
Selesai latihan, Alana mengambilkan air mineralnya lagi. Kali ini Arkan sudah merespon dengan normal.
"terimakasih, tapi jangan berlebihan lagi ya na. Aku masih temen Ananta kalo kamu lupa" ucap arkan sembari tersenyum.
"Ish, aku juga nggak berminat gantiin Bella. bebannya berat." balas Alana. Kalimatnya singkat, tapi seperdetik kemudian dia merasa sudah mengucapkan sesuatu yang salah.
"Bella, dia lumayan bahagia kok. Aku nggak akan jadi bodoh lagi." balas arkan lirih, tapi cukup untuk didengar Alana. Alana membalas dengan helaan nafas yang berat.
"dan kamu nggak salah apa-apa kok. Aku yang bodoh waktu itu." lanjutnya lagi membuat Alana langsung menoleh ke arahnya.
"Ananta ngadu ya? atau Bella?" tanya Alana panik. Sejak kapan arkan tau?
"enggak, sama sekali. justru perhatian yang nggak perlu ini yang bikin ketahuan. udahan gih. kangen teman bertengkar yang dulu." balas arkan lagi. Dia sangat tidak terbiasa dengan suasana canggung ini.
"dasar laki-laki, kalau sudah berteman jadi ada gila-gilanya sedikit." gerutu Alana.
"Alanaaa! balik ke sini nggak!" panggil gea yang dari tadi mengamati Alana dan arkan yang berbincang lama.
"cepetan! atau aku bakal bilang Ananta kalo kamu deketin arkan dan nggak cinta sama dia lagi!" lanjut gea. Alana hanya merespon dengan gelengan kepala. Ananta nggak akan percaya juga dengan kata-kata gea. Buat apa menurut.
"hmmm, kalo gitu gue aja yang bilang, gimana?" tantang Arkan. Barangkali Ananta akan lebih percaya padanya kan. Siapa tahu?
"ish, nyebelin" akhirnya baru Alana menurut. Sepertinya dia jadi lebih takut pada arkan dari pada pada gea.
"terimakasih air minumnya, seneng banget deh" goda arkan, dia bicara begitu dengan nada manja membuat jijik semua telinga yang mendengarnya.
"najis. jauh-jauh" ucap Alana melempar tatapan jijik. Alana berjalan cepat ke arah Gea.
__ADS_1
"udah nih. Udah balik kesini. cemburuan banget sih ditinggal sebentar aja." ucap Alana merasa lucu tentang bagaimana Gea jauh lebih protektif dan cemburuan dari pada Ananta yang pacarnya sendiri.
"telat. udah aku kirim PAP nya ke Ananta." Gea tertawa jahat melihat wajah panik Alana.
"Gea. Aku marah ya!" ucap Alana agak keras. Buru-buru dia mencari kontak Ananta dan mengirimkan beberapa kalimat panjang.
'Ananta, aku paling sayang sama kamu doang. Jangan percaya sama Gea. YA! Aku nggak suka sama arkan juga, dia cuma teman ya. please. Nanti aku traktir matcha deh ya... jangan ngambek.' Kira-kira begitu isinya. Alana mengirim semua kalimat itu tanpa tahu kalau Gea sedang tersenyum jahil ke arahnya.
"Agak bodoh juga ya. gitu aja percaya" ucap Rara. Alana menoleh bergantian ke arah rara dan Gea.
"jadi bohong?" tanya Alana menatap serius pada Gea yang masih senyum-senyum sendiri.
"paling sayang sama Ananta ya... duh manis banget." ucapnya yang sempat mengintip pesan Alana. Dia sangat gemas. Andai bisa, mungkin Gea sudah meremat wajah Alana yang membuat ekspresi lucu saat panik.
"wah di bales" ucap rara lagi yang sudah mengintip di sisi kanan Alana. Panik, Alana menatap layar handphonenya lagi.
'nggak mau tau, aku cemburu berat!' Ananta membalas dengan respon yang diharapkan Gea, membuat Gea tertawa semakin keras.
Dewa menatap lama ke arah Gea yang tertawa dengan keras. Dia memandangi Gea dengan tatapan lembut membuat rara agak muak.
"hah, dasar remaja kasmaran. Belum tahu saja kalau cinta juga ada pahit pahitnya." ucapnya sambil berjalan menuju tempat favorit barunya akhir-akhir ini, duduk di pojokan sambil mengamati semua kekonyolan yang sering terjadi di ruangan luas berisi orang-orang aneh ini. Sudah mirip orang tua yang mengawasi anak di taman bermain.
Di lain tempat, arkan masih mengamati Alana dari jauh. Pacar sahabatnya itu lucu juga. Alana membuatnya ingin menjaga hubungan mereka untuk waktu yang lama.
Untuk Gea, haha... semoga saja dia segera menyadari, ada orang di dekatnya yang selalu mengagumi diam-diam.
dan untuk Rara, setelah merasakan pahitnya cinta, semoga dia bisa kembali menjadi orang yang tersenyum dengan lembut. Meski kadang terlihat agak kasar, sebenarnya dia sangat perhatian.
__ADS_1
Sepertinya arkan memang sudah lama tidak bertemu mereka, mereka terlihat agak berbeda sekarang. Meski sering mendengar ceritanya dari ananta, tetap saja berbeda dari melihat langsung.
Pemandangan di depannya terlihat indah di mata Arkan, dia berharap bisa melihat itu untuk waktu yang lama. Meski mustahil, dia berharap bisa melihat semua temannya itu bahagia, semuanya... termasuk ananta dan dirinya sendiri.
"kenapa liatin alana segitunya." ucap Rara yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat arkan.
"kenapa sih. Tiba-tiba ngajak ngomong nggak permisi dulu. Lo hantu ya?" tanya Arkan, dibalas ekspresi merengut ala-ala milik rara.
"Lo nggak beneran suka sama alana kan." ucap rara lagi. Kehidupan mereka sudah agak pusing. Tidak lucu sama sekali kalau persahabatan yang biasa-biasa ini harus berurusan dengan cinta segitiga. Sangat tidak lucu.
"enggak. Pemandangannya indah aja. Berasa, semua balik normal." balas Arkan.
"enggak. dari lama begini aja kok. Lo aja nggak sembuh-sembuh" balas rara. Ya, sarkasnya tidak pernah hilang.
"huft, iya deh. maaf udah ganggu ketenangan kalian ya." balas Arkan. Dia baru ingat, ngobrol dengan manusia-manusia ini memang memusingkan.
"selamat datang kembali. Semuanya lengkap lagi kalo ada lo." ucap rara tiba-tiba. Arkan sampai menoleh karena tidak menyangka rara akan bicara begitu. Yang ditatap hanya merespon biasa seolah tidak ada yang terjadi sama sekali.
"jadi nggak merasa bersalah, kalo lagi mau bahagia." lanjut rara. Ya, tidak pernah ada yang mengira kalo rara punya pikiran sedalam ini.
"hummm" Arkan hanya menggumam singkat.
"eh, bisa bantu sama yang satu itu nggak?” tanya rara, mengganti topik. Dia tidak mau berlama-lama dalam suasana yang serius. Itu agak konyol baginya.
" hummm. dewa kenapa?” tanya arkan.
"jangan pura-pura nggak tau.!" balas rara agak kesal.
__ADS_1
...****************...
Tiga kali update dalam waktu berdekatan. selamat membaca ya... aku mau menghilang lagi. balik lagi kalo nemu ide. bye-bye... thanks for reading my story, thanks a lot