Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
tiga puluh lima. tampan


__ADS_3

Alana kembali ke ruang rawat Ananta. Sepanjang lorong, pikirannya melayang. Dia tidak menyangka orang seceria Arkan pernah melakukan hal-hal itu di masa lalunya. Yah, tapi setiap orang pasti punya lukanya masing-masing. Yang berbeda hanya cara mereka menghadapi dan mengatasinya. Itu pilihan setiap orang, mau berlarut dalam ingatan menyakitkan di masa lalu atau bangkit menjadikannya kekuatan untuk menghadapi hari esok.


Alana langsung menghampiri Ananta begitu sampai. Meski akhirnya dia ragu, mau menceritakan apa yang barusan dia ketahui atau tidak. Dia masih belum tahu prasangka itu benar atau tidak. Jadi, sepertinya Alana akan memendamnya lagi, menunggu sampai dia benar-benar yakin.


"sudah?" tanya Ananta begitu dia melihat Alana yang baru datang dan langsung duduk disampingnya.


"sudah. puas kamu?" tanya Alana sedikit kesal. Ingat kan... dia pergi menjenguk Arkan juga atas paksaan Ananta. Ananta hanya tertawa melihat Alana yang terlihat kesal.


"belum sih, aku belum bisa menjenguknya sendiri." lanjut Ananta. Senyumnya memudar sedikit. Membuat Alana buru-buru ingin mencarikan sesuatu untuk menghiburnya.


"oh, aku tadi memotret Arkan." ucapnya dengan semangat. Dia sempat mengambil foto Arkan dan Bella sebelum pamit tadi. Kini Alana buru-buru mengeluarkan handphonenya. Dia menunjukkan hasil jepretan kameranya, terlihat di sana Arkan yang sedang berbaring di atas tempat tidur dalam keadaan yang masih lemah. Lehernya di gips, tubuhnya penuh perban.


"huft, kasihan sekali." ucap Ananta menunjukkan simpati nya. Dia menggeser layar untuk melihat foto yang lain lagi. Dalam beberapa pose Arkan terlihat tersenyum membuat Ananta menggeleng pelan.


"dalam kondisi begitu dia masih bisa senyum?" ucapnya mengomentari.


Memang Arkan seceria itu? tidak... senyum itu mungkin saja untuk menyembunyikan luka Nanta. Balas Alana dalam hati.


"konyol kan temanmu itu" balas Alana menyetujui keheranan Ananta.


Kamu mungkin akan lebih terkejut lagi dengan masa lalu Ananta yang penuh kelabu Ta... lagi Alana mengatakannya dalam hati.

__ADS_1


"tapi dia masih sangat beruntung, wajahnya tidak mendapat banyak luka." ucap Ananta lagi, tersenyum melihat wajah Ananta yang hanya memiliki sedikit luka di pelipis dan pipi kanannya. Meski perban di kepalanya yang kadang membekas merah itu pasti membuat siapapun yang melihatnya meringis seperti itu merasakan sakitnya.


"Kalau wajahnya yang terluka aku lebih kasihan lagi dengan Bella yang tidak bisa lagi membanggakan kalau pacarnya ganteng." kali ini Alana yang mengomentari. Yah, Arkan sendiri juga sering membanggakan kalau wajahnya itu ganteng. Tapi sekarang kan dia tidak melihat wajahnya sendiri. Hanya bella yang melihatnya karena harus menunggui Arkan siang malam. Alana tebak, Bella pasti sudah melihat wajah berantakan Arkan saat bangun tidur. Dengan begitu, dia akan terbiasa melihat Arkan andai mereka menikah nanti.


"dasar. perempuan itu memang selalu melihat penampilan ya?" kali ini Ananta menginterupsi. Dia sedikit kesal, karena perkataannya membuat Alana memperhatikan wajah Arkan sekali lagi.


"salah satunya. Tapi itu faktor penting juga sih." jawab Alana mencari pembelaan. Meski begitu, perempuan tidak bisa bertahan kalau hanya karena penampilan. Mereka butuh banyak hal lain kan, seperti perhatian, pengertian, banyak hal selain fisik yang mereka pikirkan sebelum memilih seorang laki-laki. Meski, sekarang Alana membuat sedikit pengecualian karena dia tetap bertahan menyukai Ananta dengan kondisinya yang sekarang.


"kamu harus bersyukur karena dilahirkan dengan wajah yang enak dilihat." Ucap Alana, menutupi fakta bahwa banyak hal lain yang membuatnya menyukai Ananta. Tapi jika diminta menyebutkan satu hal, rasanya semua alasan yang dia fikirkan akan menghilang satu-satu. Dia menyukai Ananta, itu saja.


"aku beruntung ya?" tanya Ananta lagi. Membuat Alana menoleh kepadanya. Alana mengangguk dengan yakin. Tentu. Alana juga beruntung karena bertemu Ananta sejak kecil. Jadi banyak waktu yang bisa mereka habiskan bersama-sama kan. Banyak waktu yang bisa dia jalani untuk melihat wajah Ananta setiap hari.


"bukan cuma karena wajah kamu sih," ucap Alana buru-buru saat melihat raut kecewa muncul di muka Ananta.


"terus" Jika memang ada hal lain, dia sangat ingin tahu sekarang.


"nggak tahu, jatuh cinta pandangan pertama mungkin?" ucap Alana mematahkan harapannya. Jatuh cinta pandangan pertama kan karena penampilan juga.


"dulu kan waktu masih kecil kamu belum seganteng ini." Ananta mendongak lagi. Iya juga sih, tapi perkataannya itu lebih seperti penghiburan saja buat Ananta.


"tetap aja kan kamu lihat mukaku dulu." Ucap Ananta kesal. Jadi kesimpulannya, memang Alana suka Ananta karena penampilan nya dulu.

__ADS_1


"terserah apa kata kamu deh. pokoknya aku suka." ucap Alana final. dia malas memikirkan alasan lagi, mau jujur juga dia bingung mau memilih alasan yang mana. Sudah dibilang kan kalau harus menyebut satu, justru yang keluar adalah Alana mencintai Ananta tanpa alasan. Dan menurutnya itu akan membuat Ananta lebih kecewa lagi.


"oh iya. lain kali, aku titip sesuatu ya kalau kamu mau ketemu Arkan lagi." ucap Ananta yang tiba-tiba teringat hal lain setelah mengamati foto Arkan sekali lagi.


" nggak mau, siapa bilang aku mau ke sana lagi" jawab Alana kesal. Meski rasa bersalahnya sudah berkurang, dia masih belum nyaman kalau sering-sering bertemu Arkan.


"aku paksa lagi mau?" Alana menggeleng dengan panik. Paksaan Ananta itu lebih menyebalkan lagi karena dia tidak akan bisa menolaknya. Dan akhirnya tidak ada pilihan baginya selain menuruti semua mau Ananta.


" nggak adil." jawab Alana lagi, membuang muka. Meski beberapa lama setelahnya dia menoleh ke arah Ananta lagi yang masih melihat-lihat foto di galeri Alana.


"kamu berburu aib ya, waktu aku tidur?" ucap Ananta melihat banyak foto dirinya yang sedang tidur dengan ekspresi aneh.


"lucu tau." protes Alana yang ingin segera merebut handphone sebelum Ananta menghapus koleksi berharganya.


"asal jangan di perlihatkan ke orang lain saja." balas Ananta. Dia sendiri tidak mau menghapusnya. Siapa tahu, foto-foto itu akan jadi kenangan berharga nantinya.


Setelah beberapa usapan lagi dia menemukan foto-foto dari hari itu. Saat mereka jalan-jalan bersama Arkan dan Bella.


Waktu terasa berjalan begitu cepat. Senyuman yang terasa bebas itu beberapa saat yang lalu berubah menjadi tangisan karena rasa takut kehilangan. Terlihat ironis memang, betapa segalanya berubah hanya karena dirinya. Hal baik sampai hal paling buruk terjadi di sekitarnya.


Dia mencuri pandang ke arah Alana lagi, saat Alana yang lelah menunggu akhirnya memainkan kukunya sendiri. Dia sepertinya gelisah. Selalu begitu. Sampai membuatnya berpikir, andai dulu Alana tidak bertemu dengannya apa Alana akan lebih bahagia dari sekarang?

__ADS_1


__ADS_2