
Melihat Ananta yang tertidur, Alana tidak bisa menahan tangisnya sendiri. Alana akhirnya menangis dalam isakan kecil di samping Ananta yang tertidur. Kepalanya yang menunduk membuatnya tidak sadar kalau Ananta sudah bangun sekarang. Tangan Ananta terasa basah karena Alana menangis di atasnya.
Ananta menatap Alana dengan heran. Tidak ada tanda-tanda apapun... Ananta mencoba menerka apa lagi yang membuat Alana menangis kali ini. Tapi dia tidak menemukan apapun.
Apakah ini karena dirinya lagi?
Ananta mengusap kepala Alana, yang akhirnya mendongak menampakkan hidungnya yang memerah. Matanya pun sembab karena habis menangis.
"Kenapa?" Tanya Ananta mengusap pipi Alana yang masih basah mencoba menghilangkan bekas air mata di sana meski tetap akan basah lagi karena Alana belum berhenti menangis.
"Arkan... " Ucap Alana disela isakan tangisnya yang belum mereda. Dia ingin mengadu pada Ananta. Tapi pada saat yang sama dia juga takut membebani Ananta dengan perasaan sedih. Tapi lagi-lagi ini tentang teman dekat Ananta, dia tidak bisa hanya diam saat temannya dalam keadaan yang menyedihkan.
"Dia kecelakaan, dan sekarang koma." Lanjut Alana, perasaan bersalah menderanya. Dia pasti sangat jahat. Dia bahkan memberitahu kabar buruk pada orang yang masih sakit sekarang.
Ananta menarik tangan Alana untuk memeluknya tangannya mengusap punggung Alana sekarang. Dengan begini, rautnya yang hampir menangis tersembunyi dari Alana. Jujur, dia sendiri merasa khawatir pada sahabatnya itu. Meski sering usil, anak laki-laki itu adalah sahabat yang berharga baginya. Dia yang selalu mendengar keluh kesahnya, juga tempatnya berbagi rahasia. Meski dia juga khawatir melihat Alana yang menangis karena arkan.
"Dia anak yang kuat, dia pasti baik-baik saja" Ucap arkan berusaha menenangkan Alana yang menangis lagi. 'Ananta tidak melihat kondisi arkan makanya bisa bilang gitu' pikir Alana. Tapi dia tidak bisa membuat Ananta lebih khawatir lagi. Bagaimanapun, Ananta masih sakit. Alana hanya bungkam dan tidak menceritakan lebih jauh kondisi Arkan. Ananta cukup tahu kalau dia kecelakaan supaya dia tidak bersedih terlalu banyak. Dia hanya menjawab dengan anggukan, mengusap air matanya lalu berpura-pura tegar seperti biasanya.
...****************...
Sorenya, Alana sudah sedikit tenang setelah Ananta menghiburnya lama. Alana mengusap pipinya dengan sapu tangan merah muda dari Ananta. Beberapa menit kemudian ibu Ananta masuk ke ruangan. Dia tidak melihat Alana yang menangis karena begitu dia masuk Alana sudah tersenyum lagi seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
__ADS_1
"Alana kesini lagi?" Tanya ibu Ananta yang baru kembali, dia pulang sebentar untuk membawakan baju ganti untuk Ananta sekaligus memasak beberapa makanan kesukaan Ananta. Alana tahu itu dari bawaannya yang sangat banyak, jauh lebih banyak dari miliknya yang hanya dua kantung kresek. Alana hanya mengangguk pelan.
"Ibu bawa banyak makanan, nanti Alana makan ya." Ucapnya dengan senyum, dia senang Alana menemaninya lagi jadi dia tidak sendirian di rumah sakit. Meski diam-diam dia juga khawatir karena Alana mungkin saja bolos sekolah untuk bisa berada disini. Tapi ya sudahlah, Alana berada disini artinya Alana punya prioritas nya sendiri, dan dia yakin Alana cukup bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
Setelah Ibu Ananta selesai menata makanannya, mereka makan bersama di rumah sakit. Suasananya sedikit membaik setelah ibu Ananta bercerita dan sedikit bercanda tentang pengalamannya dulu saat masih muda. Alana sesekali tertawa menanggapi cerita konyol itu.
Namun saat ayah Alana memasuki ruangan Ananta, suasana kembali meredup seperti semula. Hanya ada dua macam hal yang kemungkinan akan mereka dengar, dan sebelum mendengarnya perlu persiapan dengan mengambil nafas panjang.
"Kalau keluarga menyetujui kamu bisa operasi secepatnya." Ucap ayah Alana setelah menjelaskan sebuah prosedur operasi dan transplantasi panjang lebar. Matanya berbinar seolah dia menemukan harapan baru untuk kondisi Ananta.
Alana pernah mendengar, kalau operasi jantung bisa meningkatkan harapan hidup Ananta, walau hal itu tidak pernah dibahas lagi karena tidak pernah ada pendonor yang cocok. Sampai-sampai mereka berhenti berharap dan memilih opsi pengobatan yang lain. Tapi sekarang, kondisinya berbeda. Dan Alana memikirkan alasan yang dibencinya. Semoga bukan itu alasannya.
Orang tua Ananta tersenyum bahagia, mendengar kabar baik itu. Namun Ananta merasa aneh melihat respon Alana yang justru bersedih. Dia pikir, Alana masih bersedih karena kondisi arkan, tanpa tahu alasan Alana yang sedang memikirkan hal lain.
"Kamu kenapa... " Tanya Ananta, dia sangat tahu Alana sedang tidak baik-baik saja. Tapi seperti dugaannya Alana menggeleng pelan.
"Aku takut apa yang aku pikirkan benar" Ucap Alana jujur. Dia menduga sesuatu yang buruk meski masih belum yakin.
"Ceritakan padaku kalau ada sesuatu yang mengganggumu." Ucap Ananta melemparkan senyuman menenangkan. 'tapi kali ini aku tidak bisa bilang dulu' pikir Alana yang tersenyum pahit.
"Aku pergi dulu sebentar" Balas Alana, sebelum pamit untuk menemui ayahnya.
__ADS_1
***
"Yah... " Panggil Alana, ayahnya keheranan dia tidak menduga anaknya akan datang ke kantornya. Padahal kemarin saat dia meminta Alana datang, Alana tidak mencarinya sama sekali.
"Jawab jujur." Ucap Alana dengan tatapan serius. Dia menatap tajam saat ayahnya justru tertawa sedikit. Alana mau meyakinkan kalau apa yang dia katakan ini benar-benar serius.
"Siapa daftar pendonornya" Tanya Alana. Dia ingin memastikan bahwa nama arkan tidak berada di sana. Rasanya aneh saja karena tiba-tiba berita baik ini ada tepat setelah dia tahu Arkan juga baru saja masuk ke rumah sakit ini dalam keadaan kritis.
"Itu rahasia. Tidak boleh diberitahukan ke pasien. Lagipula kita belum mendapat persetujuan." Jawab ayah Alana seolah menyembunyikan sesuatu.
"Ayahhh" Alana memaksa ayahnya untuk bicara. Karena hal-hal yang menjadi rahasia di antara mereka kebanyakan adalah hal buruk.
"Ayah tahu kamu mungkin enggak setuju kalau tahu siapa pendonornya. Tapi ini harapan satu-satunya buat Ananta hidup normal seperti anak lainnya." Lanjut ayah Alana membujuk anaknya yang keras kepala itu.
"Tapi dia bisa jadi sahabat Alana sama Ananta yah" Alana hampir menangis di hadapan ayahnya. Perasaan di dadanya bercampur aduk. Dia tidak bisa berharap hal buruk terjadi pada arkan untuk kesembuhan Ananta.
Ayah Alana yang paham dengan situasinya akhirnya memeluk anaknya yang kini menangis keras. Air mata Alana membasahi jas putihnya, dia menepuk pelan punggung Alana. Tidak menyangka hal sulit itu yang ada dipikiran Alana sejak tadi.
Awalnya dia ragu, karena pasien yang terdaftar dalam pendonor teratas adalah siswa di sekolah yang sama dengan Alana. Tapi dia tidak bisa mengabaikan setiap harapan kecil jika itu untuk kesembuhan Ananta.
Dia tahu, sekarang Alana ada dalam kondisi harus melepaskan salah satu, dan pastinya dia tidak ingin melepaskan keduanya. Dia menatap iba pada anaknya yang sedang dalam posisi sulit itu.
__ADS_1
"maafin ayah ya Na, Ayah enggak tahu" ucapnya lirih dalam posisi masih memeluk Alana. Dia menahan Alana di ruangannya sampai Alana selesai menangis.