
Setelah mengemudi lagi beberapa lama, Alana, Gea dan Rara sampai di rumah Arkan. Kali ini Gea yang memimpin karena dia yang paling lama mengenal Arkan, juga yang paling akrab. Gea punya titel anggota di klub, tapi akhir-akhir ini dia jadi dekat dengan tugas pengurus semenjak Arkan sakit. Dia punya banyak keluh kesah yang mau dia sampaikan ke Arkan meski Rara dan Alana sudah memperingati untuk tidak mengatakannya di depan orang pasiennya langsung. Yah, mau bagaimana lagi yang mereka larang ini Gea yang sudah pasti tidak mau mendengar larangan seperti itu.
Tidak seperti saat menjenguk Ananta, keadaan Arkan cenderung lebih parah jadi dia masih banyak berbaring meski sudah boleh pulang. Pemulihan untuk luka dan beberapa retak tulang sepertinya butuh waktu lama sebelum pulih seperti keadaan semula.
"Arkan, beneran sakit nih?" tanya Gea. Pertanyaan konyol itu dia lontarkan begitu saja setelah melihat Arkan yang hanya berbaring di tempat tidur.
Mereka dibolehkan masuk ke kamar, sedangkan ibu Arkan masih sibuk mengambilkan makanan dari dapur. Arkan yang mendengarnya melemparkan tatapan kesalnya. Sudah biasa Gea bicara begini, tapi dia sedikit tidak menyangka ditanya begitu saat baru saja bertemu, masih sakit lagi.
"iya lah. Ga mungkin pura-pura sampe begini" balas Arkan. Alana menatap takjub karena dia masih bisa bersuara lantang meski sedang meringis kesakitan. Tubuhnya yang penuh perban itu hampir mirip mumi, tapi perkataannya masih seperti Arkan yang biasanya.
"Nih, masih ada bau rumah sakit" ucapnya menyodorkan perban di tangannya yang masih berbau alkohol atau revanol. Gea hanya mengangguk-angguk mengiyakan bau menyengat itu yang masih melekat di tubuh Arkan.
"kenapa, tumben baik. jenguk kesini" lanjut Arkan, lengkap dengan senyum menyebalkan seperti biasanya.
"dih, ngelunjak. Niat kesini nggak mau jenguk tau, tapi mau protes. Gara-gara Arkan si pengurus paling aktif ini sakit tugas-tugasnya jadi banyak yang dilimpahin ke Gea. Si paling sibuk ini. Harusnya aku kesini dapat terimakasih. paham?" ucap Gea dengan kesal sambil menunjuk dirinya sendiri.
"jadi lo harus cepet sembuh sebelum gue ngamuk lebih dari ini gara-gara stres." ucap Gea. Kalimatnya itu seperti berniat baik meski disampaikan dengan agak kasar.
__ADS_1
"Kalem Gea... ini orang sakit" ucap Rara. menepuk punggung Arkan. Dia tau Gea tidak serius marah-marah, tapi kalau ibu Arkan mendengar dia pasti dikira bertengkar.
"ya udah sih kalau keberatan sama tugas kan bisa dikirim biar dikerjain dari rumah. Ini tangan sama otak masih berfungsi kok, walaupun jadi agak lola sedikit" Balas Arkan masih nyolot. Kalau begini terus bisa-bisa mereka bertengkar beneran. Alana mulai panik meski dari tadi dia hanya bisa menonton kericuhan di depannya.
"sudah-sudah. malah ribut begini sih. Gea, mana buahnya tadi kasih ke Arkan." ucap Alana mencoba memperbaiki suasana. Hanya bercanda sih, tapi Alana ini paniknya betulan gara-gara melihat Gea sudah berkacak pinggang. Kalau saja sopan Alana pasti sudah memanggil ibu Arkan untuk menunggui mereka karena Gea ini hanya bisa jinak kalau dalam pantauan orang dewasa. Pasti dia berubah menjadi kalem kalau ibu Arkan disini, persis seperti saat baru masuk tadi, di pintu depan dia tersenyum manis seolah jiwanya tertukar dengan jiwa Rara biasanya.
Gea masih mendengus kesal, meski tangannya menuruti Alana untuk mengambilkan parsel buah yang dia siapkan tadi.
"Nih, sampe di bawain buah. Udah tulus banget nggak tuh. kurang baik apa anggotamu ini. Fiks harus di kasih hadiah sih, anggota paling baik hati dan loyal" ucap Gea menyodorkan buah yang tadinya dibawakan Rara yang hanya duduk diam menonton semua yang terjadi.
"Gimana nih?" tanya Gea lagi kali ini sedikit lebih tenang. Mimik mukanya terlihat serius saat dia benaran bersimpati.
"apanya?" balas Arkan bingung. Pertanyaan sepenggal begitu siapa yang akan paham.
"keadaannya gimana. Udah sembuh belum?" tanya Gea sedikit lebih pengertian dari sebelumnya. Kali ini sepertinya jiwa Alana yang masuk ke tubuh Gea, sampai sisi pedulinya keluar.
"luka luarnya sih udah kering. Tapi luka dalamnya masih belum, harus pemulihan dulu agak lama." jawab Arkan seadanya. Kalau dijelaskan detail yang ada malah Gea, Rara, dan Alana tidak akan paham. Yang jelas butuh waktu lama sampai dia bisa kembali ke sekolah. Kalau di tanya siapa yang akan lebih cepat pulih, Ananta atau Arkan... dari apa yang di lihat Alana seharusnya Ananta pemenangnya. Gea lanjut mengobrol, tapi Alana tidak mendengarkan sama sekali, tiba-tiba pikirannya ribut lagi dengan pertanyaan yang sama.
__ADS_1
'apa ini semua masih tentang pikiran konyolku saat itu? rasanya masih aneh kalau mereka bilang orang seperti Arkan bisa tiba-tiba tertabrak sampai koma. Arkan yang ku tahu tidak se ceroboh itu' pikiran Alana mengembara lagi sampai senyum di bibirnya seperti memudar oleh pikirannya sendiri.
Melihat Arkan secara langsung seperti ini membuatnya tidak bisa membendung pikiran buruk itu, karena bagaimanapun semua itu bisa saja terjadi. Mengingat ini tentang seorang Arkan yang isi kepalanya jauh lebih misterius dari senyum konyol yang dia tampakkan di luar.
Setelah mengobrol agak lama, ibu Arkan memaksa mereka untuk makan di ruang tamu, masakan rumahan yang terlihat lezat sudah dia siapkan berjajar di meja lengkap dengan nasi dan piring sendoknya. Setelah beberapa kali di paksa akhirnya Gea dan Rara beranjak ke ruang tamu, sedangkan Alana bertahan sebentar untuk menyelipkan barang titipan Ananta.
"terlihat norak dan kuno sih, tapi ini dari Ananta, dan bacanya nanti saja" ucap Alana lirih, sangat lirih sampai hampir tidak terdengar. Ini rahasia, tentang pesan dari Ananta yang harus jadi rahasia mereka bertiga. Dia segera menyusul Gea sebelum mereka mempertanyakan keberadaannya.
"hmm? kenapa Na? ngobrol sendirian sama Arkan?" tanya Gea yang terlalu peka dengan gerak gerik Alana. Untung saja Gea tidak sempat melihat suratnya, kalau tida dia pasti sudah menggali semua rahasia di pikiran Alana.
"enggak apa-apa." balas Alana singkat.
"siniii makan" ajak Gea pada Alana hanya disenyumi tuan rumah yang melihat sambil tertawa. Gea sepertinya sangat nyaman bertamu di rumah Arkan.
"heiii tuan rumahnya bukan kamu. seenaknya begitu" marah Alana. Tingkah Gea ini hanya dua macam. Kalau tidak tiba-tiba malu ya malu-maluin. Lihat saja sekarang dia sudah makan dengan lahap sambil memuji-muji masakan ibu Arkan. Alana tidak akan heran kalau nanti Ibu Arkan mau mengadopsi Gea karena tingkahnya yang ajaib.
Dan misi berhasil, entah apapun isi surat dari Ananta, Alana berhasil menyampaikannya tanpa ketahuan yang lain.
__ADS_1