Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
tujuh belas. orang ketiga


__ADS_3

Keesokan harinya, Alana masih kesulitan menemui Ananta. Padahal biasanya Ananta selalu ada di kantin saat jam istirahat, tapi hari ini Alana tidak melihat sosoknya dimanapun.


Alana juga sudah mengintip sebentar di kelas Ananta, dan Ananta tidak di sana. Alana tenang saja meski perasaannya sedikit tidak enak. Alana tahu, tanggal Olimpiade sudah dekat. Jadi kemungkinan besar Ananta ada di ruang club Olimpiade atau perpustakaan.


Alana kemudian bangkit dari tempat duduknya di kantin lalu beranjak menuju ruang club Olimpiade. Sesuai dugaannya, Ananta ada di ruang Olimpiade bersama anak-anak yang lain. Terlihat sibuk memecahkan soal-soal yang terlihat membosankan.


Alana hanya menunggu di depan ruangan, mengintipnya lewat kaca saat hal lain terbesit di pikirannya.


Alana teringat kejadian kemarin saat di kebingungan mencari Ananta. Setelah dia tidak melihat Ananta di ruangan yang dia intip sekarang, dia tidak tahu harus mencari Ananta ke mana.


Hanya terpikirkan rumah, dan rumah sakit. Jadi setelah memeriksa dua tempat itu Alana hanya bisa menelfon Ananta berkali-kali dan baru dijawab saat malam hari.


Seharian diliputi kecemasan tentang keadaan Ananta yang tidak dia tahu sama sekali. Alana bahkan masih belum tahu kemana Ananta pergi sejak siang sampai kemarin malam. Alana hanya tahu Ananta tidak pergi untuk belajar Olimpiade sama sekali. Hari itu dia menyalahkan dirinya sendiri karena begitu tidak tahu aap-apa tentang Ananta, padahal mereka sudah saling mengenal sejak lama meski dengan pola kegiatan yang cukup monoton.


"Ah, aku harus melakukan sesuatu" Ucapnya bermonolog, lalu beranjak pergi dari tempatnya berdiri.


Dia menemukan orang yang dia cari di kelas Ananta. Arkan yang sedang berbicara dengan teman sekelasnya terlihat heran melihat Alana yang mencarinya. Tentu tidak biasanya Alana melakukan hal itu.


Beberapa kali dia menoleh ke sekitarnya untuk memastikan kalau Alana benar-benar sedang mencarinya.


"Cari aku? Bukan Ananta?." Tanyanya terlihat keheranan. Setahunya Alana tidak akan pernah mencarinya lebih dulu kecuali dunia sudah terbalik.


"Iya. Kalau Ananta aku udah liat tadi di ruang Olimpiade" Jelas Alana. Arkan hanya mengangguk menjawab kalimat Alana.


"Kenapa? For your information Aku beneran udah punya pacar ya." Ucapnya buru-buru setelah menatap Alana dengan horor. Arkan mengucapkan fakta yang mungkin belum Alana tahu.


Alana menatap jengah laki-laki di depannya. Entah bagaimana bisa dia berpikir hal-hal aneh hanya karena Alana yang mencarinya di kelas. Sangat berlebihan. Lagipula Arkan jelas tahu dia hanya mempedulikan Ananta, tidak ada yang lain.


"Enggak minat juga." Ucap Alana kesal. Andai tidak membutuhkan sesuatu, Alana sudah malas berbicara dengan arkan. Ngobrol dengan Arkan itu hanya makan hati, lama-lama pasti dibuat kesal sendiri.


"Terus?"


"Mau minta nomor HP" Ucap Alana.


"Tuh kan... Udah dibilang udah punya pacar." Ucap arkan lagi menatap Alana dengan senyum curiga seolah tebakannya tadi benar-benar tepat.


Sebenarnya dia tahu Alana tidak bermaksud seperti itu. Dia hanya suka melihat respon Alana saat dia bercanda seperti itu.

__ADS_1


"Stop deh. Bukan buat arkan ya. Ini demi Ananta." Ucapnya lagi dengan tegas.


"Kalau dia hilang lagi, biar aku tahu mau cari ke mana." Lanjut Alana dengan nada rendah.


"Hum tapi kan Ananta enggak selalu bareng arkan Na..." Ucap arkan lagi masih mengelak dari permintaan Alana yang sepele.


"Buat jaga-jaga aja." Alana masih menjaga suaranya dengan nada rendah meskipun sebenarnya sudah mulai kesal.


"Udah deh lama. Pilih tulis di handphone ku atau aku pinjam handphone nya?" Ucap Alana akhirnya kesal karena melihat Arkan masih menatapnya dengan penuh keraguan yang dibuat-buat.


Setelah Alana bersiap untuk lebih marah lagi arkan akhirnya mengiyakan permintaannya, dia meminta handphone Alana lalu menuliskan nomornya di sana.


Arkan menahan handphone Alana cukup lama hingga Alana merebutnya setelah memastikan nomornya sudah tersimpan.


Alana hampir marah lagi saat melihat kontak baru yang tersimpan dengan nama 'pangeran tampan tapi udah punya pacar' yang dia tahu pasti adalah nomor Arkan.


"bikin repot aja. kalo gini nyarinya susah!!" ucap Alana kesal segera mengganti nama kontak Arkan menjadi 'Arkan MONYET' di handphonenya.


'Manusia aneh ini. Kenapa dia harus jadi teman Ananta sih.' Pikir Alana.


Dia melengos lalu segera pergi tanpa berkata apa-apa lagi.


Hari itu Alana hanya bisa bertemu Ananta saat pulang sekolah. Ananta mengajaknya makan sandwich di taman sekolah yang sedikit sepi. Roti sandwich yang dia dapat secara GRATIS dari guru yang membimbingnya di kelas.


Ananta berkerja keras akhir-akhir ini gara-gara tanggal Olimpiade pertamanya di SMA yang tinggal beberapa minggu lagi.


Keikutsertaan Ananta di Olimpiade ini sudah menjadi prestasi sebenarnya, karena biasanya siswa kelas satu belum di bolehkan ikut lomba, hanya boleh menjadi anggota saja. Tapi karena deretan penghargaan yang pernah Ananta Terima di SMP membuat guru sekolah barunya memilih Ananta untuk menjadi peserta juga.


Lagipula perlombaan ini tidak memiliki batas usia dan persyaratan tertentu.


"Harus ya, ikut lomba terus" Tanya Alana sambil mengunyah sandwich gratis dari Ananta.


"Ya mau gimana lagi. Harus dilakuin selagi bisa" Jawab Ananta yang setelahnya hanya diam.


"Baru kali ini aku sebel karena kamu pinter." Ucap Alana sedikit kesal, karena Ananta selalu sering menghilang tanpa kabar setiap kali hal ini terjadi. Ananta hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya.


"Gitu ya... Jadi temen. Kalo pas enaknya aja lupa sama temen sendiri." Ucap arkan yang tiba-tiba datang dan langsung berisik.

__ADS_1


"Ganggu aja" Ucap Alana ketus.


"Biarin aja Na... Ini nih masih ada satu kalo mau" Ananta dengan baik hati menyodorkan sandwich nya yang tinggal satu.


"Thank you, bro yang satu ini emang paling baik deh" Jawab arkan memuji Ananta tanpa menghiraukan ucapan Alana sebelumnya. Telinganya memang ada filternya, jadi hanya bisa mendengar yang baik-baik.


"Kok malah dibelain sih." Ucap Alana sebal dengan tangan dilipat depan dada. Sejak Ananta punya teman selain dirinya, dia merasa kalah.


"Eh iya Ta.. Tau gak dia tadi minta nomor HP" Ucap arkan mengungkit kejadian tadi siang.


Ananta menatapnya dengan antusias.


"Beneran?"


"Udah akrab aja, padahal masih sering marah-marah." Ucap Ananta menggoda Alana yang kini terlihat panik. Sepertinya tidak ada hari yang tenang lagi sejak mereka mengenal manusia bernama arkan.


"Gak gitu Ta..." Ujar Alana membela diri. Dia tidak Terima disebut akrab dengan anak laki-laki yang sedang memakan sandwich nya dengan lahap.


"Itu, minta nomor HP" Ananta masih tersenyum jahil pada Alana yang mulai salah tingkah dan menggoyang-goyangkan tangan Ananta.


"Ih, kan minta nomor HP doang" Marah Alana masih tidak terima.


"Minta nomor HP itu tandanya temenan Alana. Tandanya kamu udah mau ngobrol sama dia" Ucap Ananta lagi melepas genggaman Alana di tangannya sambil tertawa. Alana bertingkah seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Enggak... Aku save nomornya Laras sama siva tapi enggak temenan" Alana mulai mencari alasan lain. Sedikit jahat sih, tapi memang beberapa kontak di handphone nya dia simpan hanya karena sekedar kenal, dan kalau bertemu pun tidak akan menyapa satu sama lain.


"Ooh.. Gitu..." Arkan menambahi dengan senyum nakal.


"Temenan juga enggak apa apa ra... Walau begini dia aslinya baik kok" Ucap Ananta yang malah membela arkan.


"Idih enggak" Ucap arkan dan Alana hampir berbarengan. Ananta mulai tertawa mendengarnya.


"Aku enggak sebaik itu" Ucap arkan dengan suara merendah.


"Aku enggak mau temenan sama dia" Lanjut Alana menjelaskan kalimatnya dengan makna yang berbeda.


"Iya-iya... Udah buruan selesain makannya. Habis itu pulang." Lanjut Ananta menengahi dua anak yang sekarang menatap tajam satu sama lain.

__ADS_1


Daripada seorang teman, rasanya dia lebih seperti kakak yang tiba-tiba punya dua adik menggemaskan. Ehm walau yang satunya ini lebih kepada... pacar?


__ADS_2