Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
enam. penyakit Ananta


__ADS_3

Alana membawa Ananta kembali ke kelas mereka. Mereka disambut dengan tatapan teman sekelas mereka yang terlihat menuntut penjelasan. Sebelumnya mereka hanya tau Ananta sering izin untuk pergi ke rumah sakit. Mereka tidak tahu jelas penyakit apa yang membuat Ananta harus sering ke sana.


"Alana, Ananta sakit apa?" Tanya Fira membuka obrolan setelah membiarkan Ananta duduk di tempatnya.


"Jantung Ananta sakit..." Ucap Alana, dia merasa aneh ditatap begitu intens oleh teman-temannya. Perhatian dan antusiasme itu, terasa asing dan membuatnya tidak nyaman.


Mereka masih berkerumun sambil sesekali memperhatikan Ananta yang sudah bisa tersenyum dan sedikit bercanda dengan teman laki-lakinya.


"Teman-teman" Alana memberanikan dirinya untuk berdiri meminta lebih banyak perhatian yang dirasanya perlu.


"Aku mau kasih tahu, kalau Ananta... Sakit." Ucapnya dengan sedikit ragu. Dia tidak mau membuatnya terdengar terlalu serius, karena akan terdengar berlebihan. Seluruh anak-anak melihat ke arah Alana termasuk juga Ananta. Ananta tidak melarang atau mendukung perbuatan Alana, dia hanya memperhatikan dengan diam.


"Seperti yang kalian tahu, Ananta tidak pernah ikut olahraga, karena itu berbahaya buat jantungnya." Lanjut Alana, rasanya banyak hal yang harus dia sampaikan demi menjaga agar hal buruk tidak terjadi pada Ananta lagi. Dia tidak mau bersedih gara-gara hal-hal sepele lagi.


"Ananta juga tidak boleh berkelahi, aktivitas berat juga tidak boleh. Singkatnya, kita tidak boleh membuatnya melakukan hal-hal yang membuat jantungnya bekerja berlebihan." Baik, kali ini Alana tidak peduli lagi bahwa suasana berubah menjadi sangat serius. Mereka butuh tahu keadaan yang sebenarnya.


"Jadi, aku mohon pada kalian semua. Jangan ada yang memancingnya melakukan hal-hal itu. Ini benar-benar tentang hidup dan mati..." Mata Alana mulai berkaca-kaca di akhir kalimatnya. Suaranya bergetar, tapi dia harus menyelesaikan apa yang ingin dia sampaikan.


"Bantu aku menjaga Ananta, ya..." Terus Alana. Dia menarik nafas panjang untuk menahan air mata yang hampir jatuh.


"Terimakasih." Ucapnya kembali duduk di kursi. Kalimat itu menandai akhir dari apa yang ingin dia sampaikan. Fira dan teman-temannya mendekat pada Alana sambil mengusap punggungnya untuk menenangkan Alana.


Ini pertama kalinya Alana mendapat perhatian dari mereka sebanyak ini, dan Alana berterimakasih akan hal itu.


Seisi kelas penuh dengan keheningan, beberapa mulai memandangi Ananta dengan tatapan penuh makna.


"Ananta, kamu beruntung punya Alana" Ucap salah seorang anak laki-laki.


Hari itu suasana kelas yang dingin terus bertahan hingga jam pelajaran terakhir. Mereka baru menampakkan senyum saat pulang ke rumah masing-masing.


Walaupun terasa aneh hal itu tetap perlu pikir Alana. Karena kejadian hari ini, tidak sepenuhnya karena Ananta, tapi juga ulah teman-temannya. Diam-diam Alana menyadari itu tanpa mau mengakuinya.

__ADS_1


sepulang sekolah, sekumpulan anak laki-laki menghampiri Ananta. Beberapa anak yang Alana kenali sebagai orang yang menyiramnya tadi siang mengobrol singkat dengan Ananta.


"ehm.. Nan... kami... minta maaf ya, gara-gara berantem tadi sakitmu jadi kambuh" ucap Arga, teman kelas kami yang seperti ketua geng di kelas.


"hmmm... iya, udah di maafin. tapi. harusnya kalian minta maaf sama Alana, bukan aku" jawab Ananta masih menatap tajam melalui sudut matanya. Alana yang baru mau menghampiri Ananta berhenti mendengarnya. Berdiri dengan kikuk, dia berniat kabur saja daripada harus terlibat dengan situasi itu.


"Na... aku tahu kamu denger. kesini!" perintah Ananta yang melihat Alana akan berbalik pergi.


"eh... i-iya..." Alana melangkah lagi dengan ragu.


"ehm, Lana.. maaf ya kita tadi jahilin kamu. Tadi niatnya cuma buat bercanda, nggak taunya malah bikin berantem. Maaf ya" ucap Arga menatap Alana dan meminta maaf dengan nada lirih yang terdengar aneh untuk seukuran anak laki-laki. Canggung memenuhi ruang kelas, Alana mengangguk pelan.


"iya aku maafin. lain kali jangan gitu lagi, sama siapapun." ucap Alana.


"Nanta...". " pulang." lanjut Alana menyeret Nanta pergi dari tempat itu. Ananta hanya menurut dan mengekori Alana dengan patuh. Ananta sedikit mengaduh saat Alana mencubit ringan perutnya.


"aku malu gara-gara kamu." marah Alana.


"iya, tapi kan tetep aja."


"kita itu nggak boleh malu kalo kita bener." jawab Ananta dengan tegas. Alana berhenti berjalan karena kesal. Tapi sekarang ganti Ananta yang menatap dingin ke arahnya.


"lana. pulang" ucapnya mengulurkan tangannya untuk di genggam oleh Alana, Alana mengambilnya segera. Mereka kembali berjalan dengan sedikit tersenyum.


Keadaan terasa lebih baik pada hari-hari berikutnya. Alana merasa tidak sendiri menjaga Ananta. Karena meski tidak menampakkan, teman-temannya yang lain turut menjaga Ananta diam-diam.


Mereka terlihat lebih menerima ketika Ananta tidak mengikuti kegiatan olahraga. Bahkan terkadang ada yang menyuruhnya makan di kantin daripada ikut ke lapangan dan memperhatikan dari tribun.


Pernah sekali anak laki-laki di kelas mereka pasang badan saat seorang anak dari kelas lain mendekati Ananta dengan tatapan benci. 'Yah, walau terlihat berlebihan, tapi itu perlu.' Pikir Alana sambil geleng-geleng kepala saat kegiatan 'menjaga Ananta' yang dilakukan teman-temannya mulai berlebihan.


Asalkan Ananta tidak keberatan Alana akan tetap membiarkannya. Kadang Ananta justru terlihat senang karena mereka membuatnya sebagai bahan candaan khas anak laki-laki. Terlebih keadaan itu membuatnya terlihat seperti ketua geng yang dilindungi banyak orang.

__ADS_1


***


Kelas cukup ramai. Hari ini saatnya guru membagikan nilai ulangan tengah semester mereka.


Tanda merah banyak terlihat di lembar jawaban miliknya hingga tangannya gatal ingin merobek atau membuangnya jika tidak ingat kalau dia harus meminta tanda tangan orang tua di atasnya.


Setelah sibuk mengkhawatirkan Ananta kini dia harus mengkhawatirkan dirinya sendiri. Dia harus lulus untuk melakukan rencana yang ada di pikirannya sejak lama.


"Wah, perfect all kill" Ucap Ananta menggodanya.


"Tidak usah menggodaku." Jawabnya ketus.


Ujian akhir sekolah sudah semakin dekat, tetapi nilainya justru semakin memburuk. Dia memang sangat tidak berbakat dalam hal belajar.


Sebenarnya hal itu terjadi karena Alana tidak terlalu peduli dengan nilai. Dia punya rencana lain, hal yang sudah dia impikan sejak lama.


"Setelah lulus nanti... Kamu mau daftar ke SMA mana?" Tanya Ananta.


"Aku enggak mau sekolah lagi. Aku mau berhenti aja." Jawab Alana dengan mantap. Ananta merasa sedikit khawatir akan jawaban itu. Dalam hatinya ia berharap Alana tidak serius dengan perkataanya.


"Kamu?" Tanya Alana balik.


"Ra-ha-si-a." Eja Ananta dengan tatapan usilnya.


"Ih gitu aja rahasia, sok misterius."


"Nanti juga tau sendiri" Jawab Ananta final. Alana tahu setelah ia mengucap kata-kata seperti itu, pasti sulit untuk memaksanya bicara lagi. Seperti do'a Ananta pada dandelion yang tidak pernah dia tahu sampai sekarang.


"Ta, nanti ajarin aku ya. Walaupun gak lanjut SMA, aku masih harus lulus." Ya, dia harus bekerja keras untuk sekadar lulus dengan nilainya yang sekarang. Ananta hanya mengangguk, toh dia tidak mungkin menolak permintaan seperti itu.


***

__ADS_1


__ADS_2