
Setelah menyetir beberapa menit lagi mereka sampai di sebuah kafe yang berbeda. Suasananya lebih seperti rumah dibandingkan kafe tempat Rara turun tadi. Alana terpesona, tempatnya sangat cantik dan nyaman. Desainnya dan konsepnya membuat mereka merasa seperti pulang. Interior kuno berderet lengkap di dalamnya. Ada sebuah lemari kayu besar berisi buku-buku, vas bunga, dan beberapa miniatur kuno. Ada sepeda jadul dipasang di dindingnya, belum lagi lampu-lampu gantungnya yang unik dan cantik.
"Alana, Ayo..." Ajak Gea pada Alana yang masih terpaku menatap sekitar. Gea sudah berjalan lurus menuju kasir untuk memesan makanan.
"kamu mau makan apa?" Alana membaca menu Satu-satu. tapi rasanya dia tidak kuat makan lagi. Jadi dia memilih satu kue dan minuman saja.
"Aku kenyang deh, aku mau cake matcha sama milkshake aja yang matcha juga" balas.
"rasanya samaan gitu? nggak mau nyoba yang lain?" tanya Gea. Alana jelas tidak sepertinya yang suka mencicip banyak menu sampai puas.
"enggak apa-apa itu aja" balas Alana. Gea kembali sibuk memilih makanan dan menu-menu baru sementara Alana mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Dia masih terpaku dengan suasana yang seperti rumah.
"udah milih tempat duduk?" ucap Gea selesai memesan makanan.
"hehe. bingung." setiap sudutnya memang sangat menarik perhatian hingga dari tadi Alana hanya mengamati semuanya.
"kalau gitu kita ke teras kiri aja... dari situ view nya kelihatan semua." jawab Gea yang memang sudah sering ke tempat ini.
"oke" Alana membalas singkat sebelum mengekor di belakang Gea menuju tempat yang di maksud. Benar saja, dengan jendela kaca antik besar di sana mereka bisa melihat interior cantik juga taman depan yang di tata dengan rapi. bermacam bunga di tata seperti sebuah buket indah, sedikit tidak beraturan tapi tidak berantakan.
"aku nggak nyangka selera kamu sebagus ini..." gumam Alana lirih.
"kenapa? karena style pakaianku begini ya?" tanya Gea langsung. Dia mungkin sering mendengar pernyataan serupa sampai bisa menebak dengan tepat.
"maaf aku nggak bermaksud menyinggung." ucap Alana sedikit panik. Meski dari nadanya terdengat seperti sedang bercanda tapi tetap saja dia takut Gea marah padanya.
"nggak. nggak marah, bahasa kamu paling halus dari pada apa yang biasanya aku dengar tau." balas Gea. Yah, di matanya Alana ini sudah paling baik hati dan manis. Jadi apapun yang dia lakukan tidak akan mampu membuat seorang gea marah.
"hehe, kalau boleh jujur memang kamu nggak sesuai sama kesan pertama ku sih." jawab alana jujur. Karakter seperti Gea harusnya tidak suka dibohongi untuk sekedar terlihat manis.
"pertama lihat kamu kelihatan sangar, tapi setelah kenal malah baik banget." lanjutnya bermaksud memuji Gea dengan dualitasnya. Memang kita tidak bisa mengenal orang hanya dari penampilan.
__ADS_1
"yah... style dan kepribadian adalah dua hal yang berbeda. aku bisa memilih berpakaian seperti apa, tapi kalau kepribadian sudah khas dari lahirnya begini, tergantung lingkungan dan isi hati kan." balas Gea membuat Alana mengangguk pelan. Yah, hal ini semakin memberinya kejelasan kalau dia memang sangat kagum dengan perempuan di hadapannya ini.
"jadi... tadi kasih surat apa tuh ke Arkan." ucap Gea tiba-tiba membuat Alana tiba-tiba sedikit batuk karena kaget.
"kamu lihat??" tanya Alana tidak menyangka kalau ada yang melihat apa yang dia lakukan tadi.
"lain kali kalau mau Rahasia-rahasia jangan terlalu jelas begitu" ucap Gea mengejek. Merasa tidak bisa mengelak, akhirnya Alana menceritakan yang sebenarnya terjadi. Sekalian meminta pendapat Gea tentang Arkan dan Ananta.
"itu surat dari Ananta buat arkan." Alana mau mengatakannya perlahan, karena dia sendiri belum yakin dengan apa yang dia temukan.
"ini bisa jadi pikiran burukku tapi bisa jadi Arkan kecelakaan gara-gara mau mendonorkan jantungnya buat Ananta." ucap Alana. Gea masih diam dan mendengarkan dengan seksama.
"humm itu bisa saja karena kita bicara tentang arkan." jawab Gea. Bahkan Gea saja menganggap hal itu mungkin karena itu arkan. Apa dia lupa kalau dirinya baru saja mengatakan sesuatu tentang hidup dan mati?
"dia selalu punya aura kelam... tapi dia sangat pandai menyembunyikan." eh... sejauh apa Gea tau tentang arkan?
"kamu cenayang ya??" tanya Alana tiba-tiba. pertanyaan aneh yang tidak tepat untuk suasana yang sekarang. Gea tertawa mendengarnya.
"Setelah aku melihat pacar Arkan hari itu, aku baru bisa paham bagaimana Arkan terlihat lebih baik. mereka pasangan yang cocok" ucap Gea. Terdengar memuji pasangan yang lucu itu. Yah, sikap loyal Bella juga sudah terbukti dari dia yang tetap tinggal dan menjaga Arkan selama di rumah sakit. Sudah dipastikan dia tidak akan meninggalkan Arkan meski dalam keadaan seburuk apapun.
"karena sudah diwakilkan surat dari Ananta harusnya aku tidak khawatir lagi kan..." ucap Alana agak mengambang, jujur dia masih khawatir.
"sesama laki-laki biasanya bisa saling memahami dengan lebih baik. mereka pasti baik-baik aja kok." jawab Gea dengan dewasa membuat Alana menjadi sedikit lebih tenang.
"ngomong-ngomong tentang pacar bagaimana dengan kamu sama dewa?" tanya Alana. Dia sudah lama tidak ikut kegiatan klub drama jadi dia tidak bisa melihat perkembangan hubungan cinta dan benci lucu antara Gea dan dewa.
"memang dewa kenapa? dia tetap benci aku tuh" ucap Gea enteng. Gea ini kalau masalah orang lain saja tahu segalanya, tapi jika menyangkut dirinya sendiri seperti tidak tahu apa-apa. Alana melihatnya dengan gemas.
"dari sudut mananya yang kelihatan benci Gea..." ucap Alana menyentuh dahinya karena sedikit kesal. sudah dipastikan kalau Gea orang paling tidak peka terhadap cinta. Berkali-kali Alana memergoki Dewa mencuri pandang ke arah Gea atau melakukan apapun untuk membantunya. Kadang dia mendahulukan membantu Gea daripada mengerjakan tugasnya sendiri. Dengan perlakuan yang begitu Gea masih merasa Dewa membencinya?
"Ah sudahlah. mungkin kamu baru akan sadar kalau Dewa menyatakan perasaannya langsung." ucap Alana kesal. Dia kembali memakan cake matchanya meninggalkan Gea yang masih menatapnya tajam.
__ADS_1
"kok... tahu?"
"hah???" Alana kaget. Dia tahu apa?
"dia kemarin tiba-tiba bilang. Jangan jalan bareng Aga atau dia bakal bilang kalo dia suka aku." ucap Gea dengan nada biasa kemudian kembali menyeruput minumannya. Mulut Alana menganga mendengarnya. Dan Gea masih kira Dewa benci dia? bukannya itu namanya cemburu...
"dia ngancem gitu. dia pasti benci banget ya..." lanjutnya lagi masih terlihat tidak peduli.
"itu dia cemburu Gea..." rasanya Alana ingin meneriaki Gea sekarang andai tidak ingat sedang berada di tempat umum. Gea malah terlihat bingung sekarang.
"terus... kamu suka dia nggak?" tanya Alana mencoba memadamkan Gea dengan isi hatinya sendiri.
"nggak tahu" balas Gea dengan polos. Aduh gemas sekali Alana melihat Gea yang tiba-tiba terlihat polos. Tidak garang sama sekali. Alana masih tidak percaya dia bisa melihat Gea dalam versi ini.
"kalau ada perempuan lain deket sama dewa kamu bakalan kesel nggak."
"waktu itu sih kesel" balas Gea membuat Alana semakin gemas.
"perlakuan dia ke kamu? bikin kamu nyaman nggak?"
"hmmm... iya. kan dia baik. walau sedikit minus karena terlalu banyak bantu"
"oke besok aku bantu bilangin kalau kalian saling suka ya..." balas Alana, kali ini dia tersenyum sangat lebar. Akhirnya kapal pasangan yang dia suka sejak pertama kali bertemu itu akan berlayar berkat jasanya.
"nggak boleh lah ga bisa. awas aja" ucap Gea berubah mode menjadi galak bahkan di depan Alana, lucu sekali
...****************...
Hai... terimakasih sudah baca ceritaku, beri hadiah dengan nonton iklan gratis atau kirim poin ke penulis yuk biar makin semangat buat nulis chapter selanjutnya...
see you kalo udah semangat nulis lagi, hehe
__ADS_1