kembali ke kamar inap Ananta. Hari sudah hampir malam, sebentar lagi dia akan pamit untuk pulang, karena lagi-lagi dia tidak diperbolehkan menginap.
Ananta yang melihatnya datang melihat bekas mata Alana yang sembab. Dia tahu Alana baru saja menangis. Begitu Alana mendekat dia menarik tangan Alana untuk semakin mengikis jarak di antara mereka. Dia mengusap ke bawah mata Alana yang sembab.
"Kamu nangis?" Tanya Ananta. Dia tahu pertanyaan itu kemungkinan besar tidak akan di jawab, apalagi setelah melihat respon Alana yang menundukkan kepala nya dalam-dalam. Jelas sesuatu sedang mengganggu pikiran nya sekarang. Setelah di tatap lama, Alana akhirnya menggeleng pelan.
"enggak apa-apa kok" jawab Alana, bohong tentu saja. Dia pasti menahan duka lagi. Alana tidak pernah menangis tanpa alasan, seringnya malah dia menangis karena Ananta.
"Kalau ada apa-apa cerita, ya." Ananta berusaha membujuk Alana, dia tahu Alana pasti memendam banyak hal dalam matanya yang sendu.
"Iya, aku pamit dulu ya. Aku kesini lagi besok." Jawab Alana. Yah dia ingin mencari ketenangan sebentar. Pikirannya sibuk memikirkan hal-hal yang tidak bisa dia ceritakan pada Ananta membuat hatinya penuh sesak.
Andai ini masalah yang lain mungkin Alana akan berdiskusi panjang dengan Ananta. Tapi karena ini tentang Ananta, dia hanya bisa diam memendam semuanya.
Alana merebahkan diri di kasur asramanya lagi. Teman sekamarnya sudah tertidur. Dia sengaja berjalan lambat hingga baru sampai di asrama larut malam. Dia baru masuk tepat saat gerbang asramanya hampir ditutup oleh penjaga. Pikirannya lelah, tubuhnya lelah, hatinya lebih lelah lagi.
Matanya menatap langit-langit kamar yang sempat ia hias dengan ornamen bintang yang menyala saat lampu dimatikan. Nyala redup itu menjadi fokus Alana sekarang.
Hening, pikirannya mulai melayang lagi. Tidak pernah istirahat, sebenarnya. Ia terus memikirkan Ananta selama berjalan tadi.
Mungkin lebih baik Ananta tidak tahu sama sekali, dengan begitu Ananta bisa diselamatkan dengan jantung Arkan, kan.
Andai itu mungkin?. Tapi rasanya sangat jahat andai dirinya dan Ananta bahagia di atas pengorbanan Arkan. ah, itu tidak bisa disebut bahagia kalau harus mengorbankan orang lain bukan.
Tapi andai Ananta tidak mendapatkan donornya, berapa lama Ananta bisa bertahan? Kalau ayahnya begitu putus asa untuk membuat Arkan mendonorkan jantungnya, apa itu artinya keadaan Ananta memburuk?. Bolehkah Alana menjadi serakah tentang hidup lebih lama bersama Ananta?.
Argh, andai orang itu bukan Arkan, andai pendonor itu orang yang tidak dia kenal sama sekali, apa semuanya akan terasa berbeda? tetap saja artinya satu orang akan mati untuk menyelamatkan Ananta, meski bukan Arkan. Ah, hal-hal sulit ini kenapa terus ada dalam garis takdir mereka sih. Alana menghembuskan nafas kasar menatap lagi ke langit-langit kamar, kepalanya pusing. Dia mengangkat lengan untuk menutupi matanya, sebentar saja, dia ingin kabur dari dunia untuk masuk dalam gelap yang hening.
...****************...
Keesokan harinya sekolah masih ramai seperti biasa. Alana memandang gedung itu sebentar sebelum berangkat lagi ke rumah sakit. Harusnya dia ada di gedung itu juga sekarang, bersekolah seperti kehidupan remaja normal lainnya. Tapi sebaliknya, dia yang sekarang tidak bisa berada di sana kalau tanpa Ananta. Karena dimanapun selain di sisi Ananta adalah neraka baginya.
__ADS_1
Apakah akan terasa nyaman dan dirinya bisa hidup seperti mereka andai Ananta bisa sembuh? apa Ananta benar-benar bisa sembuh?
Alana mulai muak dengan pertanyaan yang berjejalan di kepalanya sendiri. Suara berisik yang hanya didengarnya sendiri itu sangat melelahkan, apalagi semuanya tidak berakhir dengan jawaban yang tidak pasti. Hanya tersisa angan-angan kosong dan segala pengandaian yang tidak mungkin terjadi. Dia melangkah pergi dengan berat hati.
Alana sampai di rumah sakit pagi-pagi tapi dia tidak langsung menuju ke kamar Ananta. Alana menghampiri Bella yang masih setia menunggu bersama orang tua Arkan. Dia sedang makan di luar ruangan sekarang.
"Hai, apa keadaannya sudah lebih baik?" Tanya Alana begitu Bella mengangkat kepala ke arahnya. Bella menghentikan suapannya untuk menepuk kursi di sebelahnya, meminta Alana duduk di sana.
"Masih sama. Tapi aku berusaha keras mencari harapan untuk dia bangun lagi." Ucap Bella menatap sendu, nafsu makannya terasa berkurang drastis ketika dia membahas tentang Arkan yang masih berbaring dan memejamkan matanya erat. Tapi dia masih harus makan, supaya bisa menjaga Arkan di rumah sakit. Dia juga tidak mau menjadi beban untuk orang lain gara-gara ikutan sakit.
"Kamu?" Lanjut Alana. Keadaan Bella mungkin sama sepertinya, hampir putus asa. Hanya saja, Bella baru menjalaninya beberapa hari, sedangkan dirinya entah sudah tahun ke berapa.
"Baik-baik saja. Aku harus bertahan kan" Kalimat Bella menggantung di sana. Dia juga tidak yakin, tapi harus memaksa diri untuk yakin. Siapa tahu do'anya di kabulkan karena dia memegang teguh kepercayaan nya itu.
Entah jika kamu yang bertahan artinya Ananta tidak bisa mendapatkan donornya aku tidak tahu harus menjawab bagaimana.
Alana menatap Bella dengan perasaan aneh yang tidak nyaman. Dia harusnya memberikan semangat, bukan mematahkannya.
Yah, ini lebih baik. Aku ingin mempertahankan keduanya. Apa aku serakah lagi? Tuhan?
Alana mengalihkan pandangannya, lanjut menatap kosong tembok putih di depannya. Apa harapan kosong ini boleh aku minta?
Alana tidak sadar tangannya sedang menggenggam erat, pipinya terasa hangat, tapi dia tidak boleh menangis disini. Tidak di depan Bella yang sudah rapuh. Ah, kenapa pertemuan mereka belakangan ini selalu tentang menangis dan menangis. Alana muak.
"Hmm... Aku pergi dulu ya. Aku harus ke ruangan Ananta." Ucap Alana menyerahkan roti dan susu yang di bawanya dalam kresek kecil.
"ini, kamu bisa memakannya nanti"
Dia kira Bella belum makan, jadinya dia membawakan roti dan susu. Tapi sekalipun sudah makan Alana tetap memberikannya. Setidaknya makanan yang dia bawa bisa disimpan untuk dimakan nanti karena pendamping pasien biasanya tidak bisa leluasa pergi meninggalkan pasiennya. Bella menerimanya sambil tersenyum tipis menatap Alana yang sudah berjalan menjauh.
...****************...
__ADS_1
Alana tidak langsung pergi ke kamar Ananta seperti perkataannya. Dia lebih dulu mampir ke kamar mandi terdekat. Menatap wajahnya sendiri dalam kaca untuk beberapa lama. Pipinya memerah, tapi bukan karena malu atau merona. Dia ingin menangis, tapi rasanya hal pilu itu sudah terlalu sering dia lakukan.
Alana mengusap air matanya yang hampir jatuh. Memastikan tidak ada bekas air mata di wajahnya. Dia harus terlihat baik-baik saja untuk Ananta.
Setelah mengambil nafas panjang sekali lagi, Alana melangkah pergi menuju Ananta, menuju ruang serba putih yang selalu dia benci.
Alana sampai di pintu kamar saat ayahnya melangkah masuk dengan tergesa-gesa mendahuluinya. Ayahnya itu bahkan tidak melihatnya sama sekali. Namun Alana segera panik saat melihat Ananta yang kembali meremat kasar baju pasiennya yang sudah kusut. Rasa sakit itu pasti kembali lagi.
Dokter dan perawat dengan cekatan memasang berbagai alat di tubuh Ananta. Ayahnya terlihat sibuk, dan Ananta masih terlihat kesakitan. Alana menatap pemandangan itu dengan raut kosong, air matanya akhirnya mengalir juga melihat pemandangan riuh di depannya.
Bagaimana bisa bertahan tidak menangis kalau orang yang di cintai dengan seluruh hidupnya sedang tersiksa karena ingin bertahan hidup?
Ayah Alana masih sibuk untuk beberapa lama, Alana hanya bisa menunggu dengan cemas menunggu ekspresi lega ayahnya seperti biasanya. Kali ini prosedurnya sedikit lebih lama dari biasanya. Ayahnya baru menoleh ke arah Alana setelah beberapa puluh menit berlalu dengan ketegangan.
Ananta terlihat lebih baik sekarang. Sesekali masih kesakitan tapi tidak separah sebelumnya.
Alana menemukan ayahnya menatap lurus kepadanya. Raut putus asa yang seolah berkata, lihat... kita benar-benar membutuhkan donor itu sekarang. Kalimat yang tidak bisa di katakan oleh siapapun sekarang.
Alana tahu maksud ayahnya... Tapi hal jahat itu tidak bisa dia lakukan sama sekali saat menatap Bella dan semangat yang tidak luntur sama sekali. Dia tidak tega mematahkan harapan orang lain begitu saja.
Alana menoleh ke arah Ananta, sedikit menghindari tatapan sang ayah yang seperti mengintimidasi.
Lagipula, Ananta pasti tidak mau mengambil jantung temannya sendiri. Aku tidak bisa melihatnya bersedih nanti.
Alana menatap ayahnya lagi sebelum menggeleng pelan, dibalas oleh helaan nafas kasar sang ayah. Yah, ini mungkin akan menjadi lebih baik atau buruk. Alana tidak tahu harus bagaimana lagi selain menyerahkan semuanya pada takdir.
...****************...
Hai... terimakasih sudah baca ceritaku, beri hadiah dengan nonton iklan gratis atau kirim poin ke penulis yuk biar makin semangat buat nulis chapter selanjutnya...
see you kalo udah semangat nulis lagi, hehe
__ADS_1